
Hugo berdiri menjulang di hadapannya, menatap gadis itu dengan napas yang berat. Jantungnya berpacu lebih cepat saat kini ia bisa melihat Richi dari jarak yang sangat dekat.
Mereka saling diam cukup lama. Terlebih Hugo, dia sebenarnya sangat-sangat merindukan Richi. Tetapi dia tak ingin salah langkah hingga membuat gadis itu malah semakin kesal.
"Ada apa kesini?" Tanya Richi memulai pembicaraan, sebab Hugo sejak tadi hanya diam menatapnya.
Hugo malah menunduk. Sosok tinggi itu ternyata tak berkutik dihadapan Richi. Nyalinya sudah menciut mendengar suara tegas gadis di depannya.
"Kalau tidak ada yang mau dibilang-"
"Ada!" Jawab Hugo cepat. Dia tak mau Richi pergi. Tapi bagaimana memulainya?
"Aku.. minta maaf." Ucapnya kemudian.
"Soal apa?"
"Semuanya. Aku salah, aku bodoh dan tidak peka, sulit mengerti dan egois."
Richi malah bingung. Semua yang diucapkan Hugo dia tidak paham. Peka soal apa, egois apa, karena baginya Hugo tidak memiliki sifat itu sama sekali.
"Seharusnya... aku tahu kalau kau tidak suka aku menjadi model. Aku malah memintamu mendukung sesuatu yang kau tidak sukai."
"Da-dari mana kau tahu.."
"Aku bisa merasakan itu belakangan ini. Juga.. aku baru tahu kau yang membeli semua majalah edisi bulan lalu. Dengan bodohnya aku bangga dan menceritakan padamu. Padahal foto itu, kau tidak mau itu tersebar."
Richi menggaruk kepalanya, dengan segera ia memberikan alasan pada Hugo.
"Hugo, begini. Aku bukannya tidak suka, hanya saja.. itu mimpimu dan aku tidak mungkin melarang-"
"Itu bukan mimpiku. Aku melakukannya karena cemburu pada Hamlet. Kau menjadi modelnya, aku tidak suka. Kau memujinya, aku juga tidak suka. Aku pikir kau menyukai model, jadi aku ingin membuatmu senang kalau aku menjadi model sama seperti Hamlet. Belakangan, baru aku tahu ternyata tidak begitu."
Richi cengo. Dia menganga mendengar pernyataan Hugo barusan. Jadi, semua ini hanya karena cemburu pada Aron?
"Makanya, aku mencoba mengerti kenapa kau merasa capek padaku. Karena kebodohanku, aku membuatmu menahan diri selama foto-fotoku tersebar. Kau pasti kesal saat ada yang meminta orang-orang untuk berfoto denganku. Karena kebodohanku juga, aku sampai tertipu dan dijebak dua kali oleh Erine. Aku memang sangat bodoh."
Richi menggigit bibir. Padahal Hugo sebenarnya tidak bersalah. Tapi yah, dia tidak menyangkal kalau laki-laki di hadapannya ini memang terlalu ramah dan kadang bodoh.
"Ya.. baiklah. Apa ada lagi yang ingin dikatakan?"
Richi menatap Hugo tanpa kedip. Wajah lelaki itu bingung ingin mengatakan apa supaya Richi tetap di dekatnya. Tapi, dia tidak punya kata untuk diucapkan sebagai alasan untuk Richi berlama-lama.
"Tidak ada.." jawabnya dengan suara yang kecil.
"Kalau begitu.. apa kau tidak mau memelukku?"
Hugo mengangkat kepalanya dengan wajah kaget pada ucapan Richi. Apa dia tidak salah dengar?
"Aku sangat rindu. Bisa peluk a-" Richi tidak melanjutkan ucapannya saat Hugo langsung menariknya dalam pelukan. Erat sekali, lelaki itu memeluknya dengan rasa rindu yang sangat dalam.
"Aku juga merindukanmu." Bisik lelaki itu. Dia memejamkan mata, menyerap energi sebanyak-banyaknya demi amunisi yang sudah lama terlepas dari tubuhnya.
__ADS_1
Begitu juga Richi. Harum dan tubuh Hugo sangat ia rindukan. Rasanya hangat dan nyaman. Debaran jantung Hugo di telinganya membuatnya tahu betapa lelaki itu merindukannya.
Setelah cukup lama saling mengisi energi, Hugo melepaskan pelukannya.
"Sini.." Hugo menariknya menuju belakang mobil.
Hugo membuka kap belakang mobilnya dengan perlahan, namun balon-balon sudah berjatuhan membuat Richi spontan menutup mulutnya.
"Happy birthday, baby."
Hugo mengambil satu bucket besar mawar merah, lalu menyerahkannya pada Richi.
