Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Hugo in Valiant


__ADS_3

Richi pasrah saja saat tangannya diikat kebelakang pada sebuah tiang besi. Entah di tempat apa mereka sekarang. Yang jelas, tempat ini buruk sekali dan berada di tengah hutan pinggir kota.


"Darrel, kupikir dia laki-laki." Ucap seseorang di depan Richi sambil memperhatikan gadis itu yang tangannya sedang diikat temannya.


"Benar. Aku terkejut saat tahu ternyata perempuan. Sialnya, terlalu mudah menangkapnya. Hahaha." Tawa yang mengikat tangan Richi dibelakang.


"Tidak seperti yang orang-orang ceritakan, ya. Hahaha."


Beberapa orang lainnya keluar setelah memastikan Richi diikat dengan benar. Mereka bubar dan menjalankan tugas masing-masing. Dua orang lainnya masih di ruangan kotor itu bersama Richi.


Gadis itu menelisik tempat yang ia pijak saat ini. Rumah kayu kosong yang sudah banyak rusak di beberapa bagian. Tetesan air dari atap membuat ruangan menjadi becek dan lembab.


"Ternyata cantik, Ben."


"Jangan disentuh, Sam. Kau tidak takut dimarahi tuan besar?" Ucap Ben mengingatkan.


"Kau tidak ingat, tuan besar meminta kita membawanya hidup atau mati. Itu artinya..." Sam melirik pada Ben yang mulai tersenyum jahat.


Richi menghela napas. Dilihat dari bentukannya, dua orang ini sekali tendang saja sudah pasti tumbang.


"Kita mainkan dulu sebelum diserahkan pada tuan besar, bagaimana?"


Ben menatapi tubuh Richi dari atas sampai bawah. "Wah, aku sangat berselera.."


Richi menatap ke atas tiang. Dia melihat tiang besi tempatnya terikat sebenarnya tidak sampai ke atap. Justru ia bisa lepas jika manjat ke atas.


Melihat Richi yang terus mengamati ruang, kedua pemuda itu merasa tidak ditakuti.


"Hei, perempuan sialan! Kau tidak dengar apa yang kami katakan???"


Tatapan Richi beralih, dia menatap Ben dengan tatapan seperti kobra yang ingin mematuk musuhnya.


"Aah.." Ben sedikit ngeri dengan wajah Richi sekarang. "Hahaha, kau ketakutan, kan?" Ben tertawa demi menghilangkan kengeriannya.


"Hei, cepat berkumpul. Ada pengumuman penting."


Seseorang berdiri diambang pintu memanggil kedua temannya. Mereka langsung pergi, sesekali Ben menoleh lagi pada Richi yang masih menatap dengan tatapan mematikan.


Setelah kepergian dua orang itu, Richi mencoba membuka ikatan tangannya, tapi gagal karena sangat kencang. Nampaknya dia harus pasrah sebab tidak bisa melakukan apa-apa. Ditambah lagi perutnya yang belum benar-benar sembuh.


~


Hugo mengepalkan erat tangannya. Dia sudah mendengar berita dari temannya yang bergabung dalam Stripe bahwa Richi dibawa ke tengah hutan pinggir kota. Temannya itu tidak bisa memberitahu banyak karena informasi yang didapat juga terbatas.


BRUK!


Salah satu anggota Valiant meletakkan seluruh perlengkapan untuk Hugo di atas meja.


"Kau bergabung di tim Elang."

__ADS_1


"A-apa?" Suara Olivia terdengar kaget. Hugo rasanya belum pantas masuk ke Elang, karena di dalamnya ada empat orang yang hampir setara dengan Ricky kerasnya.


"Kau sanggup berdiri paling depan?" Tanya Ricky menguji.


"Tapi Komander, Hugo..." ucapan Olivia terhenti saat melihat lirikan Ricky padanya.


Hugo tanpa kata langsung meraih baju di atas meja, mengganti bajunya di ruangan yang dengan asal ia masuki.


"Lapor, Komander, Darrel berada di hutan Riverield bagian utara." Ucap Jonathan, berperilaku layaknya bawahan saat sedang berkumpul dengan anggota lain.


Helaan napas Ricky terdengar, perjalanan mereka cukup jauh.


"Cepat bergerak!" Titahnya.


"Siaap!!" Serentak seluruh anggota masuk ke dalam mobil berdasarkan tim masing-masing.


Hugo keluar dan melihat satu mobil yang masih tersisa. Dia masuk ke dalam dan mobil langsung melaju kencang.


"Kau bernyali juga." Jonathan bersuara. Sementara Ricky duduk bersandar menghadap Hugo di dalam mobil box itu.


