Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Undangan Pernikahan


__ADS_3

Sejenak Richi terdiam saat otaknya mulai menyadari kalau keduanya telah melakukan hal semacam itu di dalam sana.


"Maaf, apa kalian melihatnya?"


"Harry, jaga bicaramu." Timpal Shera yang berusaha membuat Harry diam dari tawanya.


"Sudah selesai enak-enaknya?" Tanya Hugo santai dan langsung duduk tanpa disuruh.


"Sebenarnya belum. Kami selesai karena mendengar suara kalian." Kata Harry santai sambil menyomot roti yang tergeletak di atas meja.


"Kenapa bengong, Richi?" Tanya Harry saat melihat Richi masih berdiri di tempatnya.


"Tidak." Dia langsung sadar dari lamunannya dan duduk agak jauh dari Hugo. Aneh rasanya, setelah melihat adegan barusan, dia agak takut pada Hugo.


"Apa itu sebabnya pembantu di rumah ini menghilang?" Tanya Hugo.


"Dia pergi belanja, Hugo." Sambung Shera.


"Haha, begitu ya. Sekarang, cepat jelaskan tujuan kalian memanggil kami."


Shera mengambil sesuatu dibawah meja, lalu menyerahkannya pada Hugo.


"Kami akan menikah dua minggu lagi. Kalian wajib datang sebagai keluarga."


Richi langsung mendekati Hugo, melihat undangan berwarna putih emas yang diberikan Shera.


"Wuaah, kalian benar-benar akan menikah?" Richi merasa takjub dan membaca kertas undangan yang terlihat mewah.


"Ya, lagi pula Shera sudah hamil."


Richi sontak menatap kedua orang itu secara bergantian.


"Harry!"


"Hahaha. Becanda, sayang." Tawa Harry pada Richi yang menatapnya karena terkejut.


"Kau ini, jangan nodai pikiran Richi dengan ucapan mesummu itu." Tukas Hugo.


"Siapa yang mesum? Hahaa."


"Lalu, sekolahmu bagaimana Harry?" Tanya Richi penasaran.


"Semester ini akan selesai. Aku ikut Aksel dan kuyakin pasti lulus. Shera akan tetap sekolah."


"Wah, serius, Shera?"


Shera mengangguk cepat sambil memeluk Harry. Mereka sedang dilanda bahagia yang sangat besar.


"Bagaimana ayahmu?"


Harry menatap Hugo, "kau tidak menghabisinya seperti yang kukatakan?"


"Mereka yang menjebak kami. Untunglah kami segera tahu rencana mereka. Tapi, Keen sudah menyiapkan pesta."


"Pesta?"


"Dia banyak meninggalkan bukti. Seperti yang kau katakan, tidak mudah menangkapnya karena banyak petinggi yang melindungi. Jadi, kami harus mengumpulkan bukti yang banyak dan memberikan kejutan pada ayahmu itu."


Harry mengangguk-angguk.


"Bisakah kau menangkapnya sebelum pernikahan kami, Hugo?" Pinta Shera.


"Akan ku usahakan, Nona Draw."

__ADS_1


Shera tersenyum senang mendengar jawaban Hugo, apalagi lelaki itu memanggilnya dengan nama belakang Harry.


"Lalu, kapan yang disebelahmu itu berubah menjadi Nona Willey Erhard?" Harry kini meledek Richi.


"Masih lama, dia punya cita-cita dan mimpi yang panjang." Jawab Hugo sembari melipat lagi kertas undangan Harry.


"Ohoo.. Benarkah begitu?"


"Jalani saja sesuai keinginanmu, Richi. Kau sendiri yang paling tahu apa yang terbaik untukmu." Tutur Shera dengan bijak, dan Richi tersenyum tanda setuju pada gadis itu.


"Kalau kau bosan belajar, kau minta saja Hugo untuk menikahimu." Sambung Harry lagi dan mendapat pukulan mesra dari calon istrinya. Diapun tergelak.


"Aku memang baru mengenalmu, tapi sudah seperti kenal bertahun-tahun. Aku ingin kau terus bersama Hugo, adik ipar. Berjanjilah untuk terus mendampinginya."


"Harry, kau memberinya janji yang terlalu berat." Timpal Shera.


"Karena aku menyukainya sebagai adik, sayang. Aku tidak ingin dia bersama laki-laki lain." Jelasnya pada Shera. "Kau boleh memghajarnya jika dia berselingkuh darimu." Tukas Harry lagi pada Richi.


"Hei, aku tidak mungkin melakukan itu." Sanggah Hugo.


Mereka berdebat, namun Richi hanya tersenyum saja. Melihat Harry dan Shera, entah mengapa dia juga ingin menikah. 'Astaga' Richi menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan keinginan yang muncul tiba-tiba itu.


"Tolong rahasiakan ini dulu. Sebenarnya aku ingin acara ini lancar setelah tuan Draw ditangkap. Tapi Harry memaksa cepat." Jelas Shera pada Richi dan Hugo.


"Harry memang bukan orang penyabar." Sambung Hugo.


"Aku ingin cepat-cepat punya anak. Aku ingin menjadi seorang ayah." Ucapnya lalu mengecup bibir Shera di depan kedua orang itu.


Richi dan Hugo mematung, lalu Hugo berdehem untuk menghentikan sesi panas kedua insan yang saling cinta itu.


"Hahaha, maaf. Kami akan melanjutkannya nanti. Shera sayang, bisa kau ambilkan itu di kamar?"


