
Sepanjang perjalanan Richi di dalam Taksi, Hujan mengguyur deras. Richi sempat khawatir sebab Hugo juga tidak bisa dihubungi.
Untungnya, hujan tidak berlangsung lama. Sesampainya di tempat, Richi langsung lari dan dia terjatuh karena jalan yang basah.
Dengan cepat dia membuka high heels dan berlari lagi menggantungkan tali sepatunya ke jari-jarinya.
Richi sampai di atas dengan lift dan mendapati tempat itu sepi, hanya ada sebuah meja yang sudah tersusun di dekat tiang pembatas.
Lantainya sedikit berair, Richi jalan perlahan dan mendapati Hugo berdiri membelakanginya dengan setelan jas hitam, menatap ke depannya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Disebelahnya, sebuah meja dan kursi yang sudah basah, tatanan di atas meja pula berair, membuat Richi amat gundah dengan pemandangan di depannya.
Richi menjatuhkan sepatu yang dia genggam. Suaranya membuat Hugo menoleh ke belakang dan tersenyum saat melihat Richi sudah berdiri di belakangnya.
"Hugo.." Richi menatap sendu, dia merasa amat bersalah sebab tidak tahu ulang tahun kekasihnya, lalu terlambat berjam-jam membuat Hugo menunggu terlalu lama.
Hugo berjalan perlahan ke arah Richi yang wajahnya terlihat sedih. Tanpa bicara Hugo merapatkan tubuh Richi pada tubuhnya.
"Injakkan kakimu di atas sepatuku." Bisiknya di telinga Richi dan gadis itu menurut. Kaki telanjangnya menginjak ke atas sepatu hitam Hugo.
Hugo meraih lengan Richi dan melingkarkankannya ke lehernya dan ia pun melingkarkan tangannya ke pinggang gadis itu.
"Kau memakai dress untuk Harry?"
Richi dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak."
Hugo tersenyum lebar, wajahnya kini sangat dekat dengan wajah Richi yang sejak tadi masih memasang wajah bersalah.
Hugo menjentikkan jarinya dan musik diputar, membuat kaki Hugo bergerak mengikuti alunannya.
Lelaki itu terus menatap Richi. Dia ingin mengulang kembali berdansa dengan Richi yang menggugahnya waktu itu.
"Happy birthday." Bisik Richi di depan wajah Hugo yang hanya beberapa centi dari wajahnya.
"Satu-satunya ucapan yang kutunggu." Balasnya dengan senyuman, menatap Richi tanpa beralih sedetikpun.
"Maafkan aku, aku melakukan kesalahan besar. Aku juga terlambat malam ini. Kau pasti menunggu lama."
"Yang terpenting kau ada dihadapanku sekarang."
Richi tersenyum walau dia masih merasa tidak enak.
"Kau mau hadiah apa?"
Hugo menggeleng lambat. "Semua bisa kubeli. Kecuali.."
"Kecuali?"
"Kecuali dirimu." Bisiknya dan Richi tergelak.
"Kau memiliki perasaan yang sama padaku, sudah menjadi hadiah yang sangat indah."
Richi tersenyum, dia menatap Hugo lekat-lekat. "Kau cinta pertamaku."
Hugo mengecup sekilas bibir Richi, membuat gadis itu terkejut.
"Tenang saja, tidak ada orang disini. Aku sudah menyewa tempat ini khusus untukmu".
Musik masih mengalun, Hugo terus menggerakkan kakinya, berdansa dengan kekasihnya.
"Apa yang kau suka dariku?" Tanya Hugo penasaran.
__ADS_1
"Kenapa bertanya begitu?"
"Agar aku bertahan dengan itu dan tidak merubahnya, supaya kaupun tidak berubah padaku."
Richi tertawa pelan. "Entahlah. Perasaan itu mengalir begitu saja."
"Apa karena aku ganteng?"
Richi tertawa lagi. "Aku menyukai semua yang ada padamu."
"Yang benar?"
Richi mengangguk. "Aku menyukai senyummu, gigi taringmu, wajahmu, tinggi badanmu, dan postur tubuhmu. Ah satu lagi..."
"Apa?"
Richi menghirup udara dalam-dalam sambil memejamkan matanya. "Aroma tubuhmu."
"Wah, kau mulai mesum."
Richi tergelak. "Lalu kau?"
"Aku suka semuanya. Gaya tomboimu, aku juga sangat menyukainya."
Richi menyipitkan matanya. "Yang benar? Bukannyaa..."
"Setelah kuperhatikan, diriku ini ternyata tidak menyukai kerepotan dalam mengurus gadis-gadis tak berdaya." Richi tertawa mendengar ucapan Hugo.
"Kau juga bisa bersikap anggun dan itu mengagumkan sekali.." ucap Hugo sambil terus menatap kedua mata Richi.
