
"Aldric, benarkah apa yang kau ucapkan itu?"
Pandangan Hugo mengedar kearah audiens yang menatap hening kearahnya dan Erine. Dia mencari Richi dalam gelapnya ruangan itu. Dalam hatinya berdoa supaya gadis itu tidak ada disana.
"Aldric."
"Ya. Aku mengatakan yang sebenarnya. Kaulah satu-satunya yang kuharapkan. Kau bagaikan zat adiktif, membuatku melayang diangkasa. Bayang wajahmu ada di awan. Aku mencintaimu, Adeleide."
Erine tersenyum cerah, lalu mengulurkan tangan saat merasa Hugo tak juga menarik pinggangnya seperti yang ada di naskah.
Melihat Hugo yang hanya diam, Erine berinisiatif mendekatkan dirinya.
"Aku juga mencintaimu, Aldric."
Dengan berani Erine berjinjit, menarik kerah baju Hugo lalu menciumnya.
Adegan itu tentu membuat pemain lain terbelalak. Pasalnya itu tidak ada di naskah.
Lain hal dengan penonton yang berseru haru.
Hugo memutar tubuhnya membelakangi audiens. Dia mendorong leher Erine hingga membuat perempuan itu melepaskan ciumannya. Untunglah Erine masih memegangi baju Hugo. Jika tidak, ia pasti akan terjatuh.
Tatapan tajam Hugo membuat pemain yang melihat itu khawatir dan takut jika itu menjadi ending yang buruk. Untunglah seluruh penonton berdiri dan bertepuk tangan dengan meriah.
Tirai merah tertutup dengan sempurna. Suara riuh penonton yang bubar pun terdengar.
Dengan keras Hugo mendorong tubuh Erine hingga terjerembab ke lantai.
"Hugo, kau kasar sekali." Mira membantu Erine berdiri sembari meringis memegangi pergelangan tangannya yang mungkin bergeser. Para pemain berkumpul disekitar mereka.
"Kau bekerja sama dengannya untuk menjebakku? Apa Laura juga? Apa kalian semua juga?!" Sentak Hugo pada semua yang ada disana.
"Hugo, kecilkan suaramu. Banyak penonton yang masih ada di-"
"DIAM KAU!" Pekik Hugo pada Mira. Perempuan itu terdiam mematung mendapat bentakan keras dari lelaki yang selama ini sangat ramah.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi kurasa kau memang punya rencana lain." Ucap salah seorang pemain lain pada Mira.
"Apa maksudmu? Aku tidak punya rencana apa-apa!"
"Aku tadi menghubungi Laura tapi tidak aktif, lalu aku ke ruang kesehatan, dia juga tidak ada disana." Sahut yang lain.
"Teman-teman.." Seseorang muncul dari depan pintu. "Laura, dia pingsan di gudang."
"Apa!" Beberapa dari mereka berhambur keluar melihat Laura.
__ADS_1
"Ternyata benar, kalian pasti menjebak Laura supaya dia yang memerankan sebagai Adeleide!" Salah seorang pemain lain menunjuk ke arah Erine. "Kau! Kau sengaja, kan! Kau ingin menjadi pemeran utama padahal kissing scene sudah dihapus tapi kau melakukannya!"
Erine terbelalak. Dia mulai gentar saat tatapan mata orang-orang di dalam tajam kearahnya.
"Jangan-jangan kau fan fanatik Hugo!" Teriak yang lain dan suara pembenaran disekitar terdengar.
"Tidak, kau salah paham. Aku hanya-." Belum sempat Erine menyelesaikan kalimat, dia diserbu pertanyaan lagi.
"Lalu, kau sengaja mengurung Laura??"
Erine menatap Mira. Dia juga tidak tahu karena dia hanya disuruh datang sedikit lebih lambat.
"Kau pergi saja dulu. Aku yang akan membereskannya." bisik Mira pada Erine. Kemudian gadis itupun keluar dari sana bahkan ia belum mengganti bajunya. Perempuan itu menghilang dibalik tembok dengan panik.
Sementara Hugo langsung teringat Richi. Waktu kekasihnya itu bicara soal bagaimana Erine terhadap dirinya, Hugo tak begitu ambil pusing lantaran Erine tak melakukan hal yang mencurigakan padanya. Tapi setelah kejadian ini, dia benar-benar percaya ucapan Richi.
Langsung Hugo mengambil ponselnya di dalam tas, menelepon Richi. Tersambung namun tak diangkat. Dia berjalan kesana-kemari sambil terus menelepon Richi, tapi gadis itu tak mengangkatnya.
Pesan terakhir gadis itu adalah terlambat datang karena macet. Apa Richi masih terjebak macet dan tidak mengangkat ponselnya? Dalam hati, Hugo mengharapkan itu. Semoga saja Richi terlambat dan tidak melihatnya bersama Erine.
"Permisi." Seorang wanita berseragam tim kebersihan berdiri diambang pintu. "Maaf, saya mau cari tuan Hugo."
"Iya?" Hugo mendekati wanita itu.
"Ini, saya menemukan ponsel ini dibawah kursi. Maaf, tadi saya membuka ponselnya dan mendapati wallpaper-nya foto tuan bersama perempuan ini, jadi saya pikir ini milik kenalan tuan." Wanita itu menyerahkan ponsel lipat berwarna lila itu lalu menunduk pergi.
