Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Bab Spesial


__ADS_3

Di salah satu hamparan aspal yang sepi, sebuah motor sport melaju begitu kencang tanpa merasa khawatir dengan seberapa kecepatan yang ia lepaskan. Tak lama setelah itu, motor sport lain mengejarnya dari belakang dengan kecepatan serupa, berusaha mengalahkan yang ada didepannya.


Setelah melaju beberapa kilo meter jauhnya, motor terdepan memperlambat lajunya. Ia bersorak mengangkat kedua tangannya dengan gembira.


"Yuhuuuuwwwww..." dia kemudian memberi rem hingga ban depan tercekat, membuat bagian belakang motornya stoppie. Satu motor lagi mendekat, memberi rem yang lebih tenang.


Dia kemudian membuka helm, membuat rambut panjangnya langsung tersibak angin.


"Kau kalah, Weeekk!" Richi menjulurkan lidah pada Hugo yang baru saja sampai. Lelaki itu juga membuka helm hitamnya.


Dia hanya diam melihat Richi yang berjoget gembira dengan kekalahan Hugo.


"Sudah mau gelap. Ayo pulang."


Richi menyugar rambutnya kebelakang. "Jangan marah gitu, dong. Aku kan, mau menagih janjimu."


"Iya, aku tetap akan kabulkan walau kau yang kalah."


Richi mencebik, lalu naik dan memakai lagi helmnya.


"Sampai di rumah, kau harus langsung mengabulkannya, ya!!"


"Iya. Jangan balap-balap lagi. Di depan itu jalan ramai." Teriak Hugo pada Richi yang hanya melambaikan tangan dan melaju pergi.


Lelaki itu menggelengkan kepala. Yah, rumah tangganya memang berbeda dari orang lain. Tapi setidaknya itu Richi, gadis yang namanya sudah lama sekali mekar di hatinya.


Hugo menjalankan motornya, mengikuti dan mengawasi Richi dari belakang. Menikah dengan perempuan yang punya banyak kesamaan dengannya juga bukan hal yang begitu baik, sebenarnya. Kenapa begitu?


Contoh saja yang barusan terjadi. Richi mengajaknya balapan motor, sesuatu yang sebenarnya Hugo sukai. Namun karena lawannya istri sendiri, tentu ia merasa berat. Dia tak ingin Richi kenapa-napa di jalanan bebas. Itu sebabnya lelaki itu memblok satu jalan yang ia gunakan untuk balapan bersama Richi. Tentu saja semua terjadi karena gadis itu menawarkan sesuatu yang menarik yang tak ingin Hugo lewatkan begitu saja. Sialnya, dia kalah.


Sesampainya di rumah, Richi berjalan lenggak-lenggok penuh kemenangan. Ia bahkan lupa untuk melepas jeketnya saking senangnya.


Lain hal dengan Hugo. Lelaki itu berjalan gontai memperhatikan kegembiraan sang istri.

__ADS_1


"Aku mau keluar dulu." Hugo meletakkan helm dan jeketnya diatas sofa.


"Hm? Kemana?"


"Membawa motorku ke bengkel. Rasanya sudah lama aku tak merawatnya dengan benar." Yah, Hugo hanya mengatak itu untuk menutupi rasa malunya karena kalah dengan Richi. Memang ia akui, Richi sering mengalahkannya dalam beberapa hal walau tak sering. Tapi tentu itu membuat harga dirinya turun mengingat dialah laki-lakinya, bukan Richi.


"Nanti saja. Aku mau bicara."


"Sekarang?"


Richi menggeleng. "Aku mandi dulu."


"Mandi?" Hugo tiba-tiba memunculkan senyum jahil hingga gigi taringnya terlihat.


"No, Hugo. Kau kalah. Ingat?" Richi tersenyum terpaksa, lalu masuk kedalam kamar dan menutup pintu dengan cepat. Membuat Hugo mengacak-acak rambutnya karena kesal.


Senyum terpaksa Richi sering Hugo lihat sebagai senyum dengan rasa bersalah. Pasalnya, ini sudah lima hari pernikahan, tapi Richi belum juga mau melakukan kewajibannya, dan sampai sekarang gadis itu selalu saja mencari alasan.


