
**Terima kasih likenya yaa. Sesuai janji aku up lagi.**
Richi masuk ke dalam mobil Hugo. Hari ini lelaki itu mengendarai range rover hitam. Dan entah sengaja atau tidak, Hugo juga memakai setelan serba hitam. Tak lupa kacamata hitam membuatnya tampak lebih tampan, membuat Richi terus menatap kearahnya.
Hugo menurunkan kacamata sampai ke hidung, dia melirik kekasihnya. "Kenapa melihatku seperti itu? Kau terpesona dengan ketampananku, kan?"
Richi tersenyum. Apa yang dibilang Hugo tepat sekali.
"Aku sengaja pakai hitam-hitam begini. Karena kau menyukainya." Lanjutnya lagi, kemudian gantian menatap Richi dari atas sampai bawah.
"Hei, bukankah rokmu terlalu pendek?"
"Masa, sih." Jawabnya malas, karena Hugo mulai mengomentari penampilannya.
"Kau mau pamer pada laki-laki atau apa? Aku tidak suka kau terlihat seksi begini." Omel Hugo pada Richi, tapi gadis itu hanya tersenyum kecil. Pamer, katanya. Bukankah dia juga memamerkan bentuk tubuhnya pada semua makhluk di bumi ini?
"Hari ini aku praktek memanah, Hugo. Yang namanya ke lapangan, kami tetap harus pakai seragam olahraga. Aku sudah pakai jeketnya. Nanti sampai sana aku tinggal ganti celananya, kan." Jelas Richi panjang lebar.
"Kenapa tidak langsung pakai semuanya?"
"Sedang ingin pakai rok. Bisa kita jalan sekarang? Aku takut terlambat."
Hugo menghela napas, lalu menjalankan mobilnya. "Gulung rambutmu seperti biasa. Jangan dibiarkan seperti itu."
"Bukannya kau suka aku membiarkannya begini?"
"Hanya saat bersamaku saja. Aku tidak tenang karena disana laki-laki semua, kan. Bagaimana kalau kau digoda??"
"Ya sudah, goda balik saja." Jawabnya cuek, sementara Hugo meliriknya jengkel.
"Apa katamu??!"
"Dari dulu teman-temanku laki-laki semua, kan, Hugo?"
Hugo diam. Memang benar. Bahkan sebelum bersamanya, teman-teman Richi di sekolah adalah laki-laki.
"Tapi tetap saja aku khawatir. Kemarin aku dengar kau tidak mengakuiku sebagai pacar." Hugo menatap kedepan dengan wajah cemberut. Mengingat kejadian kemarin membuatnya kesal.
"Nanti akan tiba waktunya aku ke fakultasmu untuk menujukkan diri sebagai kekasihmu."
"Yang benar????" Hugo tampak bersemangat.
Richi mengangguk-angguk. "Ya, benar. Tunggu saja waktunya." Jawabnya sambil tersenyum. Dia juga tidak sabar untuk memberi kejutan pada orang-orang disana, termasuk mahasiswi yang mengaku penyuka sesama jenis itu.
~
"Ikat dulu rambutnya." Hugo sampai membantu Richi menggulung rambut seperti biasa.
Ya, walaupun rambut Richi belum sapanjang yang dulu, tapi rambut itu sudah tumbuh panjang hingga pinggangnya.
"Sudah. Aku turun dulu."
"Sebentar." Hugo menahan tangan Richi. "Kau selalu melupakan bagian penting."
Mendengar itu, Richi langsung mendekat dan mengecup pipi Hugo. Tapi lelaki itu menahan tengkuk Richi dan mellumat bibirnya.
"Sudah, Hugo. Cuma cium jangan sampai seperti itu." Richi mendorong dada Hugo kemudian mengelap bekas saliva yang menempel di bibirnya.
__ADS_1
Hugo hanya terkekeh, sementara gadis itu langsung membuka pintu.
"Turunkan lagi rokmu!"
"Iyaaa-iyaa." Richi langsung menutup pintu dan tak mengindahkan apa titah kekasihnya.
