Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Richi Berbunga


__ADS_3

"Honey, pertandingan basket antar sekolah sebentar lagi, kan?" Tanya Camilla yang melendot manja pada Hugo.


"Iya. Daren sudah memberitahuku."


"Aku tak sabar melihatmu datang ke sekolahku lagi". Ucapnya sambil memegang jari-jari Hugo.


Tubuh Hugo hanya bersandar pada bangku sekolah. Membiarkan gadis itu melakukan apapun. Karena dia sedang enggan menanggapi Camilla.


Entah ada angin apa perempuan ini datang lalu menemui Hugo yang ada di kantin saat jam istirahat kedua. Lalu mengajak Hugo duduk di taman belakang sekolah sampai jam pelajaran usai. Setelah itu, mengajak lagi Hugo pindah ke bangku lapangan basket yang ramai orang saat jam pulang.


Rasanya dia sengaja untuk menekan pada orang-orang bahwa mereka berpacaran.


"Siapa ketua pemandu sorak kalian? Apakah masih Sonia, mantanmu?" Tanya Camilla posesif.


"Dia sudah pindah, Mil, dan aku tidak tahu menahu soal itu." Ucap Hugo cuek. Lalu badannya tegak saat melihat seseorang berjalan sendirian dengan cepolan di atas kepalanya.


"Hah, awas saja kalau ada yang melirikmu lagi. Aku tak segan-segan mematahkan lehernya!" Ancam Camilla pada Hugo. Namun yang di perhatikan Hugo hanya gadis itu. Dia melihat, seorang laki-laki memberikannya surat.


"Lagi?" Tanya Hugo pada diri sendiri. Richi diberi surat lagi?


"Iya. Awas saja!" Jawab Camilla yang menyangka Hugo berbicara padanya.


Richi berjalan ke arah mereka duduk. Sepertinya dia mau bermain basket dengan teman-temannya.


Benar saja. Tak lama, di lapangan itu berdatangan teman-teman Richi yang biasa bermain dengannya.


Melihat Hugo yang sedang berpacaran, kelihatannya anak-anak itu ragu untuk mendekat ke lapangan.


"Main saja seperti biasa. Anggap kami tidak ada, ya." Ucap Camilla pada orang-orang yang baru datang itu.


Eric berbisik pada Frans "Hugo itu playboy, ya. Bukannya dia belum putus dengan Richi?"


Frans memukul bahunya pelan. Tidak perlu mengurusi yang bukan urusanmu, begitu maksudnya. Apalagi, Frans, Entah bagaimana bisa melihat sedikit ketertarikan Hugo pada Richi.


Melihat Richi mendekat, Camilla menyandarkan lagi kepalanya ke bahu Hugo.


"Honey, kau segitunya menyayangiku sampai tidak mengizinkanku pulang" Ucapnya manja pada Hugo.


Hugo melirik Camilla yang memeluk manja dirinya. 'Bicara apa kau' Batinnya.


"Honey Hugo Sweety-ku, kau lapar, sayang? Aku bawa bekal. Mau aku suapin?" Suara Camilla mulai dibesarkannya supaya Richi melihat ke arah mereka. Namun nampaknya gadis itu berjalan santai saja.

__ADS_1


"Aku tidak lapar, Mil. Pulanglah. Aku mau bermain basket."


"Haha kau ini, manja sekali padaku". Katanya lagi sambil melirik Richi. Gadis itu mendekat lalu melepas headset di telinganya. "Ck. Sialan!" Gumamnya pelan saat melihat Richi ternyata tidak mendengarnya.


"Apa kalian mau main? Aku boleh gabung?" Hugo bangkit dari tempatnya. Melirik Richi meminta jawaban. Sebab Richilah yang enggan bermain dengannya.


"Kami tidak main, Hugo. Kalian kan, mau latihan untuk pertandingan basket antar sekolah?" Ujar Frans yang duduk di bangku pinggir lapangan.


Richi lalu ikut duduk. Tangannya ia masukkan ke dalam kantong jeket. Dia mengobrol santai dengan Eric dan Frans. Mereka memilih menonton latihan anak-anak basket inti.


"Hei Hugo. Kami mencarimu kemana-mana." Axel menegurnya lalu memberikannya tas kecil. "Ini, ganti bajumu. Kita latihan".


Yang lain sedang melakukan pemanasan ringan, Hugo berlalu untuk berganti baju.


