
"Hugo.. ini..."
"Ini rumah impianmu, kan? Kau membuat rangkanya, aku yang membangun rumahnya."
Richi masih tak bisa mencerna ini. Apakah Hugo memberikannya rumah?
"Kalau begitu, mari kita lihat ruang tengahnya." Max kembali berjalan dan Hugo menarik Richi untuk ikut.
"Nah, ini ruang tengah. Disebelah kanan, kolam renang dengan pembatas kaca sebagai temboknya. Kalau yang sebelah kiri, ruang olahraga dan dapur." Jelas Max pada Richi.
Lagi, Hugo menaikkan kertas yang pernah menjadi coretan Richi setahun yang lalu.
"Sudah sesuai, kan? Sebelah kanan kolam renang persegi panjang dengan pohon teduh disampingnya juga beberapa kursi santai." Hugo menarik lagi Richi kesisi kiri.
"Nah, ini ruang gym dengan tembok kaca, juga tirai tinggi untuk menutupi dari dalam. Ditengah ada kolam ikan koi dengan air terjun kecil, dan sebelahnya lagi, dapur dengan mini bar." Jelas Hugo dari belakang Richi sembari menunjukkan kertas di depan gadis itu.
"Apa sudah sesuai dengan selera anda, nyonya Erhard?" Bisik Hugo di telinga Richi.
Namun Richi malah diam membisu dengan bibir terbuka. Dia takjub karena ini...
Richi berbalik. "Hugo. Ini apa?"
"Ini rumahmu, sayang. Rumah impianmu. Usiamu sudah legal untuk punya rumah. Iya, kan? Kau suka?"
Richi masih diam. Dia tidak tahu harus apa dengan sesuatu yang sejak lama ada dipikirannya dan hari ini ada di depan matanya.
"Tidak suka, ya?" Tanya Hugo lagi.
Richi mengangguk cepat. "Sukaa. Aku suka sekali. Ini benar-benar sangat mirip dengan yang aku impikan." Richi memeluk Hugo dengan rasa penuh syukur. Bagaimana pun Hugo sangat tahu apa yang ia suka dan hadiah ulang tahunnya kali ini, adalah sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan akan dibangun oleh Hugo.
"Terima kasih, Hugo."
"Aku senang akhirnya kau suka."
"Kalau gitu, saya permisi dulu, tuan." Ucap Max saat melihat kode dari Hugo untuk menyuruhnya pergi.
"Aku tidak pernah sangka, kau sampai menyimpan design yang kubuat asal-asalan itu. Tapi kau membuatnya sangat mirip dengan apa yang gambarkan dalam pikiranku."
"Aku ini Hugo Erhard, kekasihmu. Tentu aku harus tahu apa yang menjadi seleramu." Ucapnya. "Mau lihat kamarnya?" Bisiknya, dan langsung merangkul pinggang Richi menuju kamar utama.
Perlahan Hugo membuka pintu, terlihat jendela kaca yang tinggi dan tempat tidur yang sangat besar bersprei putih bersih. Sisi kirinya terdapat cermin besar dan standing hanger dengan beberapa gaun yang tergantung.
"I-ini.. besar sekali."
"Kamar tuan putri, memang harus besar."
Richi masuk dan mengitari ruangan yang menjadi kamarnya itu. Sejak tadi dia tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Setiap inci rumah ini, dia sangat menyukainya.
"Hugo, ini indah sekali." Richi membuka jendela yang langsung menghadap taman dengan bunga-bunga indah bermekaran.
__ADS_1
Hugo memeluknya dari belakang. "Kau lebih indah dari semua ini."
Richi membalikkan badan dan mengalungkan kedua tangannya di leher Hugo.
"Ah, bagaimana ini. Aku jadi cinta setengah mati padamu."
Senyum Hugo mengembang. "Memang harusnya seperti itu, kan?"
Hugo mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir Richi dengan lembut. Richi membalasnya. Ciuman yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.
Ciuman semakin dalam saat Hugo melangkah tanpa melepaskan lumatannya. Dia merapatkan tubuh Richi ke tembok, sementara Richi, tangannya turun meraba dada bidang lelaki itu.
Hugo mengehentikan ciumannya, menatap mata Richi dalam.
