
Erine berdiri di pinggir jalan. Dia menunggu Eline menjemputnya. Entah kenapa kembarannya itu tiba-tiba saja menyuruhnya menunggu di tempat itu. Tapi dia menurut saja tanpa banyak bertanya.
Erine menunduk, memperhatikan sepasang sepatu yang ia pakai. Padahal kemarin ia baru membeli sepatu model baru yang disarankan Eline. Tapi dia belum ada kemauan untuk memakai sepatu berhak 5cm itu. Malah hari ini, lagi dan lagi, ia memakai sepatu kets kesayangannya.
Erine mengarahkan pandangan ke jalan, mencari kembarannya yang tak juga muncul. Lalu matanya menangkap sebuah mobil tak jauh darinya, yang sepertinya ia tahu siapa pemiliknya.
Erine menyipitkan mata. Walau kaca itu gelap, tapi ia masih bisa melihat apa yang dilakukan orang itu di dalamnya.
Setelah memperhatikannya ternyata benar, itu Hugo. Tapi, dia bersama siapa. Kenapa sepertinya tengah bertekak.
Kini Erine memfokuskan matanya kesebelah kanan Hugo. Itu perempuan dengan rambut yang digulung keatas.
Ya, itu Richi dan mereka bertengkar?
Erine mengalihkan pandangan. Rasanya dia tidak pantas menelisik ke dalam mobil orang saat di dalamnya tengah bertengkar begitu.
Tapi, dia penasaran. Matanya kembali mengarah kedalam mobil, namun Erine mematung saat melihat Hugo menarik paksa Richi kemudian mencium bibirnya.
Richi mendorong tubuh Hugo dengan kesal, tapi lagi-lagi Hugo menarik tengkuk Richi kemudian dengan paksa ia mencium lagi bibir gadis itu, sampai Richi yang keras pun menyerah dan membiarkan Hugo terus mencium bibirnya.
Buru-buru Erine membuang pandangannya ke arah lain. Dia merasa risih dengan pemandangan itu. Dia merasa, itu tidak perlu dilihat. Tapi kenapa, rasa ingin tahunya membesar.
Lagi, Erine mengangkat kepalanya dan menoleh kesamping, tempat dimana Hugo dan Richi berada dan kini, Hugo tengah mengelus pipi Richi. Sepertinya dia mengatakan sesuatu pada gadis itu, kemudian Hugo mengecup lagi bibirnya.
Erine lagi-lagi membuang wajah. Itu adalah sesuatu yang memang tak seharusnya ia lihat.
Erine menunduk saat mobil Hugo melaju di depannya. Dia mengepalkan tangan, saat akhirnya menyadari sesuatu. Tubuhnya memanas. Perasaan itu, dia membencinya.
"Hai, ayo naik." Eline datang dengan mobil, membuka jendela sambil menyuruh kembarannya naik.
Tanpa banyak pertanyaan, Erine naik ke mobil. Sampai sekarang, Erine tidak paham kenapa Eline masih saja berusaha membuatnya dekat dengan Hugo.
"Kau lama menunggu?" Tanya Eline sembari menatap ke depan jalan.
Pertanyaannya tidak dijawab Erine. Gadis itu terlihat kesal.
"Apa kau.. bertemu seseorang?"
"Diamlah. Aku sedang tak ingin mengobrol." Ketus Erine kemudian memasang earphone di telinganya.
...🦋...
Mobil Hugo berhenti lagi di jajaran toko yang tak begitu banyak pengunjungnya.
"Beib, aku bisa minta waktumu sebentar?"
Richi mengangkat alisnya, bertanya soal apa.
"Beri aku sepuluh menit, aku ada meeting dadakan untuk brand minggu depan." Hugo membuka seatbelt-nya.
__ADS_1
"Oke."
Hugo keluar dari mobil dan masuk ke salah satu deretan toko. Richi pula melihat ada toko buku, rasanya waktu akan berlalu cepat jika ia ada di toko buku.
Richi berjalan santai, lalu ia ditabrak seorang anak kecil yang lari dari arah berlawanan. Anak itu terjatuh, memegangi sikunya yang terluka.
"Maaf, kakak tidak lihat." Richi mengulurkan tangan, tapi anak itu segera bangkit dan bersiap lari.
"Lepas!" Pekik anak itu saat Richi menahan tangannya.
"Lepas, kumohon." Bocah laki-laki itu ingin menangis. Tapi Richi tak juga ingin melepaskannya. Yang kemarin saja sudah membuatnya terpikir terus-terusan, dia takkan melepaskannya lagi.
Richi menatap wajah anak itu. Ternyata ia berbeda dengan yang kemarin, bocah ini lebih besar. Tapi, ada lebam dibagian ekor matanya.
"Kau kenapa?" Tanya Richi.
