Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Penyelamatan (7)


__ADS_3

Marry menjauh dan mengokangnya dengan cepat. "Minggir, atau kau kutembak!" Ucapnya dengan berusaha tenang.


Melihat itu, dua ajudan lainnya ikut mengeluarkan senjata mereka dan mengarahkannya ke Marry.


Wanita itu menelan ludahnya. Tiga senjata melawan satu. Dia sudah pasti kalah, tapi melihat gurat Henry membuat Marry menggeser tangannya ke arah pria itu.


Seketika Henry berdiri dari duduknya. Dia takut, itu yang Marry lihat. Baguslah, setidaknya bukan cuma dia yang gemetar disana.


Henry pula, matanya tak lepas dari pistol Marry. Dia menatapi jari telunjuk yang siap menekan pelatuk. Jika saja dia mati, maka semua perjuangannya sia-sia. Tentu dia tidak ingin itu terjadi. Dia harus bertahan hidup apapun ceritanya.


"Mari mati sama-sama."


Mendengar itu, Henry mundur beberapa langkah, mendekati ajudannya dan bersembunyi dibalik badannya.


"Kau yang memulai dengan kesalahan, sekarang menyalahkan orang yang menangkapmu karena itu."


"Kau pikir, semua manusia di bumi ini suci, hah? Kau pikir, suamimu itu manusia baik-baik, begitu??" Pekik Henry sedikit berjinjit untuk melihat ke arah Marry.


"Justru kau perlu mempertanyakan kenapa semudah itu dia meraih pangkat jenderal!" Sambungnya lagi.


"Cih. Orang-orang sepertimu sudah banyak kutemui. Kau hanya iri dengki karena tak mampu mengalahkannya, kan?"


Sekeita Henry terdiam. "Kenapa aku harus iri?? Sialan!"


"Kau yang bilang, kalau kau mengenal suamiku sejak SMA. Malah dia tak kenal denganmu."


"Oh, ayolah. Jangan jadikan ini tempat mengobrol. Aku tidak ada waktu untuk itu." Henry mengelak, tak ingin menjadi pembahasan yang panjang. Walau dia membenarkan apa yang dikatakan Marry.


Saat SMA, Henry adalah adik kelas Thomas Wiley. Lelaki itu terkenal dan banyak yang menyukainya termasuk perempuan. Dia juga pintar dan menjadi unggulan sekolah. Saat itu, Henry mengagumi Wiley.


Namun seiring berjalannya waktu, dia mulai iri lantaran sekolah selalu membawa Wiley menjadi perwakian olahraga. Padahal, dia sudah berlatih keras dan gurupun mengatakan, yang kemungkinan besar akan menjadi perwakilan sekolah.


Tetapi saat hari H, yang ditunjuk untuk mewakili sekolah adalah Thomas Wiley, bukan dirinya. Tentu itu membuat Henry kecewa, apalagi dia sudah sangat bersemangat dan berlatih keras.


Lalu, kenapa Wiley? Apa karena ayahnya orang kaya yang sering berdonasi ke sekolah? Seperti itu dugaan Henry, sampai perasaan kagum pada Wiley berubah menjadi ketidak sukaannya.


Seiring berjalannya waktu, mereka bertemu lagi saat sudah sama-sama menjadi anggota militer. Disana pula, dia harus melihat berbagai kehebatan Wiley. Pria itu juga sangat gigih hingga bisa mendapatkan pangkatnya yang sekarang dengan mudah. Sedangkan dirinya, sudah bersusah payah pun masih di tempat yang sama.


Sebenarnya, Henry tidak begitu kesal. Tapi semenjak dia tahu bahwa Darrel dan Keen adalah anak Thomas Wiley, tentu itu membuatnya sangat murka dan ingin membunuh seluruh anggota keluarga itu.


"Turunkan senjata anda, nyonya Wiley, atau kami tidak akan segan membunuh anda."


Marry tersenyum sinis. Bisa-bisanya ajudan itu memanggilnya dengan sopan dan nampaknya tahu betul siapa dirinya.

__ADS_1


"Kau anggota militer, kah? Apa kau tahu konsekuensi dari pekerjaanmu ini?" Ujar Marry, tapi tak membuat mereka berubah pikiran.


"Jika anda menurut, maka semuanya akan lebih mudah."


"Apa kau-"


TAK! Senjata Marry terjatuh karena salah satu ajudan itu menendang pistol hingga terlepas dari tangannya. Kedua tangan Marry langsung ditahan dan diikat oleh mereka. Tentu saja itu membuat Henry lega. Dia sempat mengira bahwa perempuan itu juga memiliki kemampuan yang sama dengan anak-anak dan suaminya.


~


"Ibuuu."


Ricky terdiam saat melihat tempat itu hanya sebuah kamar kosong. Ibunya, tidak ada disana.


