Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Menjebak Erine


__ADS_3

Richi berjalan sambil meregangkan lehernya. Untunglah Ricky datang dengan cepat. Dia langsung membawa Benny dan satu lagi temannya. Sedangkan Richi dan yang lain memindahkan sebagian anak-anak ke panti asuhan dan sebagian lagi diantar pulang.


Eline dan Virgo, dibawa oleh Jonathan dan Simon menuju markas untuk dimintai penjelasan. Tentu saja, Jo sudah menelepon Eddy karena Eline melarang mereka menelepon Erine.


Richi kini berdiri di depan kamar 373. Kata resepsionis, Hugo baru masuk sepuluh menit yang lalu sementara belum ada perempuan yang meminta kunci selain dirinya. Itu artinya, Erine belum datang.


Richi membuka pintu. Pandangannya mengedar mencari sosok Hugo namun tidak ketemu. Dia melihat kotak dan kaleng minuman yang sudah habis isinya.


Samar-samar Richi mendengar suara air. Dia menuju kamar mandi. Ya, Hugo sepertinya ada di dalam.


Baru Richi mau berbalik, Hugo membuka pintu kamar mandi.


Rasa lemas dan lesu Richi hilang seketika, saat melihat Hugo yang begitu segar dan harum berdiri dihadapannya dengan bertelanjang dada. Apalagi, tentu saja perut lelaki itu yang selalu menjadi kesukaannya.


'Uh.' Richi sampai menahan napas. Sayangnya dia ingat kalau ia ingin memberi Hugo pelajaran karena sudah berani berciuman dengan Erine. Yah, walaupun Richi menyadari kalau itu pasti jebakan. Tapi, mengerjai Hugo, tidak masalah, kan.


"Bagaimana rasanya berciuman dengan perempuan itu?"


"Sayang. Biar aku jelaskan."


Richi berbalik badan. Dia berjalan mengabaikan Hugo.


"Chi, sumpah, aku dikerjai. Lawan mainku, Laura, dia dikunci di dalam gudang sampai pingsan." Jelas Hugo sembari mengikuti Richi.


"Tapi kau menikmatinya, kan!"


"Astaga. Sumpah, aku mendorongnya sampai terjatuh. Tapi tirai sudah tertutup saat itu."


Richi berdiri di sisi ranjang dengan tangan bersedekap. "Kau tahu, kau memberikan kejutan yang sangat baik dalam tahun ini."


"Chi.." Hugo meraih tangan Richi namun gadis itu menepisnya.


"Sayang, aku harus bagaimana supaya kau percaya? Aku akan lakukan apapun. Apapun." Hugo menekan kata terakhir. Pasalnya, ia tidak tahu harus bagaimana supaya Richi percaya.


"Aku.." Richi menghentikan kalimatnya saat terdengar suara kunci yang terbuka dari pintu. Richi dengan segera menarik Hugo dan menjatuhkan diri keatas kasur.


Dia menekan kepala Hugo supaya merapat ke wajahnya.


Suara langkah masuk terdengar, Richi semakin menahan napasnya.


"Ada apa?" Bisik Hugo padanya.


"Erine, dia datang."


"Apa? Kenapa dia kemari? Apa yang dia lakukan?"


Richi hanya meletakkan telunjuknya ke bibir, menyuruh Hugo untuk diam.


Hugo paham apa yang dilakukan kekasihnya. Dia langsung mengambil kesempatan emas. Hugo benar-benar mencium bibir Richi. Membuat mata gadis itu membulat sempurna namun Richi tak bisa melakukan apa-apa selain pasrah.


Ciuman Hugo sedikit kasar. Dia menggigit kecil bibir Richi supaya gadis itu membuka mulutnya. Dia berhasil mengobrak-abrik pertahanan yang sengaja Richi bangun karena tak ingin disentuh lelaki itu.


Ciuman Hugo turun ke dagu hingga leher. Ciuman yang sangat menggairahkan, dan itu dilihat oleh Erine.


Senyuman yang sejak tadi ia ukir sepanjang jalan karena membayangkan akan tidur bersama Hugo pun sirna saat ia menyaksikan langsung bagaimana panasnya ciuman kedua orang itu.


