Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Melankolis


__ADS_3

Olivia membuka pintu belakang mobil. Dia mulai mengguncang tubuh Daren.


"Tuan, bangunlah.."


Tak ada respon, Olivia masuk ke dalam dan mulai mendudukkan tubuh Daren.


"Berat sekali!" Pekiknya, lalu Daren terbaring lagi ke bawah.


"Astaga, Ayolah Tuan. Bergeraklah sedikit.."


Olivia mengangkat tubuh Daren dengan kedua tangannya.


Lalu tiba-tiba Daren menarik kerah Olivia hingga membuat bibir gadis itu menyentuh bibir Daren.


Mata Olivia membulat sempurna, dia terkejut dan langsung bangkit seakan lupa posisinya tengah berada di mobil hingga kepalanya berhasil menghantam atap mobil dengan sangat keras.


"Aaaawwww.." Jerit Olivia sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Dia mendengar tawa kecil dari Daren yang matanya masih tertutup.


Olivia menatap tajam pada Daren. Apa dia sengaja?


"iiiihhh!" Olivia mengepalkan tangannya dan hampir menghantam wajah Daren jika tidak karena suara Bundanya.


"Olivia, ada apa?" Elisa memanggil saat terdengar jeritan anaknya dari luar.


Olivia meringis, memegangi kepalanya yang masih amat sakit. "Bunda, tolong bantu aku."


Elisa datang dengan kebingungan dan melihat siapa yang tergolek di kursi.


"Astaga, Tuan Muda! Kenapa Vi?" Tanya Bundanya panik.


"Bunda, bantu dulu ini.." Olivia dibantu Elisa menggotong tubuh berat Daren sampai masuk ke dalam kamar Olivia.


"Lho, Bunda. Kenapa dikamarku?" Tanyanya sesaat setelah tersadar kalau Daren dibaringkan di tempat tidurnya.


"Memangnya dimana lagi?" Elisa membuka jas dan sepatu Daren.


"Aah. Jadi aku dimana?"


"Ya diluar!" Jawab Elisa lalu keluar dari kamar Olivia.


Olivia menatap tajam ke Daren yang sudah terkapar di tempat tidurnya. "Sialan kau!" Gumamnya pelan, takut Bundanya mendengar kalau dia tengah memaki Tuan Mudanya.


~


Harry menuangkan minuman ke gelas kosong Richi. Gadis itu sejak tadi hanya menatap ke arah gelas itu tanpa bersuara sedikitpun.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Harry, lalu Richi mengangguk dan tersenyum samar.


"Jika kau merasa kurang sehat, aku bisa mengantarmu pulang."


"Tidak, aku juga ingin minum sedikit."


Harry menatap Richi, dia tahu gadis di depannya tengah ada masalah.


"Baiklah." Ucapnya lalu mengangkat gelasnya, menunggu Richi menyambut.


Dengan malas Richi mengangkat gelas dan mendentingkannya dengan gelas Harry.


Richi meneguknya sedikit, dia kurang menyukai alkohol.


"Kau mengenal Hugo?" Tanya Harry tiba-tiba, membuat Richi sedikit kaget.


Richi mengangguk lambat. "Tentu, kami satu sekolah."


"Aku dengar dia sempat berkencan denganmu." Tanya Harry lagi sembari menuangkan minuman ke gelasnya.


"Hanya pura-pura, supaya dia dijauhi gadis-gadis di sekolah". Jawab Richi seadanya.


Harry tersenyum miring. "Begitu, ya. Untunglah kau tidak bersamanya."


Richi memandang Harry dengan tatapan sayu, dia teringat hubungannya dengan Hugo yang baru saja selesai. "Kau sepertinya mengenal Hugo dengan baik."


Harry menarik napas. "Ya, aku dan dia besar bersama."


"Benarkah? Kalian punya orang tua yang sama?" Tanya Richi seolah tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


"Tidak, Ibuku menikah dengan Ayahnya saat usiaku sekitar 3 tahun."


Richi mengangguk lambat.


"Dia begitu pelit dan tidak mau berbagi apapun padaku. Aku tidak menyukainya."


"Kalian tidak akrab?" Tanya Richi lagi.