Jadi, Richi datang? Lalu, kemana dia? Hugo segera keluar. Dia berlari kecil menoleh kesana kemari. Tapi tidak menemukan gadis itu ada diluar.
Hugo tahu Richi pasti terkejut melihat adegan itu tadi. Lelaki itu gusar dan tak tenang.
Setelah lelah mencari, Hugo duduk di bangku koridor. Dia membuka ponsel Richi, melihat apa yang terakhir Richi gunakan dan keluarlah video berdurasi 4 menit.
Jari Hugo tertahan. Dia ingin menekan tombol play tapi melihat latar video saja Hugo sudah mengerti kalau itu adalah saat dimana dirinya dan Erine.. Argh! Hugo tak bisa diam saja. Dia ingin menemui gadis itu.
"Hugo. Disini kau rupanya." Salah satu pemain teater menemuinya. "Rektor memanggil kita. Kurasa kita akan mendapatkan hadiah. Ayo, kesana."
Persetan hadiah, batinnya. "Tidak bisa, aku ada urusan!"
"Ah, ini dia, bintang kita."
Hugo menoleh kesampingnya. Disana ternyata rektor dan beberapa staf berjalan dibelakangnya.
"Hugo, selamat ya, pertunjukan tadi sangat-sangat bagus."
Hugo menunduk, "Terima kasih, Rektor."
__ADS_1
"Mari ikut saya, ada hal yang harus saya sampaikan."
Rektor itu berjalan bersama beberapa orang dibelakangnya. Hugo mengeluh kesal, lantaran harus menahan diri untuk menemui Richi demi sesuatu yang tidak penting.
...🦋...
Sebuah mobil berwarna merah dengan plat palsu terparkir tak jauh dari markas Blackhole. Di dalamnya, tim Fox sudah menunggu. Walau mereka bingung apa yang harus ditunggu. Pasalnya rencana akan dijalankan empat jam lagi.
"Hugo menelpon." Clair menunjuk layar ponselnya kepada Richi padahal gadis itu terus melihat kearah luar jendela.
Melihat respon Richi, Clair tak mengangkatnya. Dia tahu gadis itu pasti tengah ada masalah. Tapi dia tak ingin bertanya karena ia tahu, dalam suatu hubungan pasti akan selalu timbul masalah baik kecil maupun besar.
Sejak tadi Richi menatap kearah seorang perempuan yang bertekak dengan seorang laki-laki. Mungkin mereka sebenarnya berpacaran tapi lagi dalam masalah. Sama seperti dirinya.
"Kau dan Daren bagaimana?" Bella membuka percakapan pada Olivia disebelahnya.
"Entahlah. Aku pasrah. Memang perbedaan kami sangat menonjol. Ayahnya bahkan mengancam Bunda. Tentu aku tak lagi diam."
"Apa bergabung dalam Valiant tidak bisa disebut prestasi yang membanggakan? Kalau dia tahu, bukankah dia seharusnya senang?" Tanya Clair sembari mengunyah makanannya.
"Anggap saja dia tahu. Lalu, kau pikir dia bangga anaknya menikahi anak mantan pembantunya?"
"Wah, memang berat ya, Liv. Tapi lucu juga. Bunda membesarkanmu dan Daren secara bersamaan di tempat yang berbeda. Tahu-tahu malah jatuh cinta." Celetuk Bella.
"Tidak lucu sama sekali! Kau tidak lihat otakku sampai keriting memikirkan itu, hah? Kau malah tertawa diatas penderitaanku."
Clair dan Bella malah semakin tergelak. Berbeda dengan Richi yang matanya terus menatap kearah sepasang kekasih yang masih bertengkar.
"Kudengar belakangan Daren dipaksa minum obat." Sambung Olivia lagi.
"Apa Daren sakit?" Tanya Bella.
"Tidak. Tapi anehnya obat itu harus disuntikkan. Daren sampai dipegang tangan dan kakinya, lalu saat hampir disuntikkan, sebelah kakinya berhasil lepas dan menendang penjaganya sampai suntik itu jatuh. Anehnya, cairan obat itu berwarna hitam dan kata penjaga, obat itu supaya Daren menurut." Jelas Olivia.
"Gila. Cairan berwarna hitam untuk membuat Daren menurut? Kurasa ayahnya agak..." Clair sampai tak lagi melanjutkan ucapannya.
"Itulah. Aku memintanya berhati-hati. Siapa tahu saat Daren tertidur, mereka mengambil kesempatan. Daren bahkan tak mau makan karena khawatir makanannya dicampur obat-obatan."
"Mengerikan. Kalau aku jadi Daren, aku pasti akan kabur dan lepas dari keluarga itu." Sahut Bella.
"Hm, kau benar. Itu juga yang ingin dilakukan Daren dan penjaga rumahnya sangat banyak. Dia selalu gagal."
"Kasihan Daren."
"Tapi aku sudah berpikir kalau aku dan Daren memang harus sudahan saja."
__ADS_1
"Benar. Jangan persulit hidupmu. Masih banyak laki-laki yang akan meneri-" Kalimat Bella terhenti saat Richi dengan cepat keluar dari mobil. Olivia dan yang lain sampai terbengong melihat Richi buru-buru keluar sambil berlari.
Mata mereka menuju kearah Richi berlari. Pertengkaran perempuan dan laki-laki itukah yang membuat Richi tergerak?