Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Latihan Tahan Napas


__ADS_3

Makan malam penuh keheningan. Hanya suara piring dan sendok beradu yang terdengar. Biasanya obrolan dan perdebatan kecil membuat makan malam berisik. Tapi kali ini tidak.


Marry menatap kedua anaknya. Richi dan Ricky yang fokus pada makanan. Tak pula saling pandang, mereka hanya menunduk dengan wajah yang sama-sama kesal.


"Kalian kenapa?"


Wiley bertanya, sebab dia juga merasa ada yang beda dengan makan malam kali ini.


"Iya. Kok, ibu merasa sepi, ya." Sambung Marry.


Tidak ada jawaban. Keduanya sama-sama diam dan mengunyah makanan.


"Gara-gara yang tadi, ya? Kok jadi berkepanjangan?" Kata Marry lagi.


Richi meletakkan sendoknya. "Ichi sudah selesai." Gadis itu mengelap mulutnya dan langsung pergi.


Melihat itu, Wiley sampai geleng-geleng kepala. Dia juga tidak mau terlalu mengurusi. Karena biasanya dua kakak adik itu selalu bertengkar dan berakhir damai dalam beberapa jam saja.


Tak lama, Ricky pula ikut menyudahi makanannya.


Lelaki itu berjalan menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat melihat sang adik duduk dan merendam kakinya di tepi kolam renang. Nampaknya gadis itu tengah melamun disana.


Awalnya Ricky ingin mengabaikannya. Tapi memang sejak siang dia melihat wajah Richi kusut. Itu sebabnya dia mengajak adiknya latihan bersama untuk mengerjainya. Tidak tahunya, dialah yang dipermalukan oleh Richi.


Ricky tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Tapi mengingat perlakuan Richi tadi siang, dan denyut di dagu yang belum juga membaik, membuatnya agak malas.


Lelaki itu menghela napas. Akhirnya ia mendekati Richi.


Ricky duduk dan ikut merendamkan kakinya disebelah Richi. Tentu hal itu membuat sang adik mengerutkan dahi.


"Dingin. Masuk kamar, sana."


Kerutan dahi Richi semakin mendalam. Sudah tahu dingin, tapi kakaknya malah ikut merendamkan kaki disebelahnya.


"Kak." Tiba-tiba saja Richi tergerak untuk menanyakan sesuatu.


"Hm."


"Kapan masuk kuliah lagi?"


"Besok." Jawab Ricky. Selama ini dia cuti kuliah karena urusan perusahaan. Tapi sekarang, dia mau menyelesaikan studi yang tinggal satu tahun lagi.


"Di kota sebelah, ada kriminal juga?"


"Kota Ventown? Ya, adalah." Jawab Ricky. "Dimanapun pasti ada. Apalagi Ventown, kota yang penuh dengan siswa dan mahasiswa. Kriminal pasti lebih besar dari pada kota ini."


"Aku masuk kuliah lagi juga karena ingin menjagamu. Jangan sampai terlibat satupun yang berurusan dengan kelompok disana." Lanjut Ricky, memberi nasihat pada adiknya.


"Kenapa?"


"Bahaya. Kelompok terbesar disana adalah Foldcury."


Richi diam, mencoba mengingat nama itu. Tapi dia tak menemukan apapun dipikirannya.


"Foldcury itu kelompok kriminal terbesar disana, bahkan dikenal sampai luar negara. Mereka juga memiliki beberapa aliansi yang berkaitan dengan kelompok itu. Mereka hampir sama seperti Stripe. Bedanya, Foldcury adalah orang-orang terlatih seperti kita." Jelas Ricky pada adiknya.


"Lalu, apa tanda-tanda mereka?"


"Tidak ada. Siapa saja bisa mengaku bagian dari Foldcury. Tapi biasanya, mereka itu laki-laki bersetelan jas hitam."


Richi lalu teringat laki-laki yang bersama seorang anak itu. Apa mereka dari Foldcury?

__ADS_1


"Foldcury.. apa mereka melakukan jual beli manusia?"


"Hah?" Ricky sampai menoleh. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Aku cuma tanya."


"Kurasa tidak. Mereka itu hanya melakukan transaksi narkoba, kasino, atau... penyedia Psk."


"Kau tahu banyak. Jangan-jangan...."


"Kau berpikir apa?" Ricky menyentil dahi adiknya, membuat gadis itu merintih. "Aku ini komandermu. Aliansiku banyak, aku juga belajar di Ventown. Jelas aku tahu. Aku bilang begini supaya kau hati-hati."


"Iyaaa.. iya.." ucapnya sambil mengusap-usap dahinya.


Percakapan merekapun menjalar entah kemana. Sampai keduanya melupakan permusuhan yang baru tadi sore tercipta. Kini mereka sudah akrab kembali dan itu tertangkap oleh Wiley. Dia tersenyum lalu meninggalkan kedua anaknya yang masih mengobrol seru di tepi kolam renang.


"Eh, kak. Apa aku pernah cerita?" Tanya Richi saat tiba-tiba ia mengingat sesuatu.


"Apa?"


"Soal sikembar."


"Ada apa dengan mereka?"


"Waktu itu, aku bertemu Erine dan Eline. Mereka bersama beberapa orang dan menyamar menjadi Valiant."


"Hah? Kau tidak bilang padaku."


"I-iya. Aku lupa sebab waktu itu masalah kita terlampau banyak." Jawab Richi.


"Lalu? Apa yang terjadi?"


