
Sore itu, Richi memilih berenang di kolam renang kampus setelah Hugo tiba-tiba memintanya menunggu untuk kelas tambahan yang tiba-tiba saja diadakan. Untung saja, kolam renang sudah sepi lantaran mahasiswa sudah banyak yang bubar di sore hari.
Richi keluar dari ruang kolam dengan menyandang tas di sebelah bahunya. Handuk basah pun ia bentangkan di tas navy miliknya.
Richi mengibas-kibaskan rambutnya yang ia biarkan begitu saja lantaran masih basah. Dia berjalan lambat sambil memikirkan cara mengatakan pada Hugo, supaya lelaki itu mau berhenti jadi model yang tentu saja belakangan membuat gadis itu resah dan gelisah.
Kemunculan wajah sang kekasih di papan bilboard saat menuju kampus tentu saja menarik perhatian karena kini, Hugo menjadi salah satu brand ambassador terkenal, dan membuat lebih banyak lagi perempuan yang menggilainya.
Langkah Richi terhenti, di depannya sudah ada Augy, Andrew dan beberapa orang lainnya yang menatap sinis ke arahnya.
Yah, Richi sudah bisa memperkirakan apa yang akan terjadi. Toh, dia sendiri sudah muak berpura-pura, karena itu bukan keahliannya.
Richi melihat kesekitar, masih ada beberapa orang yang ada dilorong kampus menatap ke arah mereka.
"Selamat sore, Richi Wiley, kekasih Virgo yang sok jagoan. Hahaha." Tawa Andrew disambut oleh teman-temannya.
"Kami datang kesini untuk mengajakmu pergi jalan-jalan sebentar saja. Tapi, tentu saja kau harus nurut. Kau ingat kan, aku tidak suka ditentang. Kau tahu siapa aku, kan?" Lanjut Andrew lagi.
"Jadi, ayo, ikut kami sebentar. Kami akan menunjukkanmu cara yang benar untuk bergabung dan bagaimana seharusnya kekasih V bersikap."
"Aku tidak tertarik." Jawab Richi cepat. Dan tentu saja membuat Andrew membulatkan mata kesal. Baru saja ia mengatakan untuk tidak menentang, tapi gadis itu benar-benar menentangnya.
"Ayolah, Richi, setidaknya kami tidak langsung bermain kasar." Bujuk Augy, dan tentu saja kedua temannya yang tadi merokok juga ada disana.
"Main kasar juga tidak masalah. Tapi jangan kau yang maju. Sudah kubilang, kan, aku tidak mau menghajar perempuan."
Augy mengeraskan rahangnya, merasa disepelekan oleh Richi.
"Justru kami yang tidak mau melawan perempuan secara langsung, takut menyakiti hatimu yang selembut salju. Makanya, kami membawa Augy dan yang lain untuk memberimu pelajaran." Sahut lelaki yang ada dikelompok mereka dengan tawaan. Sementara Richi, dengan muka datarnya hanya menatap lelaki itu sampai ia merasa kikuk ditatap sedemikian dan membuatnya langsung diam.
"Pelajaran apa? Aku sudah pintar. Pulang saja sana. Ganggu." Gerutu Richi yang sebenarnya sudah lelah apalagi dia baru selesai renang.
"Aku masih bisa berpikir baik-baik." Augy melangkah maju, dia menatap Richi dengan senyum miringnya.
__ADS_1
"Aku tidak suka menghajar perempuan cantik, sebenarnya. Bagaimana kalau kita lomba renang? Yang kalah harus mau menuruti kemauan kami. Aku mengatakan ini baik-baik karena kau kekasih V. Aku tidak mau, gara-gara kau, hubungan kami jadi renggang."
Richi melirik mereka satu persatu. Tidak banyak, hanya sekitar 8 orang.
"Aku lebih suka adu jotos. Tapi bukan denganmu." Mata Richi menatap Andrew, lalu menunjuknya. "Kau."
Andrew malah tertawa lebar. "Sialan, hahaha. Aku merasa takut, karena ditantang perempuan."
Richi menjatuhkan tasnya. "Kuhitung satu sampai tiga, kalau kau tidak mau, maka kuanggap kalian kalah."
Bukan Andrew, tapi Augy yang datang menyerang, membuat Richi mau tak mau menangkis serangan tangan Augy dan meraih batang lehernya, kemudian ia tekan ke tembok dengan keras.
