
"Sudahlah. Letakkan saja dia disebelah Ricky. Bom itu akan meledak 12 menit lagi bersama dirinya. Kita keluar saja." Richi mulai berjalan keluar sementara Jonathan langsung mendudukkan Albern disebelah Ricky.
"Ampun! Jangan biarkan aku mati, kumohon." Pintanya dengan menangis, Albern terisak karena belum ingin mati apalagi jika ia mati, maka ia tidak bisa mendapatkan harta yang banyak terkumpul itu.
"Bersenang-senanglah di akhirat." Kata Jonathan dengan senyum miring dan melambaikan tangan, sementara mata Ricky menajam padanya.
"YA, YA, YA, BAIK AKU AKAN BERITAHU! SANDINYA 220299! SEKARANG KUMOHON LEPASKAN AKU!"
Hugo langsung mengetik password dan benar, waktu pada bom itu langsung mati.
Richi memeluk kakaknya yang kini bebas. Dia menangis, sementara Ricky mengelus kepala adiknya.
"Aku pikir kita akan berakhir disini." Lirih Richi dipelukan kakaknya.
"Kau bodoh. Adik paling bodoh yang tidak pernah mau mendengarkan ucapanku." Katanya dengan nada tertawa kecil. "Kau hebat sekali." Bisik Ricky lagi.
Richi mengencangkan pelukannya, dia benar-benar merasa lega karena tidak ada hal buruk yang terjadi.
"Keen, ayo, obati lukamu." Kata Jonathan.
"Bukannya kau mendoakanku ke akhirat, hah?" Katanya sambil menumbuk kecil perut Jonathan.
"Haha, aku bercanda, sialan." Jonathan menuntun Ricky berjalan karena kaki lelaki itu tampaknya terluka juga.
"Kau juga sudah bekerja dengan keras." Kata Ricky pada Hugo sembari berjalan keluar pintu.
Richi tersenyum menatap kakaknya, untunglah, walau hubungan mereka terakhir kali tak baik, tapi mendengar Ricky mau mati, rasanya Richi pun hampir mati.
"Kau juga, pergilah obati lukamu. Disini, biar aku yang mengurusnya." Kata Hugo.
Richi tersenyum tipis. Dia nenatap wajah laki-laki itu, penuh luka. "Aku masih akan mengurus ini. Sebaiknya, kau saja yang obati lukamu."
"Aku tahu kau menahan sakit. Jangan menipuku."
Richi tergelak. Dia memeluk Hugo sekali lagi, merasa beruntung laki-laki itu selalu ada di masa sulitnya.
"Apa pelukannya sudah? Aku akan membawa orang itu." Kata Eddy menunjuk Albern yang masih terduduk lemas di kursinya.
"Ah, maaf."
__ADS_1
Eddy langsung membawa Alber keluar, dan tim lainnya masuk untuk menelusuri tempat, memeriksa, dan memindahkan barang-barang penting untuk dibawa karena tempat itu akan dihancurkan dengan bom.
'Kau hebat.'
Suara dari earpiece membuat Richi tersenyum.
"Kau sangat membantuku, Harry. Aku tidak tahu harus membalasmu seperti apa." Jawab Richi.
'Menikah saja dengan adikku. Kasihan dia, selalu memohon untuk bisa menikah denganmu. Aku benar, kan?'
Richi tersenyum sembari menatap Hugo yang menatapnya. Dia tak tahu apa yang Richi bicarakan pada Harry tapi sepertinya itu tentang dirinya.
'Sekarang, aku di depan. Berhadapan dengan kakakmu.'
"Apa!"
Pekikan Richi membuat Hugo terkaget. "Kenapa?"
Tanpa menjawab, Richi langsung berlari keluar dan Hugo mengikutinya.
Sesampainya diluar, Richi mendapati Harry dan Ricky berdiri berhadapan.
Ricky menghela napas. Rasanya tak pas bercanda pada pelaku kriminal apalagi mereka tak saling kenal.
"Harus kuakui kau sudah membantuku-"
"Aku tidak membantumu, aku membantu Richi untuk menolong kakaknya yang pengkhianat ini." Potong Harry cepat.
Ricky tersenyum miring menatapnya. "Ya, baiklah. Aku akan membebaskanmu karena kau serius sudah membantu kami."
"Jika kau mau melaporkanku juga tidak masalah bagiku. Aku akan menerima apapun itu karena, yaah.. aku memang penjahat." Jawab Harry sambil mengangkat alisnya pada Richi.
"Harry, kami tidak akan melaporkanmu." Sahut Richi.
