
Waktu itu, setelah keluar dari ruangan Hugo, dia mendengar Daren dan Isac menyebut nama Richi. Hingga Carina mengetahui kalau gadis itu pasti menyampaikan sesuatu yang dia ucapkan di toilet kala itu.
"Gara-gara kau, aku jadi kehilangan kesempatan emasku! Kau memang harus diberi pelajaran!" Carina mencengkram kerah baju Richi hingga ia berdiri karena Carina menariknya dengan kuat.
"Kau tahu, aku sudah belajar Tinju sejak dulu. Jika kau kena pukulanku sekali saja, kau bisa berbaring di rumah sakit berminggu-minggu!" Amarah Carina memuncak tatkala Richi tidak menggubris ataupun menunjukkan reaksi takut.
"Jangan disini, tempat ini sempit." Richi memberi peringatan. Bergulat di tempat sempit, bisa membuat Carina yang berbaring di rumah sakit berhari-hari.
Carina tertawa dengan ucapan Richi. "Kau menantangku? Mengajakku bertarung, hah?"
Richi melepaskan cengkraman Carina di bajunya.
"Aku tidak suka berkelahi. Terlebih dengan perempuan. Anggap saja aku menggagalkanmu melakukan permusuhan jangka panjang".
Richi keluar dari bilik. Namun Carina yang sudah emosi menahan dan mencengkram kuat lengannya.
"Kau benar-benar kurang ajar!" Carina melayangkan tinjunya dengan keras.
Richi dengan tangan kirinya menangkis kepalan tangan Carina hingga membuat gadis itu terkejut.
"Sudah kubilang, aku tidak suka bertarung dengan perempuan". Ucapnya lalu menghempaskan tangan Carina.
Richi keluar dari toilet, meninggalkan Carina yang terdiam memegang tangannya. Richi menangkis tangannya hingga memberi efek sakit. "Kenapa tangkisannya kuat sekali". Gumam Carina sedikit meringis.
Carina merasa malu, dia datang lalu tidak bisa memberi tinju pada Richi untuk memberinya pelajaran, membuatnya tidak puas.
Dia mengejar Richi yang sudah keluar dari toilet.
"Hei!" Teriaknya pada Richi yang berhenti dan menoleh.
Carina berjalan ke arahnya dengan cepat. Dia ingin sekali menampar gadis kurang ajar itu.
"Lihat sekelilingmu". Ucapan Richi membuat gadis itu menggantungkan tangannya di udara. Tamparan keras yang dia ingin layangkan tertahan. Matanya melirik kiri dan kanan. Banyak anak-anak yang disana mulai berbisik dan menatap ke arahnya.
"Sekarang, tampar saja". Richi tersenyum miring melihat Carina membeku. Dia lalu pergi begitu saja meninggalkan Carina dengan rasa malu dan amarah yang menjadi satu.
Bukan hal berat jika hanya memberi Carina satu pukulan hingga dia tidak akan berani lagi berhadapan dengan Richi. Hanya saja, hal yang demikian akan lebih menyulitkannya nanti. Bagaimana pun, Richi tidak suka jika orang-orang mengetahui banyak hal tentang dirinya.
Richi duduk di pinggir lapangan basket. Dia teringat Hugo. Jika belum melihat lelaki itu pulih seperti sedia kala, hatinya belum benar-benar tenang.
"Chi.." Emerald menghampiri dan duduk di sebelahnya. "Nanti malam, ada acara kan?"
__ADS_1
Richi tidak menjawab. Dia lupa kalau Ayahnya memintanya datang ke pesta. Jika Ayah yang meminta, dia sulit menolak.
"Pergi bersamaku, ya?"
Richi menyunggingkan senyum. Pergi dengan Emerald akan sedikit menyenangkan, kan? Batinnya.
...♠️...
Hugo membuka perlahan matanya. Dia akhirnya siuman setelah berpuluh jam pasca operasi. Mata Hugo sangat berat. Namun pikirannya langsung tertuju pada kejadian malam itu.
"Hugo, kau sudah sadar?" Axel berdiri. Dia girang karena akhirnya Hugo benar-benar bangun.
Hugo menatap sekitar. Satu-satu ingatan muncul dengan jelas di pikirannya. Dirinya yang dipukul dari belakang saat berjalan keluar gerbang sekolah, disiksa dan digantung Lexus. Hingga, Richi datang menyelamatkannya. Ah, Richi. Bagaimana keadaannya?
Hugo bergerak, lalu mendapati sakit di sisi kanannya.
"Hugo, kau jangan banyak bergerak dulu."
Hugo tidak mendengarkan Axel. Dia bangkit, dibantu Isac bersandar di sisi kasur dengan bantal.
"Bagaimana, Richi?" Tanya Hugo dengan terbata. Suaranya tertahan karena menahan nyeri di punggungnya.
