
BRUK!
Tubuh Harry terjerembab setelah mendapat pukulan keras di rahangnya. Dia memberi kode pada pengawalnya untuk tidak ikut campur saat melihat siapa yang menghajarnya.
"Bangun! Kau bilang ingin melukaiku, kan?"
Harry tertawa pelan sembari memegang wajahnya yang sakit karena pukulan Hugo.
"Hugo, adikku.." ucapnya sambil berdiri. "Apa yang membawamu kemari?"
Hugo tidak menjawab, matanya menyorotkan kebencian dan dia memasang kuda-kuda.
"Aku sedang tidak ingin bertarung dengan siapapun. Soal Richi, bukan aku berniat membunuhnya. Kau sendiri tahu kan, kalau dia yang datang tiba-tiba?"
"Ayolah, adikku.. kenapa harus bermain otot jika bisa bicara baik-baik?" Katanya lagi sambil tertawa.
"Aku bahkan tidak marah walau Richi menipuku. Karena kulihat dia sangat mencintaimu, tak masalah."
BRUK!
Sekali lagi, kacamata Harry terjatuh dan hidungnya berhasil mengeluarkan darah.
"Aaarghh bangsat!" Teriaknya tak terima.
Hugo menatap Harry dengan geram, sudah lama dia mencari orang itu. Setelah menemukannya, dia ingin langsung menghajar wajah sialannya itu.
"Cepat maju. Aku sudah tidak sabar ingin menghajarmu habis-habisan. Kau harus membayar apa yang kau lakukan pada ayah."
Harry mengambil kacamata dan mengelapnya dengan ujung bajunya.
"Aku tidak pernah menyenggol perusahaan ayah. Justru aku sedang membantu Ayah membereskan musuhnya." Jawabnya sambil tesenyum miring.
"Apa maksudmu."
Ponsel Harry berdering dan dia mengangkatnya, tak lama dia tersenyum cerah seolah pukulan Hugo tidak ada artinya.
"Sudahlah. Aku mengampunimu. Aku sedang senang karena Shera ada di tempatku." Harry langsung pergi sambil terus tertawa.
"Shera? Bukannya dia keluar negeri?" Gumam Hugo sambil memperhatikan Harry yang masuk ke dalam mobilnya.
...🦍...
Richi memperhatikan Ibunya yang membereskan barang-barangnya sambil sesekali melirik pintu, berharap Hugo muncul dari sana.
"Sudah diizinkan pulang oleh dokter, tapi bukan berarti bisa langsung sekolah." Ucap Marry sambil terus menyusun barang-barangnya.
"Lho, kok gitu, Bu? Sama saja, dong." Protes Richi.
"Tahanlah beberapa hari lagi."
Pintu terbuka, mata Richi yang berbinar melihat daun pintu bergeser langsung cemberut saat tahu yang masuk bukan Hugo.
"Kenapa wajahmu itu?" Ricky mengerutkan dahi melihat wajah kecewa Richi.
"Tidak."
"Kau pikir yang masuk cowok bodohmu itu, ya?" Tukasnya lalu berdiri bersedekap di hadapan Richi.
Richi enggan menjawab, belakangan ini dia terlalu sering bertengkar dengan kakaknya hanya karena hal kecil.
"Jangan bertengkar! Kau juga, sudah besar masih saja mengganggu adikmu. Ibu mau keluar sebentar." Marry keluar sambil membawa beberapa barang di tangannya.
Ricky duduk di tepi tempat tidur dekat kaki Richi. Dia memandang adiknya dengan tatapan yang tak bisa ditebak.
"Kak, kau masih tidak mau juga memberitahuku alasanmu?"
"Sudah kubilang, percuma." Jawabnya dan Richi membuang wajah, kesal dengan jawaban kakaknya.
Richi membuang napasnya perlahan lalu menatap kakaknya. "Kalau seandainya kakak punya kekasih dan kakak mencintainya. Lalu aku tidak kekasihmu itu, apakah kakak akan meninggalkan dia demi aku?" Richi mencoba membalikkan posisi supaya kakaknya mau mengerti.
"Ya."
"Apa?"
"Aku akan meninggalkannya."
"Kak, ayolah. Itu tidak mungkin.." sanggah Richi dengan jawaban tak masuk akal kakaknya.