"Aku sudah bilang, kan, aku juga anggota keluarga Draw. Aku pun masuk ke dalam kejahatan ini. Bahkan aku yang merancang tempat ini. Jadi, jangan selamatkan kriminal. Itu akan membuat citra kalian rusak. Aku akan mengikuti prosedur apapun itu, supaya hidupku lebih tenang."
Jawaban Harry mendapat anggukan dari Hugo. Dia berpikir, apa yang Harry katakan sangat benar.
"Baiklah jika itu maumu. Aku akan membuat laporan dan membawa namamu masuk ke dalamnya." Lanjut Ricky.
__ADS_1
"Tapi tetap saja. Kami akan berusaha membuat hukumanmu ringan karena kau sudah banyak membantu." Sahut Richi yang merasa berat dengan keputusan Harry sendiri.
Harry tersenyum pada Richi. "Ya, baiklah adik ipar, terserah padamu saja." Kata Harry lalu melambaikan tangan. Dia pergi karena pekerjaannya telah selesai.
Sementara orang-orang tengah mengangkati barang, Ricky pun mulai diobati karena dadanya yang tertembak itu mulai terasa berdenyut.
"Kak, apa kau benar-benar akan melaporkannya juga?" Tanya Richi pada kakaknya.
"Sesuai permintaannya. Kau dengar tadi, kan?" Ulang Ricky, tak mau terjadi keributan pada adiknya seperti tadi.
Richi diam. Matanya masih menatap punggung Harry yang perlahan menjauh.
"Reeel." Olivia dan Bella berlari ke arah Richi. Dia melihat dua orang itu dengan raut khawatir.
"Rel, kau baik-baik saja?" Tanya Olivia.
"Kau sampai babak belur. Apa ada yang sakit? Clair mana?" Tanya Bella.
"Aku tidak apa-apa. Clair masih di dalam bersama tim lain." Jawabnya dengan tenang. Dia benar-benar sudah lega karena semua berjalan dengan baik.
"Cepat keluarkan semua. Aku akan meledakkan tempat ini." Kata Ricky yang kini tubuhnya sudah dibaluti perban oleh salah satu tim jaguar. "Dan kau, cepat obati wajahmu." Lanjut Ricky pada Hugo yang wajahnya berbekas darah.
Bella dan Olivia masuk ke dalam membantu semua urusan. Richi terduduk di tanah. Kakinya sudah sangat lelah. Apalagi perutnya yang terasa kram akibat hantaman tangan lelaki tadi.
"Chi, kenapa? Apa ada yang sakit?" Tanya Hugo ikut berjongkok.
"Enggak, aku tidak apa-apa." Jawabnya bohong.
"Cepat amgkat dia dan bawa ke mobil medis!" Titah Ricky pada anggota lain yang dengan sigap memapah Richi menuju mobil medis. Disana, wajah Richi diobati. Begitu juga Hugo yang duduk disebelahnya.
Mata gadis itu menatap kosong. Emosi yang bercampur aduk membuat tubuhnya kehilangan banyak sekali tenaga. Di tambah rasa lelah juga membuat dirinya ingin sekali tertidur. Hari ini, banyak kejadian luar biasa dalam hidup Richi. Kematian yang terus mengantui terlebih saat Ricky, orang yang biasa ia andalkan malah roboh dan membuatnya harus berpikir dan bekerja keras. Untunglah ada Harry, walau pada akhirnya laki-laki itu yang menyerahkan dirinya sendiri. Entah mengapa, Richi sangat merasa bersalah tapi, itu pula yang menjadi pilihannya.
Hugo melingkarkan tangannya pada pundak Richi, menarik bahu itu untuk bersandar ke bahunya. Kepala Richi seketika terjatuh ke bahu Hugo dan matanya langsung tertutup. Richi tertidur. Hugo yang memperhatikan mata sayu pada kekasihnya tadi mengerti, kalau Richi pasti sangat kelelahan.
Hugo mencium puncak kepala Richi yang bersandar padanya, "Kau sudah berusaha sangat keras." Kata Hugo. Dia menepuk-nepuk bahu Richi, membuatnya merasakan nyaman agar gadis itu terus tertidur di bahunya. Hugo tersenyum. Dia merasa bangga dengan cinta yang tumbuh untuk perempuan sehebat Richi. Dalam hatinya berdoa, supaya gadis itu hanya akan terus menatap ke arahnya, supaya gadis itu terus menyukainya tanpa henti. Karena Hugo juga akan terus mencintai gadis pujaannya sampai seumur hidupnya.
** Hai Pen, sudah baca Syahdu si wanita sewaan? **
__ADS_1