
"Chi.." Hugo melirik kekasihnya. Gadis itu masih asyik bermain dengan barang barunya.
"Hm?"
"Kita balikan, kan?"
"Iya. Apa kurang jelas?"
Hugo tersenyum lebar. Sebelah tangannya meraih tangan Richi dan menciumnya. "Terima kasih, sudah mau kembali padaku. Kau tahu, hari-hariku terasa hampa. Tidak ada yang seru sekarang, kecuali Richi Darrel Wiley."
Richi tersenyum menatap Hugo. "Kupikir kau senang pisah denganku."
"Ck. Apa, sih. Jangan ucapkan pisah-pisah atau break, atau apalah kata-kata perpisahan seperti itu."
"Yaaa.. semua itu tergantung sikapmu. Kalau kau terlalu ramah pada perempuan lain seperti itu, maka aku- eh.."
Hugo langsung menepikan mobilnya. Dia menangkup kedua pipi Richi dan menatapnya dengan serius.
"Aku mencintaimu, Richi. Tidak ada tempat untuk orang lain karena ruang hatiku sudah penuh dengan dirimu."
Richi malah mencebik. "Apa benar?"
"Waktu itu, kupikir karena sesama anggota Valiant jadi aku membantunya. Aku tidak tahu kalau kau tidak menyukai mereka."
"Jadi, kau suka?" Tanya Richi memulai pertikaian lagi.
Hugo menghela napas. "Enggak. Sama sekali." Hugo mengambil ponsel Richi dan membuka satu aplikasi.
"Aku sudah membuat ini di ponselmu. Kalau kau buka ini, kau akan tahu apa yang tersimpan di ponselku, nomor-nomor, pesan, panggilan, semua bisa kau akses dari sini. Ini juga bisa melihat dimana keberadaanku."
Richi bukannya memperhatikan, malah menatap lekat-lekat wajah Hugo yang sudah lama tak ia pandang sedekat sekarang.
"Bagaimana, kau percaya padaku, kan? Aku tidak meletakkan ini di ponselku karena aku percaya padamu." Lanjutnya lagi.
Richi menahan senyum. Padahal dia tadi cuma bercanda, tapi Hugo seserius itu.
"Iya. Aku percaya. Tapi Hugo.."
"Iya?"
"Kau ganti shampoo baru, ya? Wangi rambutmu beda." Gadis itu malah mendongak untuk merapikan rambut Hugo dengan jari-jarinya.
"Chi.."
Gadis itu tengah serius menata rambut Hugo sesuai dengan seleranya. Sementara Hugo memperhatikan wajah Richi yang tampak begitu dekat. Dia begitu rindu sampai-sampai tanpa sadar, Hugo mengecup bibir gadis itu.
Richi mematung dengan tangan yang masih di atas kepala Hugo. Hugo pula menciumnya cukup lama, sampai ia memberi tekanan sebelum mengakhiri ciumannya.
__ADS_1
"Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu." Bisik Hugo. Dia meletakkan tangan Richi di pipinya. "Mari mulai hubungan yang baik, beritahu aku jika salah dan melakukan sesuatu yang tidak kau suka. Oke?"
Richi mengangguk saat mendengar suara lembut Hugo memasuki telinganya. Dia menatap Hugo bagai terhipnotis dengan lelaki itu. Hugo pun tersenyum dan mencium telapak tangan gadis itu lagi.
Hugo menjalankan mobilnya setelah berhasil meyakinkan Richi dengan semua janjinya.
"Jangan dilepas." Ucapnya tegas pada Richi yang menarik tangannya dari genggaman Hugo. Lelaki itu fokus lagi mengendarai mobilnya dengan tenang karena kehangatan genggaman tangan kekasihnya.
...🌼...
Daren mengetuk pintu beberapa kali tanpa henti, sampai ia mendengar suara kunci diputar, Daren pun menghentikan ketukannya.
"Tuan Daren..?" Elisa keluar, menoleh kiri kanan melihat Daren yang datang sendirian.
"Sama siapa kemari?" Tanyanya lagi.
"Sendirian, Bi. Apa Olivia ada?" Tanya Daren tanpa basa-basi.
"Olivia?" Elisa diam beberapa saat. "Olivia sedang tidak di rumah."
"Kemana?" Tanya Daren lagi. Padahal sudah pukul 10 malam tapi kenapa Olivia tidak di rumah? Pikirnya.
"Dia masih di rumah Clair, temannya yang punya kedai kopi."
"Jam berapa pulangnya, Bi?"
"Mungkin sebentar lagi pulang. Biasanya juga jam segini sudah pulang, kok. Nak Daren masuk, Bibi buatkan teh, ya?"
"Tenang saja, Bi. Saya sudah izin, kok. Saya ada urusan sebentar sama Olivia."