"Aku tidak begitu tahu apa yang mereka bicarakan. Yang jelas, dua orang itu panik saat aku disana. Makanya, waktu tersebar fitnah Valiant adalah kelompok yang buruk, aku jadi teringat pada mereka." Terang Richi pada kakaknya.


"Setahun yang lalu. Awalnya kurasa itu hanya upaya mereka untuk menakuti musuh. Tapi seiring berjalannya waktu, aku merasa mereka mungkin saja melakukan sesuatu dibelakang kita." Richi mengungkapkan feelingnya.


"Kalau begitu, akan aku suruh Jo dan Simon menyelidiki mereka." Tukas Ricky dan Richi mengangguk-angguk.


(**Mengenai Foldcury ada di Novel Menikahi Lelaki Tunanetra**)


...🦋...


Richi menutup pintu loker. Baru saja ia berganti pakaian sebab hari ini mereka akan latihan berenang.


"Ayo, kita harus berkumpul." Ketua kelas memberi arahan mereka untuk berkumpul dan duduk di bangku sebelah kolam renang untuk mendengarkan arahan dari dosen.


Richi mengangguk-angguk paham dengan sistem yang dijelaskan. Lalu mereka dipersilakan masuk ke kolam renang terlebih dahulu untuk mengukur berapa lama ketahanan napas mereka selama di dalam air.


"Tiga puluh detik."


"Tidak, sepuluh detik."


Dua orang perempuan tertawa melewati Richi sambil menatap kearahnya. Richi mengacuhkannya, padahal ia tahu dua orang itu sedang menertawakannya.


"Pak, apa anda menyiapkan pelampung?" Joy mengangkat tangan sambil melempar pertanyaan.


"Pelampung?" Tanya dosen itu balik.


"Aku pikir akan ada yang tenggelam disini." Tukasnya lagi, melirik Richi lalu tertawa bersama Sarah.


"Jangan dengarkan. Mereka hanya iri padamu. Aku yakin kau bisa." Lelaki bernama Andreas memberi semangat pada Richi.

__ADS_1


PRITT!


Peluit ditiupkan. Sepuluh orang pertama menyelamkan wajah mereka, sementara satu orang memegang stopwatch dan seorang lain mencatat berapa lama mereka bertahan di dalam air.


Baru di detik ke 30, dua orang langsung naik karena tak lagi kuat menahan napas. Lalu di detik ke 40, dan sampai di dua menit pun selesai.


Suara takjub terdengar saat seseorang berhasil menahan napasnya di menit kedua. Ternyata, itu sudah hebat di mata banyak orang.


Sepuluh orang lain mulai masuk. Disana ada Joy dan Sarah. Mereka langsung menyelamkan tubuh saat peluit ditiupkan.


Seperti pertama, beberapa orang sudah tak kuat menahan napas. Sampai akhirnya Sarah berhenti di menit kedua dan Joy, berhasil di menit ke 4. Tentu membuat semua bertepuk tengan, merasa gadis tomboy itu sangat hebat.


"Wah, hebat sekali, Joy. Kurasa tidak ada yang akan menandingimu." Puji Sarah.


"Ah, tentu ada." Joy melirik Richi dengan mengejek. Dia sudah berada diatas angin karena di kelompok ke tiga pun tidak ada yang lebih lama dibanding dirinya.


Kelompok keempat pun masuk. Richi ada disana. Dia bersiap, suara heboh pun terdengar.


"Ayo, Richi. Kau pasti bisaa."


"Richi, kalau tidak kuat langsung naik sajaa." Teriak mereka. Sementara dua perempuan lain tengah cekikikan mendengar itu.


"Semangat, jangan lihat dua perempuan itu."


Richi menoleh. Dia langsung membelalakkan mata melihat siapa yang ada disampingnya.


"K-kaauu.."


PRITT!


Suara peluit membuat Richi langsung merendamkan tubuhnya. Dia bisa melihat Evan disebelahnya. Lelaki itu juga tengah memberikan tanda jempol pada Richi.


Evan menunjuk ke atas. Memberi kode jika Richi tidak kuat, dia harus naik.


Tapi Richi menggelengkan kepalanya, tanda bahwa ia masih sangat kuat.


Evan langsung menunjuk ke atas lagi saat merasa dirinya sudah tak kuat. Richi tersenyum di dalam air, memberi lambaian tangan pada Evan yang langsung naik ke atas untuk mengambil napas.


Dia terkaget saat ternyata disebelahnya sudah kosong. Orang-orang sudah naik ke atas.


"Wah, kau hebat. Kau bisa menahan napas selama 5 menit 42 detik." Ucap si penjaga waktu.


"Oh, mana Richi?" Tanya Andreas.


"Masih dibawah."


Mereka melihat ke arah kolam. Richi belum juga muncul.


"Wah, coba cek. Siapa tahu ternyata pingsan di dalam." Celetuk Joy.


Semua hening menunggu Richi. Sampai di menit ke 7, 12 detik, Richi keluar dari kolam. Dia mengambil napas sebanyak-banyaknya dan mendapat tepuk tangan dan sorakan meriah.


"Richiii kau hebat sekalii."


"Yeayy, Richi is the bestt!"


Teriak mereka. Membuat Richi tertawa di tengah sesaknya.


Tangan Evan mengulur kebawah. Richi menyambutnya dan naik ke atas.


"Richi memang hebat!"

__ADS_1


"Richi memang hebat!"


Sorak sorai belum juga mereda. Sementara Joy dan Sarah sudah memasang wajah tak suka walau mereka sudah merasa kalah.


__ADS_2