Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Eps121


__ADS_3

"Sialan! Urusanmu denganku." Hugo berdiri dan bersiap menyerang saat melihat lelaki itu mengerang pada Richi.


Richi melihat ke arah orang yang menendang eskrimnya. "Hei, kau tahu betapa sulitnya aku mendapatkan eskrim itu?? Kau benar-benar merusak mood-ku."


"Banyak tingkah!"


Lelaki itu langsung melayangkan tendangan pada Richi yang duduk namun Hugo langsung menanhan tendangan lelaki itu dengan kakinya yang menendang balik ke arah lelaki itu hingga ia terjerembap.


Perkelahian terjadi, Hugo melawan mereka berempat. Awalnya Richi yakin Hugo bisa melakukannya. Tetapi melihat lelaki yang menendang eskrim Richi berhasil menendang punggung Hugo, Richi mulai ragu. Sejenak Hugo terkejut saat seseorang berhasil menendangnya dari belakang, lalu dia fokus lagi dan berhasil mengalahkan tiga orang, tersisa satu.


Dia menatap lelaki itu tajam. Wajah Hugo, kini berubah bengis.


'Dia pasti kesal karena gagal keren di depan pacarnya hehe' batin Richi.


Pertarungan dua orang itu terjadi. Richi yang melihat itu, mulai tenang saat Hugo bisa mengatasinya.


"Beruntunglah karena aku tidak sampai membuatmu sama dengan temanmu itu." Tukas Hugo memandang mereka berempat.


"Kau pikir kau menang?" Lelaki itu membuang ludahnya di depan Hugo. "Kau lihat saja nanti!" Ucapnya lalu pergi disusul temannya yang lain.


Hugo berajalan perlahan ke arah Richi.


"Hugo, bisa tidak aku meminta eskrim lagi?"


"Tidak, ayo pulang." Hugo menarik dan menggenggam tangan Richi kencang, membuat gadis itu bingung.


"Hugo, terima kasih sudah melindungiku. Aku merasa bersyukur bisa dilindungi laki-laki kuat sepertimu." Ucap Richi tiba-tiba untuk meredakan emosi dalam diri Hugo.


"Benarkah? Kau merasa dilundungi?"


"Tentu. Tendanganmu sangat kuat, aku bisa melihat itu." Kata Richi sambil tersenyum lebar.


Hugo tersenyum kecil, dalam hatinya merasa sedikit lega bisa diakui hebat oleh Richi. Padahal dia beberapa kali dibantu Richi saat melawan musuh. Jika begitu, artinya dia hampir bisa memantaskan diri.


"Tapi Hugo, aku belum mau pulang. Aku ingin melihatmu latihan tinju."


"Ya sudah, tapi aku harus pulang dulu untuk bersiap."


Richi mengangguk, lalu mereka sama-sama pergi ke rumah Hugo.


"Di rumahmu tidak ada orang, kan?" Tanya Richi.


"Seharusnya sih, tidak. Ayah belum pulang jam segini." Jawabnya sambil menyetir dan menatap jalan di depannya. "Kenapa?"


"Tidak."


"Disana banyak pelayannya, jadi kita tidak bisa berbuat apa-apa." Lanjut Hugo sembari melirik Richi sambil tersenyum jahil.


"Kenapa sih, kau suka sekali berpikir yang tidak-tidak!" Ucap Richi kesal dan Hugo langsung tertawa terbahak-bahak melihat reaksi pacarnya.


Sesampainya disana, Hugo keluar dan mendapati mobil ayahnya di dalam.


Richi memperhatikan sekitar, melihat rumah Hugo yang tinggi besar.


"Sepertinya ayahku di dalam. Ayo, masuk." Hugo menggandeng tangan Richi dan masuk ke dalam rumah.


David tengah berjalan menuju keluar dan mendapati anaknya menggandeng seseorang masuk ke dalam.


"Ayah, ini Richi. Dia..."


"Richi Darrel Wiley, selamat datang.." David merentangkan tangannya, menyambut kedatangan Richi sementara Hugo mengerutkan dahinya.


"Terima kasih, tuan."


"Saya menanti kedatanganmu. Mari sini, duduk."


Richi dan David duduk di sofa ruang tamunya, sementara Hugo masih diam di tempat menatap kedua orang yang tengah bercengkrama seperti sudah saling mengenal.


"Bagaimana? Sudah sehat?" Tanya David.


"Sudah lumayan, tuan."

__ADS_1


"Anak itu hanya bisa menyusahkan. Maafkan dia, ya. Apa kau suka dengan hadiah yang kukirim?" Tanya David.


"Ah, iya. Saya belum sempat mengucapkan terima kasih. Saya sangat senang dengan hadiahnya."


