Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Ke BAR


__ADS_3

Harry dan teman-temannya tampak tengah bersiap. Setelah kalah dari tim Oberon, mereka merasa tak punya kepentingan lain di sekolah ini.


Seorang perempuan berambut panjang menemui dirinya. Harry melihatnya sekilas. Dia masih menyusun barang-barangnya.


"Ada apa?" Tanyanya dingin tanpa menoleh.


"Hanya ingin melihatmu". Jawab wanita itu agak tertunduk. Matanya tetap memandang lelaki itu.


"Aku akan kembali, urusan kami sudah selesai". Harry menyandangkan tasnya. "Urusanmu bagaimana?" Tanyanya lagi.


"A-aku? Sedikit lagi. Kau bersabarlah." Jawabnya sedikit gugup.


"Kalau kau benar menyukaiku, buktikanlah". Harry beranjak, meninggalkan gadis itu yang tertunduk sendiri.


Harry jalan dengan tergesa-gesa. Dia tiba-tiba teringat akan satu hal. Lalu tak sengaja dia menabrak bahu seorang gadis hingga headset yang ia genggam terjatuh.


Harry yang merasa bersalah dengan sigap mengambil benda yang jatuh ke lantai itu. Dia langsung meminta maaf kepada pemiliknya.


"Maafkan aku. Aku tidak sengaja." Tuturnya sambil menyerahkan benda itu.


"Tidak apa." Gadis itu menerima dengan cepat. Sekilas dia melihat, lelaki di depannya adalah ketua tim basket Palmy.


"Kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" Tanyanya agak membungkuk supaya bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas.


"Tidak ada. Kalau begitu permisi". Dia berlalu sebab tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan laki-laki tenar.


"Sebentar"


Langkah gadis itu terhenti. Dia membalikkan badannya.


"Apa boleh aku berkenalan? Aku Harry Draw, ketua tim basket dari sekolah Palmy". Harry mengulurkan tangan dengan senyum simpulnya.


"Richi" Ucapnya sambil menyambut tangan Harry.


Harry tersenyum. "Apakah kau ada waktu?" Tanyanya tiba-tiba karena gadis di depannya sangat manis, menurutnya.


"Maaf aku sedang ada keperluan". Pamitnya pada lelaki itu sambil meletakkan headset di salah satu telinganya. Dia sama sekali tidak tertarik pada laki-laki yang terlalu populer dan tebar pesona. Itulah yang ia tangkap saat pertama melihat lelaki itu.


"Baiklah. Semoga bisa bertemu kembali". Ucap Harry dengan penuh harapan.


Richi tersenyum samar dan berlalu meninggalkan lelaki itu sendirian.


"Ah, dia kesana. Padahal searah". Gumamnya yang seperti menyia-nyiakan kesempatan.


Harry memicingkan matanya menatap ke arah Richi yang mulai menjauh. "Bukankah gadis Oberon banyak yang menyukaiku? Apa dia tidak mengenalku?" Harry sedikit berpikir lalu berjalan mengikuti dari belakang.


Harry sudah berada di gerbang depan sekolah Oberon. Dia kehilangan jejak Richi. Lalu, dia melihat Hugo yang sendirian berjalan ke arahnya. Hugo sepertinya tidak sadar ada Harry di depannya.


"Hai Hugo. Selamat atas kemenangan timmu". Tegurnya saat Hugo mulai mendekat. Dia mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Raut wajah Hugo berubah saat melihat ternyata Harry di hadapannya.


Dia tidak menyambut tangan Harry. Tangan kanannya masih berada di dalam kantong celana, sedangkan tangan kirinya memegang tali tasnya yang disangkutkan di bahunya begitu saja.


"Tanganku sibuk". Jawab Hugo dengan menaikkan bahunya.


Harry tersenyum kecut. Dia menarik lagi tangannya.


Lalu tiba-tiba, seorang gadis terjatuh dengan sepeda motornya tepat di sebelah Hugo. Dia meringis memegang lututnya.


"Aw.."  pekiknya saat melihat lututnya terluka.


Hugo membantu menegakkan motor gadis itu. Lalu ia mengulurkan tangan di depan wajah gadis itu.


"Berdirilah"


Gadis itu mendongak melihat Hugo, lalu melirik Harry yang berdiri saja tak membantu.


"Sepertinya aku agak sulit berdiri". Ucapnya sambil meringis.


Hugo membungkuk lalu memapah gadis itu hingga ia berdiri.


"Terima kasih, ya. Untung saja kau membantuku. Kau Hugo, kan? Aku Carina dari sebelah kelasmu". Katanya dengan senyum ramah.


