
Richi menenggak habis air dalam botol. Keringatnya bercucur setelah berlari 1 kilometer tanpa henti. Hal yang sudah lama sekali tak ia lakukan.
Sialnya menjadi urutan terakhir dalam absensi, membuat Richi selalu menjadi yang terakhir. Padahal dia akan ke fakultas Hugo, tapi nampaknya akan terlambat karena harus mengeringkan keringat sebelum mandi.
Joy dan Sarah, mereka sudah kabur duluan saat setelah mereka sudah menuntaskan latihannya. Tadi, Sarah sempat mengeraskan suaranya saat Richi berada di lapangan.
"Siap-siap dulu, ah. Mau bertemu Hugo Erhard!"
Untung Richi bisa tahan untuk tak menoleh pada sumber suara. Dia hanya menutup wajahnya dengan sebelah tangan karena panas matahari.
Lalu kini, dia harus beristirahat dulu supaya lebih segar saat bertemu Hugo nantinya.
Hal yang sama pula terjadi pada Evan. Dia baru menyelesaikan latihannya dan duduk disebelah Richi. Matanya menatap kesal lantaran kalah berlari dengan gadis itu. Napasnya naik turun. Dia sampai menyiramkan botol berisi air ke atas kepalanya.
"Uh!" Evan mengibaskan rambutnya, membuat Richi menutup sebagian wajahnya dengan tangan kanan karena percikan air yang dibuat Evan.
Sebelah mata yang terbuka itu menatap segerombolan orang yang datang dari lapangan terbuka. Mereka membawa balok kayu dan tongkat bisbol. Wajah-wajah sangar itu membuat beberapa orang di lapangan berhambur lari. Dan mereka menuju kearah dimana Richi duduk.
Teman-temannya yang lain berdiri. Mereka mulai menanyakan siapa kelompok yang datang itu, mau apa, dan akan menyerang siapa. Karena jalan mereka lurus dan cepat.
Semua orang mulai ketakutan saat segerombol lelaki itu berhenti dibawah deretan bangku stadion tempat Richi dan teman-temannya beristirahat. Cuaca terik membuat mereka menyipit menatap kearah atas.
"Richi! Yang mana namanya Richi! Cepat turun, bangsat!" Teriak satu orang paling depan, sudah siap dengan tongkat baseball di pundaknya.
Semua mata menatap Richi yang masih duduk dengan tenang. Wajah teman-temannya panik, apalagi Richi seorang perempuan dan ada apa sekelompok laki-laki ini malah memanggilnya dengan seperti itu.
Melihat semua mata menatap kepada seorang perempuan yang duduk dengan anggun, membuat yang berteriak tadi mengerutkan alisnya.
"Richi itu.. laki-laki, kan?" Tanyanya pada orang disebelahnya.
"Aku juga tidak tahu. Tapi kuyakin laki-laki. Tidak mungkin Andrew menyuruh kita memukuli anak perempuan." Jawabnya dengan yakin.
"Hei, cepat katakan, yang mana yang namanya Richi Wiley!!" Pekiknya pada orang-orang diatas bangku stadion.
Andreas berjalan menuruni tangga dengan cepat.
"Permisi, kakak-kaka senior yang saya hormati dengan segenap jiwa. Ada apa mencari Richi?" Tanyanya dengan hati-hati juga ketakutan.
"Dia harus berhadapan dengan kami karena telah memukuli teman kami!" Pekiknya.
Andreas menatap Richi diatas. Perempuan itu bergeming. Dia bahkan tak berekspresi sedikitpun.
"T-tapi.. tidak mungkin perempuan seperti itu menghajar teman kakak."
"Apa?"
Laki-laki itu menoleh kebelakang, menatap teman-temannya. "Kalian tidak salah nama?" Tanyanya lagi.
"Tidak, aku yakin namanya Richi Wiley." Sahut seorang dibelakang.
"Tapi, Richi Wiley itu perempuan, kak." Sahut Andreas.
"Bangsat! Kau mempermainkanku, ya!" Senior itu mencengkram kuat kerah jeket Andreas.
