
Hugo menaikkan selimut Richi, mengecup keningnya lalu menuju pintu. Sampai dia menyadari, Ricky sudah berdiri disana.
Hugo diam melihat rahang Ricky yang mengeras, seakan memberitahu jelas bahwa dia tidak suka dengan perlakuannya barusan.
Tangan Ricky mengepal dan langkah panjangnya dengan cepat meraih kerah Hugo. Dia terang-terangan menunjukkan wajahnya yang tidak suka.
Hugo yang tahu Ricky takkan menyakitinya di ruangan Richi, mencoba bersikap santai.
"Kau tahu apa yang kau lakukan, sialan!" Ricky memelankan suaranya walau terdengar berat di telinga Hugo.
"Kau seharusnya tahu batasan dengan adikku!"
Hugo melepaskan tangan Ricky dari kerahnya. "Masalah yang lalu tidak perlu diungkit. Yang perlu kau tahu adalah aku mencintai adikmu, begitu juga sebaliknya."
Sejenak Ricky diam, jelas dia mendengar ucapan adiknya tadi. Dia mendengar permintaan Richi supaya lelaki itu terus datang padanya. Dia juga mendengar keluhan Hugo yang tak bisa melihat adiknya terbaring seperti itu.
Ricky menarik lagi kerah Hugo. "Aku tidak akan membiarkanmu hidup jika kau masih terus di dekat Richi." Bisik Ricky hingga membuat Hugo melirik tajam ke matanya.
"Ricky! Apa yang kau lakukan!" Marry memisahkan Ricky dan Hugo sementara Wiley hanya berdiri memperhatikan.
"Hugo, kau tidak apa-apa?" Tanya Marry yang khawatir.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya permisi dulu." Hugo melihat ke arah Richi yang tertidur beberapa saat lalu keluar ruangan.
Dia berjalan sambil melonggarkan ikatan dasinya. Bagaimanapun Ricky pasti akan terus menjadi penghalang antara dia dan Richi. Sebenarnya Hugo sendiri juga tidak mengerti apa yang membuat Ricky sampai semarah itu. Jika karena masa lalu, bukankah bodoh kalau dia terus membahasnya?
Sementara Ricky duduk di sofa ruang tunggu yang disediakan rumah sakit untuk keluarga Wiley, dia masih merasa kesal sebab tidak bisa menghajar laki-laki itu karena telah berani mencium adiknya.
"Ibu tidak paham dengan sifatmu itu! Kau seharusnya malu, terlalu ikut campur urusan pribadi adikmu! Memangnya Richi juga melakukan hal yang sama padamu? Kau ini kenapa, sih?" Marry berjalan kesana kemari sembari memegangi kepalanya. Dia amat pusing melihat tingkah anak laki-lakinya yang overprotective pada Richi.
"Sudah aku bilang kan, Bu, dia tidak sebaik yang Ibu kira!"
"Kalau gitu jelaskan! Apa yang membuat dia tidak baik, jelaskan pada Ibu!" Sentak Marry dan Ricky hanya tertunduk.
"Lihat, kau bahkan tidak bisa cerita!"
Wiley menenangkan istrinya, mencoba memeluknya namun Marry menolak.
"Ayahnya juga, seharusnya dari awal tidak perlu menyetujui semua perlakuan Ricky. Lihat, dia jadi semena-mena pada orang lain!" Bentak Marry pada Wiley.
"Lho, kok jadi aku?"
"Coba sesekali tegas pada Ricky! ini kok, setuju saja sama semua perlakuannya? Kamu tegas, dong." Omel Marry lagi.
Wiley hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, diomeli istrinya membuatnya tak berkutik.
"Dengar ya, Ricky. Jangan sampai Ibu lihat lagi kau melakukan itu pada Hugo. Selagi Ibu tidak mendengar alasannya darimu, Ibu tetap membela dia."
Marry pergi ke ruangan Richi, meninggalkan Wiley dan Ricky yang masih tertunduk. Wiley mulai memperhatikan Ricky, dia melipat tangannya di dada.
"Kau ini, sebenarnya hanya masih terbawa suasana masa lalumu, kan?"
Ricky tak menjawab, dia menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Sudahlah, biarkan adikmu menjalani hubungan dengannya. Bisa saja dia sudah berubah dan benar-benar menyayangi adikmu. Kau kan, bisa mengawasi."
"Kenapa Ayah jadi mendukungnya?" Lirik Ricky kesal.
"Kau yang lebih tahu adikmu. Mana mungkin dia bisa suka kalau anak itu bukan anak baik-baik."
"Dia kan, tidak tahu sifat aslinya! Hah, aku ingin sekali menghajarnya!'
