Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Foto-foto Mading


__ADS_3

TRIRIRING!


Ponsel Olivia berdering. Dia segera menutupnya saat melihat nama siapa yang tertera di layar.


"Kenapa tidak diangkat?" Tanya Bella.


"Pekerjaanku sudah selesai, memangnya mau apa di malam begini." Jawab Olivia ikut menyeruput mie Bella.


"Dia mencari pengantinnya yang hilang. Hihihi." Ledek Clair.


Olivia mencebik. "Aku berhenti. Mau cari pekerjaan yang lain."


"Kenapa? Bukannya gajinya besar??" Tanya Bella.


Olivia menghela napas. Lagi-lagi dia malu kalau menceritakan saat dimana dirinya yang terlalu percaya diri.


"Intinya, aku merasa Daren terlalu semena-mena padaku."


"Lagi pula kita baru dapat bonus besar karena misi kemarin. Kau masih bisa santai, kan? Tapi, Kenapa tidak kau belikan motor saja, liv? Bukannya kau sangat ingin?" Tanya Bella lagi.


"Itu akan menjadi tabungan untuk sekolah militer adikku. Aku ingin dia menjadi orang penting di negara ini. Soal aku, aku masih bisa cari uang tambahan." Jawabnya sembari menunduk.


"Kau kerja disini saja." Tukas Richi dengan santai.


"Apa?" Clair langsung menoleh padanya.


"Benarkah? Bisakah??" Olivia langsung menatap Clair dengan mata yang berbinar.


"Yaah.. aku memang perlu tambahan orang tapi gaji disini tidak besar." Kata Clair.


"Tidak masalah. Yang penting aku dapat gaji." Jawabnya cepat.


Clair mengangguk-angguk, membuat Olivia kegirangan dan memeluknya dengan kuat. "Terima kasiiihhhhh.." Ucap Olivia pada Clair yang sudah memukuli tangannya karena memeluk terlalu kuat.


"Hmm.. soal hacker itu, aku punya rencana." Kata Richi. Dia mulai menjelaskan apa rencananya pada angota timnya.


~


Richi melepaskan jeketnya dan langsung menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Matanya hampir tertutup tapi ponselnya sejak tadi bergetar.


Hugo, dia mengangkat telepon dari kekasihnya itu. Rasanya sudah lama mereka tak bertemu padahal baru satu harian. Bahkan tak saling komunikasi lewat chat. Tapi disaat mata Richi sudah hampir menutup, Hugo meneleponnya.


'Chi, sedang apa? Apa aku mengganggu?' Tanya Hugo dari seberang.


"Hm? Tidak.." Richi ingin bilang kalau dia sangat mengantuk. Tapi dia tak mau Hugo kecewa. Terakhir bertemu, lelaki itu protes karena Richi jarang sekali mengangkat telepon atau membalas Chat.


'Suaramu terdengar parau. Apa tidak belajar?'


Ah, Richi benar-benar lupa. Padahal besok ujian terakhir.


"Besok pagi aku belajar." Jawab Richi. Dia mulai menutup matanya.


'Besok aku ingin sekali mengajakmu jalan-jalan setelah ujian terakhir. Tapi aku sudah janji pada Aline. Apa aku batalkan saja, ya?'


Mata Richi terbuka. Mendengar nama si kembar itu membuatnya kesal, entah kenapa.

__ADS_1


"Terserah padamu, Hugo." Richi tidak begitu peduli sebab besok pun dia akan menjalankan rencananya menangkap si hacker itu.


'Oh, ya Chi. Aku tadi bla bla bla..' Hugo panjang lebar bercerita, dia berhenti saat menyadari suara napas teratur dari seberang ponselnya.


"Chi..?" Panggil Hugo. Tak ada jawaban dan Hugo tahu Richi sudah tertidur.


Ada sedikit kecewa, tapi dia mengerti gadis itu memang jarang sekali begadang. Diapun menutup ponsel dan membuka buku, sebab dia harus bisa mendapatkan nilai bagus supaya bisa naik kelas. Berbeda dengan kekasihnya, walau tidak belajar, nilai gadis itu masih diatas rata-rata. Itu salah satu hal yang membuat Hugo harus belajar, supaya nilainya bisa lebih baik dari perempuan itu.


...🦋...


Richi berjalan santai menuju kelas. Lagi-lagi pandangan para siswa membuatnya tak nyaman.


Segerombol siswa-siswi berdiri di depan mading. Mereka berisik membicarakan banyak hal. Namun sayup-sayup Richi mendengar namanya disebut.


'Aku tidak menyangka, cantik banget..'


Richi yang berdiri dibelakang keramaian itu tak bisa melihat dengan jelas. Salah seorang membuka jalan untuk Richi.


"Hei minggir, kak Richi dibelakang kalian!"


Sontak para siswa menoleh kebelakang dan langsung membuka jalan, menunjukkan banyak foto di mading. Foto dirinya menempel disana.


Mata Richi membulat. Foto-foto saat dirinya bersama Emerald pertama kali singgah di kedai kopi terulang kembali. Foto-fotonya saat berdansa dengan Harry di acara peresmian restoran, dan foto dirinya berdansa dengan Hugo di pesta topeng. Juga banyak foto Richi lainnya yang berambut pendek maupun panjang dari berbagai sudut ada disana. Mading itu penuh dengan semua foto-fotonya. Hal itu membuat Richi marah. Dia menahan itu dengan mengepalkan tangannya erat.


