
"Darrel, dimana kau? Cepat ke Wallpox, aku sudah menangkap berandal itu!" Seru Clair dari telepon. Dia tengah berlari menuju ke pusat kota, untuk menangkap Dachi Moon yang ternyata aktif disana.
Clair berhenti di keramaian orang. Dia mencoba mengatur napas karena jarak lari sekitar dua kilometer dari kafenya. Clair membuka topi dan mengipas-kipaskannya ke tubuh yang sudah penuh keringat.
Clair duduk sembari beristirahat. Dia mengakses lagi host Dachi melalui wifi taman yang ternyata hacker itu masih ada disekitarnya.
"Ah, si sialan ini siapa, sih. Kalau ketemu akan kupatahkan lehernya karena sudah membuat malam kencanku berantakan!" Maki Clair kesal. Dia tadi tengah bermesraan dengan Simon. Tahu-tahu host Dachi yang sengaja ia pasang terus muncul di layar ponselnya. Sontak dia meninggalkan Simon demi mengejar Hacker gila itu.
Clair mengedarkan pandangan, dia mencari yang kira-kira bentukannya sesuai dengan namanya, Dachi Moon. Tapi dia tidak tahu dan tidak bisa menebaknya.
Clair tiba-tiba menangkap seorang laki-laki yang memakai topi dan kacamata. Clair tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena topi yang teramat kebawah ditambah lagi ia terlalu menunduk, menatap laptop yang ia pangku sambil tersenyum-senyum disana. Entah apa yang dia lakukan tapi cukup membuat Clair curiga.
Clair memakai topinya lagi. Perlahan dia mendekati laki-laki yang memang agak aneh duduk menepi di bawah pohon.
Semakin dilihat, laki-laki itu semakin tertawa-tawa. Clair ikut penasaran apa yang ia lihat di laptopnya.
"Clair. Haaahh."
Clair terkaget saat seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Itu Olivia, di baru sampai. Gadis itu sampai terbungkuk saking sesaknya berlari dari acara pesta tadi. Untunglah tidak begitu jauh tetapi cukup menguras tenaga.
"Ah, kau mengagetkanku saja!"
"Sorry." Katanya disela napas yang tersengal. "Maah-nah orangnyahh?" Tanya Olivia (mana orangnya?).
"Tuuuh." Bibir Clair yang semula mengerucut menunjuk ke arah Dachi Moon yang ia curigai, berubah menganga.
"Hah? Mana dia?" Clair sibuk mencari orang tadi kesana kemari. "Arrgh! Sial. Kau, sih!" Pekiknya kesal pada Olivia.
"Kok aku?"
"Tadi dia disana. Gara-gara dirimu mengagetkan, dia jadi lari!" Pekik Clair hingga membuat orang-orang disekitar memperhatikan.
"Jadi bagaimana?" Olivia ikut mencari walau dia tidak tahu siapa yang dimaksud Clair.
"Liv, Liv, Liv.." Clair menepuk-nepuk bahu Olivia. "Itu.. itu dia.." Clair menenujuk ke salah seorang yang tengah berlari dengan membawa laptop di tangannya.
Spontan Clair mengejar, sementara Olivia membuka sepatu yang menghalanginya berlari.
"Clair, tungguuu!"
"Aaargh Ayo cepat, Liiv." Clair menarik tangan Olivia yang langsung berlari sambil menggandeng sepatunya.
Mereka berdua berlari kencang melewati banyak orang yang keheranan menatap mereka.
Keduanya terlihat aneh sebab yang satu seperti penjahat dengan topi, jeket, dan celana koyak-koyaknya. Sementara yang satu mirip pengantin yang kabur dari calon suaminya. Apalagi dengan robekan dibelakang dressnya. Cukup membuat orang-orang penasaran dengan apa yang terjadi diantara keduanya.
"Aku kesana." Kata Clair mengambil jalan lain. Sementara Olivia hampir bisa mengejar lelaki itu.
"Heeeii, berhentiii." Teriak Olivia.
BRAK!!
Tendangan Clair yang muncul tiba-tiba dari depannya membuat lelaki itu tersungkur dengan memeluk laptop di dadanya.
"Haaah, sial. Bisa-bisanya kau lari!" Clair ikut terduduk, padahal lari yang pertama masih membuatnya sesak. Ditambah harus mengejar lelaki itu membuat perutnya terasa nyeri.
__ADS_1
"Haah, kenapa aku lemah sekali sekarang." Sambungnya lagi.
Olivia berjongkok di depan lelaki yang meringkuk kesakitan. Dia masih memeluk laptop seperti takut dicuri.
"Kau siapa?" Tanya Olivia. Lelaki itu perlahan duduk dan meraih kacamata dan topinya yang terjatuh.
"A-aku.. R-roy." Jawabnya terbata. Dia tampak ketakutan.