"Kenapa tidak hajar di atas ring?" Usul Wiley.
Ricky mengangkat kepalanya. "Iya juga, ya."
Wiley menghela napasnya lalu menepuk-nepuk pelan bahu Ricky. Dia keluar ruangan, membiarkan anak laki-lakinya menyusun rencananya.
...🦢...
Harry masuk ke dalam ruangan Shera yang tengah bermain ponselnya. Gadis itu tak melirik ke dirinya sama sekali.
"Shera, hei. Aku datang." Harry mengangkat kedua tangannya yang penuh kantung belanjaan.
Shera melihatnya sebentar dan memberikan senyum tipis, lalu beralih lagi pada ponselnya.
"Aku bawakanmu makanan. Kau mau yang mana? Aku bawa pizza, coklat panas, sushi, kentang goreng. Aku sengaja beli banyak supaya kau bisa memilihnya."
"Tidak ada yang aku suka dari semuanya." Jawabnya tanpa beralih dari ponselnya.
"Apa? Shera, bukankah kau keterlaluan?" Harry mulai menaikkan nadanya.
Shera mengulas senyuman menatap ke arah Harry yang kesal karena merasa usahanya tidak dihargai.
"Semua yang kau bawa, tidak ada yang menjadi makanan kesukaanku."
Harry diam dan sedikit menunduk. Dia meletakkan makanan itu di atas nakas.
__ADS_1
"Shera, jika kau masih marah padaku, aku minta maaf. Tapi tidak perlu mengerjaiku begini." Tutur Harry.
"Mengerjai?" Shera tertawa pelan. "Aku tidak mengerjaimu. Itu semua memang bukan makanan yang kumakan. Padahal aku pernah mengatakannya, namun sepertinya hanya menjadi angin lalu bagimu." Shera tertawa lagi.
Terdengar helaan napas dari Harry, "Baiklah, Shera. Mari mulai lagi hubungan kita dari awal. Beritahu aku apa yang kau suka atau tidak suka."
Shera tak menjawab, baginya dua tahun bukan hal yang singkat jika hanya mengenal apa yang suka atau tidak suka. Selama itu dia cukup mempelajari apa yang Harry suka maupun tak suka. Tetapi Harry bahkan tak peduli padanya.
"Shera, seharusnya kau menghargai aku, melihat perjuanganku sekarang."
"Kau baru satu kali melakukan ini dan merasa perjuangan cetekmu ini tidak dihargai? Lalu aku? Aku sudah bertahun-tahun dan selalu tak dihargai, apa aku mengeluh?" Mata Shera mulai berkaca-kaca.
Harry mengerutkan dahinya. Shera bahkan sudah berani menaikkan nadanya seperti itu. Biasanya dia akan segera membujuk jika Harry mulai kesal atau marah pada Shera.
"Lalu maumu apa, Shera?? Aku sudah minta maaf padamu dan berusaha untuk mengenalmu lebih dalam. Katakan, maumu apa!! Aku juga sudah merawatmu, Kan!!" Bentak Harry yang mulai emosi pada perlakuan Shera yang dianggapnya sudah melampau.
Shera menunjuk ke arah atas nakas. Harry mengikuti arah telunjuk Shera. Dia mengerutkan dahi tak mengerti maksud gadis itu.
"Ambillah pisau itu. Kau bunuh saja aku supaya kau tak perlu repot merawatku."
Harry terdiam. Dia tak bergeming karena pikirannya benar-benar kacau. Bukan cuma Shera yang harus dia urus. Sebab kini dia mulai menyusun rencananya lagi.
Shera merebahkan tubuhnya dan berbaring ke sebelah kiri, membelakangi Harry yang tak lagi menyahuti ucapan Shera barusan.
Terdengar suara pintu, Harry keluar dari ruangannya. Air mata mengalir di sudut mata Shera. Dia tahu betul sifat Harry. Baginya Harry hanya merasa bersalah saja. Bukan karena benar-benar mencintai dirinya.
...🦍...
Richi tengah sarapan pagi disulangi oleh Ricky. Saat bangun tidur tadi, hanya Ricky yang menunggunya sementara Marry dan Wiley pulang untuk mengambil beberapa barang.
Tadi, Richi sudah menolak untuk disuapi. Dia mau makan sendiri, tetapi Ricky memaksa.
"Biar aku yang suapi."
"Aku bisa sendiri, kak. Yang sakit itu perutku, bukan tanganku."
