
Laki-laki yang disebut Aron itu menatap semua siswa Apollo satu persatu. Dia menunjuk salah satu lelaki yang berdiri di depan.
"Kau. Bisa-bisanya mau melawan perempuan." Ucap Aron pada para lelaki Apollo. "Aku pernah memperingatkanmu, kan. Jangan buat kekacauan!"
"Kau tidak tahu siapa dia!" Sanggah lelaki itu.
Aron melirik Richi. Gadis itu menatap siswa Apollo dan Aron secara bergantian. Berandal Apollo nampak takut pada lelaki bernama Aron, membuat Richi bertanya-tanya, siapa dia? Richi mulai penasaran.
"Pergilah. Tidak layak laki-laki melawan perempuan. Kalian terlihat seperti pengecut."
Siswa Apollo itu tak bergerak. Mereka melihat tajam ke arah Richi.
"Kami tak ada urusan denganmu, Aron. Urusan kami adalah dengannya. Kita sudah selesai dan kami mengakui kekalahan. Sekarang bukan waktu kami untuk bertarung denganmu lagi!"
Aron malah menatapi Richi. Dia menelisik wajah gadis yang tampak tak berdosa itu. Aron tengah berpikir, apa yang membuat para berandal Apollo itu sangat marah pada perempuan di sebelahnya?
"Tidak baik menghajar perempuan. Kalian merusak martabat laki-laki. Kalian yang menyerangnya, aku yang malu." Aron malah berdiri membelakangi Richi.
"Kalau kau ingin sekali bertarung, bertarung saja denganku."
Richi menghela napas. Aneh sekali, padahal tidak kenal. Bisa-bisanya lelaki itu bersikap seperti hero padanya. Tapi, tak bisa ia pungkiri bahwa sikap Aron membuatnya kagum. Apalagi lelaki yang tingginya melebihi Hugo itu tampak gagah dari belakang.
Richi menggelengkan kepalanya saat pikiran aneh mulai menjalar di otaknya. Kenapa disaat dirinya tengah bertengkar dengan Hugo, justru pangeran kesiangan datang menolongnya?
"Hah, sialan! Serang saja dia!" Salah seorang berandal itu berusaha menghajar Richi, namun dengan cepat Aron memegang tangannya dan memberikan pukulan telak di dada berandal itu hingga ia mundur beberapa langkah sembari memegangi dadanya.
"Semua, seraang!" Enam orang sisanya menyerang bersamaan sementara Richi mundur beberapa langkah menyaksikan bertarungan seru antara para berandal dan seseorang tak dikenal yang membelanya.
Richi memperhatikan laki-laki itu. Jika dilihat dari bentuk serangannya, nampaknya dia pemain muaythai. Dalam hati Richi bertepuk tangan melihat lelaki itu. Padahal biasanya Richi sendiri juga sering memakai serangan dari bela diri Muaithay. Tapi melihat orang lain yang melakukannya, tampak sangat memukau.
Tak menunggu lama, para berandal itu sudah terkapar sebagian sudah lari menyelamatkan diri. Aron membalikkan tubuhnya, memperhatikan Richi yang wajahnya tampak biasa saja.
Lelaki itu merasa gadis di depannya memang sedikit berbeda. Seharusnya perempuan akan menjerit bersemangat saat ada laki-laki yang menyelematkannya. Setidaknya seperti itulah yang Aron alami saat dia bertemu banyak perempuan. Berbeda dengan gadis itu.
"Sama-sama."
Alis Richi bertaut. "Apa?"
"Aku bilang sama-sama."
"Oh, oke." Richi tahu betul maksud Aron adalah menagih ucapan terima kasih, namun Richi enggan. "Kalau gitu, aku pergi dulu." Tak mau banyak bicara, Richi langsung balik badan, melangkahkan kakinya berniat meninggalkan lelaki itu. Namun, langkah Richi tertahan saat ranselnya berhasil dipegang kuat oleh Aron.
"Hei. Kau tidak sopan." Katanya dengan kesal.
__ADS_1
Richi menghela napas, dia berbalik lagi dan mencoba memaksakan diri untuk tersenyum.
"Ada apa, ya?" Tanya Richi.
"Apa seperti itu caramu berterima kasih? Atau kau tidak tahu cara berterima kasih?" gerutu Aron.
"Aku kan, tidak minta bantuanmu."
Aron ternganga. Sempat berpikir untuk terlihat keren, nyatanya dia hanya dipandang dingin oleh gadis di depannya.
"K-kau??"
"Apa kau mendengarku berteriak minta tolong? Kau datang dan tanpa bertanya malah menghajar mereka. Kau mengira dirimu keren, ya?" Kata Richi lagi dan berhasil membuat Aron terbelalak dan berkacak pinggang.
"Hei, tidak pernah aku merasa dilecehkan seperti ini oleh perempuan!"
"Apa? Siapa yang melecehkanmu?"
"Padahal kau menatapku begitu lama saat di lampu merah."
"A-apa.." Gantian Richi yang menganga. Ingin rasanya dia memaki diri sendiri, kenapa laki-laki itu tahu? Apa suaranya terlalu kuat saat itu? Richi mengira lelaki itu tidak tahu karena saat itu, lelaki di depannya ini terlihat tak peduli.
