
Wiley menendang pintu hingga terbuka dan mendapati istrinya disekap dengan mulut ditutup kain dan yang membuat Richi dan Ricky menganga adalah bom besar ditubuh sang Ibu.
Sekitar 11 orang pengawal disana mengangkat senapan berlaras panjang ke arah mereka.
Wiley menatap tajam pada Henry. Lelaki itu duduk santai dengan kaca mata hitam tak jauh dari Marry.
"Kalian anak bawah Henry?" Wiley menggelengkan kepala. Sungguh, dia mengenal beberapa orang anggotanya disana, tetapi memilih jalan lain karena Henry pasti menjanjikan banyak hal pada mereka.
"Kalian akan kuampuni jika beralih sekarang."
Mendengar ucapan Wiley membuat mereka saling pandang. Lalu dua orang diantaranya berjalan ke arah Wiley pertanda mereka tidak lagi mendukung Henry.
Namun sayang, baru beberapa langkah, Henry menembak kepala dua orang itu, dan merekapun terkapar di tempat.
"Hah. Berani mengkhianatiku, maka artinya mati." Seru Henry dari tempatnya.
"Katakan, apa maumu." Wiley mencoba negosiasi terlebih dahulu, dari pada langsung baku hantam.
"Hahaha. Jangan banyak omong! Kau pikir aku tidak tahu taktikmu, hah?" Henry tertawa sambil memain-mainkan pistolnya.
"Aku tidak akan berbasa basi lagi. Kau sudah menghancurkan semua milikku. Kau dan anak-anak sialanmu itu, sudah memporak-porandakan hidupku. Maka tidak ada lagi diskusi. Sebagai gantinya, aku akan membunuh istri dan anak-anakmu di depan matamu. Supaya kau tahu apa itu keterpurakan."
Wiley malah membuka jasnya. Tentu gerakan sedikit saja dari lelaki itu membuat mereka waspada. Apalagi Wiley penuh trik dan manipulatif.
Wiley menggulung kemeja di tangannya. "Mari bermain adil. Aku akan mengabulkan semua permintaanmu. Jika kau ingin mengambil istriku, silakan. Asal kau bisa mengalahkanku." Ucapnya tanpa menoleh. Dia tengah fokus menyingsing lengan bajunya.
"Hmmmmpppp.." Marry melotot pada Wiley, dia tidak menyangka suaminya segampang itu menyerahkannya.
Henry, tentu tidak mau. Karena dia sendiri tahu kekuatan Wiley dibanding dirinya, jelas ia kalah.
"Aku tidak suka menghabiskan tenaga seperti itu. Kalau kau mau istrimu selamat, serahkan dirimu pada mereka." Elak Henry.
"Baiklah."
"A-ayah!" Richi tak sabar. Dia ingin sekali menyerbu ke depan.
"Hhmmmmpppp." Teriak Marry yang sudah menangis disana. Apalagi bom yang menempel itu membuatnya sangat gemetaran.
Ricky menahan Richi dengan tangannya. Dia menyuruh Richi untuk mundur karena Ricky yakin, ayahnya pasti punya rencana sendiri.
"Kau disini saja, bersama Bella. Jangan kemana-mana." Hugo mendorong tubuh Richi sedikit kebelakang, supaya perempuan itu aman. Sebab dia tak memakai pengaman apapun.
"Hugo, aku tidak tenang."
__ADS_1
Lelaki itu menggenggam tangan kekasihnya. "Menurutlah padaku, Chi. Aku akan menyelamatkan ibumu."
Richi mengangguk lambat, tanpa terasa air telah menggenang di matanya. "Selamatkan ibuku, Hugo." Kali ini, dia memang tak bisa ikut campur karena ini soal nyawa sang ibu. Apalagi dia juga merasa mulai semakin lemah, beberapa titik di tubuhnya masih terasa sakit akibat pertarungan pertama di dalam mobil box.
"Aku akan berusaha." Dia mengelus pipi Richi yang meneteskan air mata, kemudian bergabung lagi bersama tim Elang. Mereka mulai merembukkan sesuatu di belakang Wiley.
"Akh, sial. Berat sekali!" Axel tiba-tiba muncul dengan basoka yang dibawahnya.
"Hei, sini." Dengan cepat Bella menarik tangan Axel mundur dan menyembunyikan diri di dekat pintu.
"A-ada apa?" Axel baru menyadari apa yang ada di hadapannya.
"Kau disini saja. Ini pertarungan orang-orang hebat." Bisik Bella dan Axel semakin mengumpetkan dirinya dibalik tembok, sesekali ia mengintip karena penasaran dengan ayah Richi.