Augy memekik. Matanya mulai berair saat dalam hitungan 3 detik saja, Richi mengeluarkan tenaganya mencekik leher Augy sampai gadis itu tak bisa bergerak.
"Brengsek! Lepaskan Augy!" Teriak Andrew, melayangkan pukulan ke arah Richi, namun gadis itu langsung menendang tubuhnya hingga tersungkur.
Richi melepaskan cengkramannya pada Augy, membiarkannya terjatuh dilantai sambil terbatuk dan memegangi lehernya.
Hening. Semua yang ada disana terdiam melihat Augy dan Andrew yang terjatuh karena seorang Richi.
Empat orang laki-laki disana menyerang secara bersamaan. Bukan hal sulit, apalagi keempatnya hanya preman amatiran.
Dua perempuan yang berdiri disudut hanya diam, tentu tak berani mendekat setelah melihat langsung siapa yang ada disana.
"Masih mau menantangku? Tadi kau terlihat sangar." Richi menggerakkan jarinya, meminta dua perempuan yang saat dibelakang stadion tadi mengajaknya bertarung, tapi nampaknya saat ini mereka bahkan sudah kalah sebelum berperang.
Mata Richi berpindah kearah Andrew yang masih terpaku di tempatnya. Teman-temannya sudah berjatuhan bahkan di menit awal. Dia terperangah, lalu menatap Richi yang tepat sekali tengah menatapnya.
"Jangan buat malu dirimu yang takut dengan perempuan. Dasar sampah!"
Andrew mengepalkan tangannya. "Beraninya, kau!"
"Ya, seperti itu. Aku suka baku hantam." Tak sabar menunggu pergerakan Andrew, dia maju dengan cepat, menjadikan tubuh lelaki yang hendak bangkit sebagai tumpuan kaki kirinya untuk menendang dengan keras leher Andrew dengan kaki kanannya.
__ADS_1
Andrew terpelanting jatuh tanpa rintihan. Matanya membulat hingga tanpa sadar meneteskan air mata saat merasakan sakit luar biasa seperti hampir patah di lehernya.
Richi juga tidak sangka tendangannya menyasar di leher. Padahal itu bisa membuat lawannya meregang nyawa kalau seandainya dia mengerahkan tenaga tadi.
Richi menunduk, melihat Andrew yang seperti kesulitan bernapas.
"Dengar." Richi meletakkan kakinya diatas dada Andrew yang kini menatapnya sambil terbelalak masih menahankan rasa sakitnya.
"Sekarang, bosmu bukan lagi Virgo." Richi menoleh kearah dimana dua perempuan masih berdiri ketakutan disudut ruang.
"Tapi aku." Tukasnya lagi, supaya dua orang disana ikut mengerti. "Aku tidak suka ditentang. Apa yang keluar dari mulutku, kalian harus menaatinya."
"Besok, aku mau, tidak ada lagi pembulian disini, dan kalau bertemu denganku, bungkukkan badanmu."
Andrew berusaha merangkak mundur saat ia sudah berhasil menguasai dirinya dari rasa sakit.
"KAU DENGAR, TIDAK!?"
Pekikan Richi membuat semua ketakutan, termasuk Andrew dan beberapa orang yang ikut menyaksikan perkelahian itu dari jauh.
Andrew mengangguk-angguk. Matanya memerah dan berair, tentu dia kesulitan saat ini menahan sakit di lehernya. Mungkin, tulang lehernya benar-benar bergeser.
"Good."
Richi mengambil tasnya, lalu berjalan santai di koridor kampus. Dia tak memperdulikan tatapan beberapa orang yang ada disana. Richi mengeluarkan ponsel dan meletakkannya di telinga.
"Halo, kak Jo. Hehee." Belum bilang apa-apa, Richi sudah cengengesan. Namun Jonathan benar-benar sudah mengerti keinginan Richi.
'Apa kau menghubungiku spesial untuk ini, hah?'
"Hehe. Aku akan mencarikanmu gadis, aku janji. Tapi kali ini, aku benar-benar akan dalam masalah kalau kau tak membantuku." Bujuk Richi.
'Haah. Ya, ya. Aku akan menghapus rekaman cctv di kampusmu. Lain kali, hati-hatilah.'
__ADS_1
"Hehe, thank you, kak." Richi melipat ponselnya dan melambaikan tangan pada Hugo yang wajahnya bertekuk-tekuk, karena menunggunya sejak satu jam yang lalu.