
Richi duduk diam termenung di atas sofa kecil depan ring tinju. Pikirannya masih saja terfokus pada wajah anak kecil tadi. Dari sorot mata yang mengarah kepadanya, anak itu jelas tengah meminta pertolongan. Tapi bodohnya, dia tidak langsung memahami kondisi itu dan malah berpikir laki-laki tadi adalah orang tuanya.
Richi memukul-mukul kepalanya. Sejak tadi dia mengutuk diri atas kebodohannya sampai tangannya ditahan oleh Hugo yang sejak tadi memperhatikannya.
"Kenapa kau memukul kepalamu?" Hugo duduk disebelah gadis itu, menatap serius Richi yang sejak tadi agak berbeda.
"Apa ada sesuatu? Katakan."
Richi menghela napas, lalu bersandar di sofa sambil menatap pertarungan Clair dan Simon di atas ring.
"Hugo, apa mungkin di kota sebelah banyak deskriminasi terhadap anak?"
Kening Hugo berkerut. Pembahasan Richi agaknya lebih berat sekarang.
"Aku.. tidak tahu. Maksudmu kota sebelah, area kampus kita?"
Richi mengangguk lambat. "Iya. Aku tadi tidak sengaja melihat anak kecil babak belur dibagian wajahnya. Aku ingin menolong, tapi aku pikir aku tidak bisa berbuat begitu saat ayahnya ada disana."
"Terkadang, tidak ikut campur urusan orang lain adalah hal yang terbaik. Sudah, sana naik. Ricky memanggilmu." Hugo melirik ke atas. Disana sudah ada Ricky yang menunggu di atas ring, menunggu adiknya naik untuk sparing.
Richi sebenarnya tengah malas. Tapi Ricky terus menatapnya dan menyuruhnya naik ke atas ring. Akhirnya, Richi pun menuruti kakaknya.
"Hei, kuingatkan sekali lagi. Ini boxing, bukan muay thai." Peringatan untuk Richi itu keluar dari Jonathan sebagai wasit.
"Kau juga. Berhati-hatilah karena yang kau hadapi ini adalah adik perempuanmu."
"Hah, mau perempuan atau laki-laki, kalau sudah diatas ring, dia musuhku." Tukas Ricky dengan pandangan berapi-api, melompat kesana kemari dengan sarung tinjunya.
"Terserah padamulah." Ucap Jonathan acuh.
Berhubung tidak ada bel tanda pertandingan mulai, Jonathan menghitungnya.
"Oke, satu..dua.. yaakkk!!" Jonathan menyingkir, dia memperhatikan kedua orang yang tengah bersiap beradu. Penonton juga ikut tegang. Pasalnya wajah Keen tampak ingin memangsa. Sedangkan Richi, dia malas sekali mengangkat tangan untuk posisi kuda-kudanya.
"Ayo, sayang! Semangat. Hantam saja!" Pekik Hugo membela kekasihnya.
"Kuberi kau kesempatan. Maju duluan atau kau akan tergeletak tak berdaya." Ancam Ricky, menatap adiknya layaknya musuh.
"Hei, jangan mengancam perempuan!" Pekik Hugo lagi.
"Wah, komander bersemangat sekali. Aku jadi takut Darrel kenapa-napa." Bisik Clair pada Bella.
"Tenang saja. Komander masih waras." Balas Olivia.
Yang ada disana, hanya sebagian dari tim Valiant. Sebab tidak semua bisa hadir untuk latihan, mereka sibuk dengan aktifitas masing-masing.
"Cepat, maju. Atau aku yang maju." Ucap Ricky lagi, masih dengan melompat-lompat kecil kiri dan kanan.
"Ayo, sayang. Patahkan lehernyaaa!!" Teriak Hugo.
"HEI KAU BISA DIAM TIDAK!" Pekik Ricky kesal. "KALAU KAU BERSEMANGAT SANGAT, NAIK DAN HADAPI AKU-"
BUK!