Sebenarnya apa yang disajikan Eline untuknya? Kembarannya itu tadi menyuruhnya datang ke hotel ini dan katanya, Hugo akan tertidur disana. Ya, mungkin memang tidur tapi dia bersama pacarnya. Apa Eline tahu itu?


Tangan Erine mengepal erat. Dia keluar dan membanting pintu dengan keras. Sakit hati, jelas. Cemburu? Ya, dia sangat cemburu pada Richi yang bisa memiliki Hugo. Padahal dia sudah membayangkan hal indah yang akan ia lakukan sepanjang malam hingga Richi bisa melihat itu dan hubungan kedua orang itu berakhir. Tapi semua tak seperti rencana yang Eline katakan. Sialan, Eline. Nomornya pun tidak aktif dan Erine memilih pergi dengan hati yang panas.

__ADS_1


Richi menyingkirkan tubuh Hugo darinya. Dia mendorong keras hingga tubuh lelaki itu tergeletak disebelahnya.


Richi bangkit dengan wajah dongkol. "Kau.." dia menunjuk Hugo.


"Apa? Aku kan, hanya melancarkan rencanamu." Ucapnya tanpa merasa bersalah.


Richi mengelap bibirnya dengan cepat. Dia terlihat jijik. Tentu itu menjadi perhatian Hugo.


"Kau mengelapnya seperti itu?"


"Ya. Aku tidak suka. Bibirmu bekas Erine." Ucap Richi kemudian masuk ke kamar mandi.


Hugo melongo. Tentu dia tidak terima jika Richi menolaknya.


"Chii. Buka pintunya!" Hugo menggedor pintu kamar mandi.


"Mau apa kau? Aku sudah buka baju!" Jawab Richi dari dalam.


"Aku akan cuci bibirku supaya bisa berciuman lagi denganmu!" Teriak Hugo namun jawaban dari dalam hanyalah suara shower yang deras. Richi mengabaikannya.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Richi keluar dengan jubah mandi. Tampaknya dia lupa membeli baju, dia terlalu buru-buru masuk kamar mandi sampai tak ingat kalau dia tak membawa baju ganti.


Hugo masih berdiri di depan pintu, menatap kekasihnya dengan wajah memelas.


"Jadi.. kau tidak mau berciuman lagi denganku?"


Richi menggelengkan kepalanya.


"Aku akan mencuci bersih bibirku sampai berubah warna."


"Itu tidak berpengaruh karena dia sudah menempelkan bibirnya disitu dan aku benci itu." Jawab Richi menunjuk wajah Hugo.


"Sampai aku lupa kalau kau pernah berciuman dengannya."


"Kapan itu?" Tanya Hugo dengan bergongak.


"Entahlah. Kurasa sampai matipun aku tidak bisa melupakan itu."


Hugo menunduk. "Masa begitu. Padahal aku juga dijebak." Lirihnya, namun Richi masih bisa mendengar itu.


Richi juga merasa kasihan. Tapi tak bisa dipungkiri kalau Hugo memang terjebak.


"Kalau saja dia laki-laki, pasti sudah kuhabisi." Geram Hugo.


"Ya sudahlah. Lagi pula, kau juga dijebak makanya bisa sampai disini."


"Dijebak sampai sini?" Hugo berdiri. Apa maksud Richi?


"Hm. Sebenarnya bukan aku yang mengundang Erine kesini. Tapi dia yang mengundangmu untuk tidur bersamanya."


"A-apa? Jadi pesan yang kudapat di mobil itu bukan darimu?"


Richi menggelengkan kepalanya. "Bukan."


"Ja-jadi.. kenapa kau..."


"Karena aku pintar. Aku kesini karena sore tadi tiba-tiba saja aku ingin menghajar seseorang. Jadi aku masuk ke markas Blackhole dan menemukan Eline disana. Katanya, kau tidur dengan Erine disini. Ternyata kalian sama-sama belum datang." Jelas Richi pada Hugo yang membeku.