Hugo ikut masuk kedalam kamar, menunggu Richi disana. Dia membaringkan tubuh diatas sofa saat ia merasa lelah dengan pertaruhan tadi.


Tetapi gadis itu tak berniat melakukan 'itu' dengan alasan bermacam-macam. Padahal Hugo tahu gadis itu sudah selesai dengan masa haidnya.


Apa ada yang salah? Hugo tentu pernah bertanya itu dua hari lalu. Namun jawaban Richi malah semakin membuat Hugo bingung. Katanya tidak ada. Richi malah menciumi bibir Hugo begitu lama. Semenjak itu senyum bersalah Richi selalu muncul. Namun tetap saja, ia membiarkan dan memendam keinginannya sampai Richi sendiri yang menginginkannya.


Suara getar ponsel membuat Hugo membuka mata. Diliriknya ponsel Richi yang terletak di dekatnya. Hugo meraihnya, membuka ponsel Richi yang juga menyimpan sidik jarinya. Dengan mudah ia membuka ponsel sang istri dan menemukan pesan Olivia disana.


Tak berniat membuka pesan itu, Hugo berencana mendengarkan musik saja untuk menenangkan pikirannya sejenak. Tapi ia iseng membuka apa saja yang istrinya lakukan selama ini dengan ponsel yang jarang sekali gadis itu buka.


Semua tampak biasa dan tak ada yang perlu dicurigai disana sampai Hugo membuka histori pencarian sang istri, terkejutlah dia mendapati beberapa pencarian yang ada disana.


Hugo sampai duduk tegak membacanya. Apa ini? Keningnya berkerut. Beberapa saat Hugo mematung, sampai ia menyandarkan lagi punggungnya ke badan sofa.


Ah, Richi. Ternyata selama ini istrinya punya alasan kenapa ia terus menolak ajakan Hugo hingga membuat ia mencurigai gadis itu.

__ADS_1


"Arghh.. sayang. Maaf, aku tidak ingat soal ini." lirih Hugo, lalu menutup ponsel Richi dan meletakkannya ketempat semula.


Hugo beralih keatas ranjang dan membuka laptopnya. Dia mencari beberapa artikel. Setelah dengan yakin, Hugo menghubungi bawahannya untuk menitahkan beberapa hal. Kemudian ia menutup kembali laptopnya. Disaat bersamaan, Richi keluar dari kamar mandi menggunakan jubah handuknya.


"Kau ada kerjaan, ya?" Tanya gadis itu saat Hugo baru saja meletakkan laptop diatas meja.


"Iya. Mungkin besok aku harus ke kantor sebentar." Jawabnya. Hugo berdiri dan mendekati Richi. Harum bunga menyeruak dari tubuh gadis itu.


"Chi.." Hugo memegang kedua bahu gadis yang wajahnya tampak takut-takut.


"Kita bulan madu, ya. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu besok. Lusa kita berangkat bersama. Jadi, siapkan keperluan kita selama 10 hari diluar negeri."


Baru Richi membuka mulut, Hugo dengan cepat melanjutkan kalimatnya.


"Tidak ada penolakan kali ini. Aku yang memerintah dan kau harus mengikuti kemauanku. Aku ingin kesuatu tempat yang sudah lama aku inginkan. Aku yakin kau pun pasti akan senang."


"Ke-kenapa mendadak?"


Beberapa detik Hugo menatap mata istrinya. "Karena aku baru menyadari sesuatu."


Alis istrinya terangkat, menanyakan apa maksud lelaki itu. Namun Hugo meraih dagu Richi dan mengecup bibirnya cukup lama.


"Aku mau punya kenangan dan kesan yang indah untukmu. Jadi, besok kau harus sudah bersiap dan tidak boleh menolak apapun alasannya."


Richi tidak bisa lagi menjawab. Selama ini memang Hugo mengajaknya pergi, namun gadis itu menolak dan Hugo menurutinya saja tanpa bantahan. Tapi kali ini dia agak kaget dengan titah Hugo yang mendadak membuatnya bungkam tak berani membantah.


Setelah mengatakan itu, Hugo keluar dari kamar, entah kemana. Yang jelas, dia tengah menyiapkan tempat yang indah supaya Richi bisa perlahan menghilang dari rasa takutnya.


^^^



*^^^

__ADS_1


** Jangan Lupa baca Something Between Us **


__ADS_2