"Hm. Tidak. Dia menyukai bela diri, berkumpul dengan teman-temannya, dan malas belajar. Sedangkan aku kebalikannya." Ujar Harry kemudian meneguk minumannya. "Kami sangat berbeda".


Richi menopang dagunya. "Lalu, kalian berpisah?"


"Setelah Ibuku meninggal, hak asuhku jatuh pada Ayah kandungku. Aku mengikutinya." Harry melepas kacamatanya. Kini dia terlihat lebih tampan.


"Hugo sangat menyayangi Ibuku, aku bisa melihat itu. Dia sangat berusaha untuk disayangi, itu sebabnya aku mengerjainya dengan meminta semua mainannya dengan mengancamnya, kalau tidak diberi maka Ibuku takkan menyayanginya." Harry tergelak, dia mengingat masa-masa dulunya bersama Hugo.


"Kau tahu, Richi. Hugo itu menyedihkan. Dia selalu berusaha menyembunyikan rasa sepinya. Kau lihat, berapa banyak gadis-gadis yang pernah bersamanya? Dia haus kasih sayang, itu sebabnya dia mau melakukan apa saja asal Ibuku tetap menyayanginya." Gelaknya lagi, dia seperti puas karena mengetahui kelemahan Hugo.


Richi termenung setelah mendengar cerita Harry. Itukah sebabnya Hugo tidak suka dirinya dekat-dekat dengan Harry?


"Poor, Hugo." Gumamnya lalu tersenyum miring. "Maka dari itu, menjauhlah darinya. Dia tak sehebat kelihatannya."


Richi menyunggingkan senyum miringnya, menatap Harry yang tertunduk sambil tertawa.


"Kau menikmatinya?" Tanya Richi tiba-tiba dan Harry menatapnya dengan bingung.


"Kau menikmati Hugo yang mengharapkan kasih sayang Ibumu?"


"Tentu. Dia mempunyai segalanya. Bahkan semua teman-temanku suka bermain dengannya. Dulu dia adalah anak yang tidak suka barangnya disentuh orang lain. Jadi, aku membuatnya tak berdaya." Gelaknya lagi.


"Masa kecilmu lucu sekali." Puji Richi tanpa ekspresi.


"Begitulah. Yang lebih menarik adalah Tuhan mengabulkan keinginanku sekarang." Ungkapnya lalu menggenggam tangan Richi.


"Akhirnya aku bertemu dengan perempuan yang mirip dengan Ibuku." Harry menatap lembut ke arah Richi.


"Kau sangat cantik, anggun dan mempesona. Aku menyukaimu karena kau tidak bisa memegang senjata. Kau terlihat membutuhkan laki-laki. Kau tahu Richi, perempuan yang seperti itulah yang kusukai."


Richi tersenyum, dalam hatinya mengatakan bahwa seleranya dengan Hugo mengenai perempuan adalah sama.


"Hm. Karena dia akan selalu membutuhkanku dan berlindung di balik badanku." Jawabnya lalu mengecup tangan Richi.


Richi meneguk lagi minumannya, begitu juga Harry. Lelaki itu sangat menyukai minuman keras.


"Harry, kau masih sadar?" Richi mengguncang tubuh Harry yang tergeletak di atas meja. Dia lalu pindah posisi duduk ke sebelah Harry.


"Hmm..." sahutnya lalu memeluk tubuh Richi.


"Sebentarr..." gumamnya saat Richi ingin melepas pekukannya.


"Sebentar saja.. bebanku amat berat.." Suara Harry parau. Dia berkata sambil memejamkan matanya.


"Harry, apa kau punya tempat khusus?" Tanya Richi memulai investigasinya.


"Hm."


"Dimana?"


Harry melepas pelukannya, menghadap ke arah Richi dengan mata yang hampir tertutup.


Dia mengacungkan jari telunjuk lalu menggoyangkannya depan Richi.


"Rahasiaa.."


Richi lalu mendekatkan wajahnya pada Harry yang mulai memejamkan mata.


"Kalau aku menyukaimu, apa kau mau berbagi rahasiamu padaku?"


Harry tiba-tiba membuka matanya dan beberapa kali mengerjap. "Kau menyukaiku?"


Richi tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Harry.


"Kau punya helikopter?" Tanya Richi.


"Ya. Kau mau?"

__ADS_1


"Aku ingin sekali naik helikopter."