"Kau terkejut, ya? Teman-temanku bilang, kau mengagumiku sampai melongo."
"Cih. Terlalu percaya diri bisa membuatmu sial, tahu!" celetuk Richi.
"Aku ingin makan eskrim disitu." Aron menunjuk satu kafe diseberang mereka.
Richi menatapnya aneh. Kenapa pula dia mengadu begitu.
"Aku bilang, aku ingin makan eskrim disitu." Ulang Aron lagi.
"Ya sudah sana pergi. Kenapa mengadu padaku? Memangnya aku ini ibumu!"
"Sebagai ucapan terima kasih, aku ingin kau mentraktirku disana."
"Hah?" Richi yang tak mau berurusan panjang, mengeluarkan uang dari saku roknya. "Nah, beli sana!" Lanjut Richi menyerahkan uang tiga lembar kertas merah.
Aron menarik tangan gadis itu, menyeretknya menyebrangi jalan dan tentu saja butuh tenaga karena Richi beberapa kali menahan langkahnya, menolak menemani Aron duduk berdua bersama orang yang ia tak kenal.
Tapi pemberontakannya sia-sia karena akhirnya Richi ikut duduk di hadapan Aron. Lelaki itu tengah asyik makan eskrim dengan ukuran besar.
"Hm, enak banget. Mau?" Aron mengarahkan sendoknya pada Richi.
__ADS_1
Gadis itu menatap tajam. "Cepat habiskan makanmu, aku banyak urusan!"
"Ya, baiklah. Oh, siapa namamu?" Tanya Aron.
"Richi Darrel." Jawabnya malas.
"Apa?" Tubuh Aron menegak, "Richi Darrel?" Tanyanya ulang.
"Kaya pernah dengar. Tapi dimana, ya?" Lanjut Aron lagi. Dia menyendokkan eskrim ke mulutnya sambil berpikir.
"Kau artis, ya? Kayaknya sih, bukan. Wajahmu jutek, tidak mungkin artis. Jadi, siapa ya? Namamu, aku pernah mendengarnya. Tapi dimana, ya?"
Richi memutar bola mata, enggan menggubris ocehan Aron. Dia memilih membuka ponsel dan mendapati banyak notifikasi dari akunnya.
Richi terbelalak. Baru saja video Aron berkelahi dengan siswa Apollo tadi terunggah. Tentu ini mengejutkan Richi. Lagi-lagi orang itu ada di dekatnya. Tapi kenapa Richi tidak sadar?
Richi semakin menegang saat unggahan baru muncul yaitu dirinya tengah duduk berdua bersama Aron, persis posisinya saat ini. Richi langsung menengok ke arah dimana arah gambar itu diambil, namun tempat itu kosong. Sontak Richi berdiri dan langsung berlari mencari siapa orang yang sudah memotretnya?
"Hei, kau mau kemana?? Hei, bayarkan dulu iniii!"
Teriakan Aron tak Richi pedulikan, dia terus berlari mencari orang yang memotretnya barusan. Orang itu pasti belum jauh dan masih disekitar sini, karena postingan itupun baru saja diunggah.
Richi mengatur napas, mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dan tidak menemukan siapapun disana. Ada rasa kesal dalam hatinya karena lagi-lagi dipermainkan oleh orang gila yang belakangan mengusiknya.
Ponsel Richi berdering, dia segera mengangkat telepon dari Clair sambil menghentikan taksi yang melaju ke arahnya.
~
"Kau darimana saja, Rel?" Tanya Bella saat Richi baru menghempaskan tubuhnya diatas kursi.
"Hah. Aku ada masalah tadi." Richi masih belum mau menceritakan kejadiannya bersama Aron karena ada hal yang lebih penting. "Ada berita apa?"
"Dachi Moon ternyata sudah lama masuk ke wifi rumahmu, Rel. Nampaknya dia juga mengawasi melalui cctv rumahmu. Tapi karena dia tidak melakukan apa-apa, hanya memantau pergerakanmu saja, keberadaannya tidak diketahui pengawas rumahmu." Jelas Olivia pada Richi.
"Aah, bisa gila aku. Siapa dia? Aku benar-benar penasaran dan benci sekaligus!" Pekik Richi kesal.
"A-aku sebenarnya sudah menghubungi temanku. Dia akan membuka ponsel ini supaya kita bisa tahu siapa lelaki bernama Roy itu. Aku yakin dia ada kaitannya karena kabur saat bertemu kami." Jelas Olivia.
TRING!
Pintu terbuka, seseorang masuk ke dalam.
"Oh, panjang umur. Itu dia sudah datang." Olivia berlari kecil menghampiri temannya yang datang. Sementata Bella dan Richi menganga.
__ADS_1
"Rel.. dia lelaki yang di lampu merah, kau ingat??.." Bella tampak senang dan merapikan rambutnya dengan jari. Sementara Richi, dengan bibir terbuka dia menatap Aron yang juga menatapnya dengan wajah kesal.
"Kau.." Aron menunjuk Richi. Entah kenapa penampilan lelaki itu tampak agak berantakan.