Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Buronan


__ADS_3

"D-darrel.." Gumam Eline pelan. Dia kaku di tempatnya. Berbeda dengan Erine yang dengan santai menyimpan ponsel dan berdiri dari duduknya. Dia terlihat enggan, apalagi berhadapan dengan Richi.


"Aargh.. perutku." Rintih lelaki yang masih meringkuk di bawah kaki Richi.


Dua laki-laki lain yang duduk bersama mereka ikut berdiri memandang Richi. "Siapa dia?" Tanya seorang yang tatonya terlihat di leher. Namun baik Erine maupun Eline tak menjawab.


"Sebaiknya anda pergi, nona. Kami tidak ingin menyakiti perempuan disini. Anda tahu Valiant? Kamilah anggotanya." Ucap lelaki yang rambutnya dikuncir kebelakang.


Richi menaikkan satu alis mendengar ucapan laki-laki itu. Dia menatap Eline yang tampak tegang terlebih karena ucapan pria itu.


"Kau tidak apa-apa?" Richi membantu lelaki yang terjatuh di dekat kakinya untuk berdiri.


"Se-sebaiknya anda pergi, nona. Disini sedang tidak aman." Ucap lelaki itu. Dia memegangi perutnya.


"Ini bukan saat yang tepat untuk anda berhati mulia, nona. Jangan ikut campur dan pergilah." Kata pria berkuncir kuda.


Richi tak menanggapi lelaki itu. Matanya tak lepas dari Eline. Perempuan itupun terlihat gentar.


"Melihat Eline bereaksi seperti itu, membuatku penasaran, siapa kau?" Tanya lelaki berleher tato.


Richi tak berniat menjawab pertanyaan mereka. Tak pula ingin ikut campur urusan tak penting itu. Dia hanya tak suka lantaran dua orang itu bermain dengan menggunakan nama Valiant.


"Aku hanya ingin memperingatimu. Hati-hatilah dalam berbicara." Ujar Richi pada Eline. Gadis itu hanya diam. Dia tahu apa yang dia lakukan adalah salah. Dia lebih tak menyangka lagi karena Richi yang tiba-tiba ada di tempat yang sama.


Tanpa mempedulikan dua orang laki-laki yang menanyakannya sejak tadi. Richi berbalik badan, dia melangkah lagi ke tempatnya. Tetapi pria itu meneriaki.


"Hei, sialan! Berani sekali kau mengabaikanku!!"


"Hentikan, Thom!" Pekik Eline. Dia tak ingin ada keributan lagi terlebih pada Darrel.


"Brengsek!" Pria yang dipanggil Thom itu menarik kerah jeket yang dipakai Richi dengan sebelah tangannya. "Kau pikir kau siapa, hah?"


Richi melirik pada tangan yang mencengkram kerah jeket kulit yang ia pakai.


"Lepaskan tanganmu." Ucap Richi. Matanya tajam mengarah ke lelaki itu.


"Hah! Perempuan sepertimu memerintahku? Kau pikir kau siap-"


BUK!! Satu tendangan keras membuat Richi melongo.


Aron datang dan langsung menendang dada pria itu sampai terjerembab menghantam meja dibelakangnya. Membuat beberapa tamu pindah tempat karena merasa takut.

__ADS_1


"Hati-hati dengan tanganmu. Kau bisa merusak jeketku." Sentak Aron. Dia menyapu kerah jeket dengan tangannya, membuat Richi dengan kesal menghempaskan tangan Aron dari bahunya.


"Bajingan! Berani kau!" Sentak lelaki yang satu lagi. Dia berusaha menghajar Aron, namun lelaki itu lebih tangkas dan sigap memberi dua pukulan telak di dada dan rahang pria itu hingga terjatuh.


Richi tersenyum miring menatap mereka. Lalu meninggalkan orang-orang itu, diikuti Aron dibelakangnya.


"Kau ini, dikasih pinjam tapi merusak." Omel Aron pada Richi.


Gadis itu mengacuh. Dia duduk dan memanggil pelayan untuk memesan makanan karena sudah merasa sangat lapar.


"Sudah kubilang hentikan!" Pekik Eline pada temannya yang bangkit dan ingin menghajar perempuan dan laki-laki tadi yang membuatnya berang.


"Kau takut? Hah?" Pekik lelaki itu dan tentu saja terdengar di kedua telinga Richi. Hanya saja dia enggan peduli. Richi fokus memesan makanan karena dia sudah sangat lapar.


"Kau kenal mereka?" Tanya Aron. Dia menoleh ke belakangnya, tepat saat Eline tengah marah pada teman-temannya itu.


