
Richi keluar dari mobil saat sudah berada di depan rumah Erine. Dia berkacak pinggang menatap salah satu jendela dengan penerang dari dalamnya.
Hugo baru sampai dengan mobilnya. Dia keluar dengan menggerutu lantaran Richi menolak satu mobil dengannya tadi.
"Ini rumah kekasihmu itu."
Hugo mendengus kesal. Richi selalu saja memulai pertengkaran. Padahal tadinya mereka sudah baik-baik saja.
"Kenapa tidak masuk?" Tanya Hugo.
"Hmm. Aku tidak tahu dimana mereka menyimpan barang-barang penting itu."
"Barang penting?"
Richi mengangguk. "Ya. Katanya Erine yang menyimpan barang penting milik Blackhole. Ternyata mereka terlibat, ya. Aku sempat mengira kalau Erine itu tipe perempuan yang berpikir panjang. Tapi ternyata dangkal juga."
"Yang terbaik memang pacarku. Hehehe." Hugo mencoba merangkul, namun Richi menepis lengan lelaki itu.
"Kau lihat, lampu yang menyala sendiri itu pasti kamarnya. Mungkin dia sedang menangis karena melihat kejadian di hotel tadi."
Richi terperanjat saat mendengar suara barang jatuh dengan keras dari dalam.
"Ralat. Dia tidak hanya menangis tetapi juga depresi akut."
Hugo tergelak melihat Richi. Dia suka, kekasihnya itu pasti puas setelah berhasil membuat Erine seperti itu.
Tak lama, Clair dan yang lain pun datang. Mereka keluar dari mobil dan menghampiri Richi.
"Oh, Hugo. Kau disini rupanya. Kukira sedang bersenang-senang." Cibir Bella pada lelaki yang baru terlihat batang hidungnya.
Lelaki itu hanya menghela napas apalagi diliriknya Richi menahan tawa.
"Ayo, tunggu apa lagi?" Clair berjalan di depan. Dia sudah tak sabar menghabisi Erine yang diam-diam terlibat kasus kelompok ilegal.
Dengan pukulan keras, Clair menggedor pintu sampai membuat Olivia menggelengkan kepala. "Kenapa tidak kau hancurkan saja pintunya?" Celetuk gadis itu.
"Aku tidak sabar!" Clair mengepalkan jari di dada. Jika Erine membuka pintu, dia akan menunji perempuan itu.
Tidak ada jawaban, Clair menggedornya lagi dengan pukulan keras. Ya, bukan ketukan, melainkan hantaman yang pasti membuat pemilik rumah naik pitam. Padahal ia tengah menangis di dalam kamar.
"Sialan sekali. Siapa yang menggedor pintu sampai seperti itu, sih!" Kesal, Erine buru-buru membuka kunci dan.. BUG!
Erine terjungkal kebelakang saat setelah menerima satu hantaman keras dari Clair.
Dia memegangi rahangnya, menatap Clair dengan mata tajam.
"Brengsek! Apa-apaan kau, sialan!" Erine berdiri, dia hendak membalas, tapi langkahnya terhenti saat melihat Richi ada di sebelah Clair.
Dia diam dan mulai bingung. Apa yang membawa tim Fox datang ke rumahnya? Lalu matanya juga menangkap Hugo berdiri bersedekap di badan mobil tak jauh dari mereka.
__ADS_1
Apa ini karena drama teater? Pikir Erine.
Richi bisa melihat sisa air di mata Erine. Dia yakin betul gadis itu menangis karena Hugo.
Richi pun masuk kedalam tanpa diminta. Pandangannya mengedar keseluruh furnitur yang ada di dalamnya.
"Mau apa kalian kesini?" Tanya gadis itu.
"Kau masih bisa bertanya? Tidakkah kau sadar untuk apa kami kemari??" Pekik Bella padanya.
Erine ragu, apa benar mereka datang karena Hugo? Tapi lelaki itu ada dibelakang dan terlihat begitu santai. Erine juga tahu, bukan sifat Richi datang untuk melabrak soal lelaki. Perempuan itu pasti memilih melepaskannya saja daripada harus diperebutkan. Lalu, untuk apa sebenarnya mereka kesini? Erine bertanya-tanya dalam hatinya.
"Dimana kau sembunyikan benda itu?" Tanya Richi yang sudah duduk di sofa.
Benda? Erine tak tahu apa yang dimaksud Richi. Satu-satunya yang ia takutkan adalah kamar rahasianya.
"Be-benda. Benda apa?"
"Cari!" Titah Richi dan ketiga sahabatnya itu langsung masuk dan mulai memeriksa ruangan itu.
"Hei, kalian tidak bisa melakukan ini! Ini rumahku! Kalian tidak bisa seenaknya, sialan?!" Pekiknya pada semua orang, namun tak ada yang memperdulikannya.
"Kau!" Kini Erine beralih pada Richi yang masih duduk santai.
Richi mengangkat alis. "Aku?" Dia menunjuk dirinya sendiri.
"Atas dasar apa kau menggeledah rumahku, hah?! Kau pikir aku menyembunyikan apa!"
Richi berdiri sambil tersenyum kecil. "Aku juga penasaran, sebenarnya kau menyembunyikan apa?"
Perasaan Erine semakin kalang kabut. Dia diam terpaku menatap Richi dengan jantung yang berdebar kencang.