"Karena setelah Ibu, kau adalah orang kedua yang terpenting dalam hidupku. Jika kau tidak suka, maka aku akan meninggalkannya." Ricky memandang adiknya yang membelalakkan mata.
Gadis itu diam, dia kaget juga terharu mendengar jawaban kakaknya, tetapi tetap saja itu aneh dan tidak masuk akal.
Ricky berdiri bersiap untuk pergi.
"Tapi aku tidak akan seperti itu."
Ricky menoleh, dia mengerutkan alisnya.
"Aku tidak akan membuat kakak meninggalkan orang yang kakak sayang hanya karena egoku."
Ricky tak menyahut, dia melangkah saja. Ada raut kesal saat mendengar jawaban Richi padanya.
BUM!!
Suara ledakan mengagetkan keduanya. Richi membelalak mendengar suara yang menggema di sekitar gedung rumah sakit. "A-apa itu?"
Ricky dengan cepat membuka tirai jendela kaca yang lebar dan terkejut mendapati gumpalan asap yang jauh di ujung sana.
"Kak.. apa itu bom Harry?"
Ricky tak menjawab, matanya terus melihat keluar jendela.
BUM!!
__ADS_1
Gedung rumah sakit bergetar, Richi menutup kepalanya karena lokasi tempat yang meledak tak jauh dari tempatnya berada.
"Ayo, keluar."
Ricky menggendong adiknya dan langsung berlari menuruni tangga. Banyak pasien yang terkejut dan ikut keluar.
Banyak orang terkejut dan berhamburan di halaman rumah sakit. Mereka menatap ke arah dimana gedung yang tak jauh dari mereka runtuh dan percikan api masih terlihat jelas. Riuh pun tak terelakkan, banyak pertanyaan muncul diantara mereka.
"Kak, gedung apa itu?"
"Itu..." Ricky menyipitkan matanya. "Perusahaan tuan Draw."
"Ayah Harry??" Mata Richi terbelalak tak percaya.
"Kenapa dia meledakkan gedung ayahnya sendiri?" Tanya Ricky merasa heran.
"Artinya itu bukan dia yang melakukannya, kak. Itu tidak mungkin."
Ricky mengeluarkan ponselnya. "Kita bergerak sekarang." Ucapnya pada orang diseberang telepon.
"Richi, Ricky, astaga, Ibu mencari kalian.." Marry tampak panik dengan napasnya yang terengah. Di belakangnya ada dua orang pengawal mengikuti.
"Bu, aku pergi dulu."
Tanpa menunggu jawaban, Ricky berlari menuju tempat peledakan terjadi.
"Ah, sial. Aku ingin sekali ikut." Gumam Richi sambil melihat kakaknya yang perlahan menghilang dari pandangannya.
...🦢...
"Hahaha. Lihat Shera, gedung-gedung itu kini hampir rata dengan tanah."
Harry terbahak-bahak seolah tengah menyaksikan pertunjukan lawak.
"Aah, leganya." Harry berjalan mendekati Shera. Dia merebahkan tubuh Shera yang masih belum mau berbicara.
"Kau marah karena aku mengikatmu? Aku takut kau lari lagi." Ucapnya lalu berbaring di sebelah Shera.
Gadis itu membelakangi Harry. Dia menghadap ke kanannya. Melihat itu, Harry hanya tersenyum. Dia menarik selimut sampai ke bahu mereka.
Harry merapatkan tubuhnya, memeluk Shera dari belakang.
"Kau tahu, Shera, malam ini adalah malam yang menyenangkanku. Pertama, akhirnya setelah berhari-hari aku menemukanmu. Kedua, perusahaan pak tua itu akhirnya hancur juga." Ucapnya smebari menutup mata.
"Shera.. aku lelah.." Harry merapatkan lagi tubuhnya, mengecup belakang kepala Shera. "Selamat tidur, Shera. Mimpi indah." Ucapnya lalu menepuk tangannya untuk memadamkan lampu kamar.
...🦋...
Richi tengah duduk di taman belakang rumah dengan novelnya, memberi peringatan kepada siapapun di rumah untuk tidak mengganggunya, kecuali..
"Hei.."
Richi menoleh, Hugo berdiri dengan seragam sekolahnya.
"Hugo, lama sekali!" Protesnya pada orang yang baru menarik oksigen di taman itu.
