Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Penyelamatan (4)


__ADS_3

Suara tembakan masih terdengar. Bagian depan rumah sudah bersih dari Stripe dan pasukan 3 sang Ayah juga sudah menyisir tempat dari samping.


Luas rumah Henry Draw sekitar 3 hektar dan pasukannya juga sangat banyak. Hal itu tentu membuat semua pasukan Wiley harus menyiapkan banyak amunisi mengingat jalan mereka sangat panjang untuk menyisir rumah walau bagian belakang sudah disisipi kelompok Valiant.


Sementara Wiley, dia sudah memasuki banyak ruang namun tidak menemukan sang istri. Dia menitahkan pasukan 1 untuk memeriksa sisa tempat yang belum diperiksanya karena dia akan naik ke lantai 2 bersama pasukan 2.


Lain hal di lantai dua ujung, Ricky dan yang lain sudah menurunkan masker mereka. Khawatir pasukan sang ayah tidak bisa membedakan mana yang Stripe palsu karena atribut mereka.


Sejak bagian depan rumah hancur akibat peluru basoka Richi, Valiant pun tidak bermain diam lagi. Mereka sudah mengangkat senjata dan menembaki secara brutal. Ricky bisa mendengar itu dari earpiece. Suara tawa jahat Eline dan Eddy terdengar jelas saat mereka menembaki pasukan Stripe yang tak ada habisnya itu.


"Itu tadi, apa ya?" Tanya Jonathan sambil membuka pintu dengan jarum kecil.


"Mungkin granat yang dibawa Jenderal." Sahut Simon.


"Tapi bau-bau basoka." Sambung Jonathan lagi masih fokus mengorek ke dalam kunci.


Mendengar itu, Ricky langsung mengerutkan dahi. Masa iya ayahnya bawa basoka? Kan, berat.


"Ah, terbuka."


Jonathan membuka pintu itu dan mendapati ruangan tangga ke bawah yang gelap.


"Masuk, Jo." Simon mendorong kecil bahu Jonathan.


"Takut." Jawabnya cepat.


Ricky mendesah kesal. Bisa-bisanya laki-laki yang mengalungkan senjata di lehernya itu takut sama gelap.


"Jangan bercanda. Masuk, sana!" Tegas Ricky.


"Iya-iya!" Jonathan langsung turun dan mencari saklar lampu dibawah sana.


Lampu menyala, seketika mata Jonathan terbuka lebar.


"Ada apa, Jo?" Teriak Simon.


"Tidak ada apa-apa. Cuma perpustakaan usang."


Merasa tidak ada yang mencurigakan, Jonathan naik lagi ke atas.


"Yakin tidak ada apa-apa? Kita sudah di tempat yang paling ujung lho, ini." Ucap Simon ragu.

__ADS_1


Jonathan melirik lagi ke tangga bawah. "Kalau kurang yakin, ayo turun lagi."


"Aku turun, kau jaga disini." Ucap Ricky pada Simon. Dia turun bersama Jonathan kebawah untuk memastikan lagi.


Ricky memeriksa tempat itu dengan teliti. Mencari celah barangkali ada tombol rahasia atau sejenisnya.


"Biasanya kalau di film-film, dibalik lukisan-lukisan, sih." Ujar Jonathan. Dia mencoba membalikkan lukisan atau memiringkan kesana kemari. Tapi tidak terjadi apapun.


"Atau bisa aja melalui lemari ini, Ken." Jonathan menunjuk sebuah lemari hias yang penuh dengan berbagai macam keramik. "Biasanya lemari ini akan berputar. Tapi, bagaimana caranya, ya?"


"Sudahlah. Kau terlalu banyak nonton film." Ucap Ricky sambil terus mencari sesuatu.


"Apa bedanya. Kehidupan kita juga seperti film-film. Bedanya, di film itu banyak perempuan yang berebut mendapatkan hati ketua kelompok bersenjata seperti kita. Tapi dikehidupan nyata, ketua kita justru tidak punya gandengan."


Ricky yang merasa tersindir, langsung menoleh tajam pada Jonathan.


"Apa? Aku hanya asal bicara tadi." Alibi Jontahan sambil menyengir. Lalu matanya menangkap salah satu keramik bergambar elang di salah satu rak lemari.


"Wah, keren ini. Sesuai lambang kita. Aku curi satu, ah." Jonathan mengambil keramik elang itu tetapi ternyata tidak bisa karena nampaknya keramik hiasan itu lengket dengan raknya.


"Kenapa?" Tanya Ricky yang merasa Jonathan bising.


"Ini, susah sekali." Jonathan terus berusaha mencabut keramik dari tempatnya.


"Iya. Ini mau naik." Jawab Ricky. "Ayo, Jo." Ricky menaiki anak tangga. Tapi dia merasa dibelakang terlalu hening. Saat menoleh, Jonathan sudah tidak ada di tempatnya.


"Jo?" Ricky melirik kesana kemari. Ruangan itu kecil, jadi tidak mungkin Jonathan bisa bersembunyi.