"Iya sudah, kalau begitu. Bibi buatkan teh saja, ya. Nak Daren duduklah."
Elisa masuk ke dalam rumah. Dia mengambil ponselnya dan menelepon Olivia.
"Liv, dimana?"
'Ini mau pulang, Bunda.'
"Cepat, tuan muda Daren di rumah. Dia menunggu kamu." Jelas Elisa.
'Apa? Sedang apa dia? Suruh pulang saja, Bunda.'
"Suruh pulang bagaimana! Mana mungkin Bunda lakukan itu. Cepat, kamu harus pulang. Pasti ada sesuatu yang penting, yang ingin nak Daren katakan padamu."
'Tidak ada yang penting, Bunda. Olive tidak akan pulang kalau dia masih disana.'
"Olivia! Kamu ini."
__ADS_1
'Bunda tuh, tidak tahu bagaimana kejamnya dia padaku. Udah ah, pokoknya kalau dia masih disana, Olive tidak akan pulang.'
Olivia menutup ponselnya dan tentu saja membuat Elisa berdebar. Bagaimana bisa anaknya seberani itu pada Daren, dan bagaimana cara dia menyampaikan pada Daren? Elisa tidak tenang. Tapi dia diam di dalam, membiarkan beberapa waktu berlalu dulu sampai Daren sendiri yang berniat pulang.
Namun, sudah dua jam beralalu dan Daren tak juga berniat pulang. Dia duduk diam sambil bermain ponsel di teras rumah Olivia.
"Nak Daren.."
Daren menutup ponsel dan menegakkan duduknya.
"Sebaiknya, Nak Daren pulang saja. Olivia sepertinya menginap di rumah temannya. Maafkan Bibi, ya."
Daren tersenyum hangat pada Elisa. Dia berdiri dan berniat pergi setelah menyadari bahwa Olivia memang tak berniat bertemu dengannya.
"Tidak apa, Bi. Saya pulang dulu. Maaf sudah mengganggu Bibi.."
Daren berpamitan. Dia masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah Olivia dengan menatap jalanan, berharap bertemu dengan perempuan itu di jalan.
Olivia pula duduk di salah satu kedai di dekat rumahnya. Dia membelakangi jalan dengan hoodie yang menyangkut di kepalanya, menunggu kepulangan Daren dari rumahnya.
Setelah mendapat telepon dari sang Bunda tentang kepulangan Daren, Olivia hanya menunggu mobil lelaki itu lewat.
"Sudah malam, Liv. Pulang sana."
Seorang lelaki paruh baya duduk menghadap Olivia. Sudah satu jam perempuan itu duduk di kedainya. Tak juga pulang padahal dia juga mau tutup.
"Sebentar lagi, pak. Saya memang mau pulang, kok."
"Ya tinggal pulang. Rumahmu kan, bukan diujung kulon."
"Hehehe. Iya, pak. Lima menit, ya?" Katanya sambil mengangkat tangan membentuk angka lima.
Suara mobil Daren terdengar, Olivia menunduk supaya Daren tidak mengenalinya.
Setelah mobil itu berlalu, Olivia langsung bangkit dan menyeret sepedanya menuju ke rumah. Untunglah Daren sudah pulang, karena dia juga sudah sangat mengantuk sebenarnya.
Sementara Daren, dia menghentikan mobilnya saat melihat Olivia mengayuh sepedanya dari spion mobil.
Dia menatap punggung gadis itu sampai menghilang dalam gelap.
Daren menghela napas. Seperti itulah Olivia menghindarinya. Padahal dia datang untuk meminta maaf dengan tulus. Olivia berhasil membuatnya kepikiran dan tidak tenang berhari-hari.
Dia memang sadar dengan kesalahannya. Tapi dia tidak berniat demikian. Soal ciuman itu, Daren memang melakukannya karena naluri dan sadar dengan kelakuannya. Dia pula menyadari respon Olivia terhadapnya.
Lalu yang kedua, dia memang ingin mengajak Olivia pergi ke pesta dan menikmatinya setelah Camilla pergi. Tapi dia tidak sangka kalau disana, Olivia bahkan menyamar menjadi kekasih orang lain, membuatnya kesal setengah mati. Ditambah perlakuan tak enak Camilla pada dirinya.
Daren menjalankan lagi mobilnya. Dia akan berusaha menemui Olivia lagi bagaimana pun caranya, dia ingin meminta maaf pada gadis itu dan mengutarakan perasaannya yang sesungguhnya. Entah dia suka atau tidak, yang jelas, Daren sudah jatuh terlalu dalam.
__ADS_1
TBC
**Jangan Rame disini aja. Syahdu Ramein, dongðŸ˜**