
"Hugo, kenapa berdiri disini?"
Suara Shera mengagetkannya. Hugo berbalik dan mendapati Shera berdiri dibelakangnya.
"Oh, kebetulan. Bisa kau suruh mereka membukakan pintu? Aku ingin memberi ini pada Richi." Hugo mengangkat bucket bunga di tangannya.
"Berikan padaku, biar aku yang menyerahkannya." Shera mengulurkan tangan, namun Hugo tidak mau menyerahkannya.
"Oh, tidak. Aku ingin mengantarnya sendiri."
"Wah, kau mau melihat calon istrimu sebelum acara janji pernikahan? Itu melanggar aturan." Tukas Shera memberi peringatan.
"Ah.. begitu, ya." Hugo sebenarnya tahu. Tapi dia sangat ingin melihat Richi. Dia tak sabar melihat gadis cantik itu memakai gaun pengantin. Sudah pasti sangat indah.
"Kalau kau mau, berikan saja langsung saat dia menemuimu nanti." Ujar Shera yang lalu mengetuk pintu, tak lama dibukakan oleh Bella. Dia mengintip sedikit untuk memastikan siapa yang datang.
"Shera, cepat masuk." Bella langsung menarik tangan Shera dan menjulurkan lidah, mengejek kearah Hugo sebelum dengan cepat ia menutup pintu. Lelaki itu menghela napas. Rasanya kesal juga karena tidak bisa melihat kekasihnya itu.
...~...
"Putriku cantik sekali." Wiley mengelus lembut pipi anaknya sebelum ia menutupkan veil dari atas kepala Richi.
"Terima kasih, Ayah." Ucapnya sembari menatap wajah Ayah yang telah membesarkannya dengan tangguh.
"Kau bahagia, Nak?"
"Thomas.." Tegur Marry.
"Aku hanya memastikan saja, sayang." Tukasnya, walau ia bisa dengan jelas melihat kebahagiaan Richi.
"Ichi bahagia, Ayah."
"Baguslah. Ayah senang mendengarnya." Ucap sang Ayah kemudian ia menurunkan kain tipis putih itu menutupi wajah Richi.
Pria paruh baya itu berdiri bersandingan dengan putrinya, hendak mengantarkan Richi kepada calon suaminya.
"Hei." Sapa Ricky mendekat. "Katakan padaku kalau kau ingin membatalkan pernikahan ini. Aku akan membantumu kabur dari Hugo sialan itu."
Marry yang mendengar itu hanya menggelengkan kepala. Pusing melihat keanehan Thomas Wiley dan Ricky Wiley. Seperti tak siap dengan pernikahan satu-satunya gadis kecil yang akan membangun rumah tangga.
__ADS_1
"Kaak, ayolah."
"Aku cuma bercanda." Jawabnya sembari mengangkat tangan, tanda menyerah karena adiknya tidak pernah berhasil dipengaruhi.
"Siap, sayang?"
Richi mengangguk pada sang ayah yang sudah ia gamit lengannya. Tirai terbuka, alunan musik merdu membuat suasana begitu syahdu. Perlahan langkah demi langkah mendekatkan Richi kepada Hugo yang telah menunggu dengan memegang bucket bunga Richi yang hilang.
"Ayah sangat menyayangi putri ayah. Lebih dari apapun." Ucap Wiley dengan berbisik. Air matanya menggenang mengingat hari ini ia menghantarkan putri kecilnya pada seorang laki-laki yang sudah ia percayai.
"Ayah membesarkanmu bukan hanya dengan cinta, namun juga kekuatan, supaya kau tumbuh menjadi perempuan yang tangguh dan juga penuh cinta."
Langkah mereka terhenti, tepat di dekat Hugo yang sejak tadi telah menunggu.
"Dan hari ini, kau akan memulai hidupmu dengan cintamu, sayang." Wiley menggenggam kedua tangan putrinya. "Hiduplah dengan baik, Nak. Ayah tidak menginginkan apapun darimu kecuali kebahagiaanmu, putri ayah yang paling cantik."
Richi sampai tidak bisa berkata-kata. Air matanya menggenang, begitu juga Wiley. Dengan segera ia memeluk Richi, putri kesayangannya.
"Sekarang, aku menyerahkan anak perempuanku padamu, Hugo. Jaga dan bahagiakan dia seperti kami memperlakukannya. Aku percaya padamu." Ucap Wiley pada Hugo yang hanya diam menyaksikan cinta seorang ayah pada putrinya yang begitu luar biasa.
Hugo mengulurkan tangan, menjemput Richi dari ayahnya. Perlahan tangan gadis itu melepas tangan sang ayah, hingga pria yang tengah menahan sedih dan bahagianya itu berjalan menjauh dari anaknya yang akan melangsungkan janji pernikahan.