"Ampun, kak. Dia memang perempuan." Rintih Andreas.
Richi yang mengamati dari atas, tergerak untuk mengatasi masalah ini. Setelah mendengar pertengkaran dibawah, dia tahu bahwa mereka adalah suruhan Andrew.
"Nampaknya kau tak bisa mengatasi itu sendiri." Ujar Evan yang sudah berdiri menatap orang-orang dibawahnya.
Richi tak langsung menjawab. Dia menurunkan kancing jeket olahraganya, membiarkan itu terbuka sampai tank top putihnya terlihat.
"Bukankah olahraga kita terlalu membosankan?" Richi berdiri. Angin di lapangan terbuka itu membuat jeketnya berkibar kebelakang.
Senyum Evan mengembang. Dia tahu apa maksud Richi. "Kau benar. Aku butuh latihan tambahan." Jawabnya.
Richi menuruni tangga dengan santai. Evan mengikut dibelakangnya.
"Richi, jangan mendekat!" Titah Andreas dengan suara yang tercekat, berusaha melepaskan diri dari cengkraman senior itu.
"Aku Richi Wiley. Apa kakak-kakak mencariku?" Richi menebarkan senyuman, yang membuat kelompok itu saling menoleh dan berbisik.
__ADS_1
Lelaki itu melepaskan cengkramannya pada Andreas hingga ia terjatuh.
"Kau Richi Wiley?" Dia menatap Richi dari atas sampai bawah. Lalu seringai licik muncul di wajahnya.
"Aku tidak mungkin salah mendengar nama. Temanku juga tidak mungkin salah menyebut nama. Jika kau Richi Wiley, berarti kaulah yang akan menjadi sasaran empuk hari ini." Melihat perempuan yang muncul, pikirannya mulai teralihkan pada hal lain.
"Entah apa yang membuatmu datang hari ini, tapi yang pasti, aku menyambut kedatanganmu." Richi berjalan mendekat. Lelaki itu tinggi, hingga membuat Richi mendongak menatapnya.
"Kau tahu, dia tidak bilang hukuman apa yang harus aku berikan pada musuh yang satu ini."
Richi mengangguk-angguk. "Aku tahu. Mari kita tentukan sendiri."
Dia memindai lagi tubuh Richi dari atas sampai bawah. Lalu matanya menatap bagian dalam jeket yang terbuka lebar.
"Bagaimana kalau kita melakukan sedikit peregangan." Usulnya dengan senyum licik.
"Aku suka peregangan."
"Benarkah? Kau mau dimana?" Tanya lelaki itu antusias.
"Disini."
Alisnya naik. "Disini?"
"Ya. Aku sebenarnya malu mengatakan ini, tapi..." jari telunjuk Richi bergoyang, memintanya untuk mendekat.
Lelaki itupun mendekatkan wajahnya. Dengan kuat Richi menghantam bawah dagunya keatas hingga lelaki itu terjungkal kebelakang.
"Tapi, mari bertarung. Perempuan melawan tiga puluh laki-laki, kurasa cukup imbang." Sambung Richi. Dia menaik-naikkan alisnya dengan senyuman, menyuruh yang lain untuk maju.
"Richi! Kau gila??" Pekik Andreas tak percaya. Apalagi lelaki yang lain tampak geram dengan aksi Richi.
"Bangsat!" Seorang yang lain maju dengan mengayunkan balok kayu di tangannya. Namun belum balok itu sampai kebawah, Richi dengan cepat menendang ulu hatinya hingga ia tersungkur dan menjatuhkan senjatanya.
Evan menangkap balok kayu yang dilemparkan Richi padanya. Lalu, ia berlari masuk kedalam gerombolan dan menghajari orang-orang disana.
Beberapa lainnya datang menyerang Richi. Bukan hal sulit apalagi tongkat baseball di tangan Richi berhasil membuat ujungnya sudah bebercak darah.