Harry tertawa kecil. "Gampang.." ucapnya lalu menyandarkan kepalanya. "Tapi, kau harus masuk ke ruangan khususku.."


"Ada apa disana?"


"Aku.. bos besar.. tempat itu.. aku yang kuasai.. rahasia.. itu ilegal.." Racaunya.


Richi mengerutkan dahinya. "Ilegal? Apa yang ilegal?"


"Senjata.."


Richi membelalakkan matanya. "Senjata ilegal?"


"Chi.. sebentar lagi, kau harus ikut aku, ya." Gumam Harry lagi.


"Ada ledakan besar.. kita.. bersembunyi. Biar selamat."


Richi menahan napasnya saat Harry tiba-tiba menyentuh pipinya.


"Aku.. hanya ingin.. balas dendam. Setelah itu, kau.. harus.. ikut denganku.." gumamnya dengan mata yang ia paksa untuk terbuka.


"Harry, kau melakukan apa? Kenapa? Kapan kau meledakkan itu?" Tanya Richi sembari mengguncang tubuh Harry.


"Bukan aku... si tua bangka.." gumamnya lalu tak sadarkan diri lagi.


Richi mengguncang tubuhnya tetapi Harry tidak merespon. Padahal sedikit lagi dia mengetahui dalangnya.


Si tua bangka? Siapa? Richi menggigit jarinya.


"Besok aku harus membuatmu mengajakku ke gedung khususmu itu!" Gumam Richi lalu bangkit dari tempatnya untuk segera pulang.


...🦢...


Richi terus berada di kelasnya, dia enggan keluar sebab sedang tak enak hati. Apalagi diluar tengah hujan, membuat suasana semakin melankolis.


Ponselnya juga terus bergetar, Hugo menghubunginya sejak tadi malam dan mengirim pesan banyak-banyak, meminta penjelasan dari ucapannya kemarin.


'Richi, tolong angkatlah teleponku '


Richi menutup ponselnya, masih belum mau menanggapi Hugo. Lalu bergetar lagi,


'Richi, aku ingin bicara. Tolonglah..'


Richi menghela napas. Dia malas sekali berdebat.


'Maafkan aku, kumohon jangan putuskan aku '


Richi menatap layar ponselnya yang tak ada hentinya bergetar.


'Richi, Maafkan kata-kataku. aku akui aku salah, aku egois, aku cemburuan. Maaff, tapi kumohon padamu, jangan putus, Richi. Aku minta maaf dan janji akan berubah. Aku akan mencoba mengerti situasimu. Tolong keluar sebentar, aku ingin bicara..'


Richi merasa sedikit sedih dengan pesan Hugo, dia teringat ucapan Harry bahwa Hugo tidak suka berbagi dengannya dan dia juga mengemis kasih sayang.


Apa itu sebabnya dia semarah itu kemarin? Batinnya.


Richi tertegun lagi, membaca satu pesan dari Hugo.


'Richi,, Sayang, kau sudah berjanji untuk tidak meninggalkanku, kan. tetapi kemarin kau memutuskanku. aku menyesali perbuatanku padamu. aku menyayangimu, sungguh, aku benar-benar sayang dan tidak ingin hubungan kita sampai disini. aku tidak sanggup, Chi. kumohon maafkan aku, sekali ini saja. Aku akan lebih bersabar. Aku tidak ingin kehilanganmu..'


Richi menggit bibir, Hugo sampai seperti ini? Padahal dirinya juga tidak mau putus, dia hanya emosi sesaat dan pasti akan membaik lagi, pikirnya. Hanya saja, Hugo menanggapinya terlalu berlebihan.


"Hei, cepat keluar! Sudah bel pulang!" Frans berdiri di depannya. Richi baru sadar ternyata teman-temannya juga sudah banyak yang keluar.


"Hujan deras. Nanti saja!" Ucapnya karena ingin membalas pesan Hugo.


"Aahh! Cepat.." Frans menarik tangan Richi, membiarkan ponsel gadis itu terjatuh di bawah meja.


"Hei, kemana??"


"Main basket hujan-hujan, dong..." Seru Eric dari luar.


Mendengar itu, Richi dengan semangat 45 langsung berhambur keluar ruangan dengan tawa lebarnya bersama Eric dan Frans.


TBC

__ADS_1


__ADS_2