Shera langsung berdiri menuju kamar mereka, lalu datang membawa satu kotak coklat dan meletakkannya di atas meja.


Hugo membuka kotak itu lalu menatap Harry dengan alis berkerut. "Kau tidak masalah jika ayahmu dihukum mati?"


Lelaki itu menggelengkan kepala. "Apa yang dilakukannya pada ibuku, bahkan tidak cukup hanya dengan kematian."


Hugo menutup kotak itu lalu berdiri. "Kau urus saja pernikahanmu. Aku akan mengurus yang ini. Ayo." Hugo menggrnggam tangan Richi lalu membawanya menuju mobil. Mereka akan menyerahkan kotak itu pada Valiant, agar mereka bisa segera menangkap Tuan besar yang sudah sangat lama menikmati kebusukannya.


...🐧...


"Kau datang juga."


Olivia menoleh saat mendengar suara Daren dari belakangnya. Dia sudah menunggu setengah jam di depan Oberon, menunggu Daren yang katanya ada acara siang ini dan butuh dirinya sebagai supir.


"Cepatlah. Aku akan selesai sore ini."


Daren melempar kunci, dengan cepat gadis itu menangkapnya.


"Aku tunggu disini."


Olivia menyeret langkahnya menuju parkiran Oberon. Dia mengambil tugas ini pun karena bujukan sang Bunda. Dia menceritakan kenapa kakinya terluka dan dipecat dari pekerjaannya. Anehnya, sang bunda malah senang dan menyuruh anaknya agar menerima pekerjaan yang ditawarkan oleh Daren agar anaknya mengabdikan diri pada lelaki itu.


"Ingat, kau tidak boleh main hp saat bekerja denganku. Tidak boleh protes apapun permintaanku, juga jangan banyak bicara saat aku tidak memintamu bicara." Jelas Daren di kursi belakang pada Olivia.


"Iya, oke."


"Perbaiki kalimatmu."


Olivia mendesah. "Baik, Tuan."


Daren menahan senyum, lalu memerintahkan Olivia ke salah satu restoran.

__ADS_1


"Kau mau disini atau masuk?" Tanya Daren saat mereka sudah tiba dilokasi yang Daren minta.


"Disini saja, tuan."


"Masuk!" Titahnya lalu keluar dari mobil.


BRAK! Olivia memukul setir. "Sialan! Kenapa nanya-nanyaakk!!" Pekiknya pada Daren yang sudah masuk restoran.


Olivia melihat Daren bertemu dengan gadis centil yang waktu itu datang juga ke tempat kafe lamanya bekerja.


"Daren, kau lama sekali!" Omel Camilla padanya.


"Aku ada urusan sebentar." Ucapnya lalu melirik pada Olivia yang baru masuk. "Berdiri dibelakangku."


Olivia mengangkat alis. 'Maksudnya? Aku jadi pengawalmu, sialan?' ingin dia berkata begitu, tapi dia menurut saja dan berdiri dibelakang Daren.


"Siapa?"


"Supir baruku. Apa yang kau ingin katakan, Camilla?"


"Soal Hugo.." Camilla merengut saat Daren menghela napas berat.


"Sudah aku katakan.."


"Iya, iya aku tahu.. Tapi aku hanya ingin memastikan lagi. Kau tahu kan, aku tidak terima jika aku kalah dari perempuan seperti Richi Darrel!"


Telinga Olivia mulai panas. Ingin sekali dia meninju wajah perempuan sok cantik itu.


"Bagaimana mungkin aku kalah dari perempuan seperti dia. Padahal aku jauh lebih cantik!"


"Siapa yang menganggapmu cantik??" Olivia menyambar dari belakang kursi Daren, dia sudah tidak sabar.


"Apa kau bilang?" Mata Camilla membelalak pada Olivia yang berani ikut campur.


"Kau tidak cantik, itu sebabnya Hugo memilih Darrel. Kau hanya gadis centil yang merasa cantik!"


"APA!! Daren, lihat pembantumu itu!!" pekik Camilla pada Daren.


Lelaki itu hanya bersandar di kursinya, menikmati perdebatan panas dua perempuan itu.


"Makanya, berhati-hatilah jika bicara!"


Mendengar itu, Camilla berdiri dan langsung mendekati Olivia.


"Kau itu siapanya Richi? Apa kau dibayar untuk memata-mataiku? Dasar perempuan tidak berguna!" Cemooh Camilla.


"Apa!"


"Kau perempuan Sampah! Orang tuamu juga pasti tidak berguna!"


BRUK!


Wajah Camilla terdongak ke atas menerima pukulan dari Olivia tepat di hidungnya. Camilla meringis, lalu menangis saat menyadari hidungnya mengeluarkan darah.


"Astaga.." Daren menggelengkan kepala, lalu memberikan sapu tangan pada Olivia. Dia juga tidak membantu Camilla mengobati hidungnya.


"Beraninya kau! Kau tunggu saja pembalasanku.. huuhuu." Camilla berlari sambil menangis. Sementara tangan Olivia masih terkepal dengan geram.


"Wah, baru hari pertama, kau sudah membuat masalah." ucap Daren sambil duduk kembali.


"Bagaimana ini, jika dia datang membawa polisi, habislah kau.." Ucap Daren menakut-nakuti Olivia.


"T-tuan..." Gelagap Olivia yang mulai tersadar dengan apa yang telah ia lakukan barusan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2