
Richi melihat Axel dan yang lain mengangkat Hugo dengan tandu hingga masuk ke dalam Ambulan. Seorang tenaga medis membantunya memasang ventilator dan alat lainnya ke tubuh Hugo yang sudah mengeluarkan banyak darah. Hugo, sudah tidak sadarkan diri.
Richi menahan lututnya yang hampir saja jatuh. Dia mungkin akan terus merasa bersalah seumur hidupnya jika Hugo tak terselamatkan.
Richi melihat semua orang tengah sibuk. Segerombol pemuda datang, mereka membantu Daren membersihkan tempat tanpa sisa apapun supaya tidak meninggalkan bukti.
Dia menaikkan lagi masker wajah khawatir ada yang melihatnya disana. Richi pergi meninggalkan tempat itu tanpa pamit. Dia berlalu dengan perasaan gundah di hatinya dan berharap semoga Hugo bisa benar-benar selamat.
...🍓🍓🍓🍓...
Emerald melirik jam di tangannya. Dia menunggu Richi yang tadi tiba-tiba bangkit dari kursinya.
"Aku tidak tenang!" Ucap Richi yang bangkit dari duduknya. "Kak, tunggulah. Aku akan segera kembali. Ada urusan yang harus ku selesaikan. Aku akan kembali dalam beberapa menit".
Begitu ucapan Richi dan langsung berlari tanpa menunggu jawaban Emerald. Namun ternyata Emerald menunggunya sampai satu jam lebih.
Emerald tidak bisa menghubungi gadis itu. Dia tadi berlari saja tanpa memberitahu kemana tujuannya.
"Kak."
Emerald tersentak. Richi menghampirinya dengan rambutnya yang terurai. Bahunya naik turun karena terengah setelah berlari cukup jauh. Sepatu kets-nya terlihat basah, wajah gadis itu juga lembab seperti habis menangis.
"Chi, kau baik-baik saja?" Tanya Emerald karena khawatir saat melihat kondisi gadis itu.
Dia mengangguk lalu terduduk. Richi mencoba mengatur napasnya yang sesak. Untungnya dia sudah mencuci wajahnya sebelum bertemu Emerald. Kalau tidak, mungkin Emerald akan curiga saat melihat ada noda darah disana.
"Ayo, mau kemana?" Ucap Richi karena tidak ingin membatalkan janji dengan Emerald. Dia tahu Emerald sudah menunggu terlalu lama.
"Ichi, kalau kau sedang sibuk, kita bisa menundanya saja dan.."
"Ah, tidak, tidak." Richi melambaikan tangannya. Emerald sudah terlalu senang. Richi bisa melihat gurat wajahnya saat menjemput dirinya sore tadi.
"Aku agak berkeringat. Aku akan cari baju ganti sebentar. Setelah itu, kita akan pergi ke tempat yang sudah kakak ingin datangi sejak tadi." Ucapnya lalu beranjak ke satu toko baju tak jauh dari meja yang didudukinya.
Setelah beberapa menit, Richi keluar dari toko dengan memakai kaos lebar berwarna putih yang dimasukkan ke celana. Dia mengikat jeket kulitnya di pinggang dan membiarkan rambut panjangnya terurai tersibak similir angin.
Emerald tersenyum melihat gaya Richi. Dia benar-benar seperti lelaki. Untung saja gadis itu membiarkan rambut panjangnya. Membuatnya semakin terlihat cantik.
"Ayo, kak." Ajak Richi yang langsung berjalan menuju mobil Emerald sambil membawa paperbag berisi baju hitam bekas darah yang dia pakai untuk membantu Hugo tadi.
~
Mereka sampai di sebuah tempat yang tidak begitu ramai. Tempat itu terang dengan banyaknya lampu kecil yang menggantung di sepanjang jalan masuk seperti jembatan.
__ADS_1
"Kak, ini dimana?" Tanya Richi namun matanya tetap menatap ke depan. Dia takjub dengan cantiknya lampu yang menggantung di sana.
"Kau akan tahu nanti. Ayo, naik."
"Naik?"
Emerald menggandeng tangan Richi dan membawanya melewati jembatan kecil. Di depannya ada deretan tangga yang sangat tinggi seperti mencapai puncak.
"Sanggup?" Emerald melirik Richi yang terdiam menatap ratusan anak tangga di depannya.
Naik tangga? Richi menutup mata, mencoba mengatur napas. Tenaganya sudah banyak terkuras dan sekarang Emerald membawanya ke tempat seperti ini?
