Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Diburu


__ADS_3

Ricky menenggak satu botol air mineral sampai habis. Dia meremas botolnya dan melemparkan ke bawah dengan keras. Keringat bercucuran dari tubuhnya karena bertarung dengan orang-orang tak dikenal.


Dia memijak dada seorang yang wajahnya sudah penuh lebam.


"Siapa yang menyuruhmu?" Tanyanya dengan wajah geram namun orang itu tak menjawab. Tendangan keras mendarat di wajahnya sampai pria itu pingsan.


Ricky menuju ke yang lain. Dia memijak kepala pria yang tersungkur dan menanyakan hal yang sama.


"K-kami tidak ta-tahu. Hanya..kami.. dibayar de-dengan bayaran..besar..jika berhasil.. membawa orang difoto yang..tersebar.." suaranya tercekat akibat tendangan hebat telah mendarat di ulu hatinya.


Ricky mengatur napasnya. Hari ini dia menghadapi lebih 20 orang sendirian tanpa senjata apapun. Entah bagaimana malam ini dia dikepung orang-orang yang menaiki motor sampai sebagian body mobilnya rusak.


"Ternyata mereka sudah menjalankan rencana." Keen mengepalkan tangannya. Walau orang-orang ini disuruh, nampaknya mereka tidak tahu siapa yang mereka hadapi. Mungkin saja jika mereka tahu yang mereka hadapi adalah Keen, mereka akan menolak berapapun bayarannya.


"Siapa yang mengirim fotoku??"


"Seseorang..dari..Stripe.."


Ricky menendang wajah pria itu hingga pingsan. Dia membawa mobilnya pergi menuju markas Valiant, dia perlu menyusun rencana lagi.


~


"Keen! Gawat. Banyak orang yang akan mengincarmu karena sayembara yang disebarkan oleh Stripe!" Jonathan berteriak saat melihat baru Keen muncul di depan markas.


Matanya langsung mengarah pada bercak darah di tangan dan baju Ricky dan melihat mobil yang sudah banyak goretan juga kaca yang pecah.


"Ah.. sepertinya kau sudah tahu." Lanjutnya lagi.


"Harry menuduhmu sebagai orang yang menghancurkan perusahaan keluarga Draw. Tuan Besar yang membuat pengumuman berhadiah supaya kau ditangkap hidup atau mati." Jelas Lexus.


Ricky mengerutkan dahinya. "Tuan Besar? Apa kaitannya dengan keluarga Draw?"


Yang lain saling pandang, mereka juga tidak mengetahui itu.


"Lalu, bukan cuma kau, Darrel juga diincar." Tambah Lexus lagi.


"Richi..." Ricky mulai gelisah, sebab adiknya itu sedang tidak bisa berkelahi. "Apa kalian sudah menemukan keberadaan Harry?" Tanya Ricky.


"Belum. Dia sangat sulit dilacak." Jawab Jonathan.


"Kalau gitu, biarkan dia yang mencari kita."


"Maksudnya?" Jonathan mengerutkan dahi.


"Kumpulkan anggota sekarang." Titah Ricky dan mendapat anggukan dari Simom yang langsung bergerak dari tempatnya.


...🦋...


Richi duduk di pinggir lapangan basket. Dia menonton Hugo yang tengah bermain basket dengan pemain inti lainnya. Tak sedikit para gadis ikut menonton Hugo yang tampak keren saat bermain. Bahkan dengan terang-terangan gadis-gadis itu teriak meminta untuk mengelap keringat Hugo sampai Richi menggelengkan kepala tak percaya, ternyata sangat banyak perempuan yang menyampingkan harga diri demi sepasang mata idolanya yang melirik dan tersenyum tipis padanya saat dia mengatakan itu.

__ADS_1


Sepertinya Hugo terlihat leluasa melakukan apapun pada para gadis itu karena Richi yang tak peduli dan terkesan tidak cemburu sama sekali.


Hugo berhasil mencetak tiga poin jarak jauh. Tak lupa kedipan mata ia berikan pada Richi yang bertepuk tangan atas aksi Hugo itu.


Mereka beristirahat, Axel melempar handuk kecil pada Hugo. Dia berjalan ke arah Richi sambil mengelap keringatnya.


Hugo berjongkok dibawah Richi, dia sedikit mendongak. "Apa kau tidak mau mengelap keringatku?"


Richi menggelengkan kepalanya dan melirik pada gadis-gadis yang tampak saling berbisik melihat interaksi keduanya.


"Kau yakin? Gadis-gadis disana berebut ingin mengelapkannya."


"Pergilah, minta mereka yang mengelapkan keringatmu itu." Tukas Richi sementara Hugo mencebikkan bibir, kesal dengan jawaban kekasihnya.


Hugo duduk di sebelah Richi, menenggak minuman yang Richi berikan padanya.


