
"Dia hanya meminjamkan jeketnya, karena jeketmu kau pinjamkan pada Erine." Tukas Richi sambil berlalu pergi.
"Chi.."
Panggilan Hugo tak lagi Richi pedulikan. Dia berjalan ke arah Aron. Membuka jeket dan menyerahkannya pada lelaki itu.
"Thank you. Sebagai balasan yang tadi, segera katakan padaku, ya." Pungkas Richi dengan senyum kecil kemudian melangkah ke arah dimana teman-temannya berkumpul.
"Ceritakan pada kami, apa benar dia menyimpan foto-foto seperti itu?" Tukas Bella.
"Darimana kau tahu?"
"Kami dengar saat penyelidikan.."
Hugo menatap kekasihnya itu. Dia tak menyangka niatnya membantu ternyata berlebihan di mata Richi. Apalagi dia benar-benar lupa soal jeket itu.
Hugo menatap Aron. Lelaki itu masih di tempatnya, ikut menatap Hugo dengan mengunyah permen karet. Hugo tahu, lelaki itu tengah mencoba mengambil kesempatan mendekati Richi melalui celah kecil yang ada diantara dirinya dan Richi saat ini.
Tekadnya kuat. Bagaimana pun, dia ingin hubungannya dengan Richi membaik, bukan malah memburuk seperti ini.
...🦋...
Tiga hari libur sudah berlalu. Kini Richi kembali ke sekolah untuk menerima hasil ujian dan setelah itu, mereka akan libur selama tiga minggu untuk memulai tingkatan baru.
Richi berjalan santai dengan earphone di telinganya. Lorong sekolah saat ini tengah ramai dengan siswa yang menatapnya. Dia juga menyadari mereka berbisik, tetapi Richi mengabaikannya. Entah apa berita di web sekolah, dia tidak tahu karena ponselnya belum ia ganti. Yang jelas, berita itu pasti sudah menyebar.
"Benarkah itu perbuatan Damian? Aku tidak sangka, kupikir dia anak baik-baik."
"Aku merinding saat tahu kejadian itu. Apa dia sudah gila, ya?"
"Yang mana sih, orangnya?"
"Damian yang culun itu? Astaga, aku tidak bisa menebak kalau dia hacker."
"Richi Darrel mengambil tindakan yang tepat. Kalau aku jadi dia, mungkin aku tidak berani melakukan apapun."
"Kudengar Richi Darrel masuk penjara, ternyata tidak, ya?"
"Damian yang masuk penjara. Dia bahkan patah tangan dan kaki karena kakak Richi dan Hugo."
"Aku menyukai Richi tapi tak sampai begitu. Itu mengerikan."
Richi duduk di bangkunya. Dia menghela napas saat Greta duduk di mejanya dan melepas paksa earphone Richi.
"Ri, kau sudah sering sekali menunjukkan muka. Tak seperti dirimu yang biasa."
"Aku terpaksa."
"Kau tahu, ibuku sampai menganga saat melihatmu diberita membakar gudang itu. Tapi, setelah tahu alasannya, dia mendukungmu."
"Lalu, kenapa kau duduk di mejaku. Sana pergi." Usir Richi.
__ADS_1
"Ck. Kau ini, tidak mengerti?"
Richi mengangkat alis, "Apa maumu?"
Greta mulai menyengir. "Kau dekat dengan Aron Hamlet, kan? Hiiihhh aku sukkaaa sekali padanya."
"Urusannya denganku??"
Greta mendesah kasar. Masih saja tidak paham, pikirnya. "Dekatkan aku dengannya, dong, Ri. Aku mengidolakan dia dari dulu. Aku selalu membeli majalah yang ada dirinya, lhoo."
"Majalah?"
"Iyaa. Dia kan, supermodel majalah TheMost."
Richi mengerutkan dahi. Benarkah? Dia tidak tahu. Pantas saja komentar waktu tahu dia dekat dengan Aron banyak sekali perempuan yang mengenal dan mengidolakannya.
"Padahal wajahnya ada dimana-mana, kau tidak tahu??"
"Tidak. Aku juga tidak peduli."
Plak! Richi memukul bokong Greta, membuat perempuan itu meringis dan turun dari meja. "Kau ini, dari dulu suka mesum padaku. Kau yakin suka laki-laki, Ri? Kok, aku ragu, ya. Hahaha." Greta langsung pergi dan duduk di bangkunya. "Jangan lupaa sampaikan salamku pada Aron."
Richi tak menyahut lagi. Dia memasang earphone dan menyetel musik.
"Riii. Richii...!"
Dua orang laki-laki berlari ke meja Richi.