"Nurut kalau dibilangi, keras kepala!" Bentaknya. Mau tak mau Richi menurut saja walau dia tahu apa yang Ricky lakukan adalah bentuk rasa bersalahnya padanya yang tak bisa menjaga dengan benar hingga Richi harus berada di rumah sakit.
Berbeda dengan kejadian dua tahun lalu saat Ricky terkena tembakan Lexus, Richi adalah orang yang paling di depan menolongnya hingga emosinya memuncak mengejar Lexus dengan dua bayonet di tangannya.
Richi tiba-tiba ingin bertanya tentang masalah dia dan Hugo.
"Kak.."
"Hmm."
Ricky tak menyahut, dia menyendoki makanan lagi ke mulut adiknya.
"Kak.."
"Makan dulu." Katanya yang melihat mulut Richi tengah penuh makanan.
Richi diam sebentar, menunggu makanan yang ia kunyah habis. "Aku kan, butuh penjelasan. Kenapa kakak sampai seperti itu pada Hugo? Aku juga butuh cerita dari sudut pandang kakak supaya aku bisa menilai dia."
"Tidak perlu. Kuceritakan pun kau tetap memihaknya." Tukasnya lalu menyulangi Richi lagi.
"Kau tahu kan, kak, aku orang yang realistis. Kau pasti tahu ceritamu tidak bisa dijadikan alasan supaya aku dan Hugo berpisah, makanya kau tidak mau cerita?"
BRAK!
Ricky meletakkan piring dengan kasar lalu mengambil minum adiknya.
"Jadi aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin meninggalkannya karena kau yang tidak suka, kan? Bukankah aneh?"
Richi mengambil minuman yang diberi kakaknya dan meminumnya.
"Kak.."
"Sudahlah!" Ricky meletakkan gelas Richi di atas nakas. "Tidak perlu dibahas. Biarkan dia yang memantaskan diri!" Ucapnya lalu berdiri.
"Memantaskan diri? Apa maksudnya?"
"Kau istirahat saja. Pikirkan bagaimana caramu supaya cepat sembuh. Dasar kau bodoh!" Pungkasnya lalu pergi meninggalkan Richi.
Richi menyandarkan tubuhnya. Ricky terus-terusan mengumpatnya karena pengorbanan yang ia berikan untuk Hugo. Sebagai kakak yang sayang padanya, juga sebagai orang yang membenci Hugo, hal semacam itu membuatnya sangat marah dan geram. Tetapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena memang, Richi-lah yang menyerahkan dirinya. Oleh sebab itulah dia terus mengatai Richi bodoh.
Pintu terbuka, Hugo masuk dengan seragam sekolah dan jeket merah yang pernah Richi pinjam waktu itu.
"Morning, sayang." Sapanya penuh senyuman.
Hugo berdiri di sebelah Richi lalu mengecup kening gadis itu.
"Sudah minum obat?" Tanyanya sembari duduk.
"Sudah." Richi diam sebentar, dia ingin bertanya tentang masalah dia dan kakaknya.
"Chi, ada apa?" Tanya Hugo yang melihat perubahan pada wajah Richi.
__ADS_1
"Apa tadi bertemu dengan kak Ricky diluar?"
"Tidak."
"Hugo, beritahu aku tentang masalahmu dan juga Ricky. Kalian ada apa sebenarnya? Kenapa dia sampai seperti itu padamu? Kau pasti punya salah, kan. Ricky bukan tipe orang yang marah tanpa alasan."
Hugo menggenggam erat tangan Richi. Terdengar helaan dari napasnya. "Nanti akan aku ceritakan, ya. Sekarang bukan waktu yang tepat."
Richi mengerutkan dahinya. Baik Ricky maupun Hugo, tidak ada yang mau bercerita. Membuat rasa penasarannya semakin meningkat.
"Kalian kenapa, sih?" Richi menarik tangannya dari Hugo. "Tidak ada yang mau cerita padaku. Memangnya kenapa kalau aku tahu??" Pekik Richi mulai tak sabar. Dia sangat frustrasi melihat kedua orang yang disayanginya terus berantam sementara dirinya tidak tahu apa yang menjadi pemicu diantara keduanya.
"Chi, bukan aku tidak mau cerita. Nanti pasti aku ceritakan padamu."
"Memangnya kenapa...aahhhh.." Richi mengeluh, perutnya terasa sakit karena tekanan yang ia berikan saat bersuara keras.
"Chi, kenapa? Hei.." Hugo langsung berdiri, dia panik melihat Richi yang meringis.
"Sebentar, aku panggil dokter."
"Jangan." Richi menarik tangan Hugo yang akan bergerak keluar.
Melihat Richi yang menderita seperti itu membuatnya serba salah. Hugo langsung menurunkan tempat tidur, membantu Richi berbaring di tempatnya.