"Aku ingin main." Ucap Richi dengan mata terus menatap keranjang basket.


"Nanti dulu. Perutmu belum sembuh. Makanya, itu badan tipis jadi pisaunya langsung nembus kedalam. Kalau buncit kan, pasti lebih cepat sembuh karena yang ketusuk itu lemak. Hahahaha.."


Richi menatapi Hugo yang tertawa terbahak-bahak disebelahnya.


"Banyak tahu, yang iri sama bentuk tubuhku."


"Masa?"


"Aku beberapa kali ditawari ikut cheerleader. Apalagi saat mereka lihat aku bisa melompat tinggi. Lalu saat praktik olahraga, aku yang paling tahan keliling lapangan tanpa berhenti." Ucap Richi menyombongkan diri.


"Garing, ya?" Hugo menggaruk kepalanya yang tak gatal sementara Richi menahan tawanya. Tak bisa dielak, dia juga sebenarnya senang mendengar gombalan Hugo.


"Ichi, bisa bicara sebentar?"


Richi dan Hugo menoleh, Emerald berdiri sambil tersenyum pada Richi.


"Aku kedepan duluan. Aku menunggu disana." Ucap Richi sambil memakai sampingnya. Dia berjalan ke depan bersama Emerald. Hugo agak kesal karena Emerald menyukai Richi. Tetapi dia juga tahu, kekasihnya itu tidak perlu dicurigai.


"Ada apa, kak?" Tanya Richi sambil berjalan.


"Tidak ada, aku hanya ingin mengobrol."


Richi tertawa pelan. "Sudah lama, ya. Kakak kemana saja?"


"Ikut seminar militer di negara A."


"Benarkah?? Wah, kenapa aku tidak diberitahu? Apa kakak mau daftar militer?"


Emerald mengangguk, "Ini khusus kelas akhir yang mau masuk militer. Apa kau juga mau daftar, Chi?"


"Iya, kak. Aku akan melanjutkan kesana. Wah, tidak sangka kakak mau lanjut ke sekolah militer. Aku pikir akan belajar bisnis."

__ADS_1


"Ini ditentang orang tua. Tapi, kemauanku sangat besar disini."


Richi mengangguk lambat.


"Lalu, kenapa tidak pernah latihan taekwondo lagi? Mentang-mentang sudah hebat.."


"Ahaha, bukan begitu, kak. Aku hanya sedang banyak urusan saja."


Richi dan Emerald asyik mengobrol hingga beberapa waktu, Hugo menyusul keduanya ke depan tetapi tidak menemukan mereka disana.


Dia mencari ke parkiran maupun ke kafe depan sekolah, tetapi tidak juga ketemu.


Hugo menelepon, namun nomor gadis itu tidak bisa dihubungi.


Hugo bertanya pada penjaga sekolah, tetapi penjaga juga tidak melihat.


Setelah satu jam menunggu dan memastikan Richi tidak ada di sekolah, Hugo memilih pergi berkumpul bersama teman-temannya walau dia sedikit resah, tetapi kekasihnya itu sama sekali tidak bisa dihubungi.


Beberapa jam setelahnya, Hugo menerima panggilan dari nomor yang ia tidak kenali.


"Hei, sialan, kemana kau ajak Richi??"


Itu suara Ricky, dia terdengar sangat kesal seperti biasa.


"Dia pergi bersama Emerald siang tadi." Jawabnya. Hugo sudah menghubungi beberapa kali tapi memang ponsel Richi tidak aktif.


Ricky langsung mematikan ponselnya. Sementara Hugo mulai bingung. Padahal sudah malam, tetapi Richi ternyata belum sampai rumah. Dia mencoba menghubungi Emerald, meminta nomornya pada Axel.


"Halo, Emerald, apakah Richi masih bersamamu?"


"Richi? Kami hanya mengobrol sampai di depan gerbang, setelah itu aku pulang dan kupikir dia menunggumu di depan."


"A-apa kau bilang??!"


Richi tidak ada di rumah, lalu kemana dia?


"Apa terjadi sesuatu pada Richi??" Tanya Emerald mulai panik sementara Hugo langsung menutup ponselnya.


"Hei, ada apa dengan Richi?" tanya Darren yang melihat kekhawatiran Hugo.


"Richi, sepertinya dia belum sampai rumah." jawabnya.


"Ricky, apa benar Richi tidak di rumah??" Tanya Hugo memastikan via telepon.


"Hei, sialan. Kalau sampai terjadi apa-apa pada adikku, kupastikan beberapa anggota tubuhmu menghilang!"


Hugo menegang, bukan karena ancaman Ricky, tetapi karena Richi ternyata menghilang.


Dia dengan cepat menuju markas Valiant. Apapun itu, dia ingin ikut menemukan kekasihnya.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2