"Aku sangat mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Hugo. Love you so much.." bisik perempuan itu dengan tangan yang masih stay di dalam kemeja Hugo.
Hugo menghapus perlahan sisa saliva yang ada di bibir Richi.
"Sudah pegang-pegangnya? Max masih menunggu diluar."
Richi terkekeh lalu mengancingkan baju Hugo lagi.
"Kau lupa sesuatu. Tidak ada lapangan basket." Ujar Richi.
"Hahaha, begitu ya. Nampaknya aku akan kembali untuk melihat-lihat lagi karena aku harus ke kafe Clair sekarang ini. Ada yang mau mereka sampaikan, katanya." Ucap Richi, bergandengan tangan dengan Hugo keluar dari kamar menuju teras depan.
"Iya, sayang. Akan aku antar."
Max sudah duduk di ruang depan dengan beberapa lembar kertas.
"Duduklah." Hugo menarik kursi dan Richi duduk sementara Hugo berdiri dibelakangnya.
"Nona, tanda silakan tanda tangani maka rumah ini menjadi milik nona."
Richi menoleh kebelakang, tepat dimana Hugo mengangguk padanya.
Richi membuka map coklat dan saat ingin menandatangai kertas itu, dia malah terfokus pada satu tanda tangan milik ibunya di kertas lain.
"Hugo, ini.. kenapa ada ibu?" Tanyanya menoleh kebelakang.
"Tidak ada apa-apa. Ibu sudah datang kesini melihat rumah dan dia suka."
Richi menganga. Ibu, katanya? Jadi ibunya sudah tahu duluan?
"Ayo, cepat tanda tangani."
Richi menandatangani surat itu dan Max mengulurkan tangan.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun, nona. Rumah ini sudah sah menjadi milik anda."
Richi menyambutnya kemudian ikut berdiri dan berjalan menuju keluar rumah.
"Sesuai permintaan tuan Hugo, nanti akan ada dua orang pelayan yang menjaga rumah ini." Lanjut Max lagi.
"Terima kasih, Max." Ucap Hugo kemudian membuka pintu mobil untuk Richi.
"Sama-sama, tuan. Hati-hati di jalan."
Max melambaikan tangannya pada Hugo dan Richi yang meninggalkan rumah itu.
Sepanjang jalan, Richi terus mengembangkan senyum. Tangannya pula tak lepas dari genggaman Hugo. Sesekali lelaki itu mencium tangan Richi dengan sebelah tangan memegang kemudi.
"Sayang." Panggil Hugo.
"Hm?"
"Sebenarnya, ayahku mengajakmu makan malam saat tahu kemarin adalah ulang tahunmu."
"Hmm.. kapan?"
"Kau mau? Kalau malas, tidak apa, aku mengerti karena aku juga malas."
Richi malah terkekeh. "Tidak apa. Dari dulu ayahmu mengajak, tapi aku selalu tidak bisa. Katakan pada tuan David kalau aku akan datang."
"Dia selalu membodohiku saat tahu kita putus. Sampai aku bilang, aku tidak akan membiarkan dia mengakuimu sebagai menantu kalau aku berhasil menikah denganmu."
Richi tergelak. Dia menoleh kearah Hugo. "Aku mau menikah denganmu."
TIIINN!!
Klakson dari belakang terdengar kencang sekali saat Hugo tiba-tiba menghentikan mobilnya ditengah jalan.
"Hugo. Kenapa berhenti? Cepat jalan!"
Namun Hugo seperti menjadi patung. Dia diam menatap Richi dengan wajah tegang.
"Hugooo.." Richi mengguncang tubuh Hugo sampai ia sadar dan menjalankan lagi mobilnya.
"Haah. Kau ini, kenapa mendadak berhenti begitu??"
Hugo menepikan mobil, dan langsung meraih tangan Richi.
"Kau serius mau menikah denganku?" Tanya Hugo dengan serius. Dari tadi ia terkejut dengan jawaban Richi. Karena biasanya perempuan itu akan selalu bilang, 'aku tidak mau berjanji, belum tentu kau setia.' - 'lihat saja nanti.' Atau 'Aku belum tahu soal itu.'
Tapi tadi, mendengar itu membuat jantungnya ingin melompat keluar.
"Kapan aku datang melamarmu, Chi?" Tanya lelaki itu dan Richi hanya terkekeh.
__ADS_1