Richi dengan cepat meraih kantong yang diserahkan Hugo.
"Apa ini?" Tanyanya dengan wajah berseri. Dia mengambil sesuatu berbentuk kotak dari dalam kantong itu.
"Buku?"
"Iya. Kau kan, suka baca buku."
"Aku tidak suka baca buku, Hugo."
"Lho, jadi itu apa?" Hugo menunjuk novel di tangan Richi.
"Ini novel tentang cinta."
"Itu juga tentang cinta."
Richi membaca judul buku yang dia pegang. "Cara menyenangkan hati kekasih??" Keningnya berkerut membaca judul pada cover buku itu.
Hugo tersenyum lebar, "aku membelinya supaya kau mengerti cara berpacaran yang benar."
"Kenapa harus aku saja? Memangnya kau tahu??"
"Tahu, buktinya aku sudah melakukannya. Memberi hadiah untuk sang kekasih. Nah, ini hadiahnya."
Richi meletakkan buku itu dengan malas. "Ya sudah, terima kasih." Ucapnya lalu membaca novelnya lagi sementara Hugo duduk disebelahnya.
"Ada lagi, nih."
Richi menoleh, Hugo memberinya sebuah kotak kecil. Richi membukanya perlahan dan menganga dengan apa yang ada di dalam.
"Kau suka?"
"Hugo, ini cantik sekali." Ucapnya sambil memegang jam tangan hitam di tangannya. Jarumnya berwarna putih dan tulisan kecil inisial H.E ada di dalam.
"Aku juga ada." Hugo menunjukkan tangan kirinya. Jam tangan yang sama dengan Richi namun agak lebih besar dan tulisan R.D.W di dalamnya.
Richi terkesima dengan hadiah dari Hugo. Dia terus tersenyum melihat jam couple yang ada di tangan mereka berdua.
"Waah, sejak kapan kau memikirkan ini?" Tanya Richi yang matanya tidak lepas dari jam mereka.
"Sejak kemarin. Aku terus memikirkan hal-hal yang kau suka. Karena kau tidak suka perhiasan, jadi aku membeli yang seperti ini."
Richi menatap Hugo. Lelaki itu terus memikirkannya sementara dia tidak tahu apa yang disukai Hugo.
"Terima kasih, Hugo. Maaf, aku belum memberi apa-apa padamu."
"Beri saja aku masa depanmu."
__ADS_1
"Apa??" Pekik Richi.
"Apa? Kau mikirkan apa?"
"Apa?? apa maksudmu??"
"Menikah denganku, Richi."
Lagi-lagi Richi melongo. Hugo mengajaknya menikah seperti mengajak kencan, mudah sekali.
"Iyaa, aku tahu, tidak sekarang. Pokoknya kau harus menikah denganku, jangan orang lain. Aku tidak terima!" Tukasnya tiba-tiba saat Richi membuka mulut ingin protes.
"Sekali lagi terima kasiiiih.." Richi mengacak-acak rambut Hugo dengan gemas.
"Iya, sayang. Katakan, apa lagi yang membuatmu senang. Aku akan melakukannya."
"Nanti akan aku katakan. Pokoknya kau sering saja kemari supaya aku tidak bosan." Jawab Richi sembari memasukkan lagi jam tangannya ke dalam kotak.
"Gampang kalau itu. Kau sudah melihat laman baruku?"
Richi menggelengkan kepala lalu membuka ponselnya.
"Memangnya kau unggah ap..." mata Richi membulat. Hugo mengunggah foto dirinya yang berdansa memakai topeng dengan Hugo.
"Seharusnya aku memberi hadiah pada yang memotret. Aku suka sekali foto itu." Kata Hugo sambil melirik Richi yang ikut tersenyum melihat fotonya bersama Hugo.
"Apa ya, respon orang-orang saat tahu kalau itu kau. Pasti begini: 'Tidak mungkin itu Richi, masa Richi? Mustahil, Richi si tomboi itu? Pasti bukan! Richi bukan tipe Hugo!" Hugo cekikikan sendiri dengan analisanya, tanpa ia sadari Richi menatap kesal padanya.
"Ya sudah, tidak usah bilang kalau kita pacaran dan akupun tidak akan mengaku kalau kau pacarku!"