"Demi cinta, kau takkan mengerti." Ray yang baru muncul ikut-ikutan.


Hugo yang diledek hanya diam. Saat ini dia enggan bercanda karena perasaannya yang tidak tenang bercampur kemarahan yang meningkat.


Kalau saja terjadi sesuatu pada kekasihnya itu, dia tak segan untuk membunuh walau Harry sekalipun.


"Bukankah kau terlalu berlebihan, Keen? Dia anak baru, kenapa kau meletakkannya di depan?" Tanya Jonathan.


"Sebaiknya dia dibelakang, biar aku di depan." Sambung Ray.


"Aku yang di depan." Tukas Hugo dengan rahang mengeras. Rasanya dia tidak sabar untuk sampai di tempat.


Mendengar itu, yang lain diam. Sementara Ricky memandangi wajah Hugo dengan sedikit kesal bercampur salut akan nyalinya. Dia bisa melihat keseriusan Hugo malam ini.


'Sudah hampir sampai, Komander.' suara dari earpiece yang dipakai Ricky tersambung ke supir di depannya yang mengabarkan bahwa mereka sudah hampir tiba.


"Seluruh tim, dengarkan." Ucap Ricky sambil menekan tombol earpiece. "Jaguar sisi Kiri dan Rubah sisi Kanan. Rajawali handel depan setelah Elang."


Hugo menatap Ricky yang berbicara sambil menatapnya. Mata mereka beradu, menandakan peperangan akan segera dimulai.


Ray membuka pintu, mereka keluar dari mobil. Tim Rajawali sudah menelisik arah depan sebelum Elang masuk. Sementara Fox sudah jalan duluan menuju arah yang sudah diperintahkan.


Sekarang sisa Elang. Hugo berjalan maju, namun langkahnya dihadang Ricky dengan senjata laras panjang yang ia genggam.


"Kalau kau berubah pikiran.."


Hugo menggenyingkirkan senjata Ricky, dia menatap tajam lalu berjalan duluan.


"Wah, benar-benar idaman." Jonathan terkikik sambil berjalan mengikuti Hugo. Baru kali ini dia melihat Ricky seperti ada imbang, anak kecil pula.

__ADS_1


Hugo langsung masuk begitu tim Rajawali sudah mengalahkan penjaga depan. Mereka mengambil alih posisi menjaga bagian depan.


Hugo langsung menodongkan pistol begitu dia menendang satu pintu.


Beberapa orang yang menghadang langsung ia tembaki hingga orang-orang itu berjatuhan.


Ray, Jonathan, dan Simon terpaku melihat Hugo yang tidak berpikir panjang dan langsung menyerang dengan peluru.


"Aa.. bukankah dia terlalu berlebihan??" Tanya Ray bingung.


Yang lain saling angkat bahu sementara Ricky dengan langkah cepat menarik bahu Hugo.


"Kau harus memikirkan apa yang ada di depanmu nantinya!"


Hugo tak menyahut, dia menatapi saja dan berjalan lagi. Tak ada diskusi, dia sudah tidak bisa berpikir tentang Richi yang pasti tak bisa melawan itu.


Hugo menendang satu pintu, menodongkan senjata lalu berpindah ke pintu lain saat tak mendapatkan apa-apa di ruangan itu.


"Richii!!" Teriak Hugo sambil terus memeriksa tempat sementara empat anggota elang lainnya meng-covernya dari belakang.


Richi menatap dua orang di depannya yang sudah ingin mengerjai Richi.


"Kau dengar suara tembakan?"


Lawan bicaranya mengangguk.


"Apa Valiant sudah datang? Cepat sekali, tuan besar saja belum datang."


"Pergilah, aku khawatir kalian mati." Ucap Richi pada keduanya.


"Halah, banyak omong!"


Richi memutar bola mata tanda tak peduli.


"Hei, cepat lepaskan Darrel. Bawa dia ke lapangan helikopter!" Pekik satu orang dari pintu.


"Ada apa?"


"Valiant sudah di rumah depan! Cepatt!"


Sam langsung membuka ikatan tangan Richi, sementara Ben menodongkan pistol supaya Richi tidak berani bergerak.


Richi memutar pergelangan tangannya saat ikatan sudah terlepas.


"Cepat, jalan!!" Pekik Ben yang mengarahkan pistol ke kepala Richi.


Richi dengan cepat memutra pistol di genggaman Ben hingga pistol itu kini beralih pada Richi.


"Sudah kubilang, kan. Aku khawatir kalian mati." Tukas Richi dengan pistol yang mengarah pada kedua orang itu.

__ADS_1


__ADS_2