
Daren berdiri diantara para tamu yang menyaksikan orang-orang yang tengah berdansa dengan pasangan-pasangannya.
Daren menatap satu pasangan yang tampak bahagia ditengah pedansa lainnya. Richi, perempuan yang kemarin baru saja menghabisi banyak orang demi membantu Hugo, sedang menari mengikuti alunan musik bersama Emerald.
Daren mengamati keduanya yang tampak bersenang-senang. Richi pun terlihat santai tanpa beban setelah Emerald berhasil mengambil alih Richi dari Harry.
Gadis itu nampaknya benar-benar menyukai Emerald.
Daren mendesah lesu, sepertinya Hugo tidak punya kesempatan. Apalagi, Richi terlihat sangat senang saat bersama Emerald.
Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, matanya masih menuju pada dua orang yang tengah menari-nari itu.
"Halo."
Daren berbalik, saat mendengar suara seseorang seperti menyapa dirinya.
"Apa aku mengganggumu?" Seorang perempuan dengan rambut yang digulung dengan pita merah jambu menebarkan senyum manisnya. Daren melihat lesung disebelah kiri pipi gadis itu yang muncul ikut menyapanya.
Daren tersenyum lalu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan gadis itu. "Ada yang bisa ku bantu?"
"Begini, bolehkah aku meminta nomor ponselmu?" Tanya gadis itu secara terus terang dan berhasil membuat wajah Daren tampak bingung sekaligus takjub dengan keberanian gadis di depannya itu.
"Nomorku?" Daren mengulang pertanyaannya. Dia tidak sangka ada gadis yang langsung ke poinnya seperti itu.
"Ya, bolehkah? Atau aku harus memberikan sesuatu untuk itu?" Gadis itu meminta nomor ponsel Daren seperti sebuah kepentingan.
Daren mengerutkan alisnya. "Seperti?"
"Apa saja. Asal kau memberi nomormu". Gadis itu memasang wajah memohon. "Tolonglah". Dia menyatukan kedua telapak tangan di dada, memohon supaya Daren memberikannya.
Daren menarik senyum sebelah kirinya. "Baiklah."
"Ah, ya ampun. Terima kasih." Gadis itu lalu memberikan sebuah pena dan telapak tangannya. "Tulis saja disini". Katanya sambil merenggangkan jari-jarinya.
Daren menuliskan nomornya di telapak tangan gadis itu.
"Terima kasih banyak." Ucapnya sambil mengambil pena dari tangan Daren. Gadis itu tersenyum dan berlalu pergi.
Gadis itu menghampiri teman-temannya yang sudah menunggu sambil tertawa takjub atas keberhasilannya meminta nomor Daren.
"Lihat apa, Daren?"
Camilla datang dengan dua gelas wine di tangan. Dia memberikan segelas pada lelaki yang tampan dengan setelan jas dan Turtle Neck-nya.
"Kau minum ini?" Daren menghiraukan pertanyaan Camilla dan fokus pada minuman yang dibawa gadis yang memakai gaun mempesona itu.
"Ayo, pulang. Aku sudah menjadi pasanganmu disini. Dan kau harus beritahu aku keberadaan Hugo". Camilla menenggak air di dalam gelasnya hingga habis.
"Hei, Camilla. Kenapa meminumnya semua? Kau kan, tidak bisa banyak minum."
"Sudahlah. Ayo, cepat". Ucapnya mulai sempoyong.
Daren meletakkan gelasnya tanpa meminumnya. Dia mengikuti Camilla dari belakang. Gadis itu hampir jatuh.
__ADS_1
"Jangan pegang!" Bentaknya saat Daren mencoba memapahnya.
Dengan sabar Daren mengikutinya berjalan sampai ke mobil dan membukakan pintu untuk Camilla.
Dia menutup pintu saat Camilla sudah masuk, Daren menghela napas. Dia berhasil membawa Camilla sebagai pasangannya walau gadis itu tampak terpaksa demi mendapat informasi Hugo yang tak menghubunginya beberapa hari ini.
Camilla, perempuan yang dia sukai sejak pertama bertemu di kantin sekolah Uranus, sekolah Camilla, 2 tahun yang lalu.
Gadis itu datang dengan wajah ceria menghampiri mereka. Mengajak berkenalan, lalu dekat dengan mereka, dan yang paling dia kejar adalah Hugo.
Camilla mendekati Daren lebih dulu bukan karena menyukainya, melainkan untuk mendapatkan informasi tentang Hugo. Sampai-sampai gadis itu mau saja pergi kesana kemari bersama Daren asal dia mendapat sesuatu apapun tentang Hugo.
Tanpa peduli dampak pada dirinya sendiri, sampai sekarang, Daren masih saja mengajaknya ke berbagai tempat demi bersama Camilla walau terus mendengarkan ocehan yang semuanya tentang Hugo.
Daren terperanjat saat Camilla mengetuk-ngetuk kaca mobil dari dalam.
Dia langsung masuk mobil dan meminta supirnya untuk jalan.
"Kau mau kemana lagi? Aku akan mengantarmu dan.."
"No. Aku mau pulang." Camilla memijit kepalanya yang mulai terasa berat karena wine yang ia tenggak.