Hugo memperhatikan Richi. Gadis itu berjalan santai dengan rok putih sepaha. Sesekali dia menyahut sapaan orang-orang disana. Nampaknya Richi mulai banyak dikenal. Dia juga, entah kenapa berubah ramah. Padahal dulu tak seperti itu. Setelah Richi masuk ke dalam gedung, Hugo pun menjalankan mobilnya.
"Kulihat kau selalu berganti penjemput." Andreas dan yang lain menyamakan langkahnya bersama Richi.
"Iya, Chi. Mana mobilnya bagus-bagus." Sambung lelaki bernama Johan.
"Bukan siapa-siapa. Aku mau ganti dulu. Kalian juga bersiaplah." Richi berjalan duluan menuju loker untuk meletakkan barang-barangnya. Kemudian masuk ke ruang ganti.
Setelah berganti, Richi berdiri di depan cermin. Dia menatap dirinya cukup lama. Rasanya ingin menghantam siapa saja yang ada, emosinya meluap entah karena apa. Tapi tidak mungkin dia menghajar orang-orang disini. Dia ingin menjaga image-nya sebagai gadis anggun. Bukan gadis barbar.
Richi pun membuka gulungan rambut dan membiarkannya terurai begitu saja. Sejak pertama masuk kesini, banyak orang yang memuji rambutnya. Suatu kelebihan yang ia harus syukuri.
Tak lama, Joy dan Sarah masuk. Mereka berdiri dengan tangan terlipat di dada, menatap Richi dengan wajah tak suka.
"Hei, cepat serahkan poster Hugo Erhard yang kau dapat kemarin." Tangan Joy mengulur, meminta apa yang dia inginkan.
"Sudah kubakar."
Mata kedua orang itu membulat sempurna.
"Apa kau bilang!!" Joy mencengkram erat baju Richi. "Serahkan padaku, atau kau akan tahu akibatnya!"
"Yaah, baiklah akan aku serahkan. Tapi kau harus mengalahkanku di skor panahan nanti." Usul Richi dengan senyum miringnya.
"Kalau kau kalah, aku akan menghajarmu lalu kau harus memberikan poster itu!" Tukas Sarah.
"Kalau kalian kalah, maka aku tidak akan melakukan apa-apa pada kalian, karena aku tidak bisa menyiksa perempuan." Lanjut Richi lagi
"Hah, sialan! Kau menyepelakan aku??" Joy memperketat cengkramannya.
Richi tersenyum miring, lalu melepaskan tangan Joy dari jaketnya. "Aku tunggu di lapangan."
Richi berlalu, meninggalkan dua orang yang mendadak diam.
"Bagaimana ini, Joy. Aku saja tidak pernah bermain panah." Kata Sarah.
"Tenang saja. Aku yakin diapun tidak pandai."
"Tapi bagaimana kalau dia menang?"
"Tidak mungkin. Aku pernah bermain panahan, kuyakin tidak sulit. Kau tenang saja, perempuan seperti dia hanya sering beruntung!" Joy pun keluar dari ruang ganti menuju lapangan pemanah.
Richi sudah bersiap. Sejak tadi dia terus menatap papan sasaran panahan. Mereka satu persatu dipersilakan memakainya dan dibantu oleh asisten dosen yang bertugas.
"Giliranku." Joy berdiri dan berjalan menuju titik dimana ia harus berdiri. Sesuai arahan, dia mulai menaikkan anak panah, dan melepaskannya dengan mengerahkan kekuatan.
Joy mengepalkan tangan ke udara saat mendapat nilai tujuh. Menurutnya, itu sudah sangat baik.
Tak lama setelah Joy, giliran Sarah. Tangannya sedikit bergetar. Walau Richi mengatakan dia tidak menuntut apa-apa, tetap saja rasanya malu.
TAP! Sayang sekali, dia hanya mendapat nilai dua. Terlalu diujung papan.
__ADS_1
"Joy, aku sudah bilang, aku tidak bisa." Keluhnya.
"Tidak apa-apa. Ini bukan ujian. Nanti aku akan mengajarimu."
Richi sampai menahan senyum melihat interaksi keduanya.
