Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Apologized


__ADS_3

Daren terbangun dan langsung bangkit saat matanya menangkap tempat yang ia tidak kenali.


Daren mengucek mata, lalu memperhatikan sekitarnya. Dia melihat foto-foto yang tertempel di lemari.


Dia sedikit lega ternyata berada di rumah Olivia. Daren mencoba mengingat kembali apa yang terjadi, sembari mendekat dan melihati foto-foto yang amat banyak tertempel disana.


Dia melihat fotonya dan Richi berdua. Juga bersama adiknya. Foto Olivia, Richi, Clair dan Bella. "Sejak kapan mereka bersama?" Gumamnya.


Mata Daren berhenti tepat di foto manis Olivia. Gadis itu tengah berambut panjang dengan bando imut di atasnya. Daren mengambil foto itu.


"Ternyata rambutnya pernah panjang juga." Dia lalu tersenyum. "Cantik." Ucapnya tak sadar memandang foto itu lama.


Daren terkesiap dan langsung menyembunyikan foto itu di kantongnya saat mendengar suara pintu terbuka.


"Sudah bangun rupanya. Cepat bersiap dan pulang!" Bentak Olivia padanya.


Daren berdecak. "Wah, kau sudah berani."


"Tentu. Gara-gara kau aku kerepotan, kepalaku berdenyut, aku tidur diluar, tidak diizinkan sekolah oleh Bunda karena harus mengurusmu. Memangnya kau siapa? Aku juga tidak bekerja dan digaji olehmu. Bundaku juga.. aaaaakkkk" Elisa menarik telinga Olivia yang sejak tadi merepeti Daren.


"Kau ini, berani-beraninya marah pada tuan muda!" Bentak Elisa.


"Aakk sakit Bun.." jeritnya lalu Elisa melepas jewarannya.


"Maaf, tuan Muda. Dia memang agak keras kepala. Tuan Muda, kami sudah menyiapkan makan siang."


"Bibi, tidak perlu seperti itu." Daren lalu melirik jam di tangannya, sudah pukul 12.


"Saya akan pulang."


"Sebaiknya tuan muda makan dulu. Di luar juga sedang hujan deras. Apa tuan muda tidak rindu dengan masakan Bibi?" Elisa tersenyum lalu keluar, sementara Olivia masih menatapnya tajam, mengingat Daren seperti dengan sengaja menciumnya, ingin sekali dia menghantam wajah tuan muda sialan itu.


"Aku ingat apa yang terjadi tadi malam." Ucap Daren.


"Baguslah kalau kau ingat." Olivia lalu menujuk kepalanya. "Masih berdenyut sampai sekarang, asal kau tahu saja."


"Itukan salahmu karena menciumku."


Olivia membelalakkan matanya. "APAA!!"


"Kenapa? Benarkan, yang aku bilang."


Amarah Olivia mencapai puncak, tangannya sudah mengepal sempurna. Ingin sekali dia menghajar Daren.


Dia lalu keluar dengan kesal, membanting pintu, memilih keluar saja dari pada urusannya panjang. Untunglah dia masih bisa menguasai emosinya.


Sementara Daren tersenyum jahil, lalu memegang bibirnya. Dia juga tidak sadar mengapa menarik baju Olivia sampai bibir mereka bertemu.


Daren menggelengkan kepala, mengusir pikiran yang mulai menjalar. Dia keluar menuju meja makan keluarga Olivia.


~

__ADS_1


Hugo berdiri di tiang pembatas. Memperhatikan kekasihnya yang tengah bersenang-senang di bawah guyuran hujan sambil bermain basket dengan teman-temannya.


Sesekali Richi melompat riang. Dia melepas sepatunya, dan amat girang dengan genangan air di atas lantai basket.


"Wajahmu bertekuk begitu, ada apa?" Tanya Bella yang ikut berdiri melihat ke lapangan basket.


"Cemburu karena Harry?"


Hugo tak menjawab, dia melihat terus ke arah Richi.


"Kau juga aneh, kenapa sampai membawa perempuan lain dan berdansa mesra begitu? Aku saja yang bukan Richi melihatmu dengan jijik. Apalagi Richi. Kau kan tahu, dia sedang dalam misinya." Jelas Bella yang seperti tahu permasalahan mereka.


Mendengar itu, Hugo mendesah kesal. Ya, dia menyadari kesalahannya yang ingin membuat Richi cemburu. Namun nampaknya malah memperdalam masalah.


"Lalu kau, bagaimana? Kenapa Harry bisa lepas?" Tanyanya tanpa beralih dari Richi.


"Aah. Namanya juga usaha, sesekali gagal juga tidak apa, kan." Tukasnya lalu melipat tangannya di dada.


"Lagipula, Harry itu sepertinya memang sangat-sangat menyukai Richi. Apapun yang kutawarkan, dia menolaknya. Matanya terus mencari Richi."


Rahang Hugo mengeras. Walau dia tahu, tetapi mendengarnya dari orang lain membuatnya semakin kesal.


Bella mengeluarkan payungnya. "Aku duluan." Ucapnya lalu berjalan pergi.


Hugo memperhatikan sesuatu di kaki Richi. Dia menyipitkan mata dan mendapati gelang pemberiannya yang berpindah di pergelangan kaki Richi.


Ternyata, dia tidak melepasnya. Dia hanya memindahkan tempatnya. Melihat itu, Hugo semakin merasa bersalah.


Hugo memilih masuk kedalam kelasnya yang sudah kosong.