Tentu kejadian itu membuat mata dan mulut yang lain sukses terbuka lebar. Apalagi Richi benar-benar menujukkan taringnya. Dia bahkan tak tersentuh sedikitpun.
Satu pukulan di punggung lawan membuat tongkat baseball di tangan Richi patah. Richi melempar sisa ujungnya kearah lawan yang hendak menghajarnya, hingga berhasil mendarat di keningnya dengan sempurna, sampai lawannya itu terjungkal kebelakang.
Satu lagi, dia menyerang Richi. Gadis itu berhasil mengelak, namun lawan malah menarik jeket Richi dari belakang, membuatnya mau tak mau melepas jeketnya sampai ke tangan, lalu Richi menarik lagi jeketnya hingga membuat lawan mendekat.
Dengan cepat Richi melilitkan jeketnya kekepala lawan. Satu tinju membuat lawan mundur beberapa langkah, lalu Richi memutar badannya, mendaratkan tendangan keras hingga lelaki itu jungkir balik diudara, jatuh dengan keras, meringis memegangi tubuhnya yang kesakitan.
"HIYAAATT!"
Suara dari belakang Richi membuatnya bersiap membalikkan badan, namun Evan dengan cepat memukul kepala laki-laki itu sampai ia terjatuh. Selesai.
Richi menatap sekitar, semua sudah tergeletak dan beberapa menggeliat kesakitan.
Evan dan Richi saling tos, tak sangka ternyata lawan mereka cukup ringan.
Richi menatap jeket olahraganya. Tak mungkin dia mengambilnya lagi. Terpaksa dia harus membeli yang baru.
Richi tak menghiraukan pandangan orang-orang yang menatapnya. Dia berjalan naik keatas, keluar stadion untuk menemui satu orang yang lehernya harus ia patahkan.
~
Richi berjalan di koridor gedung olahraga. Dia hanya menggunakan tank top yang sedikit bebercak darah, dengan celana panjang yang sedikit kotor dibagian lututnya. Matanya terus mencari siapa orang yang ia kenali, lalu ia mendapati laki-laki gembul yang pernah menjadi korban Virgo dan teman-temannya.
Dia mendekat, membuat lelaki itu menunduk takut. Karena yang ia tahu, Richi adalah kekasih Virgo yang juga titahnya harus dituruti.
"Dimana markas Andrew?"
Lelaki itu menaikkan kepalanya. "Ma-markas?"
Richi menatapnya lurus kedepan. Dia ingin memberi pelajaran pada lelaki itu.
"A-andrew tadi ada di lantai F."
__ADS_1
Richi mendongak, melihat lantai dimana ia berada. Lantai C. Berarti lantai F adalah lantai paling atas.
"D-dia ada di gudang. Tulisannya gudang, tapi sebenarnya itu.. markas mereka."
Tanpa kata lagi, Richi langsung pergi. Tak menaiki lift, Richi berlari melangkahi tangga dengan cepat.
Dia berjalan lurus di koridor. Matanya sudah menangkap tulisan gudang diatas pintu paling ujung. Terdengar suara riuh dari dalam, sampai Richi menendang keras pintu itu, terbuka, dan semua hening menatap kearahnya.
Richi mendapati ruangan itu diisi beberapa meja judi, dan mini bar berisikan minuman keras. Dia sampai tak habis pikir bagaimana fakultas bisa menyediakan ini untuk para preman kampus.
Andrew, dia duduk dibelakang meja dengan tangan memegang kartu remi. Segepok uang ratusan ada diatasnya. Padahal lehernya masih memakai penyangga, tapi Richi tadi sempat melihatnya tertawa lebar sampai perubahan mimiknya menatap Richi dengan takut.
Bagaimana pun dia gemetar. Apalagi sejak tadi dia sudah membayangkan seperti apa Richi dihabisi teman-temannya. Tapi saat melihat gadis itu muncul dengan kaos pendek bebercak darah, membuat Andrew langsung gemetar.
Richi berlari kearah Andrew. Dia melompat naik keatas meja. Kakinya menendang keras wajah Andrew hingga ia terjatuh kebelakang. Tak ada yang bergerak, semua mematung karena mereka juga tahu, siapa gadis itu.
