
"Halo, kita bertemu lagi, Nona Shera." Hugo mengulurkan tangannya.
"Hai, kau Hugo?" Shera menyambut tangan Hugo.
"Benar, ternyata kau masih mengingatku. Aku terkesan." Ucap Hugo lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Tentu, kau menyelamatkan tasku. Mana mungkin aku lupa." Jawabnya dengan senyum cerah.
"Mau berkeliling sebentar, denganku?"
Shera melirik ke arah Harry yang berdiri bersama seorang gadis cantik.
"Baiklah."
Hugo merenggangkan tangannya, lalu Shera menggandengnya.
"Kau tampan sekali dengan jas ini". Puji Shera pada Hugo yang memang terlihat lebih menawan.
"Kau juga sangat cantik. Apalagi, jika kau membiarkan saja rambut indahmu itu."
Shera tersenyum menunduk, dia menyentuh rambutnya yang tergulung dibelakang.
Mereka duduk di satu bangku luar museum.
"Apa kau sendirian?" Tanya Hugo lagi.
"Tidak, aku bersama.." Shera terlihat ragu.
"Pacarmu?"
Shera menggelengkan kepalanya lalu tersenyum samar. "Bukan, aku bersama bosku."
"Bos? Jadi kau.."
"Aku asisten pribadi tuan Draw. Aku menemaninya kemari. Tapi, kulihat dia sudah menemukan teman bicaranya." Jelas Shera lalu melihat ke arah Hugo.
"Hugo, kau sudah punya kekasih?"
Hugo menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang mau menjadi kekasihku."
"Ayolah, itu tidak mungkin." Kata Shera lalu tertawa renyah. "Lelaki tampan dan jago beladiri sepertimu, tidak mungkin ditolak."
"Kalau begitu, kau mau jadi kekasihku?" Tanya Hugo lalu menyodorkan ponselnya.
Shera tersenyum tipis. "Tidak, tapi aku akan menjadi temanmu." Ucapnya lalu mengambil ponsel Hugo dan menuliskan nomornya disana.
"Benarkan, kau saja menolakku." Ucap Hugo dan Shera hanya tertawa.
"Bisakah aku menghubungimu hanya untuk sekedar tukar pikiran?"
"Tentu, kau bisa menghubungiku selagi aku punya waktu luang." Ucap Shera lalu melihat kebelakang, dimana Harry tengah bercerita riang dengan seorang gadis.
Hugo tersenyum, nampaknya Bella pun berhasil mendekati Harry.
"Kau melihat siapa?"
Shera menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kau menyukai seseorang, ya?"
Shera tersenyum getir. "Iya, sudah lama sekali. Tetapi dia tidak memandangku sebagai perempuan."
"Masalah besar sedang menimpanya. Bagaimana mungkin dia tidak melirik gadis secantik dirimu?" Puji Hugo lagi dan itu tidak merubah raut sedih Shera.
"Shera, aku paham perasaanmu. Karena aku pernah diposisi itu."
"Benarkah? Kau pernah?"
Hugo mengangguk. "Dia tidak melirikku, setiap melihatku justru dia berbalik arah dan itu menyakitkanku."
"Benarkah, Hugo? Dia sampai seperti itu padamu?"
"Ya, dan aku baru saja move on. Bagiku, masih ada cinta yang lain. Aku hanya perlu sedikit berjuang untuk hatiku. Aku benar, kan?"
Shera menunduk, dia melihat jari-jarinya yang terpaut.
Hugo lalu berdiri, mengulurkan tangan pada Shera. "Mau keluar bersamaku? Anggap saja aku teman mengobrolmu, karena akupun sedang ingin bertukar pikiran."
Shera melihat lagi ke arah Harry dibelakangnya.
"Kau mau permisi dulu pada bosmu?"
Shera menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, karena dia takkan mencariku." Ucapnya lalu menyambut tangan Hugo.
Hugo membawa Shera menaiki mobilnya, lalu menuju kesebuah pub di sudut kota.
"Kau sepertinya terbiasa ke tempat seperti ini." Ucap Shera sembari menutup pintu mobil.
"Tidak juga, hanya saat sedang bersedih saja."
Mereka berdua duduk di meja bartender, Shera memesan alkohol sementara Hugo minum cocktail.
"Kau sedang tidak baik-baik saja rupanya." Hugo meletakkan botol alkohol kedua di depan Shera.
"Mana mungkin aku baik-baik saja setelah mengetahui ternyata orang yang kucintai itu menyukai gadis lain." Shera meneguk habis isi gelasnya.
"Begitu? Lalu kau, kenapa tidak cari yang lain saja?"
