
Richi berjalan menuju kelas. Dengan ekor matanya, dia bisa melihat Joy dan Sarah berdiri depan mading. Entah apa yang mereka lakukan, Richi enggan menoleh dan hanya melewati mereka saja.
"Uh. Dia benar-benar mengabaikan kita!" Sarah masih menatap Richi yang masuk ke kelas paling ujung.
"Memang biasanya bagaimana?" Tanya Joy sembari menatap buku di tangannya.
Sarah berdecak saat menyadari memang hubungan mereka pelik. Dia juga sebenarnya ingin meminta maaf, namun merasa gengsi.
"Setelah kau tahu kalau dia pernah jadi partner model Aron, lalu dia juga pacar Hugo Erhard, kau jadi berubah total! Ingin mendekatinya, kan?"
"Tidak. Aku hanya ingin minta maaf. Kau tidak ingat apa yang kita lakukan sangat memalukan? Terlebih karena Erine sialan itu!" Sarah melipat tangannya di dada, apalagi saat ingat kemarin, dia merasa benar-benar dibodohi oleh Erine.
"Aku memaklumi sikap Erine. Aku sudah bicara padanya tadi pagi. Dia meminta maaf dan mengakui kalau dia memang menyukai Hugo sejak awal mereka bertemu satu tahun lalu."
"Hah, kenapa satu tahun? Bukannya empat tahun?" Tanya Sarah.
"Dia dan Richi saling mengenal sudah empat tahun. Lalu dia pindah keluar negeri dan kembali setelah Richi dan Hugo berpacaran." Terang Joy.
"Lalu, bagaimana dia bisa jatuh cinta pada Hugo?"
"Entahlah. Aku tak menanyakan itu dan dia pun tak bercerita. Tapi dia sempat bilang, Hugo mengajarinya banyak hal dan dia jatuh cinta dengan Hugo yang dianggapnya sangat keren itu."
Sarah manggut-manggut. "Dia benar. Hugo sangat keren. Eh tapi, apa dia berniat merebut Hugo dari Richi?"
"Mana kutahu. Ah, sudahlah. Aku tidak peduli dengan urusannya." Joy pun melangkah menuju kelasnya.
...🐣...
Hugo masuk ke gedung fakultas tempatnya belajar. Baru melangkahkan kaki ke dalam, dia sudah disambut dengan foto-foto dirinya dan Richi kemarin di mading. Dia mendekat dan memperhatikan foto-foto itu satu persatu. Dia tersenyum. Kini semua orang tahu siapa gadis cantik yang akan selalu ada disampingnya.
Senyum Hugo memudar saat melihat poster Richi dan Aron juga ada disana. Ternyata banyak yang menyadari Richi pernah menjadi model bersama Aron. Dengan segera Hugo mengoyak poster itu dan membuangnya ke tong sampah.
Tak perlu lagi ada foto Richi bersama Aron, karena nanti dia akan menaruh banyak-banyak foto Richi di sosial medianya.
Hugo menaiki tangga, karena hanya di lantai dua, dia tak berminat menaiki lift.
Lalu dari sampingnya, seorang perempuan menaiki tangga dengan sangat cepat.
Hugo tersenyum melihatnya. Akhirnya Erine kembali memakai sepatu kets, padahal baru kemarin dia mulai memakai rok dan sekarang, dia sudah memakai jeans kembali.
"Hugo, sebentar." Seorang perempuan memanggilnya dari bawah tangga. Hugo pun menunggunya naik ke lantai atas.
"Ah, maaf mengganggumu. Begini, aku ketua panitia acara seni pertunjukan yang akan diadakan bulan depan. Jadi, kami berniat untuk mengadakan teater. Eumm.. kami ingin kau menjadi pemeran utama prianya."
Hugo menatap lembaran yang diberikan perempuan itu padanya.
"Suatu kehormatan bagi fakultas jika kau mau bergabung. Karena itu bisa mengenalkan seni pada banyaknya penggemarmu yang menonton. Ah, ini juga permintaan rektor."
Mendengar pimpinan kampus yang meminta, Hugo jadi bimbang padahal dia tadi ingin menolak.
"Akan aku pikirkan dulu."
"Iya. Baiklah. Aku akan menemuimu beberapa hari lagi. Terima kasih, Hugo."
__ADS_1
Hugo mengangguk-angguk lalu masuk ke dalam kelasnya. Sekilas dia bisa melihat Erine duduk paling belakang. Sedangkan ia memilih duduk di bangku depan masih dengan menatap brosur yang diberikan oleh perempuan tadi.
Kalau benar permintaan pimpinan kampus, harusnya Hugo tak menolak. Tapi dia perlu izin dari Richi dahulu untuk ini. Kalau perempuan itu melarang, maka akan banyak alasan yang keluar dari mulut Hugo untuk menolaknya.
Beberapa jam setelah itu, Hugo selesai dengan kelasnya. Dia membuka ponsel untuk menanyakan apakah Richi sudah selesai dengan kelasnya. Tadi sih, katanya hanya kuliah dua jam saja, itupun teori.
"Yang kemarin, kekasihmu, kan?" Lelaki dibelakang Hugo menanyakan soal Richi.
"Iya." Jawabnya sambil menatap foto Richi di wallpaper hp nya.
"Wuah. Kalian sama-sama model, ya?"
"Enggak. Dia bukan model."
"Tapi dia seperti model." Sahut yang lain.
DUK
Hugo tersentak saat merasa kaki kursinya ditendang.