"Kenapa kau kabur, hah?" Tanya Clair. Dia kini berdiri memegangi perutnya yang terasa sakit.
"A-aku mau pu-pulang."
"Kau pulang atau kabur karena kami??" Pekik Clair kesal.
"I-ibuku me-menyuruhku pu-pulang. To-tolong jangan ambil laptopkuuuuu." Pekik lelaki itu.
TRIRIRING
Ponsel disaku lelaki itu berdering. Dengan tangan gemetar dia mengambilnya.
"Ha-halo, Ibu."
'HEYY KAU ANAK SIALAN. KENAPA BELUM PULANG JUGAAAA!!'
Lelaki itu spontan menjauhkan ponsel dari kupingnya. Begitu juga Clair dan Bella yang reflek mengedikkan bahu karena kaget.
"I-i-iya bu. A-aku pu-pu-pulang."
'DARI TADI KAU BILANG BEGITU TAPI TIDAK SAMPAI-SAMPAI. KALAU DALAM 5 MENIT KAU TAK MUNCUL, KUBUNUH KAU!'
"Jadi, kau tadi mau pulang?" Tanya Clair yang kini merasa prihatin.
"I-iya."
"Tapi kenapa kau malah lari?" Tanya Olivia.
"A-aku kira kalian m-mau me-mencuri laptopku." Jawabnya lagi.
"Haah. Aku jadi kasihan padamu. Sana pulang, bisa-bisa kau jadi sate kalau tidak balik sekarang." Tukas Clair. Dia membantu lelaki itu berdiri.
"Maaf, ya. Aku sudah mencurigaimu tadi." Kata Clair.
Lelaki itu menunduk lalu melangkah pergi.
"Tunggu!" Olivia mendekatinya, lelaki itu berbalik dengan perlahan.
"Aku juga mau minta maaf. Semoga kita bertemu lagi sebagai pertanda kau belum dibunuh ibumu, ya." Kata Olivia sembari menepuk-nepuk punggung lelaki itu.
Lelaki itu tampak sedikit kesal. Dia pun melanjutkan langkahnya, sampai menjauh dari pandangan kedua gadis itu.
"Sungguh malang. Aku yakin dia menjadi korban Bully di sekolahnya." Ujar Clair. "Ditambah lagi orang tuanya nampak kejam. Aku bisa melihat hidup yang tertekan dari wajah lelaki itu."
Clair berujar sendiri, dia merasa Olivia terlalu hening hingga ia menoleh dan mendapati gadis itu mengutak-atik sebuah ponsel.
"Ponsel baru?" Tanya Clair.
__ADS_1
"Enggak."
"Lalu, punya si.. astaga, Liv, kau mencuri ponselnya??" Tanya Clair tak percaya.
"Emm.. aku hanya pinjam. Nanti akan aku kembalikan. Ini dikunci, jadi aku akan membukanya saat sampai rumah."
"Untuk apa, Liv? Tidakkah kau mendengar teriakan ibunya yang seperti monster itu??"
"Bukannya kau tadi diam-diam mendekatinya?" Tanya Olivia.
"Ya, lalu?"
"Lalu dia berlari, bukan berjalan."
Clair menghela napas. "Kau dengar sendiri ibunya menyuruhnya pulang?"
"Tapi dia berjalan santai bahkan setelah Ibunya mengancam dirinya."
Clair membelalakkan mata. "Benar juga! Astaga, kau pintar sekali!"
"Tentu saja." Jawab Olivia tak sombong.
Clair mulai tersadar dengan apa yang Olivia kenakan.
"Olive."
"Hm?"
"Kau habis kabur dari sebuah pernikahan?"
"Apa?"
Clair menunjuk ke adah dada Olivia, dimana bercak merah ada disana, juga gaun putih diatas lutut yang membuatnya mencolok dari yang lain.
"Astaga, aku sampai lupa." Katanya sembari menutupi dadanya dengan tangan.
"Olivia. Lututmu.. berdarah."
Olivia langsung melihat lutut kanannya. "Ah..."
"Kau jatuh dimana?" Tanya Clair ikut membungkuk, melihat kondisi lutut gadis itu.
"Aku.. tidak jatuh." Jawabnya setelah berpikir beberapa saat.
"Lalu? Oh, lihat. Gaunmu robek."
Mata Olivia terbelalak. "Mati aku.." desisnya. Ini milik salon itu, kan? Atau Daren sudah membelinya? Aaaaahhh, masalah baruu. Batin Olivia.
"Kau habis melakukan apa, hah?"
"Ka-kayanya karena aku melompat pagar tadi. Pasti lututku kena."
Clair menggelengkan kepalanya. Tidak heran, ini Olivia. Lebih rusuh dari Richi Darrel yang biasanya melakukan apa-apa selalu rapi.
TBC
__ADS_1