Shera mengangkat gelasnya, dia ingin meneguk minumannya, tetapi mendengar perkataan Hugo membuatnya berpikir. "Inginnya sih, begitu. Tetapi aku selalu gagal. Dia terlalu mempesona buatku." Jawabnya lalu meneguk minumannya lagi.
"Kau kuat sekali minum." Hugo menuang lagi alkohol ke gelas Shera. "Apa laki-laki yang kau sukai itu bosmu?"
Shera mengangguk, kini pandangannya mulai sedikit buram. "Aku sudah bersamanya selama 2 tahun. Dia selalu bergonta-ganti perempuan, tanpa memikirkan perasaanku. Lalu kemarin, yang paling membuatku frustrasi, gadis itu mampu membuat dia tersenyum cerah, senyum yang bahkan tidak pernah aku lihat."
Hugo tahu yang dimaksud Shera adalah Richi. "Begitukah? Apa dia benar-benar menyukai gadis itu?"
Shera menatap kosong ke depannya. "Begitulah, dia bahkan memperlihatkan foto ibunya. Mengajaknya makan malam di gedung tertinggi, membelikannya gaun."
Hugo terdiam mendengar ucapan Shera. Dia meneguk minumannya, ternyata Harry benar-benar menyukai Richi sampai di tahap itu.
"Sampai seperti itu..padahal padaku tidak begitu.." Shera menuang lagi minumannya, namun tangannya di tahan oleh Hugo.
"Sudah, berhentilah. Kau sudah mabuk."
Shera melepaskan tangan Hugo, dia menuang minumannya dan meneguknya langsung. "Aakhh.." lirihnya dan dia benar-benar kehilangan keseimbangan.
__ADS_1
"Hah.. sial." Hugo bangkit dari duduknya dan mulai mengguncangkan bahu Shera yang tergeletak di atas meja.
"Hei, ayo aku antar pulang. Kau ini mengerikan. Bisa-bisanya mabuk-mabukan dengan lelaki yang baru kau temui. Kau tidak takut, ha?" Oceh Hugo pada Shera yang sudah separuh sadar.
Hugo memapah gadis itu, lalu Shera melepaskan diri.
"Hei, kau jangan menyentuhku." Ucapnya lalu berjalan dengan tidak stabil.
"Aku hanya membantumu berjalan."
Shera menatap Hugo. "Aku bisa sendiri." Tukasnya lalu berjalan kesana kemari.
"Dimana alamatmu? Biar aku mengantarmu." Ucap Hugo yang berjalan di belakang Shera.
"Aku.. di.." Shera berhenti melangkah. "Bagaimana kalau kita ke hotel.."
"Ck, dasar, kau ternyata liar juga, ya."
Shera tertawa riang, "heiii.. seharusnyaa.. malam kemarin adalah malam indahhkuu, bersama Harry..." Racaunya lalu melangkah mendekati Hugo.
"Tappii.. karenaa gadis ituuh. Harry membatalkannyaa. Seharusnyaa dia menginap bersamaku.."
"Wah. Hubunganmu dengan Harry ternyata sudah jauh, ya." Hugo menggelengkan kepalanya. Ternyata Harry lebih brengsek sekarang. Terlihat menjaga citranya dan tidak mau pacaran, nyatanya dia punya perempuan simpanan.
"Yah.. begitulaah.. ehh!" Shera menegakkan tubuhnya sesaat. "Sstt. Jangan bilang siapa-siapa!" Pekiknya pada Hugo yang langsung tertawa.
"Baiklah. Rahasiamu aman padaku, Nona."
Hugo membantu tubuh Shera masuk ke dalam mobilnya.
Ponsel Hugo berdering. "Iya, Chi.."
"Bagaimana, Hugo?" Tanya Richi. Belum Hugo menjawab, Shera sudah meracau.
"Kau mau kan, kita ke apartemenku saja, bagaimana?"
"Wow" Richi melongo, baru beberapa jam Hugo sudah mampu membuat perempuan itu membawanya ke apartemen.
"Bu-bukan begitu, Chi. Dia mabuk." Kata Hugo panik.
"Tidak apa. Aku percaya padamu. Berhati-hatilah, Hugo." Richi lalu memutuskan sambungan teleponnya.
"Hah, kau ini." Serunya pada Shera yang mulai tertidur. "Bagus juga, sih. Supaya Richi cemburu. Tapi sepertinya tidak.."
Hugo mulai menjalankan mobilnya. "Hei, Shera. Dimana alamatmu?"
"Hm.."
Shera tak menjawab, dia memejamkan matanya yang mulai berat.
"Hei, bangun. Katakan alamatmu."
"Brizen hills, 227" jawabnya pelan.
"Oh, Brizen hills." Jawabnya santai. "Eh? Brizen Hills?"
Hugo membulatkan matanya. Bukankah Brizen Hills milik Ayahnya?
__ADS_1
TBC