Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Debaran Hati Richi


__ADS_3

"Hugo, tanganku sakit" Rengeknya pada Hugo.


"Sebentar". Hugo melepaskan pelukan Camilla. "Kau bilang, dia yang menolongmu?" Tanyanya dengan alis berkerut.


Camilla mengangguk lambat. "Dia menendang punggung pria itu hingga tersungkur disitu". Camilla menunjuk tempat pria tadi jatuh tersungkur karena tendangan Richi dari belakangnya.


Mendengar itu, Hugo terdiam. Ternyata dia salah sangka. Dia sempat berpikir bahwa pria brengsek tadi yang mengganggu Richi. Ternyata dia salah. Dia juga mengingat amarahnya terhadap Richi. Entah mengapa, keluar begitu saja saat melihat gadis itu tidak kabur atau meminta pertolongan saat dia berhadapan dengan orang jahat.


"Hugo, lihatlah pergelangan tanganku.." Rengek Camilla sambil memegang pergelangan tangannya yang sempat di pegang pria asing tadi.


Hugo hanya diam sambil menatap punggung Richi sampai hilang di kegelapan malam.


🌿🌿🌿🌿


Richi duduk dan menaikkan kakinya di atas sebuah bangku. Dia memijit-mijit pergelangan kakinya yang sempat terkilir saat latihan bela diri tadi.


"Sakit, ya?" Leonard, lawannya saat bela diri tadi duduk disebelahnya. Dia memberikan sebotol minuman kepada Richi.


"Lumayan". Jawabnya sambil menerima minuman itu.


"Sorry, ya. Aku juga heran kenapa pak Ronald menyuruhku melawanmu". Ucapnya merasa bersalah pada gadis itu. Sebab biasanya mereka melawan satu gender.


"Tidak apa. Dia begitu mungkin karena Ayahku yang memintanya." Richi menenggak minuman di tangannya.


"Ayahmu?"


Richi mengangguk. "Dia mau aku jadi perempuan yang kuat dan tahan sakit".


"Kenapa begitu? Kau kan, perempuan. Lagi pun, kau punya kakak laki-laki, kan?" Tanya Leon yang sudah kenal Richi sejak pertama ia mendaftarkan diri di gedung ini, delapan tahun lalu. Richi sudah berada disini jauh sebelum Leon datang.


"Kakakku juga melakukan hal yang sama. Ada hal yang aku tidak bisa beritahu". Ucapnya lagi sambil tersenyum tipis.


"Tapi aku merasa itu keputusan tepat, karena tidak ada perempuan yang mau melawanku. jadi, melawan laki-laki juga tidak buruk". Ucapnya lagi sambil menenggak minuman itu sampai habis.


"Masih sakit?" Richi menunjuk pelipis biru laki-laki itu yang sempat terkena High Kick oleh Richi.


"Masih sedikit oyong. Kupingku sampai dengung". Ucapnya sambil menekan-nekan kuping kirinya yang berisik akibat tendangan tajam dari Richi.


Richi menahan tawanya. Merasa kasihan pada Leon. Awalnya Richi ingin sekali menendang seseorang. Lalu saat Ronald mengaturnya melawan Leon, dia dengan semangat berapi-api menerjang dan menghantam Leon.

__ADS_1


"Maaf ya, Leon. Tapi kau keren, sudah banyak kemajuan". Richi mengacungkan jempolnya.


Leon hanya tertawa kecil. Karena di tempat inilah, biasanya orang-orang melatih diri untuk tidak melakukan dendam. Tapi Richi, malah melakukan yang sebaliknya.


"Hei cepat, istirahat sudah usai". Seseorang memberitahu mereka. Lalu mereka pun bergerak ke tempat latihan.


Disana, gadis-gadis itu sudah berkumpul di depan seorang laki-laki bertubuh tinggi.


"Siapa itu?" Leon melirik laki-laki yang wajahnya asing di tengah-tengah orang.


Richi membelalakkan mata saat melihat laki-laki itu berdiri disana juga memandangnya sambil tersenyum.


"Kak Emer?" Richi berlari kecil menghampirinya. Dia melihat Emerald yang memakai dobok bersabuk hitam.


"Richi, senang melihatmu disini". Ucapnya tersenyum cerah.


"Ayo semua berkumpul. Aku akan memperkenalkan kalian dengan seseorang." Ucap Ronald yang membuat Richi duduk bersama teman-temannya.


"Ini adalah senior kalian. Baru pulang beberapa hari lalu dari Negara seberang. Dia adalah salah satu anggota di cabang negara X. Namanya Emerald Valter. Dan akan membantuku melatih kalian disini." Jelas Ronald pada anak-anak muridnya.