Hugo berjalan mendekat. "Tunggu dulu. Sejak kapan ayah mengenal Richi??" Tanyanya penasaran dengan interaksi keduanya.


"Sejak kau menunjukkan video cctv Richi melawan sekolah Apollo. Ayah sangat menyukai gadis ini, siapa sangka ternyata dia anak Marry Darrelle." Ucapnya sambil tertawa ringan.


"Kenapa tidak bilang padaku?" Tanyanya menatap Richi.


"Aah.."


"Kenapa harus bilang padamu? Memangnya kau suaminya??" Protes David.


"Ya, sebentar lagi aku akan menjadi suaminya." Tegas Hugo pada Ayahnya yang langsung menganga.


"Apa-apaan ucapanmu itu. Aku tidak setuju!"


Hugo malah melongo, bisa-bisanya ayahnya malah tidak setuju.


"Kenapa??"


"Dia berhak mendapatkan yang lebih baik. Ayah tahu dirimu, punya banyak kekasih, tidak pintar pula. Richi harus mendapatkan lelaki hebat! Bisa-bisanya orang sepertimu berani melamar Richi."


"Apa?" Hugo mendengus kesal dibilang seperti itu. "Terserahlah." Ucapnya lalu naik ke lantai dua.


"Hah, dia memang seperti itu, melawan dan membangkang." Celoteh David dan Richi tersenyum saja.


Hugo melempar tasnya dengan asal. Ucapan David di depan Richi membuatnya merasa malu.


Sementara Richi mendengarkan celotehan David mengenai Hugo yang tidak hebat. Justru ia membandingkan anak kandungnya dengan Harry yang sudah berinvestasi dan punya banyak usaha sendiri di usia yang sama dengan Hugo.


"Tapi menurut saya, Hugo lelaki yang hebat, tuan. Dia punya rasa hormat dan sopan santun yang tinggi. Keberanian Hugo juga saya acungi jempol." Puji Richi sambil memandang pintu di lantai dua, tempat Hugo masuk tadi.


"Setiap orang memiliki porsinya masing-masing. Terkadang hebat saja tidak cukup untuk membuat perempuan tertarik. Juga perlu perasaan yang tulus seperti Hugo, akan menjadi kesenangan sendiri untuk pasangannya nanti." Jawab Richi sopan dengan senyuman. "Boleh saya menyusul Hugo?"


David mengangguk lambat walau otaknya belum benar-benar mencerna apa yang Richi sampaikan.


Richi memperhatikan sekeliling kamar Hugo. Tembok Hugo berwarna navy dan abu. Temboknya bersih dari poster-poster, bola basket yang ada tanda tangan besar terpampang di atas rak hias, sepertinya dari pebasket kesukaannya. Lalu ada beberapa foto Hugo bersama 3 sahabatnya dengan medali. Sepertinya menang basket. Lalu foto Hugo dengan samsaknya.


Richi terhenti, matanya membelalak. Itu foto-foto mereka. Hugo dapat dari mana?


Saat berdansa, saat Hugo mengikat tali sepatunya. Oh, foto itu diambil oleh anonim saat pertama gosip tersebar. Richi tersenyum mengingat masa-masa itu.


Foto Richi saat duduk di lapangan sendiri, Hugo sepertinya mengambilnya diam-diam. Banyak sekali, foto yang ia tidak sadari berada disana. Lalu, Richi mengambil sesuatu. Jepit rambutnya. Hugo menyimpan itu.


Pintu kamar mandi terbuka dan Hugo terkejut mendapati Richi berdiri memegang jepit rambutnya.


"Hugo, kau mencuri ini.." ucapnya tanpa menoleh pada Hugo.


"Hm.. aku mencuri dan menyimpannya karena sangat menyukaimu."


Richi menoleh, Hugo menutup bagian dadanya dengan kedua tangan karena kini dia hanya memakai bokser kecilnya namun Richi tampak tak peduli.


"Hei, aku tengah telanjang! Kau tidak menutup matamu??"


"Mataku sudah ternodai oleh Ricky setiap hari yang seperti itu. Aku sudah terbiasa." Jawabnya lagi sambil mengamati foto-fotonya yang sangat banyak.


"Hugo, kapan kau mengambil foto-fotoku?"


Hugo membuka lemarinya. "Setiap ada kesempatan." Ucapnya lalu memakai kaos hitam dan celana jeansnya.


"Padahal mencuri foto seperti ini bisa di penjara, tapi karena kau, ya sudah tidak masalah." Sahut Richi lalu matanya menangkap satu kaos putih penuh stiker tetapi di belakangnya ada stiker besar berbentuk setengah hati dan inisial H.E di belakangnya.


"Kau menempelkan ini juga kan, di kaos ku saat Oberon's day?"


Hugo mengangguk. Sebenarnya aku ingin menembakmu. Tapi tidak jadi." Tukasnya tiba-tiba.