"Kau suka?"
"Aku suka sekali. Aku pikir kau tidak akan datang." Katanya dengan haru. Richi sempat sedih ketika berpikir bahwa malam akan berakhir bergitu saja tanpa Hugo. Ternyata, lelaki itu juga menyiapkan yang spesial untuknya.
"Mana mungkin. Setiap hari aku di komplek rumahmu."
Richi merasa menyesal. Pasti Hugo selama ini sangat menahan diri.
Gadis itu kembali memeluk Hugo. Rasanya belum puas.
"Besok kau libur, kan? Ikut aku, ya."
"Kemana?" Tanya Richi.
"Nanti kau akan tahu. Sekarang, masuklah. Ini sudah tengah malam."
"Kalau rindu, kenapa tidak menghubungiku?"
"Baru terasa hari ini."
"Hh. Dasar."
Richi cekikikan di pelukan Hugo. Lelaki itu pula terus mencium puncak kepalanya.
"Sudah, sana masuk." Kata Hugo sembari melepas pelukan.
Richi berjinjit, mencium bibir Hugo sekilas. Lelaki itu mematung begitu dapat ciuman dari Richi di bibirnya. Terakhir kali yang ia tahu, gadis itu enggan mencium bibirnya karena kejadian yang waktu itu. Tapi sekarang, Richilah yang mengecupnya duluan.
"Aku masuk dulu, ya." Richi melambaikan bucket di tangannya pada Hugo dengan wajah cerah ceria. Sementara Hugo masih mematung dengan debaran hati yang gembira karena Richi sudah kembali seperti biasa.
Setelah gadis itu masuk ke pintu gerbang, Hugo berjingkat melompat kesenangan. Dia bahkan memegangi jantungnya. Hebat, Richi bisa membuatnya berdebar seperti pertama kali mengungkapkan cinta. Satu bulan lamanya dia menunggu dan menahan rindu, kini terbayar dengan kembalinya Richi seperti sedia kala.
...🦋...
Richi keluar dari kamar setelah mendapat pesan dari Hugo bahwa ia sudah menunggu diluar.
Dia berlari dengan senyuman cerah dan berhambur kepelukan Hugo yang sudah berdiri menunggunya di depan mobil.
__ADS_1
"Kau siap?"
Richi mengangguk-angguk dalam pelukan lalu mendongak. "Kemana kita?"
"Kesuatu tempat. Ayo." Hugo mengecup bibir Richi cukup lama, sampai tidak menyadari Ricky berdiri diambang pintu.
"Hei, sana pergi. Bikin polusi saja." Gerutunya pada dua orang yang seperti baru jatuh cinta.
Richi dan Hugo hanya tertawa, tanpa mengucapkan apa-apa, mereka pergi meninggalkan pekarangan rumah.
"Sebenarnya kita mau kemana, sih? Kau merencanakan apa?" Tanya Richi sembari mengikat rambutnya.
"Suatu tempat yang kuharap kau menyukainya."
Richi mengangguk-angguk. Lalu menatap kearah Hugo yang tengah fokus menyetir.
"Kudengar kau tidak kuliah, Hugo."
"Hm. Aku sibuk."
"Sibuk apa?"
"Memberi kejutan untukmu. Cincin dan kalung, semuanya terlalu biasa." Jawabnya sembari melirik Richi sekilas.
Melihat kebingungan Richi membuatnya senang karena perempuan itu tidak bisa menebaknya. Hugo menarik laci dashboard dan menyerahkan secarik kertas pada Richi.
"Ini kan, coret-coretanku waktu SMA. Kau menyimpannya?"
Hugo tak menjawab. Dia menghentikan mobil pada sebuah rumah.
"Rumah siapa ini, Hugo?"
"Ayo, turun." Hugo turun dan segera membukakan pintu Richi.
"Selamat pagi, tuan Hugo." Seorang laki-laki bersetelan rapi menghampiri.
"Pagi."
"Nona Richi Darrel Wiley. Benar, kan?"
Richi melirik Hugo, dia penasaran kenapa lelaki itu tahu namanya.
"Saya Max, mari ikut saya." Max berjalan memasuki rumah itu.
Richi yang masih bingung hanya menurut saat Hugo menggenggam tangannya untuk masuk kedalam rumah.
"Ini bagian dalamnya. Saya harap sesuai dan memuaskan nona Wiley."
Hugo berdiri dibelakang Richi. Dia membentangkan kertas di depan Richi dan mencocokkan keruangan itu.
"Apa sudah mirip? Ada yang kau tidak suka?"
__ADS_1
"Hugo.. ini..."
"Ini rumah impianmu, kan? Kau membuat rangkanya, aku membangun rumahnya."