Bukan cuma itu, ternyata video saat Richi bertarung dengan siswa Apollo saat itupun tersebar luas. Padahal video itu hanya ada di komputer pengawas sekolah.


"Kak Richi cantik sekali. Aku sampai tidak sangka." Ujar seorang yang ada disana.


"Iya. Rambutnya memang bagus sekali." Sahut yang lain.


"Ternyata kakak yang menghajar siswa Apollo waktu itu, ya?"


Tempat itu jadi berisik membahas betapa mereka terkejut dan mengagumi Richi. Sementara Richi masih mematung menatap foto dan mencerna apa yang belakangan terjadi.


"Chi.."


Emerald berdiri dibelakang gadis itu. Dia tahu apa yang dirasakan Richi saat ini, karena waktu itu Richi sendiri yang minta Emerald tak beritahu kalau perempuan di foto itu adalah dia. Tapi semua orang sudah tahu sekarang.


"Ikut aku."


Richi mengekor dibelakang Emerald. Lelaki itu berhenti di tengah lapangan basket.


"Apa seseorang mengganggumu?"


Richi mengangguk. "Bisa kakak bantu aku? Aku perlu melihat kamera pengawas."


Emerald pun mengajaknya ke ruang pengawas. Karena Emerald masih berstatus ketua osis, dia punya akses untuk melakukan apapun di sekolah.


Setelah memeriksa dengan teliti, ternyata ada beberapa waktu yang dipotong. Sekitar setengah jam pada pukul 3 pagi tadi.


Richi benar-benar merasa geram. Dia ingin cepat-cepat menangkap pelaku yang dia yakin ada disekitarnya.


"Ada apa sebenarnya, Chi?" Tanya Emerald. Richi pun menceritakan semua kejadian yang dia alami. Tak banyak yang ia jelaskan, karena kejadian begitu cepat dan tanpa Richi sadari selama ini hacker itu memang sudah lama mengupload fotonya.


Emerald tampak mengerti. Karena dia juga melihat terlalu banyak foto Richi tersebar di internet belakangan. Hanya saja dia tak begitu curiga sebab foto-foto diambil saat gadis itu bermain basket.

__ADS_1


"Aku akan membantumu, Chi. Tenang saja." Tukas Emerald.


"Siang ini teman-temanku yang lain akan datang. Jadi, tolong bantuannya, ya."


Tak lama kemudian, Hugo berlari saat melihat Richi bersama Emerald keluar dari ruang pengawas. Lelaki itu tampak khawatir.


"Richi!"


Melihat siapa yang datang, Emerald pun pamit pergi.


"Chi, kau tahu siapa yang menyebar itu?" Tanya Hugo. Gadis itu menggelengkan kepala.


"Hah. Siapa, sih. Ingin sekali kuhajar!"


"Apa kau ada janji siang ini?" Tanya Richi dan Hugo mengangguk.


"Tapi aku akan membatalkannya kalau kau membutuhkanku." Jawabnya cepat.


Richi diam, dia memang berharap Hugo ada di saat-saat seperti ini. Belakangan lelaki itu selalu sibuk.


"Chi, tadi malam kau sepertinya kecapekan, ya? Kau ketiduran saat kutelepon."


"Ya, aku dan yang lain mencari Hacker itu dan cukup melelahkan." Jawab Richi.


"Kau tadi malam mencari hacker? Kenapa tidak bilang padaku, Chi?"


"Aku sudah meneleponmu, tapi kau tidak mengangkatnya, kan?"


"Seharusnya kau beritahu aku lewat pesan. Jadi saat aku tak sempat mengangkat telepon, aku bisa tahu dari pesanmu."


Richi berdiam cukup lama, mendengar suara Hugo yang nadanya agak naik membuatnya kesal. "Jadi, menurutmu aku yang salah?"


"Bukan soal salah atau benar, Chi. Ini tentang bagaimana kau menganggapku. Aku akan bantu kalau memang kau butuh bantuanku."


"Tapi Hugo, sejujurnya aku tidak membutuhkan bantuanmu."


Hugo terhenyak. "A-apa?"


"Karena ada orang lain yang butuh bantuanmu, kan?"


"Richi, kau cemburu? Pada mereka..?" Tanya Hugo dengan wajah heran.


"Bukannya kau yang mau aku cemburu?"


"Tapi ini anggota Valiant, Richi. Aku membantu mereka juga biar mereka lebih baik untuk Valiant!"


"Kalau gitu, aku tidak cemburu, Hugo. Sama sekali tidak."


Hugo tampak bingung namun dia cukup mengerti. "Oke, aku paham. Aku memang terlalu banyak menghabiskan waktu mengajari mereka. Aku akan membantumu nanti."


Richi memutar bola matanya. Dia sudah terlanjur kesal apalagi mendengar jawaban seolah Richilah yang memohon untuk meluangkan waktunya.


"Hugo, sebaiknya kita ke kelas karena bentar lagi ujian dimulai."


Richi langsung naik ke lantai dua meninggalkan Hugo. Lelaki itu menatap Richi yang menaiki tangga dan masuk ke kelasnya.

__ADS_1


Dia berdecak kesal. Akhir-akhir ini hubungannya dengan Richi kurang baik. Mereka punya kesibukan masing-masing, lalu saling salah paham pula. Rasanya dia ingin sekali berbicara berdua meluruskan kebengkokan yang terjadi diantara mereka.


Tbc


__ADS_2