"Kenapa? Kau datang untuk mengancamku karena aku telah mencium Hugo? Kau pikir itu kehendakku? Aku hanya menjalankan skenario!!"
Richi melongo. Kenapa pula Erine membahas kesana.
"Seharusnya kau yang memarahi kekasihmu itu. Bukan malah datang mempermasalahkan itu padaku! Lagi pula, jika memang Hugo menyayangimu, tidak mungkin dia mau mencium orang lain!"
Sialan. Maki Richi dalam hati. Dia ingin mencabik-cabik mulut Erine tapi dia menahannya. Richi bersikap seolah tidak terjadi apa-apa walau perasaannya meledak.
"Aku datang untuk soal lain. Tapi kau membahas masalah itu. Hh.." Richi berjalan mendekat.
"Bukan sifatku datang untuk memperebutkan itu. Kalau kau mau, kau bisa mengambilnya."
"Hh. Benarkan, kau sebenarnya datang karena itu. Tapi kau mengalihkan seolah aku menyimpan sesuatu."
Richi enggan menanggapinya. Dia memperhatikan satu pintu tak jauh dibelakang Erine. Dia tahu, bisa saja Erine menyembunyikan sesuatu yang berbeda dari misi mereka.
"Tidak ada. Kami sudah mencarinya." Clair, Olivia, dan Bella berkumpul kembali.
__ADS_1
Richi berjalan kearah pintu di belakang Erine. Dia penasaran dengan kamar perempuan itu.
Erine merentangkan tangan. "Hei, jangan kau-"
Richi menangkap tangan Erine dan memelintirnya, lalu dengan cepat dia mencekik leher Erine dan merapatkannya ke tembok.
"Dimana kau letakkan barang-barang Blackhole?"
Erine terbelalak. Barang-barang Balckhole yang dimaksud Richi, apakah yang kemarin Eline titipkan padanya? Apakah itu kotak besar yang ia letakkan dibawah meja ruang rahasianya? Jadi, dia datang bukan karena Hugo?
Erine berusaha melepaskan diri, namun cengkraman Richi amat kuat.
"Aku akan memeriksa kamarmu."
Richi melepaskannya dan berjalan menuju pintu. Tapi lagi-lagi Erine menahannya bahkan gadis itu mengeraskan cengkramannya di lengan Richi.
"Tidak ada apa-apa di kamarku, sialan! Kau tidak berhak memeriksanya. Aku bisa laporkan kau ke polisi karena memasuki wilayah yang bukan milikmu."
"Aku tahu kau curiga padaku soal Hugo, bukan Blackhole." Sambungnya lagi.
"Tingkahmu ini yang membuatku semakin penasaran." Richi menarik baju Erine dengan sebelah tangannya, mencampakkan gadis itu tepat kearah pintu hingga pintu itu terbuka lebar.
"Seharusnya kau tidak masalah kalau memang tidak menyembunyikan apapun di dalam sini!" Richi melangkahkan kakinya melewati Erine. Sementara Olivia dan Bella masuk menggeledah kamar.
Erine berdiri dan berlari kearah pintu rahasianya. Dia menghalangi Richi, berdiri di depan pintu dengan wajah berangnya.
"Aku bisa membunuhmu saat kau berani mengusik privasiku. Kau pikir aku takut padamu?" Erine murka, kemarahannya benar-benar sudah dipuncak. Tapi Richi malah melangkah maju, tinggi yang sama membuat tatapan keduanya setara dan menajam.
"Kau sudah membuatku marah, Darrel. Aku akan menghajarmu sampai kau mati!"
Richi merapatkan wajahnya ke depan wajah Erine. "Kau pikir... aku takut!"
BRAK! Richi menendang keras pintu yang berada tepat dibelakang Erine.
Pintu terbuka lebar namun Erine malah menyerang Richi.
Dengan sigap Richi menahan dan menyerang balik Erine.
Perkelahian keduanya terjadi begitu sengit. Tak ada yang terkena serangan dan saling melakukan perlawanan dan memasang pertahanan yang keras, sampai dimana Richi mengambil peluang saat gadis di depannya ingin menyerang lehernya, Richi mengelak dengan cepat dan memberi tendangan kuat tepat di dadanya hingga membuat Erine terjerembab masuk kedalam ruang rahasianya.
Gadis itu terbatuk-batuk hingga mengeluarkan darah. Tubuhnya lemas seketika.
Sementara Richi. Dia diam mematung melihat deretan foto yang tertempel di tembok ruangan itu.
Sejenak Richi teringat pada Damian, lelaki penguntit itu dan membuat sekujur tubuh Richi merinding seketika. Erine ternyata begitu mengerikan sama seperti Damian.
"Bangsat!" Erine berang melihat darah di genggamannya. Dadanya terasa sesak, ia tak mampu berdiri karena tendangan kuat Richi membuat tubuhnya terhantam tembok dan nyeri terasa dimana-mana.
Namun Erine langsung tersadar saat dia melihat Richi hanya mematung di hadapannya. Seketika Erine bergetar melihat wajah Richi berubah seperti serigala yang siap memangsa, wajah yang dulu pernah ia lihat beberapa tahun silam saat Saver dan Lexus mengkhianatinya.
__ADS_1
TBC
**MAAF LAMBAT YAAA GW SIBUK BANGETTT😭😭**