"Benar. Kali ini ketegasan dan kesangaran itu hilang begitu saja. Hanya cinta seorang ayah yang terlihat sekarang." Balas Olivia ikut terharu menyaksikan apa yang baru mereka lihat.
Clair menatap kedua sahabatnya bergantian. "Memangnya Jenderal bilang apa pada Darrel?" Tanyanya bingung.
"Entahlah, aku juga tidak dengar. Tapi itu pasti kata-kata cinta untuk putrinya." Balas Olivia pula, membuat Clair merasa aneh karena kedua sahabatnya itu menangis hanya karena urusan sepele.
Sementara Bella menyikut kedua sahabatnya, lalu menyuruh mereka melihat juga kearah tatapannya berada.
Sontak ketiganya terperangah melihat Ricky yang berdiri tak jauh dari mereka tengah mengusap air matanya yang belum sempat terjatuh di pipi.
"Kau serius melihat ini, hah?" Bisik Clair tegang. Seorang Komander yang bengis, sadis, dan sangar itu menangis? Benarkah pemandangan ini?
"Jangan lihat, jangan lihat. Matamu bisa dicolok." Tukas Bella cepat-cepat beralih pandang, tak ingin mencari masalah lagi.
Sementara di depan, Hugo menggenggam tangan kekasihnya yang masih merasa haru dengan ucapan ayahnya.
"Aku memang tidak sehebat ayahmu, tapi aku bisa melindungimu dengan seluruh hidupku." Ujar Hugo pada Richi yang kemudian mengangguk dengan senyuman. Gadis itu sangat yakin dengan ucapan Hugo.
__ADS_1
"Kau.. Cantik sekali dengan gaun ini. Bisa pakai setiap hari saja?"
"Hugo.."
"Baiklah, baik." Hugo tersenyum cerah, "Bisa kita mulai, calon istriku?"
Richi ikut tersenyum lebar menerima bucket bunga yang sejak tadi digenggaman Hugo.
Perlahan Hugo membuka veil yang menutup wajah Richi. Ia mengecup kening gadis itu. Sungguh, Tak pernah bosan Hugo mengagumi kecantikan kekasihnyan ini. Suatu anugrah yang harus ia syukuri sepanjang hidupnya karena akhirnya ia bisa menikahi gadis tomboi yang sulit ditaklukkan hatinya. Kemudian mereka bersama-sama mengikat janji cinta di depan pemimpin dan para tamu.
"Aku sangat mencintaimu." Ucap Hugo. Lelaki itu mendekat, lalu mengecup bibir Richi sebagai tanda bahwa mereka kini telah sah berstatus suami istri, diiringi tepuk tangan meriah dari semua tamu yang hadir.
Begitu khidmat acara ini berlangsung. Hingga Richi sampai berulang kali menatap Hugo meyakinkan bahwa lelaki yang kini berdiri disampingnya sekarang adalah suaminya.
"Kenapa melihatiku terus? Sambil senyam-senyum pula. Kau memikirkan apa, hm?" Tanya Hugo pada Richi sedikit berbisik.
"Tidak."
"Mengaku saja. Kau memikirkan soal malam nanti, kan?"
Alis Richi terangkat. "Ada apa malam nanti?" Tanyanya penasaran.
Hugo mendekatkan wajahnya, berbisik pada Richi. "Aku akan menghabisimu semalaman."
Mata gadis itu membulat. Ternyata Hugo memikirkan bagian itu. Padahal Richi sama sekali tidak ingat.
"Oh, kita tidak bisa melakukannya." Bisik Hugo balik.
"Kenapa? Ricky melarangmu? Apa dia meminta kau tidur di kamarnya? Ah, aku sudah duga dia licik sekali." Gerutu Hugo berburuk sangka pada kakak ipar yang memang selalu bertengkar dengannya.
"Bukan begitu, Hugo. Tapi aku sedang menstruasi."
"Hah??" Mendadak badan Hugo terasa lemas. Work out pagi dan malam ia lakukan supaya tidak kalah diatas ranjang. Tapi ternyata kekasihnya itu sedang datang bulan.
"Sabar ya, sayang. Dua hari lagi, kok." Richi terkekeh sembari mengelus pipi Hugo yang sudah nampak tak bergairah. Runtuh semua khayalan dan bayangan yang sudah ia gambarkan untuk bisa malam pertama bersama istri tercinta.
Bersambung...
** Sering ketemu sama istri bos dimana bos sendiri lah yang selalu menyuruh sekertarisnya menemani si istri kemana pun ia pergi. Hingga menimbulkan perasaan bagi keduanya. Lho, selingkuh, kah? Gimana ceritanya? Ada di Something Between Us. Novel terbaru aku. Kuy baca😆 **
__ADS_1