Daren membuka kancing jasnya yang terasa menyesakkan.
"Cepat, katakan dimana Hugo sekarang. Kenapa kalian tidak datang ke sekolah secara bersamaan?"
Daren diam sejenak. Menatap keluar jendela yang indah karena lampu jalanan.
"Daren, kau sudah janji padaku".
"Baiklah. Akan aku bawa kau kesana." Ucapnya pada Camilla hingga membuatGadis itu tersenyum.
"Ke tempat Hugo" katanya pada supirnya.
"Baik Tuan".
...🌻...
Richi menunggu Emerald di sebuah bangku taman tak jauh dari restoran itu. Emerald mengajak Richi kabur dari sana karena tahu gadis itu tidak begitu menyukai acara pesta.
Emerald datang dan mengulurkan sebotol air mineral pada Richi.
"Terima kasih". Ucap Richi tersenyum. Dia lalu menenggak air itu.
Richi menggulung rambutnya yang terhempas karena angin malam.
Emerald berdiri, dia melepas jeketnya lalu menyelimutkannya di pundak Richi.
Perempuan itu tertegun.
"Dingin, pakaianmu terbuka malam ini." Ucapnya lalu menyingsing kedua lengan kemejanya.
Richi tidak menjawab. Dia hanya terdiam, jantungnya mulai berdegub lebih cerpat dari biasanya.
__ADS_1
"Apa kakimu sakit?" Emerald melirik kaki Richi yang sudah terlepas dari sepatu hak tingginya dan menginjaknya sebagai alas supaya kakinya tidak kotor.
"Tidak, hanya kurang nyaman". Richi ikut melirik ke bawah kakinya.
"Mau aku bantu pijat kakimu?" Emerald membungkuk untuk meraih kaki Richi.
"Eh?" Richi refleks menjauhkan kakinya dari jangkauan Emerald.
"Kenapa?" Emerald malah bertanya dengan wajah polosnya.
Richi tidak bisa menjawab. Dia berkedip beberapa kali.
"Kemarikan, biar kubantu pijit." Emerald meraih kedua kaki Richi dan meletakkannya di atas pahanya.
Richi terbelalak, Emerald mulai memijit-mijit telapak kakinya.
"Bu-bukankah, ini tidak sopan, kak?" Richi terbata-bata. Emerald bahkan tidak keberatan menyentuh dan memijit kakinya.
"Tidak. Jangan sungkan padaku." Ucapnya dengan tersenyum lebar. Dia melakukannya karena rasa sukanya pada Richi sudah mulai bertambah. Dia tidak ingin gadis itu merasa tak nyaman.
Richi tertegun. Dia menatap wajah Emerald yang mulai bercerita ini dan itu. Richi tidak mendengarkannya dengan baik, karena dia sibuk dengan pandangannya yang tertuju pada wajah Emerald.
"Iya kan, Richi?" Tanya Emerald di akhir ceritanya.
"Eh? Iya." Jawabnya asal karena tidak mendengar apa yang Emerald katakan. Dia terpana pada Emerald yang memperlakukannya dengan manis. Mana mungkin ada perempuan yang tidak melting jika di perlakukan seperti itu oleh Emerald? Dia lelaki yang benar-benar memikat hati Richi sekarang.
...🦄...
Hugo terbangun saat mendengar suara sesegukan di dekatnya. Dia melihat Camilla duduk di kursi sebelah kasurnya. Gadis itu berdandan cantik dengan rambutnya yang tergerai panjang.
"Hugo, kau bangun?" Suara Camilla serak karena menangisi Hugo.
"Sorry, Hugo. Camilla memaksa masuk". Ucap Isac yang lalu dibalas anggukan kecil dari Hugo.
Dia melihat Daren berdiri di belakang Camilla, membuatnya mengerti bahwa Daren yang membawanya kemari.
"Hugo, kau kenapa? Kenapa bisa seperti ini?" Camilla menangis dan bersedih melihat wajah Hugo yang masih berbekas luka kecil dan lebam.
Melihat Camilla menangisinya, Hugo teringat Richi.
"Aku kecelakaan. Tidak parah." Jawabnya menenangkan Camilla. Sepertinya Camilla tidak tahu kalau Hugo juga punya luka tembak di balik bajunya.
"Benarkah?" Camilla menghapus air matanya. "Kau sudah baikan?"
Hugo tersenyum lalu mengangguk. "Kau mabuk?" Tanya Hugo saat melihat Camilla bertingkah agak berlebihan.
"Hugo". Camilla menutup mulutnya. "Kau menciumnya?"
Hugo diam, karena hanya bercanda. Tetapi gadis itu benar-benar serius.
"Kau pulanglah, Daren akan mengantarkanmu sampai rumah".
Camilla terdiam. Dia masih ingin disitu, tetapi karena Hugo menyuruhnya pulang, mungkin artinya Hugo ingin istirahat.
__ADS_1
Camilla mengangguk. "Aku akan kesini lagi besok. Aku pulang dulu, Hugo. Kau harus sembuh". Ucapnya lalu melambaikan tangannya, berlalu keluar ruangan dan disusul Daren di belakangnya.