~


Lelah bermain sampai hujan berhenti dan sepertinya semua siswa sudah pulang, Richi memilih naik ke kelasnya karena barang-barangnya masih tertinggal disana.


Richi masuk ke dalam kelas, badannya mulai menggigil.


Dia duduk di bangkunya dan meraih ponsel yang tadi jatuh ke bawah kolong meja.


Richi melihat kaki seseorang berdiri di dekatnya, dengan cepat dia bangkit dan mendapati Hugo berdiri dengan wajah sedihnya.


"Chi.."


Richi tertegun, sebenarnya dia telah luluh setelah mendengar cerita Harry, juga membaca pesan Hugo tadi. Tetapi, dikerjai sedikit tidak apa, kan? Batinnya.


Hugo berjongkok, menatap Richi yang tengah duduk di kursinya.


"Kau tidak bersungguh-sungguh untuk pisah denganku, kan?" Tanyanya dengan suara yang hampir tak terdengar. Matanya mulai berkaca-kaca, membuat Richi ingin sekali memeluknya.


Richi tak menyahut, dia mengarahkan pandangannya ke tempat lain.


Hugo memegang tangan Richi. "Maafkan aku, Chi. Aku tahu ucapanku keterlaluan. Aku juga salah, sudah membawa perempuan lain tadi malam. Aku terlalu cemburu pada Harry."

__ADS_1


Richi tak menyahut, karena dia pun tak tahu mau bilang apa.


"Chi, aku tidak pernah tenang setiap melihatmu bersama Harry, apalagi dia benar-benar menyukaimu. Aku takut kau meninggalkan aku karena memilih dia. Itu sebabnya aku tidak mau kau bersamanya."


Richi melihati wajah Hugo yang menunduk sedih, dia lalu berpikir, apakah ketakutan Hugo ini karena perlakuan Harry sejak kecil?


Hugo menatap jari-jari Richi yang ia genggam. "Bukankah kau berjanji untuk tidak meninggalkanku? Kau ingat, kan. Saat malam ulang tahunku, aku memintamu untuk tidak meninggalkanku dan kau setuju. Tapi kemarin kau mengucapkan kata pisah dan itu membuatku gundah." Hugo terus menatap Richi.


"Aku janji akan lebih sabar dan menunggu. Aku menyayangimu lebih dari apapun, aku sangat sayang padamu. Jadi, kumohon. Jangan putus. Aku akan melakukan apapun asal kau terus bersamaku."


Richi menatap mata yang berkaca itu. Hugo, setulus itukah dia? Ah, melihatnya jadi mengurungkan niat untuk menjahilinya.


Richi menghela napas, lalu menggenggam lagi tangan Hugo. "Baiklah. Aku memaafkanmu."


Jawaban Richi tak membuat wajah Hugo membaik.


"Apa kita masih pacaran? Kita tidak jadi putus, kan?"


Richi menahan tawa. Ingin sekali dia mengerjai lelaki ini, astaga..


"Aku pikir kau pacaran dengan perempuan yang kau peluk tadi malam.." Richi memulai kejahilannya.


Hugo langsung mengeratkan genggamannya.


"Sumpah, aku tidak ada hubungan apa-apa. Aku bahkan tidak punya nomornya." Hugo lalu mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di telapak tangan Richi.


"Ini, periksalah. Kau boleh menghapus pesan-pesan atau memblokir nomor perempuan-perempuan itu. Aku tidak peduli sama sekali pada mereka. Chi, Maafkan aku, aku salah karena ingin melihatmu cemburu."


Richi tak bisa menahan tawanya lagi. Dia tertawa melihat Hugo yang sekarang menatapnya dengan bingung.


"Kau berhasil, aku cemburu."


Hugo membulatkan matanya. "Kau cemburu? Tapi aku melihat wajahmu yang biasa saja. Katakan dengan benar, apa kau menyukaiku? Kau benar-benar punya perasaan padaku, kan?"


Senyum Richi mengembang, lucu sekali wajah Hugo sekarang. Sayang sekali orang-orang tidak melihatnya. Benar kata Harry, Hugo ini memang tidak sekeren kelihatannya. Dia akan melakukan apapun asal orang yang dia sayang tidak meninggalkannya.


Richi menangkupkan kedua tangannya di pipi Hugo. "Dengarlah baik-baik, Hugo. Aku sangat menyayangimu. Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Berulang kali juga aku katakan, Kau cinta pertamaku, juga pacar pertamaku. Jadi, bersikaplah seperti Hugo yang tangguh seperti biasa. Karena aku menyukai Hugo yang seperti itu." Tukasnya dan berhasil melegakan kekasihnya.


Senyum Hugo mengembang, mendengar kata-kata itu dari Richi sangat menyenangkan hatinya.


Hugo lalu menyentuh pergelangan kaki Richi. "Maaf, aku sudah menuduhmu yang tidak-tidak. Ternyata kau memakainya disini."


"Aku hanya tidak terbiasa memakai gelang. Kau tidak apa, kan?"


Hugo mengangguk dengan senyuman di bibirnya.


"Sekarang, aku mau ganti baju dulu, aku kedinginan." Richi bangkit dari duduknya.


Hugo ikut berdiri dan langsung memeluk Richi. Mendekapnya dengan erat, rasanya terlampau bahagia. Hampir saja dia kehilangan gadis ini, batinnya.


"Hugo, aku basah. Kau bisa ikut basah nanti." Richi melepaskan pelukannya lalu menuju loker, mengambil hoodi dan celana olahraganya. Dia pergi ke toilet, meninggalkan Hugo yang masih tersenyum-senyum melihat kekasihnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2