Richi mengambil kesempatan, dia menendang paha belakang Ricky dengan keras, membuat kaki laki-laki itu bertekuk. Lalu kaki kiri Richi naik ke atas paha sang kakak dan menendang dagu Ricky dengan lutut kanannya.
BUG! Satu tinjuan dengan tangan kanan mendarat tepat di wajah Ricky langsung membuat lelaki itu terjatuh dengan kedua tangan merentang diatas Ring.
Ternganga. Semua yang ada disana membuka mulut karena terkejut melihat aksi keras Richi pada kakaknya. Terlebih Jonathan. Membelalakkan mata saking kagetnya.
__ADS_1
"Hei-hei-hei. Ini boxing! Bukan Muay Thaii!!" Pekik Jonathan pada Richi. Jelas gadis itu mengeluarkan jurus Muay Thai untuk menghantam kakaknya sendiri dengan kaki. Sedangkan tinju, tidak boleh dengan kaki.
"Tidak seru." Tukas Richi dan langsung turun dari ring. Wajah datarnya itu membuat Jonathan terbelalak. Bisa-bisanya dia menghantam kakaknya dengan begitu bringas. Sesaat kemudian dia sadar dan langsung menghampiri Ricky yang masih terbaring.
"Keen! Keen, sadarlah!"
Clair, Olivia, dan Bella tentu saja sudah terkikik duluan dengan menutup mulut mereka. Mereka juga takut kalau wajah mereka ditandai Komander sebagai prajurit yang menertawakan atasannya. Dihukum karena dianggap tidak sopan.
Hugo langsung menjemput kekasihnya. Dengan wajah puas dia memeluk dan memutar Richi. "Wahaha. Kekasihku sangat hebaaat!"
"Hebat apanya. Ini tinju, bukan Muay Thai!" Protes seorang dari kelompok Rajawali. Tapi Hugo cuek saja. Dia langsung membawa Richi pergi dari sana. Dia juga takut kalau Ricky sadar dan mengamuk, bisa bahaya, kan.
...🦍...
Ricky masuk ke dalam rumah. Dia berjalan lambat sembari memegangi dagunya yang membiru. Belum lagi tisu yang menggantung di lubang hidungnya. Dia benar-benar terlihat kacau. Dan yang lebih menyedihkannya lagi adalah dihantam oleh adik sendiri, di depan para anggota kelompoknya pula. Richi benar-benar keterlaluan. Dia berencana akan menghabisi anak itu nanti.
"Lho, kenapa??" Marry terlihat panik. Pikirannya juga mulai kesana kemari. Tidak pernah ia melihat anak laki-lakinya seperti ini. Jika dia kacau, artinya Ricky menemukan imbangnya.
"Mana dia?" Tanya lelaki itu, mengacuhkan pertanyaan Marry.
"Dia siapa?"
"RICHI!!!" Teriakan Ricky menggelegar. Membuat beberapa pelayan berangsur mundur dari dekatnya.
"Hei, ada apa? Kenapa kau malah berteriak-teriak begitu??" Tanya Marry penasaran.
Langkah Ricky terhenti, saat ia melihat adiknya itu tengah duduk santai di ruang keluarga dengan majalah di tangannya.
"Kau! Lihat apa yang kau perbuat ini! Bisa-bisanya kau memulai pertarungan saat aku belum bersiap! Lihat! Kau serius ingin membunuhku, hah?" Pekiknya kesal.
"Lho, lho, lho. Kau kalah dengan adikmu sendiri?" Tanya Marry heran.
Richi mengapitkan bibirnya supaya jangan tertawa melihat kondisi kakanya sendiri. Tapi apalah daya, dia tidak kuat dan segera menaikkan majalah menutup wajahnya.
Tangan dan majalah itu bergetar. Ricky tahu Richi tertawa dibaliknya.
"Lihat!! Dia malah menertawakanku!" Kesal, Ricky berniat menghampiri dan memberi Richi pelajaran. Tapi baru dua langkah, kerah belakang bajunya ditahan sang ayah.