Richi tersenyum menatap Hugo yang berkaca sambil menyisir rambutnya.


"Chi.." Hugo mendekat, berdiri di depannya lalu meraih tangan Richi.

__ADS_1


"Apa menurutmu aku.." Hugo menggantungkan kalimatnya. Pernyataan sang Ayah membuatnya berpikir sejak tadi, apa benar dia tidak pantas bersama gadis ini. Sebab memang jika dipikir-pikir, Richi banyak sekali membantunya melawan musuh dan gadis ini pula seperti tidak butuh bantuan. Dia bisa melewati semuanya sendiri. Lihatlah saat ia disekap Gary. Dia bahkan bisa menghabisi semua orang disana dalam sekali tikaman.


"Ada apa, Hugo?"


"Tidak. Ayo." Ucapnya sambil menyelempangkan tasnya.


Richi menahan tangan Hugo yang sudah menuruni anak tangga pertama.


Hugo menoleh ke belakangnya, melihat Richi yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu padanya.


"Hugo, coba dengarkan aku sebentar."


Hugo membalikkan tubuhnya menghadap kekasihnya itu.


"Kau harus punya percaya diri yang tinggi. Karena aku menyukai laki-laki dengan karakter itu. Satu lagi, kau terlihat sangat tampan di mataku saat kau menjadi berani seperti tadi." Ucapnya sambil tersenyum.


Hugo tahu Richi tengah menghiburnya karena ucapan ayahnya tadi dan kalimat itu berhasil memperbaiki mood-nya.


Hugo tersenyum dan mengeratkan genggamannya. "Ayo." Dia menuruni tangga bersama Richi.


"Richi, apa sudah mau pergi?" Tanya David yang masih menunggu di depan.


"Iya. Kami permisi, tuan David." Richi masuk duluan ke dalam mobil sedangkan Hugo masih berdiri disana bersama Ayahnya.


"Beruntung sekali dia menyukaimu sampai seperti itu." Tukas David.


"Maksudnya?"


"Dia membelamu. Mengatakan bahwa semua yang ada pada dirimu, dia menyukainya. Kau harus menjaga perasannya padamu. Kau kira mendapatkan gadis sepertinya mudah?"


Hugo tersenyum miring. "Aku tidak sama dengan ayah yang dilepas karena kalah dari tuan Wiley Thomas." Tukas Hugo yang menyentil hubungan ayahnya dengan Ibu Richi.


Dia masuk ke dalam mobil dan berlalu meninggalkan ayahnya yang masih berdiri menatapi mereka.


...💥...


"Maaf menunggu lama, tuan besar." Ucap Harry yang baru saja datang. Di dalam sudah ada beberapa orang termasuk Saver dan Tuan besar dengan topengnya.


"Bagaimana hasil dari penyelidikanmu?" Tanya tuan Besar.


"Gedung-gedung yang di bom, termasuk salah satu markas besar Stripe yang ikut diledakkan itu, adalah ulah Keen. Ketua Stripe." Ujar Harry.


"Satu lagi, mereka bersama Lexus. Sepertinya ada pengkhianat disini." Harry melirik Saver.


"Maaf memotong, tuan. Saya dan adik saya memang sedang bersitegang tetapi dia tidak berkhianat." Sanggah Saver.


"Dia yang memberitahu letak markas Stripe, bagaimana bisa kau mengatakan tidak?" Tanya Harry.


Saver tidak menjawab, dia hanya tertunduk lesu.


"Tuan, anda harus menyusun rencana." Ucap Harry kemudian.


Tuan besar itu tampak berang. "Jika memang benar itu ulahnya, maka aku harus membunuhnya dengan cepat!"


"Benar, saya akan mendukung keputusan anda, tuan. Kalau begitu, saya akan segera mencari cara untuk membuat Keen keluar dari kandangnya."


"Bukankah kau sudah membawa Darrel?" Tanya tuan besar tiba-tiba.


"Ah, itu. Dia berhasil lolos."


"Sayang sekali. Padahal dengan menyekapnya, kita bisa menangkap kakanya." Tukas tuan besar. "Tangkap saja adiknya, maka kakaknya akan mengejar."


Harry mengerutkan alisnya. "Kakak Darrel?"


"Kau bodoh? Darrel dan Keen adalah kakak beradik. Kau pernah menangkap Darrel, kan? Artinya dia tidak hebat. Maka tangkap dia lagi dan pancing kakaknya! Aku tidak sabar ingin membunuh keduanya."


Harry membelalakkan mata. Keen dan Darrel, kakak beradik?? Tanyanya dalam hati yang masih tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Harry mengepalkan tangannya. Entah mengapa dia merasa sangat menyesal telah melepaskan Richi. Dia sangat membenci Keen sampai ke ulu hatinya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2