"Ah, dia.." Axel sedikit bingung karena saat baru saja sadar, Hugo langsung menanyakan keadaan Richi.
Hugo menunduk. Dia merasa malu karena Richi membantunya. Apalagi, perkataan Lexus tentangnya benar sesaat sebelum Lexus mengeluarkan tembaknya.
Lexus? Hugo mengingat, Richi sepertinya mengenal Lexus. Tetapi gadis itu memanggilnya Tuan Saver?
"Hugo, apa kau tahu kalau Richi adalah bagian dari Valiant?" Isac bertanya tentang sesuatu yang anggota mereka katakan kemarin malam.
Hugo mengerutkan dahinya. "Valiant?" Dia lalu mengingat sesuatu tentang Valiant. Dia pernah melawan salah satu dari Valiant. Orang dengan keahlian tinju yang sangat tinggi.
"Benar. Anggota kita yang mengatakannya. Dia menyebutnya dengan nama Darrel. Artinya Richi dikenal dengan nama tengahnya, kan?" Ucap Isac masih dengan penasarannya.
"Mereka tidak tertebak karena selalu menggunakan masker. Tapi aku percaya kalau memang Richi adalah anggota Valiant. Karena dia juga tidak membantah". Sambung Axel sambil mengingat malam itu.
"Kalau begitu, Richi pasti mengenal Keen. Lawanmu dua tahun lalu."
Ucapan Daren membuat semua terdiam. Benar, orang itu masih menjadi rahasia sampai sekarang. Kenapa dia sangat tangguh sampai Hugo yang hebat di atas ring bisa kelimpungan melawannya.
"Valiant?" Hugo menerawang ke dua tahun silam. Pertempuran besar beberapa kelompok hingga membuat mereka tidak tahu siapa kelompok yang berada dipihak benar dan salah.
__ADS_1
"Tapi, jika Richi benar Valiant, untuk apa dia merampas orang-orang tidak berdaya itu?" Tanya Isac lagi.
"Aku rasa tidak. Valiant melindungi para pedagang kecil disana. Kau ingat? Valiant memang seperti menyandra, padahal mereka menghalangi kelompok lain yang mendekat dan menghancurkan kedai-kedai disana". Daren mulai paham dengan situasi dulu. Masih banyak kejanggalan, karena banyaknya berita bohong yang tersebar dikalangan kelompok-kelompok itu.
"Lalu, Keen? Dia menghajar Hugo. Kau ingat?"
Hugo ikut merenung. Dia juga tidak tahu banyak. Kejadian itu begitu cepat.
"Sebentar. Apa jangan-jangan, Darrel itu adalah yang menolongmu, Hugo?" Tanya Axel saat mengingat sesuatu.
"Bukan. Darrel yang dulu adalah laki-laki." Jawab Hugo lalu memejamkan matanya. Kejadian dua tahun lalu banyak mengubah hidupnya.
Setelah panjang bercerita tentang kejadian malam itu, Isac dan Axel keluar untuk mencari makanan. Sepeninggal mereka, Daren duduk di tepi ranjang Hugo.
"Kau mau kencan? Rapi sekali". Tanya Hugo pada Daren yang tampak sangat tampan.
"Aku akan menggantikan Ayahku di acara koleganya. Dia keluar kota."
Daren lalu menyerahkan sesuatu dari kantongnya. Sebuah benda kecil yang ia temukan di genggaman Hugo saat dia tidak sadarkan diri di dalam Ambulan.
Hugo menerimanya. Dia memperhatikan benda kecil itu di tangannya.
"Apa kau menyukainya?"
Pertanyaan Daren membuatnya menyunggingkan senyum sebelah kiri.
"Tidak. Aku hanya menemukan dan lupa mengembalikannya".
Daren tersenyum sambil melipat tangan di dada. "Kenapa? Tinggal jawab jujur".
"Kau tahu tipeku dalam memilih perempuan. Sudah, sana pergi. Aku mau tidur". Hugo menurunkan tubuhnya perlahan. Lalu memiringkan badannya ke kiri. Membelakangi Daren.
Daren hanya menggelengkan kepala. Apakah Hugo belum menyadarinya? Atau dia mengelak? Entahlah, Daren keluar ruangan meninggalkan Hugo yang sudah menutup matanya.
Suara pintu tertutup terdengar, Hugo membuka matanya. Melihati benda kecil itu di tangannya. Dia tersenyum saat mengingat dirinya memeluk Richi dan membuka jepit rambut gadis itu hingga rambutnya terurai dengan lembut.
Hugo tersenyum sambil menutup matanya, mencoba tidur dengan menggenggam jepit rambut itu di tangannya.
To Be Continued....
Hallo♡
__ADS_1
Terima kasih ya sudah mendukung Author dengan Like, Komen, Vote, dan Hadiahnya💐
Jangan lupa baca cerita Author "Duka Dua Garis Merah" 🙈