"Enggak." Jawab Richi. Dia memang tak dekat dengan dua orang itu. Terlebih Erine. Entah sejak kapan dia kurang menyukai gadis itu. Mungkin karena orang-orang sering mengatakan kalau mereka mirip dan saling membandingkan. Tingkah Erine yang acuh tak acuh dengan sekitar pun membuat Richi sebal pada perempuan itu.


Pernah suatu waktu, saat anggota lain tengah memerlukan bantuan karena terluka saat misi, Erine hanya duduk diam di tengah orang-orang yang sibuk membantu. Alasannya karena dia juga lelah. Tentu itu membuat Richi tidak menyukai perempuan tak berempati itu. Itulah yang membuat Richi sangat tidak suka dibilang mirip dengannya.


"Tapi, kenapa kau tadi ada disana?" Tanya Aron lagi. "Kau ikut campur urusan orang juga?"


"Memangnya aku sepertimu."


Richi mengangkat bahu, tanda ia tak peduli.


Beberapa detik kemudian, pesanan mereka datang. Aron dengan lahap menyantap eskrimnya yang sengaja ia pesan paling besar berhubung di traktir.


"Aron." Panggil Richi disela kunyahnya.


"Hm?"


"Ayahmu menteri perdagangan, ya?" Tanya Richi.


"Hah? Kok tau?"


"Hanya menebak karena kau perhitungan." Jawab gadis itu memulai pertikaian.


"Apa? Kau baru mengataiku pelit?" Aron menunjuk Richi dengan sendok eskrimnya. "Waaahh.. Kau menilaiku karena aku menjaga barang-barangku dengan baik?" Tukas Aron.


"Bukan begitu. Aku dengar menteri perdagangan ikut terseret kasus keluarga Draw."

__ADS_1


Aron menyandar dikurisnya. "Aku tahu kau dan kelompokmu yang membongkar itu. Via sudah cerita padaku."


Maksudnya Olivia? Sejauh apa pertemanan mereka, kenapa Olivia sampai bercerita tentang kelompok pada Aron?


"Berita itu hoax. Ayahku sudah diperiksa dan dia bersih. Hah, menyebalkan." Ucap lelaki itu.


"Sorry. Aku tidak mengikuti beritanya. By the way, kau berteman dengan Olivia?" Tanya Richi.


"Bukan teman. Aku dan dia bersahabat baik. Dia juga sering menceritakan tentangmu padaku."


Richi mengangguk. Begitu ternyata. Jika Olivia sudah berani cerita tentang kelompok, artinya dia orang terpercaya.


'Breaking News. Kebakaran besar menghanguskan gudang Timberbox siang ini. Kebakaran ini sengaja dilakukan oleh seorang perempuan yang terekam kamera cctv.'


Semua orang kini berfokus pada sekilas berita yang muncul di layar besar yang ada disana. Layar itu pula menampilkan video dari jauh, Richi tengah membakar gudang itu dan seorang laki-laki terduduk disebelahnya.


'Kebakaran besar ini menghanguskan gudang tanpa sisa. Pemilik gudang mengatakan, ia telah menyewakan gudang itu pada seorang pelajar dan akan meminta pertanggung jawaban dari pelaku yang sedang dicari keberadaannya. Sekian informasi kali ini.'


Aron menganga. "K-kau.. buronan?"


Richi tak peduli. Dia terus menyantap makanannya. Lagi pula dia sudah menerka ini pasti terjadi. Apalagi kebakaran tidak seperti menembak orang yang bisa ditutupi.


Eline dan teman-temannya di ujung sana menatap ke meja Richi.


"Apa itu perbuatannya?" Tanya Erine.


"Aku yakin begitu. Bajunya persis sama. Jadi, dia baru membuat acara bakar-bakar tanpa mengundang kita?" Sahut Eline.


"Kurasa itu masalah pribadi." Sambung Erine lagi.


"Ayo, kita cabut saja." Eline bergerak dari tempatnya. Begitu juga teman-temannya yang mengekornya dibelakang.


Saat Erine lewat, Richi terus memperhatikan jeket yang dipakai perempuan itu. Dia yakin itu milik Hugo.


Mata kedua laki-laki itu pula menatap tajam pada Aron. Tak mau kalah, Aron menatap balik dengan melototkan matanya bulat-bulat.


"Stop it, Aron. Alih-alih menyeramkan, kau malah terlihat konyol." Ucap Richi. Aron malah semakin melebarkan matanya.


"Seperti ini. Kau tidak takut?"


Richi menggelengkan kepala. "Berhenti atau ku cucuk matamu!" Richi bersiap memegang garpu yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Astaga, kejam sekali." ucapnya langsung melahap lagi eskrimnya.


__ADS_2