"Hahaha, bercanda, sayang. Sumpah." Ucapnya sambil mencolek pipi Richi.
"Ck! Jangan pegang-pegang."
Hugo menahan tawanya sambil terus menatap wajah Richi. Lucu sekali, perempuan disebelahnya ini sering berwajah bengis apalagi saat berhadapan musuh. Lalu sekarang tingkahnya sungguh imut. Untunglah dia menunjukkan sisi menggemaskannya hanya pada Hugo.
"Kapan mulai sekolah? Nanti aku beri hadiah, aku janji. Kau suka kan, semua hadiah yang kuberikan? Nanti aku berikan lagi padamu, oke?"
"Hugo, bujuk Ibuku supaya mengizinkanku sekolah. Ya, ya?" Kini wajah Richi semakin menggemaskannya.
"Kenapa senyum-senyum? Ayo, temui Ibu dan bilang kau akan menjagaku selama di sekolah!"
"Jangan dipaksa. Kelas kita lantai dua. Perutmu bisa sakit kalau kau turun naik tangga." Tukas Hugo seolah tidak setuju Richi sekolah besok.
"Ayolah, Hugo. Aku rindu suasana sekolah. Kau bilangkan pada Ibu, ya?" Bujuk Richi lagi.
"Ibu pasti tahu yang baik buatmu. Turuti saja."
"Tapi Hugo, aku.. aahh..."
"Eh? Kenapa Chi??" Hugo panik saat Richi meringis memegang perutnya.
"Sakit! Makanya bilang sama Ibu!"
"I-iya, nanti aku coba bilang sama Ibu, ya?"
Richi mengangguk-angguk sambil menahan senyumnya.
"Tunggu dulu. Kalau sakit, kenapa sekolah??"
"Aah!" Richi berdiri dari tempatnya dengan kesal. "Pokoknya bilang saja sama Ibu. Aku bosan di rumah!"
"Lho? Kau sudah bisa berdiri? Kau menipuku, ya!"
"Memangnya selama ini aku lumpuh??" Tanyanya balik dengan wajah ketat.
"Heei. Kenapa bertengkar??" Marry berdiri agak jauh di depan pintu penghubung taman dan ruang santai.
"Nanti kalau tidak bertemu, yang satu minta Hugo cepat-cepat datang, yang satu lagi menatap terus saat Richi tidur." Marry terkikik. Ucapnya lalu pergi sementara kedua orang itu saling diam sesaat.
"Kau menatapiku saat tidur rupanya.."
"Memangnya siapa yang menyuruh-nyuruhku untuk terus datang kesini.."
"Hanya karena aku bosan!" Sanggah Richi dengan bibir mengerucut dan langsung duduk lagi.
"Ya sudah, nanti aku tidak akan mau kalau disuruh datang kemari lagi." Kata Hugo merajuk.
"Ya sudah."
Hugo melirik dengan dahi berkerut. "Kau tidak membujukku?"
"Kenapa harus dibujuk? Aku bisa memanggil orang lain jika bosan."
Hugo menghela napas. Walau menyenangkan, tetapi Richi perempuan dengan level tersulit yang pernah dia temui. Sungguh keras.
"Ya sudah, aku akan bilang pada Ibu nanti. Tapi syaratnya, kau harus pulang dan pergi sekolah bersamaku."
Richi mengangguk-angguk sambil tersenyum cerah. "Oke! Aku setuju!"
Hugo mengelus lembut rambut Richi.
"Lalu kau, kapan memberitahuku masalahmu sama Ricky?"
Hugo diam sejenak, dia menarik napas dan menghembuskannya perlahan.
"Masalah kami complicated. Aku tidak tahu bagaimana Ricky, karena menurutku masalah ini hanya salah paham. Dia mengira, aku ada hubungan dengan Cecilia."
"Hah?" Richi melongo namun duduknya tidak lagi tegak. Dia lesu mendengar ucapan Hugo.
"Chi, sumpah,.aku tidak suka dengan perempuan itu. Aku tidak..."
"Hei, Hugo. Bukan itu.."
__ADS_1
"Aku pikir masalah besar menimpa kalian berdua sampai dendam bertahun-tahun. Ternyata, hanya karena perempuan." Richi menepuk jidatnya. Dia kini tahu kenapa Ricky enggan bercerita.
TBC