"Aku menukar minuman yang sudah diberi obat tidur. Aku juga menulis catatan baru untukmu. Karena aku tahu, kau bodoh dan mudah ditipu."

__ADS_1


Hugo terkena serangan tajam dari kalimat Richi. Bodoh dan mudah ditipu, sebenarnya tidak. Dia hanya ketakutan jika menyangkut soal Richi yang melihatnya saat pentas seni dan langsung percaya saja ketika menemukan memo itu di kaca jendela mobil. Tapi dia tidak bisa menyanggah ucapan gadis itu.


"Kalau tidak, kau pasti sudah tidur dengan gadis itu." Suara Richi terdengar kesal dan matanya menyiratkan kebencian.


Hugo langsung memeluk Richi dengan erat. "Terima kasih, sayang." Tuturnya dengan rasa penyesalan. Dia merasa beruntung, apalagi Richi ternyata percaya padanya.


"Sudahlah. Aku mau beli baju. Aku lupa bawa. Aku juga kelaparan sejak tadi belum makaaaan." Keluh gadis itu


Hugo tertawa kecil lalu mengecup puncak kepala Richi.


"Sebentar." Hugo memakai kemejanya, lalu menelepon seseorang sambil menghadap Richi, meminta gadis itu mengancingkannya.


"Bawakan aku dress yang cantik. Juga piyama tidur. Dan aneka makanan eropa ke Kamar 373, secepatnya." Hugo mengedipkan mata pada Richi yang menatapnya sembari mengancingkan kemejanya.


Dalam 15 menit, dua orang perempuan datang dan yang satu mendorong stand hanger yang penuh dengan baju-baju bagus.


Tak lama pula, seorang pelayan masuk dengan mendorong meja troli berisikan makanan.


"Susun disana." Kata Hugo menunjuk meja dengan sepasang kursi di sudut ruang selagi Richi memilih baju-baju yang dia suka.


Selesai, Richi dan Hugo pun makan bersama.


"Baju-baju tadi mahal-mahal semua. Kalau tidak terpaksa, aku tidak akan membelinya."


"Aku yang bayar, kenapa kau ribut sekali." Ujar Hugo santai sambil mengunyah.


"Begitu ya, sekarang kau berubah lebih royal."


"Sejak aku mencintaimu, aku sudah royal padamu."


"Dulu kau perhitungan."


"Apa?" Hugo tak terima dibilang perhitungan. "Kau selalu membahas ini. Dulu kan, aku cuma penasaran kenapa makanan pilihanmu semuanya mahal. Sekarang aku sudah terbiasa. Kalau ada yang kau suka dan lebih mahal pun tidak masalah bagiku." Jawabnya dengan tersenyum puas.


"Yaa. Akan kupikirkan apa benda mahal yang kubutuhkan."


"Memang harusnya begitu, kau harus tahu apa yang kau butuhkan untuk menghabiskan uangku." Hugo lalu mengeluarkan ponsel Richi yang ia simpan.


"Aku sudah menghapusnya."


Richi hanya menatap ponselnya yang diletakkan Hugo diatas meja.


"Kau hapus pun itu masih terekam di otakku."


Lagi, Hugo menghela napas. Ya, dia tak bisa berkata-kata sebab ia memang terlalu lengah dan tak mencurigai siapapun hingga akhirnya ia dibodohi.


Ponsel Richi bergetar. Dari cover screennya, nama Clair muncul. Dengan segera Richi mengangkatnya. Siapa tahu penting.


"Iya, Clair."


Richi diam mendengarkan apa yang Clair katakan dari seberang. Lalu dia melirik jam di dinding. Sudah pukul 10 malam.


"Tidak, jangan besok. Aku mau sekarang. Aku akan menghajarnya jika memang benda itu ada di rumahnya." Richi menutup ponsel sambil menatap Hugo dengan smirknya.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu?" Tanya Hugo heran.


"Karena malam ini aku akan menghabisi Erine." Jawab Richi kemudian berdiri. "Mau ikut?"


"Dengan senang hati, sayang." Sahutnya ikut bergerak dan keluar dari kamar sambil bergandengan tangan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2