
Motor berdecit. Richi menghentikan kendaraan itu tepat didepan kedai kopi kesukaannya.
Melihat siapa yang datang, Clair sudah tersenyum dari dalam. 'Mesra sekali mereka' batinnya.
"Terima kasih". Ucap Richi dengan wajah puas sambil menyerahkan kunci motor pada Hugo.
TRING!
Bel pintu berbunyi. Mata Richi langsung mencari kucing berbulu putih. Richi menghampiri Mouza yang sedang tertidur di sudut ruang.
"Hei, Mo, kau tega sekali. Aku datang tapi kau tidak menyambutku". Gerutunya pada Mouza. Hugo berdiri memandang gadis itu dari belakang.
"Kau minta di hajar, ya. Aku akan menghukummu. Aku akan berikan kau Wiskoz. Bagaimana? Kau suka?" Richi menguyel-uyel kucing itu dengan gemas.
"Pppfftt" Hugo menahan tawa. "Gemas sekali" Ucapnya tiba-tiba.
"Apa? Ah. Kau suka kucing juga rupanya. Ini, peganglah. Aku akan memesankan makananmu" Richi memberikan Mouza pada Hugo.
Lelaki itu menggendong Mouza dengan tangan satu sebelah kanannya. Sebab tangan kirinya masih memegang helm.
Meooong...
Kucing itu bergelantung di atas tangan Hugo yang membeku. Hampir saja, batinnya.
~
Hugo melirik Richi yang menggendong Mouza sambil bercerita dengan salah satu pegawai laki-laki disana. Dia merasa Richi sangat berbeda di sekolah dan juga di tempat ini.
Entah kenapa, Hugo melihat Richi sangat senang di kedai kecil ini.
Richi menghampiri meja Hugo dengan menggendong Mouza. Ia lalu duduk dan meletakkan Mouza di atas meja.
"Rich, apakah waktu itu, kau yang menolong Camilla?" Tanya Hugo yang melipat tangannya di dada.
"Cam, apa? Siapa itu?" Tanya Richi polos sambil mengelus lembut bulu Mouza.
"Dia, yang dekat denganku. Malam itu." Hugo tidak menyebutnya sebagai pacarnya.
"Oh, kekasihmu itu? Aku tidak sengaja, setelah pulang dari sini aku berjalan-jalan. Tahu-tahu lihat seseorang diganggu. Jadi, aku mencoba bantu." Jelas Richi tanpa melihat Hugo. Dia sedang fokus menyisir bulu Mouza yang panjang.
"Aku tidak mengenalnya. Ternyata kalian kencan". Sambungnya lagi.
Hugo hanya diam.
Clair datang membawa nampan berisi dua makanan dan minuman. Seketika Richi meletakkan Mouza di lantai.
__ADS_1
"Selamat menikmati, tuan tampan". Katanya dengan nada yang halus lembut, tak lupa ia mengedipkan mata.
"Temanmu itu sakit mata, ya?" Bisik Hugo pada Richi sambil melirik Clair yang menjauh.
"Dia memang seperti itu. Tapi dia orang yang baik. Kau tahu, tempat ini dulu hampir digusur." Ucapnya mulai bercerita.
"Kau lihat, tempat ini kecil sendiri. Gedung-gedung tinggi itu benar-benar membuat kedai ini terlihat usang".
"Bukannya bangunan-bangunan ini baru di bangun?" Tanya Hugo sambil menyantap makanannya.
"He'm". Richi mengambil sendoknya. "Kau ingat kejadian Stripe?" Richi menyebut salah satu kelompok kejahatan besar yang suka merampas barang berharga milik orang lain. "Mereka ini dulunya adalah korban. Clair, dia hampir diperkosa."
Mendengar itu, Hugo menghentikan aktivitasnya.
"Untunglah, ada yang datang tepat waktu. Mereka membantu keluarga Clair. Dan juga karena kebaikan pengusaha itu, mereka diberikan sedikit ruang. Kasihan, ayah Clair yang mempertahankan tempat ini sampai meninggal dunia"
Hugo menangkap gores kesedihan di wajah Richi.
"Siapa yang datang membantu mereka?" Tanya Hugo yang sudah berhenti mengunyah. "Apa kelompok Gallant, atau Valiant?"
Richi menaikkan alisnya. "Hugo, kau tahu kelompok itu? Bagaimana kau tahu, itukan kelompok rahasia?" Tanya Richi penasaran.
"Lalu, bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Hugo balik yang membuat bola mata indah Richi mengedip beberapa kali.