"Mau kau apakan adikmu??"
Ricky menghela napas. Memang dia takkan bisa melakukan apa-apa jika di rumah.
"Ayah, dia.."
"Itu memang dasar kau yang tidak becus. Bagaimana bisa, lengah membuatmu kalah? Kau melabeli dirimu sebagai komander. Tapi tendangan perempuan saja sudah membuatmu seperti ini."
Ricky menganga. Padahal ayahnya belum mendengar cerita keseluruhan.
"Ayah. Ayah lebih tau bagaimana kuatnya tenaga anak itu!"
"Jelas ayah tahu. Ayah yang melatihnya." Sahut Wiley cepat.
"Yaa. Tapi dia memakai jurus Muai Thay saat aku masih berbicara." Jelas Ricky lagi.
"Lalu, kau mau menghajar adikmu sebagai tanda balas dendam? Apa itu yang kuajarkan padamu??"
Ricky diam. Tidak berani membantah terlebih apa yang diucapkan ayahnya benar.
Richi pula langsung menurunkan majalah yang sengaja ia tutupkan kewajahnya.
__ADS_1
Dia menyengir begitu Ricky menatap wajahnya dengan jengkel.
"Maaf.." ucap gadis itu dengan raut yang tak sungguh-sungguh.
Sejenak Ricky menghela napas sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu dengan perasaan kesal pada adiknya sendiri.
Richi mulai merasa bersalah saat melihat kakaknya pergi begitu saja. Dia pun ikut beranjak mengejar Ricky yang berjalan menuju kamarnya.
"Kak."
Richi mengekor dibelakang.
"Kak." Panggilnya lagi, tapi Ricky hanya jalan tanpa memperdulikannya.
"Kaaaaak!!"
"APAAA!!"
Pekikan Ricky membuat gadis itu memundurkan kepalanya. Dia membelalak kaget. Apalagi napas Ricky sampai naik turun seperti itu.
"A-aku.. minta maaff..."
Ricky tak menyahut beberapa detik, dia memandang adiknya lalu membuang wajah dan napas sekaligus.
"Suka sekali kau mempermalukan aku!" Tukasnya.
"Aku tidak bermaksud mempermalukanmu, kak. Kita kan, latihan."
"Latihan? Memangnya apa yang kau lakukan padaku??"
Richi menunduk. Dia tahu, dia telah salah.
"Kau merasa hebat sudah melakukan itu padaku?"
"Bukan seperti itu, kaak."
"LALU APAA!!"
Richi merasa geram dibentak seperti itu. Padahal dia sudah meminta maaf dan benar-benar merasa bersalah.
"Sebenarnya aku cuma melakukan apa yang kau suruh. Kau bilang, aku harus menyerang duluan sebelum kau membuatku tergeletak tak berdaya. Jadi, aku membalikkan kata-katamu." Richi mulai membela diri.
"Kau tahu apa itu tinju, kan!??"
"Justru karena kau tahu aku tidak mahir tinju, makanya kau menantangku, kan? Seharusnya kau mengajariku, bukan menantangku! Lihat Clair dan Simon, mereka saling belajar!" Pekik Richi pada kakaknya.
"Kalau kau mau belajar, sana, belajar sama cowokmu itu!"
"Tidak perlu! Aku tidak minat dengan tinju." Jawab gadis itu ketus.
"Ya sudah! Kau pikir aku peduli kau tidak bisa tinju!" Ricky berjalan lagi ke kamarnya.
"Ya sudah! Aku juga tidak peduli padamu."
"Kau pikir aku peduli kau tidak peduli padaku! Sana pergi." Teriak Ricky menjauh.
"Kau sana yang pergi. Dasar gorila sinting!!" Ejek Richi setengah menjerit.
"Kau rubah gila!" Balas Ricky sebelum akhirnya membanting pintu kamarnya dengan keras.
__ADS_1