Richi melompat turun. Dia berjongkok menatap Andrew yang masih tersungkur memegang hidungnya yang berdarah.
"Kau tahu, aku tidak suka ditentang." Richi mengatakan itu bukan tanpa alasan. Dia hanya membalikkan kata-kata Andrew padanya waktu itu.
Andrew perlahan mendur. Gemetar tangannya tak bisa ia sembunyikan.
"Aku tak segan membunuhmu sekarang, karena kau benar-benar mengusik hidupku!"
Mendengar itu, Andrew ketakutan. Dia langsung bersujud di depan Richi. Saat ini dia tak punya pilihan. Jika teman-temannya itupun bisa ia hadapi, artinya perempuan itu bukanlah sembarang.
"A-ampunkan aku. Ampunkan, aku." Suara Andrew bergetar. Dia menangis dalam sujudnya.
"Bos.. bos..!" Terdengar teriakan dari ujung koridor. Suara kaki berlari pun kian mendekat.
"Bos, kita kalah, bos. Kita kalah.." Dia berhenti di depan pintu. Lalu melotot saat mendapati Richi berdiri menghadapnya.
Gadis itu menarik kursi lalu duduk menghadap semua orang yang ada disana.
"Kau katakan pada mereka, apa-apa yang menjadi larangan dan kewajiban. Jika kulihat dari kalian membangkang..." Richi melihat kebawah, dimana Andrew masih bersujud. "Maka leher kalian akan patah sepertinya."
Semua menunduk. Tak ada yang berani mengangkat kepala. Tak satu orang pun.
"Panggil aku Darrel."
Andrew, perlahan mengangkat kepalanya.
"D-darrel?"
"Kau seperti tahu sesuatu." Seringai Richi muncul saat namanya disebut.
"Darrel.. dari Valiant." Sambung lelaki diujung sana.
"Bagus kalau kau mengenalku. Itu tandanya, aku tak perlu banyak bicara soal siapa diriku." Richi berdiri. "Mulai hari ini, segala sesuatu harus kalian laporkan padaku. Jika menolak, angkat kepalamu dan hadapi aku."
Semua menunduk. Tak ada suara, keheningan itu membuat Richi lagi-lagi tersenyum miring.
Dia berjalan keluar tanpa kata-kata lagi. Yang dia tahu, orang-orang itu sudah mengerti perintahnya.
Namun, saat akan keluar dari pintu, seseorang mengangkat kursi dan hendak menghantamkannya ke Richi. Untungnya, pergerakan itu bisa Richi baca sejak lelaki itu terus melirik Richi dalam tunduknya.
Richi membalikkan tubuhnya, langsung menghindar dari serangan itu, membuat kursi hancur seketika. Kejadian itu membuat semua mata melebar.
Richi memberikan hantaman keras di ulu hati sampai lelaki itu membungkuk. Kesempatan itu ia ambil dengan naik keatas meja dan menghentakkan kepala lelaki itu kemeja judi. Richi menginjak kepalanya dengan keras, sampai keluar erangan sakit dari mulutnya.
"Kau memberikan contoh yang baik."
"A-ampun.. Ampunkan aku.."
Richi, dengan kakinya mengangkat kepala lelaki itu, lalu menendangnya hingga ia tersungkur menabrak meja penuh botol bir yang jatuh dan pecah mengenai tubuhnya.
"Sekali lagi kau melakukan itu, aku tak segan membunuhmu dan keluargamu."
Ancaman Richi berhasil membuat yang lain menelan ludah. Richi keluar dari ruangan dan membuat anggotanya menghembuskan napas yang sejak tadi mereka tahan. Richi membuat sejarah baru. Kelompok itu kini dipimpin oleh seorang perempuan, yang mampu membuat semua orang takut menghadapinya.
TBC
__ADS_1
**Panjangnya dah 2 bab. Awas aja kalo ga like. Aku bakalan pindah ke APLKS Sblh**