"Aku tahu karena Clair temanku". Jawab Richi perlahan, lalu menyesap minumannya.
"Bagaimana kau tahu itu?"
"Karena aku ketuanya". Ucap Hugo sambil menyantap lagi makanannya.
"Hehe, begitu ya. Aku juga ketua kelompok Valiant". Ucap Richi lagi sambil meledek Hugo.
🐌🐌🐌🐌🐌🐌🐌🐌
Sore hari setelah banyak bercerita, mereka pulang bersama. Kali ini, Hugo yang membawa motornya. Karena Richi pun tidak ingin ketahuan oleh orang tuanya kalau ia membawa motor saat pulang ke rumahnya.
Hugo tidak memakai helmnya. Helm itu ia letakkan di depan.
"Rich. Kau belajar motor dari siapa?" Tanya Hugo yang mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.
"Aku? Dari kakak laki-lakiku". Jawabnya sedikit mendekat ke tubuh Hugo.
"Kau punya kakak?"
"Punyalah. Kalau kau?"
__ADS_1
"Anak tunggal".
Richi manggut-manggut. Pantas saja Hugo kesepian. Batinnya.
"Hugo. Bisa tidak kau tambahi kecepatannya. Jalanmu seperti keong". Ucapnya di telinga Hugo. 🐌
Antara senang karena Hugo bahkan bisa merasakan hangatnya napas Richi, atau merasa di lecehkan sebab dikatai mirip keong.
"Kau peganganlah." Hugo mulai menggeber motornya, lalu menaikkan gas dengan kecepatan tinggi.
"Hugooooo, kau Gilaaa yaaa" Teriak Richi yang tak kuat lantaran angin kencang menerpa wajahnya. Ikatan rambut gadis itu terlepas, hingga rambutnya melambai-lambai.
Tak dihiraukan Hugo, dia malah semakin menaikkan gasnya. Reflek tangan Richi melingkar di pinggang Hugo dan menyembunyikan wajahnya dibalik punggung lelaki itu. Tubuh Hugo kaku saat merasakan dirinya dipeluk oleh gadis itu.
Sepertinya, motor Hugo membuat hubungan kedua orang ini membaik. Richi merasa, Hugo tidaklah seburuk yang dia pikirkan. Ternyata Hugo juga bisa banyak cerita. Padahal kalau dilihat-lihat, dia hampir tidak pernah berbicara di sekolah.
~
Motor berhenti tiba-tiba. Tangan Richi langsung ia rentangkan. Merasa canggung sebab memeluk tubuh Hugo secara tidak sengaja.
"Turun!". Ucap Hugo dengan nada dinginnya.
Richi turun. Dia sedikit malu.
"Terima kasih". Ucapnya sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
"Masuklah. Aku pulang. Terima kasih juga sudah menemaniku." Hugo langsung menancap gas motornya.
Richi masih mematung. Sedikit merenung atas kejadian seminggu ini, kenapa dia bisa dekat dengan Hugo? Padahal dari awal tahu sosok Hugo dari kelas satu, dia sangat enggan untuk melihat. Melirik pun diusahakannya tidak terjadi. Itu sebabnya, dia selalu menghindar jika Hugo ikut bermain bakset bersama regunya. Dia sama sekali tidak ingin terlibat apapun dengan lelaki itu.
~
Hugo menepikan motornya. Dia turun. Napasnya terengah-engah. Dia menyentuh jantungnya.
"Haaahh. Jantungku, Untung kau tidak melompat keluar karena detakanmu sungguh kencang!" Hugo mengatur napasnya. Dia mengingat beberapa jam kebelakang. Dia dan Richi terlihat baik.
Senyuman lebar dan rasa bahagia terpampang jelas di wajahnya. Dia sendiri tidak bisa menyembunyikannya. Itulah mengapa dia langsung pergi tanpa bicara lagi pada Richi.
"Haaah.. tolong, bekerjasamalah.." ucapnya sambil mengelus lembut dadanya.
"Tidak. ini pasti salah. Dari sekian banyak perempuan cantik, tidak mungkin gadis itu.."
Walau mengelak, Hugo masih merasakan gejolak kebahagiaan dalam dadanya. Tidak mungkin dia menyukai gadis yang bahkan bisa membawa motor Sport. Dia benar-benar seperti laki-laki, kan? dan Hugo, tidak menyukai gadis yang seperti itu.
'Ya. aku tidak menyukai gadis yang seperti itu' Batinnya. Lalu ia menjalankan motornya lagi dengan kecepatan tinggi...
__ADS_1
To Be Continued....