"Aduhh!" Erine hampir terjatuh saat ia tersandung kaki kursi Hugo. Dia terus berjalan pincang sampai keluar kelas.
Hugo hanya menggeleng kepala, tak memperdulikan gadis itu.
"Kalau begitu, aku duluan." Hugo keluar ruangan. Dia hendak menjemput Richi dan kali ini, dia akan menampilkan diri. Terserah gadis itu akan kesal atau apalah. Hugo hanya ingin semua orang tahu kalau gadis itu punya kekasih.
Setelah menghentikan mobil di depan gedung fakultas Richi, Hugo tak langsung keluar. Dia membuka ponsel untuk menghubungi kekasihnya itu. Tapi tidak dibalas, akhirnya dia keluar dari mobil dan tentu saja membuat orang-orang lewat menatapnya.
Hugo bersandar di bodi mobil dengan kacamata hitamnya. Sesekali dia melirik jam tangan saat merasa sudah lama menunggu, dan akhirnya gadis itu keluar.
"Hei, hei. Bukankah itu Hugo Erhard??" Andreas menghentikan langkah teman-temannya dan menatap ke depan. Disana, Hugo melambai kecil pada Richi.
"Hah? Bukankah dia tengah melambaikan tangan kearah sini?" Andreas ternganga disana.
"Biasa sajalah. Dia cuma model majalah, bukan supermodel terkenal. Kenapa kau berlebihan begitu." Tukas Richi.
"Ah, kau benar. Aku hanya menyukai gayanya."
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." Richi melambaikan tangan pada teman-temannya. Berjalan kearah Hugo.
"Hei, kenapa Richi kesana? Dia mau apa?" Andreas terus menatap Richi yang perlahan mendekat dengan Hugo.
"Nanti kau juga akan tahu." Evan menggeleng kepala melihat tingkah Andreas kemudian pergi kearah lain.
"Woaaa! Apa itu!!" Andreas berteriak saat melihat Richi dan Hugo berciuman singkat.
"Di-diaa.. dia punya hubungan dengan Hugo??" Mata Fred dan Johan membulat.
Sarah dan Joy baru keluar dan mendapati Andreas masih berdiri di depan pintu masuk.
"Kau bisa menyingkir?? Menghalangi jalan saja!" Ketus Sarah pada Andreas tapi lelaki itu tak bereaksi.
"Wah, mereka sudah memperlihatkan diri."
__ADS_1
Ucapan Joy membuat Sarah menoleh kearah mata Joy memandang.
"Aaaah. Kenapa aku kesal sekali melihatnya!!" Sarah menghentak-hentakkan kakinya. Seakan tak rela Hugo memiliki pasangan.
"Kau saja sampai seperti ini. Lalu bagaimana Erine yang sampai tergila-gila melebihi dirimu?"
"Ah.. kau benar juga." Sahut Sarah pelan. "Dia pasti sangat tersiksa dengan perasaannya selama ini, ya."
"He'm. Makanya, dia pasti akan melakukan segala cara agar Hugo mau melihat kearahnya."
Sementara jauh dari sana, Richi menatap Hugo dengan sedikit cemberut. Dia sadar sekarang banyak pasang mata yang melihat kearahnya.
"Kenapa kau keluar?" Tanya gadis itu.
"Aku ingin melihatmu."
"Padahal kau bisa menunggu di dalam saja."
Hugo yang masih bersandar di badan mobil pun menghela napas. Ada apa Richi sampai memintanya untuk terus bersembunyi. Dia meraih tangan Richi lalu menggenggamnya erat.
"Aku ingin orang-orang disana tahu, kalau kau punyaku."
Richi tak bisa menjawab. Padahal dia tak ingin orang tahu karena masih ingin memiliki rencana untuk Virgo dan yang lain.
"Maaf, kau marah karena aku menunjukkan diri?"
Richi juga tak bisa menyalahkan Hugo. Sebab hubungan memang seharusnya ditunjukkan, bukan disembunyikan seperti ini. Apalagi Hugo tipe laki-laki yang suka menunjukkan diri kalau dialah kekasih Richi.
"Tidak. Ya sudah, ayo masuk. Aku lapar. Bisa kita makan dulu?"
Lelaki itu tersenyum saat akhirnya Richi tidak marah padanya.
"Tentu, sayang. Ayo." Hugo membukakan pintu untuk Richi, lalu diapun masuk dan menjalankan mobilnya.
...🐈⬛...
"Bagaimana?"
"Tinggal menunggu waktu saja." Perempuan itu menyerahkan brosur pada Eline. "Kalau menurutku, dia akan menerima itu."
"Begitukah?"
"Karena aku bilang rektor yang meminta. Tapi aku tidak berbohong soal itu. Saat kau menyarankan Hugo, kami langsung mendapat tanda tangan dari pimpinan kampus. Thanks, ya." Ucapnya sambil tersenyum.
"Asal apa yang aku minta bisa kau lakukan."
"Tentu. Aku sudah mengatakan ini dan panitia setuju." Ujarnya kemudian berbisik. "Tentu saja mereka takkan membocorkannya."
"Good." Eline menurunkan kacamata yang sejak tadi bertengker di kepalanya. "Aku ingin kabar baik besok."
"Tentu. Kau telah banyak memberi donasi pada acara ini, aku pasti memberikan yang terbaik." Jawabnya dengan semangat.
Eline mengangguk lalu melangkah menuju mobilnya. Rencana pertama, nampaknya akan seru, ucapnya dalam hati, sambil berjalan riang menuju mobilnya.
__ADS_1
TBC