Hugo hanya mengangguk dengan ekspresi datarnya.


"Tidak perlu sampai seperti itu". Ujar Hugo menolak.


"Tidak, jangan begitu. Aku sangat berterima kasih. Bagaimana kalau nanti malam". Ucapnya menawarkan.


"Tidak usah, kau berhati-hatilah lain kali". Tutur Hugo lalu beranjak.


"Tunggu, aduh" Carina yang ingin mengejar, hampir terjatuh karena kakinya yang belum begitu kuat berjalan.


Hugo berbalik, lalu gadis itu membenarkan posisinya supaya berdiri sempurna.


"Sekali saja. Sebagai tanda terima kasihku. Aku tunggu di Lounch Bar nanti malam jam 7. Ku harap kau datang." Ucapnya dengan wajah yang penuh harap. Lalu Hugo mengangguk lambat dan meninggalkan gadis itu dan Harry yang masih mematung disana.


🍷🍷🍷🍷


Hugo sudah berdiri di depan Lounch Bar seperti yang dikatakan gadis itu tadi siang. Di pikirannya, dia hanya akan singgah sekitar setengah jam saja.


Dia melirik jam di tangannya. Sudah pukul tujuh, namun dia belum masuk. Sesekali dia digoda wanita-wanita yang hilir mudik di dekatnya.


Tak lama, dia pun melangkah ke dalam. Dari jauh dia melihat Carina melambaikan tangannya. Dia pun menuju ke meja yang diduduki Carina.


"Kau mau pesan apa, Hugo?" Tanya Carina saat Hugo sudah duduk di hadapannya. Dia terlihat sangat tampan dengan jeket kulit berwarna hitam.


"Apa saja asal tidak alkohol".

__ADS_1


Carina mengangkat tangannya setengah tinggi. "Sunrise Mocktail" Pesannya pada bar waiter saat mendekat lalu mengangguk dan pergi.


Carina menatap Hugo. "Apa kau sedang ada janji lain?" Tanyanya saat melihat Hugo melirik jam tangannya.


"Ya, sebentar lagi." Jawabnya santai.


Carina mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan. "Kau baik sekali, Hugo. Kau membantu banyak orang. Temanmu tadi saja hanya berdiam diri". Ucap Carina.


"Dia bukan temanku". Ujarnya dengan cepat pada gadis itu.


Tak lama, pegawai bar datang membawa nampan berisi minuman pesanan Carina.


"Silakan, Tuan". Ucapnya lalu pergi.


Hugo menenggak minumannya dengan tenang. Mereka berdiam cukup lama.


"Ku dengar kau akan melanjutkan pendidikan ke negara Z. Apakah benar?" Tanyanya basa-basi supaya tidak canggung.


"Ya, bisa saja begitu". Jawabnya malas. Lalu dia mengerjap beberapa kali.


"Ada apa, Hugo?" Carina melihat Hugo seperti tidak tenang.


"Aku ke toilet dulu". Hugo berdiri dan berlalu menuju toilet. Carina hanya menatapnya dengan heran.


Dia lalu membuka ponsel dan mengetik-ngetik disana. "Bagaimana, ya?" Gumam Carina saat memikirkan sesuatu.


Hugo kembali dengan jalan yang tidak stabil.


"Hugo, ada apa denganmu?" Carina berdiri memegang Hugo yang seperti akan terjatuh.


"Entahlah. Apa kau memesan alkohol?" Tanyanya dengan tersendat-sendat.


"Tidak. Kau dengar kan, aku memesan mocktail untukmu" Ucapnya lalu memapah Hugo. "Ayo, aku antar kau sampai naik taksi".


"Aku bawa mobil". Ucapnya sambil mengerjap. Matanya agak kabur.


"Tidak mungkin kau menyetir. Biar aku carikan taksi di depan. Ayo". Carina lalu memapah Hugo sambil berjalan menuju pintu.


Carina berjalan lambat sebab tak kuat menahan tubuh Hugo yang berat. Dengan terseok-seok dia berusaha membawa Hugo sampai ke seberang Bar.


"Butuh bantuan, Nona?" Sesorang menawarkan bantuan dari belakang tubuhnya.


"Tidak, terima kasih". Jawabnya tanpa menoleh dengan suara tercekat.


Dia terus berjalan menjauh hingga sampai di seberang Bar lalu mendudukkan Hugo di kursi panjang. Hugo tampak terduduk lemas. Matanya sedikit terbuka. Namun dia tidak bisa apa-apa.


To Be Continued....


Dukung Author dengan cara Like setiap Episode ya. Terima Kasih🤗

__ADS_1


__ADS_2