Evan, dia berdiri saat namanya dipanggil dan berhasil mendapatkan nilai sempurna. Lalu menyerahkan panah itu pada Richi tepat setelah nama gadis itu dipanggil. Ya, absensi mereka berdua berdekatan.
"Ayo, Richi.. Kau bisaaa!" teriak para lelaki itu. Membuat Richi mengulum senyum.
Richi mulai mengangkat anak panahnya. Tak perlu lama membidik, dia langsung melepas anak panah dan langsung mendapatkan sorak sorai dari semua siswa.
"Kau hebat sekali, Richii." Teriak mereka semua, tapi tidak membuat Richi tersenyum senang. Dengan panah yang masih ia genggam, Richi menatap lawannya.
"Sudah, kan?" Ucapnya sambil tersenyum miring. "Bahkan nilai kalian berdua pun tidak cukup menandingi nilaiku."
Joy mengepalkan tangan. Kalau saja bukan karena ramai orang, rasanya dia ingin menghajar Richi.
"Beruntung aku tidak menghukum kalian." Lanjut Richi lagi, mengambil anak panah baru.
"Hei, kau pikir aku takut dengan perempuan sepertimu? Aku tidak takut, Bitchh!!"
TAP! Spontan Joy terdiam, dia memegang telinga yang terasa mengalirkan darah kental. suasana jadi hening seketika, apalagi mereka melihat Richi secara langsung melepaskan anak panahnya ke arah Joy.
"Lucky you, tanganku licin tadi. Kalau tidak..." Richi menggantung kalimatnya, menatap Joy dengan senyum mengejek.
"Brengsek! Sialan kau, Jallang!" Joy berusaha menyerang, tapi tangannya ditahan oleh Sarah dan beberapa orang lainnya. Keributan itu tentu membuat Asdos membubarkan sesi kelas yang telah berakhir.
~
"Hei." Erine berlari kecil mendekati Joy dan Sarah. Perempuan itu sudah kembali memakai kets dan jeket hoodie. Tidak ada kelas hari ini, jadi dia tidak perlu berdandan.
"Bagaimana? Kalian sudah dapat?" Erine langsung menanyakan tujuannya tanpa basa-basi.
"Kami akan segera dapat, Rin. Tenanglah. Kami akan mendapatkannya. Aku akan menghubungimu nanti." Jawab Joy cepat.
"Ah, aku tidak sabar. Kenapa kalian tidak bisa merebutnya??"
"Dia perempuan yang suka mencari simpati laki-laki. Kami tidak bisa berbuat banyak karena banyak yang membantunya disini." Sahut Sarah lagi.
"Aku akan menghubungimu setelah kami dapatkan poster itu. Aku janji akan segera menemukannya untukmu." Joy menepuk-nepuk pundak Erine.
"Kenapa telingamu??" Tanya Erine saat melihat telinga Erine diperban kecil.
"Kecelakaan baisa. Tidak ada apa-apa. Jangan khawatir." Joy menutupi. Rasanya dia malu pada Erine jika ternyata kalah dari perempuan feminim.
"Tapi Erine, bukankah kau bilang, kau diantar oleh Hugo saat menuju kampus??" Tanya Joy saat ingat apa yang Erine ceritakan padanya kemarin.
Gadis itu tersenyum tipis. "Ya. Dan dia menggunakan kaos sleeveless hitam saat di dalam mobil."
"Wow. Kau sangat beruntung. Bolehkah aku main-main ke kelasmu, Erine. Kenalkan aku padanya, yaa." Sarah menggenggam tangan Erine dengan mata bulat yang memohon.
"Baiklah, nanti kalau sudah saatnya tiba, aku akan memperkenalkan dia pada kalian."
"Yeaay." Sorak Sarah. Mereka melanjutkan obrolan ringan sementara Richi dibalik tembok hanya mendengar dengan kesal. Erine berbicara seperti itu seolah dialah kekasih Hugo. Richi hanya memberinya waktu, sebelum benar-benar menghabisinya nanti.
TBC
__ADS_1
**Jangan lupa apresiasi karya aku ya, pen**🥰🥰