"Jo, jangan main-main!"


Ricky turun lagi, dia tidak mendapati Jonathan di tempat ia berdiri tadi.


"Keen, ada apa??" Tanya Simon yang langsung turun saat mendengar Ricky mencari Jonathan.


"Lho, mana Jo?"


Ricky berjalan perlahan mendekati rak itu lagi. Dia menatap hiasan elang yang sempat ditarik-tarik oleh Jontahan. Tapi tiba-tiba Jonathan malah hilang.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Simon, dia ikut melihat benda kecil yang ditatap Ricky.


Ricky tidak menjawab. Dia tengah fokus menyentuh keramik itu perlahan, tidak terjadi apa-apa. Dia mulai menariknya, tetapi tidak juga terjadi apa-apa.

__ADS_1


Merasa menyentuh sesuatu dari bawah ekor burung elang itu, Ricky menekannya dan lemari itu berputar menuju ruang lain.


Simon dan Ricky terkejut saat tiba-tiba mereka masuk ke dalam ruang bercat putih tanpa dekorasi apapun. Sebuah lorong terlihat luas tanpa jendela menuju ke satu arah.


Ricky dan Simon langsung menggenggam senjata dengan erat saat mereka mendengar suara dari salah satu ruang.


Mereka berjalan mendekat dengan senjata terangkat, untuk melihat siapa yang ada di dalam.


KLEK! Seperti suara tutup kaleng yang ditarik, membuat Ricky dan Simon spontan mengarahkan senjata ke sumber suara. Tetapi terpaksa mereka turunkan lagi saat ternyata Jonathan tengah berdiri di depan mesin minuman. Santai sekali, seperti sedang tidak berperang.


"Hah. Kukira siapa." Simon menyimpan kembali senjatanya.


Dengan senyuman Jonathan bersandar di mesin minuman sambil menenggak sodanya. "Mau?" Tawarnya sambil mengangkat kaleng itu.


"Aku tidak punya koin." Jawab Ricky.


"Oh, tidak perlu koin." Jonathan mengambil jarum kecil dari tindik di telinganya, lalu membuka pintu mesin soda dengan mudah, mengambil dua botol dan menyerahkannya pada Ricky dan Simon.


"Ini dimana?" Tanya Simon sambil menerima sekaleng soda.


"Tidak tahu. Ayo, kita telusuri. Aku yakin, ini ruang yang dikatakan anak itu." Ucap Jonathan mengingat-ingat penjelasan Evan pada mereka tadi.


"Kurasa juga begitu. Ayo, cepat selesaikan ini." Ricky berjalan perlahan dengan senjata di tangannya. Dia tahu, ibunya disembunyikan ditempat yang tengah ia masuki sekarang.


~


Richi menatap Olivia dan Daren bergantian. Dua orang itu tampak kaku. Olivia enggan menoleh dan berusaha sebisanya agar pandangan matanya tak mengarah pada Daren. Lain hal dengan Daren, lelaki itu sesekali curi pandang ke arah Olivia.


Richi jadi ingat rencana Hugo yang tak terlaksanakan itu. Dia jadi ingin membuat sesuatu yang seru disela kepelikan perang saat ini.


"Kita masuk." Richi melompat dari duduknya diatas kontainer mobil.


"Kau dibelakang. Aku yang akan cover depan. Tim Fox sebelah kanan dan kalian, sebelah kiri." Titah Hugo pada teman-temannya.


Richi melongo. Untuk apa dia ikut kalau posisinya ditengah-tengah seperti putri raja yang dilindungi.


"Hugo, aku ingin masuk ke dalam ruang rahasia mereka. Kalau kalian cover aku seperti itu, apa fungsi diriku? Kalian cover saja sebisanya dan aku juga akan bergerak sesuai kondisi." Richi menenteng basoka di atas bahunya dan berjalan masuk ke dalam rumah besar yang sudah hancur bagian depannya.


Sementara disudut lain. Henry menyapu rahangnya dengan jari, menatap Richi dan yang lain melalui layar di depannya. Gadis itu menenteng senjata roket yang menghancurkan istananya. Tentu hal itu membuat Henry sangat berang. Basoka Richi sangat bisa menghancurkan semua aset yang tersisa.


"Bunuh dia dulu. Dia yang paling berbahaya." Suara berat Henry membuat dua ajudannya menunduk dan berlalu pergi dan menitahkan seluruh pasukan mereka untuk menyerang hama yang ada depan terlebih dahulu.

__ADS_1


** Pen, aku mau nanya deh. Kalian merasa Novel ini gimana, ya? Kok aku jadi ngga pede sama kelanjutan ceritanya. Kalian komen gitu memang beneran kan, bukan supaya aku seneng doang🥺


Kalian mau tau, ngga. komentar yang cuma jempol doang aja udah buat aku semakin semangat lho🥺🥺 makasih banyak yaa. bigHug🤗😙


__ADS_2