"Chi.."
"I do love you." Bisiknya pada Richi yang tak berkedip menatap Hugo.
Hugo berhenti bergerak, memindahkan tangan kanannya ke tengkuk leher gadis itu dan perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Richi.
Hugo menempelkan bibirnya, menyesap bibir gadis itu yang perlahan memejamkan mata dan mengencangkan lingkarannya di leher Hugo.
Malam yang dingin tak begitu berasa sebab keduanya merasakan darah yang mengalir dengan hangat hingga beberapa waktu, Hugo menghentikan ciumannya dan menatap Richi dengan sendu.
"Jangan sekalipun berpikir untuk meninggalkanku." Bisiknya pada Richi dan gadis itu mengangguk sambil mengembangkan senyuman.
Hugo mengecup lembut kening Richi dan gadis itu memeluknya dengan erat. Dia mengelus dan mengecup puncak kepala Richi, mengeratkan dekapannya seperti tak ingin momen manis ini berlalu begitu saja.
~
"Kau yakin turun disini?"
Richi melepas seatbelt-nya. "Iya, aku tidak mungkin pulang tengah malam denganmu. Bisa panjang ceritanya."
"Sebentar."
Hugo mengeluarkan sesuatu dari kantong jasnya.
Dia memberikan gelang rantai berwarna silver pada Richi. "Untukmu.."
"Hugo.." Richi menerima hadiahnya, melihatinya yang berkilauan terkena cahaya. "Yang berulang tahun kan, kau. Aku bahkan belum memberi apa-apa."
"Aku tidak sengaja melihat ini saat jalan-jalan dengan teman-teman." Hugo lalu memakaikannya di pergelangan tangan kiri Richi.
"Cantik sekali." Ucapnya sembari mengelus lembut pergelangan gadis itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Hugo."
"Pakai terus, jangan sampai aku melihat ini lepas dari dirimu". Ucapnya lalu mengecup tangan Richi.
"Iya, baiklah.." Richi keluar dari mobil Hugo dan berdiri menunggu taksi.
"Kau yakin?" Tanya Hugo lagi.
"Iya. Pulanglah."
Richi memberhentikan taksi yang lewat dan masuk ke dalam. Hugo menyusul masuk dari pintu lainnya.
"Eh?"
"Aku akan mengantarmu sampai depan rumah. Aku tak tenang kalau membiarkanmu pergi sendirian tengah malam begini. Jalan, pak." Ucapnya pada Richi disampingnya, lalu taksipun berjalan.
"Kau ini. Aku bisa menjaga diri."
"Tetap saja aku khawatir." Jawabnya cuek memandang ke depan jalan.
Hugo menggenggam tangan Richi. "Jangan jauh-jauh. Sini merapat" ucapnya dan Richi menggeser tempat duduknya.
"Hah.. senangnya." Gumamnya menatap Richi di sampingnya. "Kau senang?"
"Masih sedikit merasa bersalah padamu."
"Kau mau aku semakin senang?"
Richi mengangguk dan Hugo menunjuk bibirnya.
"Hah, mesum!" Pekik Richi dan Hugo tertawa renyah.
"Besok mau kujemput?"
Richi menggeleng. "Aku bawa motor karena besok akan latihan menembak dengan timku."
"Begitu ya, Padahal aku ingin menyapa orang taumu."
"Untuk apa? tidak perlu, aku belum bilang pada siapapun dirumah kalau aku pacaran denganmu."
"Aku ingin sungkem pada Ibumu yang telah melahirkan dan mendidik gadis sepertimu hingga nantinya akan diteruskan ke anak-anakku." ucap Hugo dan Richi mengerutkan alisnya.
"Dari siapa kau belajar kata-kata seperti itu?"
"Tidak ada, keluar begitu saja." Tukasnya sambil tersenyum bangga.
"Lagi pula, aku belum tentu mau menikah denganmu".
"Apa! kenapa? Kau berniat mencari yang lain?"
"Bukan, aku belum sepenuhnya percaya padamu. Ketemu perempuan anggun saja, kau langsung mengulurkan tangan." Ungkit Richi mengingat Hugo waktu itu.
"Astaga, Richi. Kau masih mengingatnya?"
"Tentu saja, itu kan kencan pertama kita." Jawab Richi dengan santai sementara wajah Hugo sudah bertekuk-tekuk.
Taksi berhenti di depan gerbang rumah Richi. "Sudah sampai. Hati-hati, ya Hugo." Ucapnya lalu mengecup pipi lelaki itu dan langsung turun karena hatinya deg-degan saat memberanikan diri melakukan itu.
Richi langsung masuk tanpa melihat lagi ke arah Hugo yang sudah mengembangkan senyum di bibirnya.
Tbc
__ADS_1