"Aku akan dibunuh. Kakak kenapa menahanku. Huhu.." Bocah itu menangis.
"Aku akan melindungimu."
"Mana bisa perempuan melindungiku. Huhuuu matilah akuu." Rengek anak itu lagi.
Saat bersamaan, dua orang laki-laki berpakaian sama seperti waktu itu, datang dan berhenti tepat di dekat Richi.
"Tolong lepaskan. Dia anak kami." Ucap salah satu laki-laki itu. Mereka memakai masker dan jeket hitam.
Anak itu menatap Richi dengan mata yang basah. Sorotnya meminta bantuan, Richi paham itu.
"Aku masih ada perlu dengan anak ini."
"Tidak bisa, nona." Lelaki bermasker itu mencengkram lengan si bocah dengan kuat. "Cepat, ikut!" Ucapnya menatap si bocah.
Richi menggenggam kuat tangan lelaki yang berani mengancam bocah kecil dengan cengkraman keras.
Lelaki itu membulatkan mata saat merasakan kekuatan tangan Richi yang menggenggamnya, dia melepaskan lengan si bocah.
Dengan cepat Richi menarik bocah itu ke belakang tubuhnya.
"Hei, jangan ikut campur! Lebih baik serahkan anak itu daripada kau kubunuh. Aku tidak pandang bulu perempuan atau laki-laki akan kuhajar jika menghalangiku!"
Richi menyipitkan mata. Dia benar-benar penasaran siapa dua laki-laki ini, dari kelompok apa mereka berada.
"Aku tidak takut." Ucap Richi.
Lelaki itu geram, dia mengarahkan satu kepalan tangan ke wajah Richi, tapi gadis itu dengan cepat menangkapnya.
"Teknikmu buruk."
"Aaaakkk!!" Lelaki itu memekik saat Richi memutar lengan dan menendang rusuknya.
__ADS_1
"Sialan!" Yang satu lagi beraksi. Tapi dengan mudah Richi menghabisinya, sampai keduanya memilih pergi apalagi orang-orang mulai memperhatikan mereka.
"Waah. Kakak hebat." Anak laki-laki itu bertepuk tangan senang, Richi mengacak rambutnya dan mengajak anak itu duduk sambil makan eskrim di bangku tepi trotoar.
"Siapa namamu?" Tanya Richi.
"Willy, kak." Anak itu menggoyangkan kakinya yang menggantung di bangku, sambil memakan eskrim dengan nikmat.
"Yang tadi itu siapa?"
"Mereka penjahat, kak. Aku berusaha kabur dari mereka. Untung aku bertemu kakak. Tanganku pasti sudah dipotong."
"Apa?"
"Kami anak-anak yang diculik. Sebenarnya aku sudah lama disini, mau pulang juga tidak ingat rumahku dimana."
Richi terkejut mendengar pengakuan anak itu. Jadi, anak yang kemarin ia temui juga berusaha kabur?
"Lalu, kenapa kalian tidak minta bantuan orang-orang disini?"
"Tidak ada yang peduli, kak. Mereka juga takut pada Blackhole."
Richi mengeraskan rahangnya. Tidak ada yang peduli, katanya. "Jadi, mereka tadi Blackhole? Aku tidak pernah dengar." Gumamnya.
"Sudah berapa lama kau diculik?"
"Setahun."
"Tapi kau tampak tenang untuk ukuran anak yang diculik."
"Iya, setelah kupikir-pikir, aku tidak tahu mau kemana. Ujung-ujungnya mereka akan menemukanku lagi."
"Kalian berapa banyak disana? Apa disuruh melakukan sesuatu?" Tanya Richi benar-benar penasaran.
"Mungkin ada 40 anak. Kami disuruh mengemis disuatu tempat. Kami akan disiksa jika tidak mendapatkan uang."
"Kalian kenapa tidak lapor polisi??"
"Lapor polisi? Kakak bercanda? Mereka bekerja sama."
"Apaa??!!" Richi semakin geram mendengar pernyataan ini. Bagaimana bisa selama ini dia tidak tahu soal Blackhole yang memberdayakan anak-anak??
"Oh, ya. Nama kakak siapa? Aku akan mengingat kebaikan kakak hari ini."
"Panggil saja Darrel." Richi mengacak rambut anak itu. Dia sengaja memakai nama Valiant, siapa tahu ada yang mengenalnya.
"Hah? Nama kakak mirip sekali dengan nama bos kami. Darrel, tapi dia laki-laki."
"Apa.." mendengar itu, sontak membuat darah Richi mendidih. Jadi, ini yang dimaksud namanya menjadi jelek? Apa karena ini? Richi mengepalkan tangannya. Entah kenapa, dia jadi ingin sekali menghancurkan kelompok ini.
__ADS_1