Wiley dan Richi berlari menerjang asap, dan seketika diam saat tidak menemukan Marry di dalam.


"Bangsat!" Pekik Ricky geram. Tentu hal itu juga dirasa oleh Wiley.


Pria paruh baya itu mendekati lift yang ada di sudut ruang, dia menekan tombol dan beberapa menit kemudian pintu terbuka.


Wiley menatapi lift yang ia sudah masuki tadi. Lift itu hanya menuju lantai satu sampai tiga. Tapi tidak ada ke ruangan itu. Lalu, bagaimana caranya lift masuk ke tempat itu?


"Aku rasa ini pakai sidik jari, Jenderal." Ujar Jonathan.


"Seluruh pasukan, kepung rumah ini. Jangan sampai seorangpun keluar." Titahnya melalui jam di tangannya.


'Lapor Komander!' Pekikan salah satu anggota membuat Ricky terkejut. 'Kami mendapati tuan Draw berjalan ke lantai atas bersama Ibu.'


Ricky dan Richi saling tatap mendengar laporan itu.


'Mereka ke atas, Komander!'


"Tidak ada helipad di atas, aku sudah melacaknya." Sambung Jonathan yang ikut mendengar dari earpiece.


Ricky mengepalkan tangannya. Jika tidak ada helipad berarti Marry tidak akan dibawa kemana-mana, pikirnya.


"Ikuti mereka!" Titah Ricky.


~


"Bukannya kau sangat keterlaluan?"


Clair mendecak. Dia melangkahi tubuh yang baru saja dia tembak dibagian jantung. Sejak tadi, setiap dia menembak musuh, Isac selalu saja merusuh dan menyuruhnya untuk jangan menembak dibagian vital jika tidak dibutuhkan. "Kasihan." Begitu katanya.

__ADS_1


Clair dan Isac sudah jalan di depan, sementara Olivia tidak bisa berjalan cepat karena lututnya sempat kena tendangan keras musuh dan sekarang dia sulit mengikuti Clair.


"Kau bisa berjalan?"


Olivia terus melangkah pincang, dia tak ingin menghiraukan Daren yang melambatkan jalannya demi melindungi Olivia dari dari belakang.


"Mau kugendong?"


Olivia masih diam saja. Dia menatapi punggung Clair yang berjalan cepat bersama Isac. Ingin dia memaki perempuan itu, entah kenapa Clair tampak santai padahal sahabatnya tak ada di sampingnya. Mungkinkah dia sengaja lantaran tahu ada Daren yang melindunginya?


"Olive." Daren menggapai tangan Olivia. Namun dengan cepat gadis itu menarik tangannya.


"Jangan sentuh aku." Tekan Olivia pada Daren, kemudian melanjutkan langkahnya lagi.


Terus terang, sebenarnya Olivia hanya tidak tahu harus berbuat apa. Daripada ia terlihat sedang menahan debaran hati, lebih baik tidak berurusan dengan Daren.


"Olivia, aku jatuh cinta padamu."


Olivia mengeluarkan senjata dan berbalik mengarahkannya pada Daren. Seketika laki-laki itu membeku.


"Kau mau mati rupanya." Olivia mengokang pistol. "Sudah kubilang jangan ganggu aku atau kau tahu akibatnya."


Perlahan Daren mengangkat kedua tangannya di dada.


"Maaf. Aku gelisah memikirkanmu setiap waktu."


"Kau pikir aku peduli?"


"Olivia, aku tahu kau sudah membaca suratku. Aku-"


"Stop." Olivia tak ingin mendengar kalimat yang bisa meruntuhkan dirinya. Kini dia hanya ingin kembali hidup seperti biasa. Tapi nampaknya mustahil. Karena perasaannya pada Daren yang kian meningkat.


"Aku tidak akan berhenti sebelum kau menjawabnya dengan jujur. Karena aku tahu kaupun menyukaiku."


Olivia terbelalak. Napasnya terasa tercekat mendengar ucapan Daren. Bagaimana dia bisa merasakan itu?


"Kau semakin banyak bicara." Tukas Olivia menatap tajam pada Daren. Jari telunjuknya sudah bersiap menekan pelatuk.


"Aku sangat bisa merasakan itu, Olivia. Kau semarah ini saat aku mengerjaimu di air terjun, kecewamu berkali lipat karena perasaanmu yang tidak bercanda padaku. Aku-"


"Aku bilang, berhenti!!" Pekik Olivia dengan napas yang naik turun. Dia sudah tidak ingin mendengar semua ocehan Daren.


"Olivia-" Daren terhenti saat Olivia menekan pelatuk dan suara nyaring pistolpun terdengar kuat ditelinganya.

__ADS_1


__ADS_2