Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Belajar Bersama (2)


__ADS_3

"Apa sudah paham?" Tanya Hugo pada Erine yang sejak tadi memperhatikan Hugo. Lelaki itu tidak memakai pengaman seperti apa yang Erine kenakan. Dia terus membongkar dan memasang rangkaian bom supaya Erine tahu fungsi kabel-kabel dengan baik.


Erine mengangguk saja walau dia masih kesulitan membedakan dengan cepat. Tapi kata Hugo, lambat laun akan terbiasa.


"Apa mau kuaktifkan? Lalu kau tentukan sendiri selama 10 detik." Tukas Hugo.


"Maksudmu kau ingin meledakkan rumahku?"


Hugo malah tertawa. "Ada aku. Mana mungkin bisa begitu."


"Sudahlah. Aku juga sudah mengerti semua yang kau jelaskan. Tidak perlu praktik lagi." Kata Erine.


"Yang benar? Kalau gitu, aku aktifkan satu. Aku akan pergi dan kau matikan sendiri waktu di bom ini, bagaimana?" Usul Hugo sekaligus menjahili Erine.


"Apa? Tidak, tidak, tidak. Kau gila, ya?"


Hugo malah mengaktifkan bom yang hanya punya waktu 3 menit saja.


"Cepat jinakkan bom ini atau rumahmu rata dengan tanah." Tukas Hugo yang langsung berdiri memakai jeketnya. Sementara Erine tampak kebingungan.


"Kau gila, ya!" Pekik Erine.


"Cepat. Waktunya 2 menit lagi." Hugo berdiri memperhatikan Erine yang tampak bingung. Tangannya sudah memegang gunting tetapi bukannya memperhatikan kabel, Erine malah panik.


"Aaah, terserahlah!" Pekik Erine dan langsung mengambil kabel kuning untuk dipotong. Tapi tangannya ditahan Hugo. Dia menoleh pada laki-laki disebelahnya yang sangat santai padahal waktu tinggal beberapa detik lagi.


"Bukan yang itu. Tapi yang ini." Hugo mengarahkan jari Erine ke kabel lain. Gadis itu terperangah, menatap Hugo yang wajahnya sangat tenang dikala waktu yang menghimpit.


"Potong kabelnya atau kita mati disini."


Ucapan Hugo membuat Erine tersadar dan cepat-cepat memotong kabel yang biru dan hitam. Seketika bom itu mati pada detik ke 9 dan Erine langsung menghela napas yang sejak tadi ia tahan.


Hugo tersenyum melihat gadis itu. Dia merasa, ada beberapa karakter Erine yang mirip sekali dengan Richi, membuatnya ingin menjahili Erine.


"Ternyata belum mengerti apa yang kujelaskan tadi."


"Diam kau!" Erine berdiri dan melempar gunting dengan asal. "Sampai disini saja." Katanya dan keluar dari halaman belakang, menuju ruang dimana Eddy dan Eline berada.


"Bagaimana? Lancar latihannya?" Tanya Eline antusias.


Erine tak menjawab dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Eline mengerutkan dahi, ada masalah apa dia dengan Hugo?


"Latihannya sudah selesai. Aku pulang dulu." Hugo tiba-tiba muncul.


"Kok buru-buru. Diluar mendung, tuh. Disini dulu aja." Ucap Eline yang mau mengakrabkan diri.


"Aku bawa mobil, kok."


"Begitu, ya. Emm.. nanti latihan lagi, kan?"

__ADS_1


"Selagi aku bisa, aku akan ajarkan. Tapi dalam seminggu kedepan sepertinya tidak, karena ada ujian."


"Ah, kau benar. Kami juga akan bersiap untuk ujian. Kalau begitu, terima kasih ya, Hugo. Minggu depan latihan lagi, ya."


Eline membukakan pintu untuk Hugo yang hendak pulang, menutupnya bahkan saat Hugo belum pergi dari sana. Dia buru-buru masuk ke dalam kamar Erine yang terlihat mematung di depan jendela kamarnya.


Eline diam-diam berdiri memperhatikan apa yang kembarannya lihat, ternyata dia menatap Hugo sampai mobil hitam itu keluar dari halaman rumah mewah mereka.


"Ehem."


Erine terkesiap. Dia langsung menutup jendelanya dengan gorden.


"Dilihatin terus padahal sudah pergi. Dari tadi sok jual mahal."


Erine menatap dengan alis berkerut. "Pergi sana. Tidak puas juga sudah merusak hariku?"


"Merusak apanya, kau justru terlihat suka."


Erine duduk di tepi tempat tidurnya. "Suka apanya! Kau jangan membuat penilaian sesukamu, aku bisa dalam masalah karenamu!" Tukas Erine.


Eline malah terkekeh. Ada sesuatu dalam pikirannya yang ingin dia lakukan diam-diam dan entah bagaimana dia merasa, rencana ini akan berhasil. Memang hanya Erine yang bisa menjalankan rencananya, karena gadis itu yang lebih cantik dan menarik dari dirinya, tentu juga lebih hebat. Dengan begitu, mudah saja bagi Erine untuk menarik seseorang, kan?


~


Hugo menepikan mobilnya. Hujan deras mengguyur kota, untunglah Hugo membawa mobil, walau dia melakukannya karena Richi yang belum sembuh total dan dia ingin terus mengantar jemput gadis itu.


Hugo menempelkan ponselnya ke telinga, sembari terus menatap rumah mewah berpagar tinggi hitam di sebelahnya. Rumah Richi, dia singgah untuk sekedar menyapa.


