Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Ketakutan Richi Untuk Pertama Kali


__ADS_3

Hugo perlahan membuka mata. Dia terbatuk seketika mendapati banyak abu dan asap didekatnya. Rambut lelaki itu sudah putih dengan debu. Wajahnya berantakan dan dia segera bangkit ketika ingatannya langsung penuh dengan wajah Richi. Hugo tertatih, berjalan masuk kedalam gedung yang sebagiannya sudah hancur.


Dia tahu resiko yang ia terima. Gedung itu bisa sepenuhnya roboh jika Hugo menyenggol sesuatu yang menjadi penghalang gedung itu tetap berdiri saat ini. Tapi kekhawatirannya terhadap Richi melunturkan takutnya. Hugo melangkah masuk mencari kekasihnya.


Dari depan, gedung itu terlihat baik-baik saja. Namun di dalam, sudah hancur dan hampir tak berbentuk.


"RICHIII!" Suara Hugo menggema. Namun tak ada sahutan.


Dari jauh ia melihat lampu merah berkerlip. Dengan cepat Hugo mendekati. Bom waktu itu akan meledak lagi dalam dua menit, Hugo pun menonaktifkannya.


Hugo memperhatikan bom waktu yang dirakit dengan baik. Lelaki itu sampai terdiam menatap kedepan. Dia tahu siapa yang merakit bom itu, karena dia yang mengajarinya.


Hugo berjalan lagi, mencari bom yang masih tersisa. Dia yakin, gedung sebesar ini pasti masih banyak menyimpan bom waktu lainnya.


Setelah berjalan beberapa meter, Hugo menemukan satu lagi bom waktu yang ia sudah hapal cara menaklukkannya. Sejenak ia diam menelisik tempat. Mata Hugo menyipit mengingat dimana saja bom itu meledak dan tempat ia menemukan bom tadi.


Kini Hugo mengerti. Dulu ia pernah bercerita bahwa bom yang disusun membentuk susunan bintang akan membuat gedung sebesar apapun kalah dengan bom waktu yang kehancurannya tak begitu besar.


Hugo kembali berjalan dengan kaki yang sedikit pincang. Dia sudah tahu siapa pembuat rencana ini. Dia tahu, Richi pasti disekap disatu tempat yang berada di ujung sudut bintang, tempat dimana bom itu akan meledak yang paling terakhir.


Hugo menunduk saat mendengar suara bom dari sudut lain. Dia berdecak karena merasa jalannya sangat lambat. Ternyata bom itu tidak meledak sesuai urutan yang ia kira. Dia tidak tahu bom mana lagi yang akan meledak nantinya. Dia berjalan cepat karena tak ingin bom itu semua meledak hingga menghancurkan gedung yang ia yakin, masih ada Richi di dalamnya.


~


Jenderal Wiley mengerahkan semua pasukannya untuk mencari Richi. Namun suara dentuman bom membuat mereka mundur beberapa langkah. Pria paruh baya itu menyusun strategi untuk bisa masuk ke dalam gedung dan mencari bom yang mereka yakini masih banyak di dalamnya.


Ricky yang tidak bisa melakukan apa-apa hanya mengepalkan tangan. Tim Rajawali memang bidang peledakan dan dua orang pasukannya itu berkhianat. Sudah pasti merekalah yang melakukan ini. Lalu apa alasannya? Ricky tak bisa menebaknya.

__ADS_1


Di tempat lain, seseorang tersenyum melihat kekacauan dibawah dengan teropong kecil yang ia pakai untuk melihat.


Angin menerbangkan rambutnya. Dia diselimuti rasa bahagia karena rencana yang sudah ia susun akhirnya berjalan sesuai dengan semestinya.


Ponsel yang ia genggam berdering. Dengan segera ia mengangkatnya.


'Sudah kulakukan.'


"Bagus. Pastikan dia tidak bisa bergerak sedikitpun."


'Baik.'


"Bagaimana Hugo?"


'Dia pingsan.'


Seseorang itu menutup ponselnya dan kembali membidik orang-orang dibawah dengan teropong.


"Tidak sulit menaklukkan kalian. Apalagi aku sudah sangat hafal taktik yang kalian pakai."


Dia lalu melipat teropongnya. Kemudian berjalan meninggalkan lantai atas menuju tempat yang sudah sangat ingin ia datangi.