Semua bertepuk tangan menyambut Emerald. Apalagi Richi. Matanya berbinar melihat sabuk hitam melingkar di pinggang lelaki itu. Hebat sekali. Batinnya.


"Ichi!" Emer memanggil Richi yang melangkah keluar setelah latihan usai. Diapun sudah mengganti pakaiannya.


Dia sedikit mengerutkan alis karena Emer memanggilnya seperti keluarganya.


Emer menghampirinya. Mereka jalan beriringan.


"Kau marah kalau ku panggil seperti itu?" Tanya Emer sambil sesekali melihat ekspresi Richi.


"Tidak. Panggil saja asal kakak nyaman".


Jawaban Richi membuat Emerald tersenyum cerah.


"Kau tidak di jemput?" Tanyanya lagi karena tidak melihat Simon dan mobilnya terparkir disini.


"Tidak".


"Mau aku mengantarmu?"

__ADS_1


"Tidak perlu kak. Aku ingin ke suatu tempat". Ucapnya lagi sambil memicingkan mata menghadap Emer. Angin cukup kencang menerpa wajahnya.


"Oh, begitu. Tadi kenapa sabukmu putih? Kudengar kau sudah hampir 10 tahun disini." Tanya Emer yang sempat melihat Richi malah memakai sabuk untuk pemula.


"Hahaha. Entahlah. Ayahku memang suka mengada-ngada. Entah jurus apa yang harus ku keluarkan supaya pindah sabuk". Richi tertawa dengan kelakukan ayahnya. Di suruh belajar Taekwondo dan lainnya supaya dia kuat, tetapi tidak boleh sombong terhadap level sabuk. Awalnya dia mengeluh, lantaran banyak yang mengejek dan menyepelekannya.


Sabuk yang melekat hanya sebatas sabuk. Supaya Richi tetap berusaha keras dan tidak sombong. Begitu kata Ayahnya.


Dia bahkan kerap menerima keremehan dari orang-orang baru atau pindahan.


Misal saja beberapa waktu lalu, seorang wanita bersabuk merah. Richi sendiri tak tahu apa yang membuat gadis itu membencinya. Padahal Richi sempat tersenyum padanya.


Saat latihan versus, dia menunjuk Richi sebagai lawan tandingnya. Orang-orang sempat ternganga, lantaran sabuk yang dipakai Richi hanya formalitas saja. Aslinya, dia ini senior kelas kakap.


"Kau yakin mau melawan dia?" Tanya Ronald waktu itu. "Dia bukan lawanmu".


"Aku hanya ingin mengajarinya jurus dwi hurigi". Begitu kata wanita itu sambil tersenyum licik. Dia sebal melihat Richi yang banyak duduk disana, tidak melakukan aktivitas apapun. Bahkan tidak latihan. Padahal dia masih sabuk putih.


Richi berdiri. Bersiap melawan. Tetapi baru masuk awal, jurus Dwi Hurigi sudah Richi keluarkan dan mengenai leher wanita itu.


Bukan dia yang mengajari, namun Richilah yang memperjelas jurusan itu tepat di lehernya. Lalu, wanita itu tidak pernah datang lagi lantaran merasa malu.


Emer mengingat cerita itu dari salah satu anggota tadi.


"Aku juga ingin pakai sabuk hitam" Ucapnya sambil cemberut lalu hanya di balas tepukan pelan di bahu gadis itu.


"Selain Taekwondo, bela diri apalagi yang kau pelajari?" Tanya Emer yang tahu Richi ikut beberapa bela diri.


"Kakak tahu dari mana? Menguntitku ya, hahaha" Ledek Richi pada Emer yang sepertinya tahu banyak tentang dirinya.


"Anggap saja begitu. Aku ingin tahu banyak tentangmu"


Mendengar itu, langkah Richi terhenti. Dia menatap Emerald yang berada di depannya.


Hatinya berdebar. Bukan sekali dua kali dia mendengar lelaki menggodanya. Tapi kali ini, dari mulut lelaki yang berbeda dari biasanya, kata-kata itu keluar dan membuat jantungnya berdegub kencang.


"Katakan, apa ada lagi?" Tanya Emerald sambil menaikkan alisnya.


"Muay Thai" Ucap Richi dengan bibir tersenyum. Dia sadar lelaki ini menyukainya. Dan dia juga tidak bisa berbohong soal debaran di hatinya.

__ADS_1


To Be Continued....


__ADS_2