'Aku? Belajar. Kenapa?'


Hugo tersenyum. Padahal baru beberapa jam tidak bertemu dan itu sudah membuatnya rindu. Untunglah suara gadis itu membuatnya lebih baik walau dia belum merasa puas.


"Aku ingin melihatmu sebentar saja."


Cukup lama Richi diam, seperti tengah berpikir.


"Aku di depan rumah. Apa kau sibuk? Tidak bisa keluar sebentar saja?"


'Bukan begitu, aku sedang tidak di rumah.'


"Tidak di rumah? Kau dimana, Chi? Apa mau kujemput? Ini hujan deras, kau diantar siapa? Apa bawa jeket? Mau aku antarkan jeketku? Aku kesana, ya?" Hugo memberi banyak bertanyaan yang membuat Richi gelagapan menjawabnya.


'Eeeng, aku sedang belajar dengan teman-teman. Aku diantar kak Simon, kok. Sebentar lagi aku akan pulang. Kau tidak perlu kemari, Hugo.'


"Begitu, ya.." jawab Hugo dengan nada melemah. Padahal ingin melihat Richi, tetapi gadis itu malah tidak mau bertemu.


'Bagaimana latihannya?' Tanya Richi diseberang.


"Begitulah. Ah, bagaimana kalau aku belajar bersama dengan kalian?" Usul Hugo yang mencari banyak cara supaya bisa melihat kekasihnya.

__ADS_1


'Aku tidak yakin belajar bersamamu.'


"Apa?? Kenapa begitu? Aku akan kesana dan mengajarimu matematika. Tunggu saja!"


'Memangnya kau tahu aku dimana?'


"Kubilang tunggu saja." Hugo menutup ponselnya. Lucu kalau dia tidak tahu ada dimana gadis itu. Satu-satunya tempat Richi nongkrong adalah kafe Clair. Apalagi dia membawa Simon, jelas sekali arahnya kemana.


Hugo langsung menjalankan mobilnya kesana dengan melaju cepat. Semakin kencang kendarannya melaju, semakin cepat pula dia bertemu dengan Richi.


Tak butuh waktu lama bagi Hugo untuk mencapai tujuannya, dia sudah keluar dengan payung dan membuka pintu kaca itu.


TRING!


Semua menoleh ke arah pintu. Tidak ada pelanggan sejak tadi karena hujan begitu lebat. Mouza yang berada dipangkuan Richi langsung berlari ke arah Hugo.


Lelaki itu berjongkok untuk mengambil Mouza yang menyenderkan tubuhnya di kaki Hugo.


Mata Hugo sudah menangkap Richi yang menoleh padanya. Gadis itu memakai celana panjang dan kaos hitam tipis. Rambutnya yang mulai panjang diikat ke belakang dengan acak. Terpandang pula disudut ruang, Clair yang menemani Simon yang tengah makan, duduk berdampingan bagai perangko yang tak bisa lepas dari suratnya.


"Kau kemari mau pacaran, ya? Kami sedang belajar!" Tukas Bella.


"Aku juga mau belajar, tahu." Hugo duduk di sebelah Richi, dengan terus mengelus Mouza digendongannya.


Richi mulai menatap lagi ke arah bukunya. Tapi sesuatu mengusiknya. Yaitu ekor matanya yang mengetahui wajah Hugo yang mengarah padanya. Lelaki yang katanya mau belajar itu, tidak membawa buku dan benar saja sesuai dugaan Richi, kalau Hugo bukan berniat belajar.


"Hugo, katanya mau belajar. Berhentilah menatapku."


Hugo malah tertawa kecil. "Iya, aku belajar. Sebentar lagi." Dia lalu menatap ke arah Olivia yang tengah berkonsentrasi. "Mana Daren? Kau tidak mengajaknya belajar bersama?


"Diam kau."


"Apa perlu kutelepon?" Hugo bersiap mengeluarkan ponsel dari sakunya.


"Hei, hei, hei! Aku sedang libur, tidak bekerja dan tidak mau menghubunginya. Kau paham?" Protes Olivia.


"Begitu, ya."


"Bagaimana, sudah mengajari Eline dengan baik?" Tanya Bella tiba-tiba membahas masalah itu.


"Bukan Eline. Tapi Erine. Nampaknya dia belum begitu paham." Ralat Hugo.


"Ooh, belum paham atau sengaja belum paham-"


"Hugo, kau bilang mau mengajariku matematika. Cepat, ajari aku bagian ini." Richi memotong kalimat Bella yang bisa membuat suasana jadi tidak enak. Wajah Bella terlihat kesal, padahal dia ingin memojokkan Hugo.


"Yang ini? Hah, kecil. Sini, perhatikan calon suamimu ini ya, sayang." Tukasnya sambil merebut pulpen dari tangan Olivia, membuat gadis itu semakin kesal.


Hugo mengajari Richi jalan dari soal di buku itu. Richi sama sekali tak mendengarkan karena pikirannya berada di tempat lain. Walau dia meragukan kedua kembar itu, tapi dia yakin dengan Hugo. Butuh kepercayaan saja supaya hati dan pikirannya bisa bekerja dengan baik seperti semestinya.

__ADS_1


TBC


**Bagaimana cara kalian menyebut nama HUGO? Sebenarnya cara bacanya adalah Yugo. Tapi Hugo juga kerenšŸ¤—**


__ADS_2