Dia membuka pintu setibanya di tempat itu, kemudian duduk berhadapan dengan seorang gadis yang wajahnya sudah lebam dengan hidung yang berdarah.


Matanya melebar tajam menatap siapa yang duduk didepannya. Tatapan yang dulu membuat gadis itu gentar, kini tak lagi.


"Long time no see." Sapanya pada Richi. Dia mendekatkan wajahnya. "Terakhir kali kulihat kau sangat cantik, bersanding dengan Hugo begitu mesra di atas sana. Tapi sekarang, kau bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhmu."

__ADS_1


Richi tak bisa menyahut. Mulutnya ditutup kain, kedua tangan dan kakinya terikat kencang. Sejak tadi dua anggota Rajawali terus menghajarnya tanpa ampun. Dan kini, dia tahu semua adalah ulah Erine.


"Coba saja kau mengalah. Ini semua takkan terjadi." Erine mengambil rambut Richi dan menyisirnya dengan jarinya. Diakuinya, kalau diapun menyukai rambut gadis itu.


Richi menahan rintihan saat Erine menarik rambutnya dengan sangat kuat.


"Aku benci sekali padamu. Kau menghalangi semua kebahagiaanku. Kau dengan kekuasaanmu mengatur hidupku. Tapi sekarang, kau tak bisa melakukan itu. Aku akan membunuhmu. Aku tak suka melihatmu bersama Hugo. Kau akan mati, Darrel. Kau akan mati disini!"


Richi terus menatap tajam kepadanya. Dari dulu, ia sudah sering diancam mati tak membuatnya takut. Tapi kali ini berbeda. Richi bisa merasakan aura berbahaya dari Erine. Dia bisa melihat bagaimana siapnya orang-orang ini ingin membunuhnya. Dia tahu susunan rencana ini begitu matang dan Erine berhasil membuatnya takut. Hanya saja sekuat tenaga Richi menahan rasa takutnya.


Erine mengambil bom yang sudah ia rancang. Bom yang dulu pernah Hugo ajarkan dan berbahaya. Bahkan Hugo sendiri pernah bilang kalau dia hanya satu kali merakit bom yang paling berbahaya, dan tidak perna menaklukkannya.


"Kau tahu, aku pernah diajari oleh Hugo membuat bom paling mematikan." Ucapnya seraya mengikatkan bom itu dipinggang Richi.


"Kami tidak pernah mempraktekkannya, tapi aku mengerti. Sialnya, dia tidak bisa menonaktifkan bom ini." Erine kembali duduk dihadapan Richi. Dia tersenyum saat melihat Richi yang sedikit bergetar. Titik-titik keringat sudah muncul di dahinya.


"Aku menyalahkanmu untuk semua ini. Sejak dulu aku tidak pernah dengan sengaja membunuh orang. Tapi berbeda saat denganmu. Setiap hari aku berusaha membuat bom untuk menghancurkanmu. Aku mengorbankan diri dan masa depanku demi membunuhmu. Setelah ini aku akan menata kembali masa depanku, tentu saja dengan Hugo."


Mendengar nama kekasihnya disebut, Richi mulai tertawa. Gadis itu sampai mendongak terbahak-bahak merasa lucu dengan ucapan Erine.


Kesal, Erine menendang Richi sampai kursi gadis itu terjerembab kebelakang. Namun suara tawa Richi masih terdengar.


Dua pengkhianat Rajawali dengan segera mengangkat kembali kursi Richi.


Erine lantas tersenyum. "Tertawalah. Aku senang melihatmu senang karena kematianmu."


"Atur waktunya." Titah Erine pada kedua temannya. Mereka pun menyetel waktu yang ada di perut Richi.

__ADS_1


Suara detik bom sudah terdengar, tiga orang itu keluar dari ruangannya. Richi menegang dengan air mata yang lolos dari pelupuk matanya. Tak bisa ia tutupi rasa takut dalam dirinya. Karena ia tahu, disaat inilah hidupnya berakhir.


Richi menutup mata bersamaan air yang menetes hingga dagu. Berulang kali ia menyebut nama Hugo dalam hatinya. Satu-satunya lelaki yang ia harapkan bisa menyelamatkan dirinya.


__ADS_2