"Bagaimana, apa aku yang harus datang kesana untuk menyerahkan diri?" Tawar Wiley.
Belum dijawab, Wiley memajukan langkah. Namun orang-orang itu malah mundur dengan senjata yang masih terarah pada Wiley.
Dia mendekat sambil mengangkat tangan, pertanda ia benar-benar akan menyerahkan diri.
Setelah di dekat anak buah Henry, mereka langsung menahan tangan Wiley dan memberinya borgol.
Melihat itu, tentu Henry merasa puas dan senang. Dia tertawa terbahak-bahak. Rasanya terlalu mudah, tapi kenapa dia harus takut? Pikirnya.
BRUK,
Dalam lima detik, Wiley menghantam beberapa pengawal itu dengan kaki dan tangan yang terlepas dari borgol.
DOR!
Satu tembakan terlepas, tetapi Wiley masih terus menghajar orang itu walau lengan kirinya mulai mengalirkan darah.
Henry yang terkejut, langsung mengarahkan pistolnya pada Wiley, dengan cepat Ricky menembak pistol di tangan Henry hingga terjatuh.
Ricky dari jauh menembaki ajudan-ajudan Henry sampai terjatuh. Setelah musuhnya perlahan berkurang, mata Wiley mengarah pada Henry.
Pria itu buru-buru mengambil senjata yang sempat jatuh, lalu mengarahkannya pada Wiley. Tapi sial, Wiley sudah ada di depan matanya dan memutar tangan Henry sampai ia meringis kesakitan dan menjatuhkan pistol di tangannya.
Wiley mengambil pistol itu, lalu menghantamkannya ke wajah Henry.
BUK!
Bibir Henry langsung mengalirkan darah saat Wiley menghantamkan ujung pistol padanya.
__ADS_1
Lelaki itu sempoyong, dia tidak bisa menahan aliran darah dari bibirnya dan terasa sangat sakit.
Wiley menatap keberadaan istrinya. Perempuan itu masih menangis. Setelah dilihat dari dekat, ternyata beberapa wajah Marry terdapat memar.
"Aku tidak pernah memberi toleransi bagi orang yang berani menyentuh istriku."
BRAK! Tendangan kuat membuat tubuh Henry berputar lalu terjerembab. Dia memegangi perutnya karena sangat sakit.
"Bangkit."
Henry terbatuk di tempatnya. Dia merasa nyawanya akan selesai hari ini. Tetapi dia mendengar suara baling helikopter, diapun teringat satu hal lagi.
Henry mengeluarkan benda kecil dari sakunya, lalu mengaktifkan bom yang ada di tubuh Marry. Seketika bom itu mulai menampilkan waktu selama 25 menit.
"Hhhmmmmpppp.." Marry berteriak. Dia menggelengkan kepala beberapa kali, menyuruh semua orang untuk pergi.
"Hahaha! Selamat tinggal. Sampai bertemu di neraka, Wiley."
Henry berlari ke arah helikopter yang datang mendekat dengan tali yang terulur. Dia melompat dan meraih tali itu sambil tertawa-tawa.
BUM!
Helikopter itu terkena serangan roket, dan berputar-putar sampai akhirnya meledak. Tentu Henry melompat lagi ke atas atap.
"TIDAAAAKKKKK!!" Teriaknya tak terima saat helikopternya hancur berkeping-keping.
Richi, matanya masih membidik dengan basoka yang ia letakkan diatas bahunya. Kini dia menargetkan tubuh Henry yang terduduk menangisi keadaannya.
Richi ingin sekali menembak, tapi sang ayah sudah berjalan duluan ke arah Henry.
Sementara Hugo dan Jonathan, mereka berlari kearah Marry dan mulai mencoba menemukan sumber yang membuat waktu bom mati.
"Serahkan alat itu. Padamkan bomnya." Titah Wiley.
"Hahahaha." Henry tiba-tiba tertawa lebar. "Aku tidak akan menyerahkannya." Dia berdiri dan melempar benda itu sejauh-jauhnya ke bawah tanah.
"Kalau aku mati, artinya kalian pun tidak akan bisa hidup."
"Aah, permisi, satu lagi ketinggalan." Clair menendang kuat tubuh Albern sampai ia terjungkal ke depan. Tubuhnya menggigil karena kedinginan.
Henry terbelalak. Dia terkejut karena kini anak tirinya juga ikut tertangkap dengan wajah yang sudah babak belur.
BRUK! Satu tendangan mendarat, membuat Henry terseret tepat di ujung atap. Dia seketika bergidik saat melihat betapa tingginya bangunan ini dan dia pasti mati jika saja tadi terjatuh.
__ADS_1