"Mana Joe?" Daren bertanya pada Isac.


"Dari tadi sudah aku hubungi. Tapi tidak ada respon".


"Astaga. Benar-benar, ya. Ada saja masalah kalau mau latihan." Ucap Axel sebal.


"Yang lain kemana memangnya? Pemain cadangan?" Tanya Hugo yang mulai peregangan.


"Richi. Kau saja menggantikan sebentar". Ajak Daren pada Richi.


"Kenapa aku? Banyak orang disini." Tolaknya pada Daren. Rasa malas bermain dengan Hugo masih menyelimuti dirinya walau dia merasa, Hugo adalah partner yang cocok untuk bermain basket dengannya.


"Kau saja sana Frans" Richi menendang pelan kaki Frans


"Aku tidak bisa. Pakaianku nanti kotor". Bisik Frans.


"Kotor apanya! Hampir setiap hari kau bermain pakai seragam." Ucap Richi dengan nada yang agak keras.


"Ayolah Richi. Bantu kami sekali-kali". Bujuk Daren.


Dia ingat, Daren juga yang mengusulkan Hugo satu tim dengannya malam itu. Ide dia juga soal kencan itu.


"Maaf ya, dia tidak bisa karena ada janji denganku". Suara Emerald tiba-tiba terdengar. Dia muncul dari belakang Richi.


"Kak Emer. Hihi.." Richi menoleh ke belakangnya sambil tertawa riang. "Makasih loh, kak". Ucapnya tanpa suara.


Wajah Daren nampak sedikit kesal. "Baiklah. Frans, bantu kami".

__ADS_1


"Siaaap!" Ucap Frans lalu bergerak ke lapangan.


'Lah, tadi engga mau.' Batin Richi.


💮💮💮💮


Richi memilih keluar dari sekolah walau dia ingin sekali melihat para pebasket pilihan itu bermain. Namun nampaknya, Daren sengaja memintanya supaya ikut bermain agar dia dekat dengan Hugo.


Bukankah itu aneh? Untuk apa Daren sampai seperti itu? Dia bahkan melihat wajah tak suka Hugo saat itu.


"Ichi. Sedang mikirkan apa?" Tanya Emer yang meliriknya sekilas. Matanya tertuju ke jalanan di depannya.


"Tidak kak. Oh, ya. Kita mau kemana?"


"Nanti kau juga akan tahu. Jangan penasaran, ya." Ucapnya menahan kegirangan di wajahnya karena tak sabar.


"Sama sekali tidak, kok". Jawabnya sambil terkekeh.


Sesampainya, Emerald mempersilakan Richi jalan duluan. Mata gadis itu sudah berbinar sejak ia tahu memasuki taman indah di pinggir kota.


Rona bahagia terus memancar. Dia menutup mulutnya yang melebar karena sesenang itu.


"Kak.. ya ampun. Haha ini keren sekali.. aku sukak!" Richi berlari kecil di taman itu. Taman yang penuh bunga-bunga indah berwarna warni dengan banyak kupu-kupu bertengger di atasnya.


Richi tampak menyentuh dan menghirup harumnya bunga-bunga di taman itu.


Emerald memperhatikannya dengan senyuman yang sejak tadi terlukis di wajahnya. Dia merasa bangga sebab mampu membuat Richi sebahagia itu.


Dia juga tahu dari Ricky, kakak Richi. Dia mengatakan, tugasnya sebagai anak dari keluarga Wiley yang membuatnya seperti laki-laki. Namun aslinya, Richi benar-benar gadis mungil yang menyukai bunga dan benda-benda yang cantik.


"Kak, terima kasih. Aku sangat suka". Ucap Richi sambil memegang tangan Emer yang ia lipat di dada.


"Aku juga suka". Kata-kata itu keluar begitu saja, saat ia tersadar Richi berdiri di depannya dengan wajah sedikit bingung.


"Maksudku, ya, sama-sama. Syukurlah kalau kau juga suka".


Apa daya, kata-kata yang pertama keluar dari mulut Emerald nampaknya sudah tertangkap di telinga Richi.


Entahlah, dia merasa yang dia rasakan mungkin juga yang di rasa Emerald. Walau terlihat kecil, namun yang dilakukan Emer benar-benar membuatnya tersentuh.


...To Be Continued.......

__ADS_1


__ADS_2