"Siap, dong".
"Mau lomba?" Ledek Emerald yang tahu Richi punya tenaga super.
"Apa?"
"Yang kalah, harus melakukan apa yang diminta oleh pemenang". Ujar Emerald dengan senyuman khas nya.
Richi terdiam. Lomba katanya? Naik sampai anak tangga ke 20 saja dia belum tentu sanggup.
"Tidak berani, ya?" Ejek Emerald yang melihat Richi hanya diam menatap deretan tangga.
Emerald lalu tersenyum dan memanggil pelayan yang kebetulan lewat di sebelah mereka.
"Permisi, tangga ini jumlahnya ada berapa ya, untuk mencapai puncak?"
"Sekitar seribu, tuan." Jawab pelayan itu sambil tunduk kemudian berlalu.
'Seribu?' Richi rasanya sudah ingin pingsan.
"Baiklah. Mari mulai". Emerald memasang persiapan.
Richi menggulung asal rambutnya karena jepit rambutnya hilang entah kemana.
"Satu.. dua.. tiga!"
Mereka menaiki tangga dengan cepat. Emerald yang mempunyai kaki lebih panjang dari Richi, menaiki sekaligus dua anak tangga.
"Hei, licik sekali!" Teriak Richi saat melihat Emerald sudah jauh di depannya.
Richi terus berusaha menaiki tangga. Gulungan rambutnya terlepas, dia membiarkannya saja.
__ADS_1
Jantungnya berdegub kencang karena olahraga dadakan yang dia lakukan. Richi mulai kehabisan tenaga. Padahal, dia baru mencapai sekitar seratus tangga.
Emerald tertawa sambil mengejek. Dia terus berlari menelusuri tangga yang berbelok.
Richi terhenti di anak tangga yang entah keberapa. Dia mengatur napasnya.
Richi duduk di pembatas tangga yang pendek. Napasnya terengah-engah. Dia memegang perutnya yang agak sakit.
Gadis itu menoleh ke sampingnya dan melihat pemandangan malam yang sangat indah. Matanya terbuka lebar. Hal yang belum pernah dia lihat, keindahan yang tersembunyi di dekat kota.
Angin membuat rambut Richi terbang ke belakang. Dia menikmati sentuhan angin malam yang dingin.
"Wah, enak betul dia duduk disini". Gerutu Emerald yang harus turun lagi lantaran tidak menemukan Richi di belakangnya.
"Hehe.. nyerah kak, enggak sanggup". Ucapnya sambil menyengir. Dia lalu menghadap pemandangan itu lagi. Susunan gedung tinggi dengan taburan banyak bintang. Suasana langit yang masih sama seperti tadi saat bersama Hugo.
Ah Hugo, apa kabarnya? Raut Richi tiba-tiba berubah. Dia menunduk. Merasa bersalah karena Hugo pasti sedang berjuang dengan hidupnya. Sementara dirinya yang diselamatkannya malah bersenang-senang dengan Emerald.
"Kau suka?"
Richi menoleh, melihat garis senyum Emerald. Dia mengangguk dengan senyuman yang dipaksakan.
'Bagaimana ini, hatiku berubah sendu' Richi berdiri dari tempatnya. Mengalihkan wajah dari Emerald. Dia membelakangi Emerald. Menghadap tatanan rumah-rumah penduduk dengan lampu-lampunya yang membuat gedung-gedung tinggi disana semakin cantik.
Richi merentangkan tangannya dan merasakan angin yang menyeruak dalam tubuhnya.
Richi memejamkan matanya, dia sedang bermunajat. Menginginkan Hugo selamat dan bisa beraktivitas seperti biasa. Tanpa terhambat apapun. 'Jangan biarkan aku merasa bersalah seumur hidupku' pintanya di akhir do'a.
Emerald tersenyum. Dia berhasil mengambil foto Richi yang membelakangi dirinya. Membentangkan tangan dan rambut yang terbang ke belakang. Dia dan pemandangan itu terlihat indah.
Emerald mengunggah foto itu di laman sosial medianya.
'Happy with your happiness🍒'
Belum semenit dia mengunggah, laman itu sudah banyak di komentari orang-orang. Mereka penasaran dengan sosok perempuan berambut panjang yang selalu bersama Emerald. Kemarin, juga malam ini.
To Be Continued...
Hallo♡
Terima kasih ya sudah mendukung Author dengan Like, Komen, Vote, dan Hadiahnya💐
Jangan lupa baca cerita Author "Duka 2 Garis Merah" 🙈
__ADS_1