"Kau baik-baik saja, kan? Hah? Apa ada yang buat kau tak nyaman?"
"Hebat betuuul. Bagaimana caramu membakar gudang, hah?"
"Padahal kalau kulihat kau pakai gaun begitu hahahha."
Ocehan Frans dan Erick membuat Richi lagi-lagi melepas earphone-nya.
"Semua sudah teratasi dengan baik, kok."
"Tapi, kami masih terkejut dengan berita kemarin. Aku ingi bertanya padamu secara langsung tapi kau tak bisa dihubungi." Sahut Frans.
"Ponselku rusak. Aku belum membeli yang baru."
"Pantas saja. Eh, Ri. Hugo, tuh." Erick menunjuk keluar.
Hugo berdiri di depan pintu kelas Richi. Dia melihat sebentar ke arah Richi, lalu balik lagi ke kelasnya. Dia hanya ingin mengecek keadaan Richi saja.
"Lho, kenapa balik lagi? Kau ada masalah, ya?" Tebak Frans.
"Bukan masalah besar. Mau main basket?" Tawar Richi.
Mereka pun keluar menuju lapangan basket. Seperti biasa, mereka mengajak yang lain untuk bermain, sembari menunggu waktu pembagian laporan nilai akhir semester.
__ADS_1
Hugo berdiri di balkon kelas. Menatap ke bawah dimana Richi kembali ceria lagi. Dia memberi waktu pada gadis itu, yang Hugo baru sadari ternyata marahnya Richi cukup lama dan menyiksanya.
"Ah, sial!"
Hugo menoleh, disebelahnya sudah berdiri Daren dengan ponselnya.
"Kau kenapa?" Tanya Hugo.
"Ck. Sudah hampir satu minggu aku menghubunginya, tapi dia tidak mau mengangkat ponselku." Keluh Daren. Dia meletakkan ponsel lagi di telinga, lalu berdecak saat tak ada jawaban dari seberang.
"Olivia, maksudmu?"
"Memangnya siapa lagi!"
Hugo tertawa meledek. "Hahhaha. Baru kau tahu kan, kalau kau sudah bergantung dengan kehadirannya!"
"Bukan itu! Dia kan, bekerja padaku. Sudah berapa lama dia bolos? Siang ini juga aku akan ke rumahnya!"
"Bukannya kalian pergi ke pesta?" Tanya Hugo.
Daren menyandarkan bokongnya di tembok pembatas. "Kacau. Semua kacau karena Camilla. Akhh, kesal kalau mengingat itu. Bisa-bisanya dia menyamar menjadi kekasih Aron sialan itu disana!"
"Siapa kau bilang?"
"Camilla."
"Bukan itu.." Hugo tampak berpikir. Dia ingat nama itu, lelaki yang bersama Richi kemarin juga bernama Aron, seingatnya.
"Aron sialan?" Ucap Daren.
"Kau kenal?" Tanya Hugo.
"Aku sudah menyelidikinya. Dia satu kelas dengan Olivia. Ternyata ayahnya menteri perdagangan yang sempat terseret kasus ilegal keluarga Draw. Dia juga model majalah, sabuk tertinggi muaythai juga dia dapatkan. Pernah menang model terfavorit dua tahun berturut-turut. Sial sekali, bisa-bisanya Olivia berteman dengan lelaki gila seperti itu." Gerutu Daren.
"Bukan gila, tapi kereennnn!!" Bella mendadak muncul dengan acungan dua jempol di udara.
"Keren apanya begitu." Sewot Daren, yang menyebabkan Bella mengomel padanya panjang lebar.
Sementar Hugo mulai memikirkan itu. Aron, dia juga bukan laki-laki sembarangan rupanya. Penjelasan Daren barusan membuatnya ciut. Entah kenapa, dia merasa kalah.
"Aron itu mau dilihat dari sudut manapun keren dan ganteng, tahu! Dia tampan, baik, mengayomi perempuaan, aaah, idaman pokoknya!" jelas Bella panjang lebar.
"Halah, apaan. Banci dia, tuh! Keren apanya! Sekolah di tempat sampah, begitu." Sungut Daren.
"Kau ada masalah apa, sih? Memangnya kau punya dendam apa pada Aron??"
"Memang dia tidak tampan. Yang tampan itu, aku." Sambung Hugo.
"Apa? Hahaha. Hugo, dilihat darimana pun, Aron lebih oke daripada kau!" Seru Bella membela Aron.
"Kau saja yang buta." sambung Daren lagi.
__ADS_1
Mereka bertengkar dua lawan satu hanya mendebatkan hal yang sebenarnya membuat kedua laki-laki itu cemburu setengah mati.