"Maafkan aku.." lirihnya pada Richi yang memejamkan mata, menahan rasa sakit di perutnya.
"Pergilah, Hugo. Nanti kau terlambat." Ucap Richi yang masih memejamkan mata. Namun Hugo tidak juga bergerak dari tempatnya, dia menatap wajah Richi yang perlahan rasa sakitnya memudar.
"Kenapa belum pergi?" Tanyanya saat membuka mata dan Hugo masih duduk di sebelahnya.
Hugo tidak menjawab. Dia tertunduk saja disana. Melihat Richi sekarang membuatnya ingin terus berada disamping gadis itu.
"Hugo, pagi-pagi sudah datang." Marry masuk bersama Wiley.
Hugo berdiri dari tempatnya, menundukkan kepala sebagai salamnya. "Saya izin pergi sekolah, Bu." Ucapnya lalu melihat ke arah Richi.
"Iya, baik-baik sekolahnya. Kalau sudah selesai bisa kemari lagi, biar Richi semangat dan cepat sembuh. Iya kan, sayang?" Liriknya pada Richi. Gadis itu hanya tersenyum tipis.
Hugo pamit dan keluar dari sana. Dia mungkin akan menceritakan itu nanti, yang sekarang sedang ia pikirkan adalah tantangan Ricky padanya.
Sebelum masuk tadi, ia bertemu Ricky di lorong rumah sakit. Lelaki itu mengajaknya bertarung. Jika Hugo mampu mengalahkannya, maka dia akan membiarkan Hugo dan Richi bersama karena dianggap pantas untuk mendampingi adiknya. Hugo setuju, walau dia tidak begitu yakin. Sebab dua tahun lalu, bertarung dengan Keen membuat beberapa titik tubuhnya berdenyut lama.
Dia harus berlatih keras lagi supaya Ricky bisa ia kalahkan.
...💣...
BRAK!!
"Bangsaatt!!" Napasnya terengah, dia membanting semua barang yang ada di depannya. Suara beratnya membuat orang-orang sekitarnya ketakutan.
Harry hanya tertunduk, bukan karena dia takut, tetapi karena dirinya terlalu malas melihat ke arah tuan besar itu.
"Mana kembaranmu itu!!" Pekik Tuan besar pada Saver yang berdiri tak jauh darinya.
"Sa-saya ti-tidak tahu, tuan besar." Jawab Saver mulai bergetar.
"Kau juga Harry! Rencana apa yang kau bangun, ha? Tidak ada yang berjalan satupun!" Pekiknya pada Harry.
"Secepatnya akan kujalankan, bos. Bersabarlah."
"Apa yang kau jalankan?? Bahkan bom yang kurencanakan tidak ada satupun yang meledak!! Siapa yang memasang Bom palsu disana? Sialan!" Makinya terus menerus hingga barang di sekitarnya pecah tak beraturan.
Harry mengerutkan alisnya, bom apa yang direncanakan oleh tuan besar?
Harry lalu teringat ucapan Hugo bahwa perusahaan Ayah terdapat bom di dalamnya.
Harry mengangkat wajahnya, melihat tajam ke arah Tuan besar yang tengah mengamuk. Apakah perusahaan Ayah ingin dihancurkan olehnya?
Harry maju satu langkah, "Tuan besar, apa saya boleh bertanya?"
Tuan besar itu menoleh padanya, dia menunggu pertanyaan Harry.
"Apakah tuan merencanakan sesuatu yang saya tidak ketahui?"
Tuan besar itu menyeringai hingga memperlihatkan semua giginya.
"Ya, aku meletakkan bom di semua perusahaan sainganku. Termasuk perusahaan ayah tirimu, hahaa." Tuan besar tertawa lebar. "Kenapa? Kau tidak suka? Kau pikir aku peduli? Kalau bukan karena aku, kau pikir kau bisa apa?"
Harry menahan emosinya. Ingin sekali dia menghajar orang tua itu.
Tawa tuan besar terhenti saat ia mendengar tawa Harry yang lebih besar dari pada tawanya.
"Kau benar, tuan besar. Kalau bukan karena anda, aku tidak akan seperti sekarang. Kalau begitu saya permisi, ada pekerjaan yang harus saya selesaikan."
"Cepat selesaikan rencanamu itu! Aku tidak mau tahu, aku sudah mengeluarkan uang banyak untuk itu!"
Harry menundukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan tuan besarnya. Dia mengepalkan tangannya, berencana untuk secepatnya menyusun satu rencana yang akan membuat tuan besar tercengang karenanya.
__ADS_1
TBC