
Hugo keluar dari lift membopong tubuh Richi. Dia keluar dari sana dengan berlari kecil.
"Darrel!" Teriak Olivia.
"Cepat, ambulan disebelah sana!" Bella menunjuk satu arah pintu keluar dan dengan cepat Hugo berlari ke arah sana.
Ricky yang baru turun dari tangga langsung berlari saat melihat Hugo merebahkan Richi di atas brankar. Dengan cepat petugas menaikkan brankar ke atas mobil untuk melakukan pertolongan pertama.
Ricky yang melihat adiknya berlumur darah langsung menghajar wajah Hugo hingga ia terjatuh.
"Sialan! Aku percayakan dia padamu, lalu apa yang kau lakukan, Brengsekk!!" Ricky tersulut emosi, tangannya mengepal keras. Dia mengangkat Hugo dengan mencengkram kerah baju Hugo.
Dengan cepat, Simon dan Jonathan menahan kedua lengan Ricky yang hendak menghajar Hugo lagi.
"Lepas, Sialan!!" Teriak Ricky dengan wajah marahnya menatap Hugo.
Hugo mengelap kasar darah yang keluar dari hidungnya. Bukan tanggung, tenaga Ricky sepertinya mematahkan tulang hidungnya.
"Dari awal aku tidak percaya padanya, Bangsat!" Ricky memberontak, dia terus menatap tajam pada Hugo yang hanya diam karena rasa bersalahnya yang amat besar.
Hugo langsung naik ke ambulan, meninggalkan Ricky yang terus memakinya, memandangnya dengan tatapan benci.
Ambulan berjalan, kedua temannya melepaskan Ricky yang napasnya naik turun karena gejolak emosi yang sudah di puncaknya.
Simon menepuk pelan pundak Ricky, "kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Ricky tak menjawab, matanya masih fokus menatap ambulan yang perlahan menghilang dari pandangannya.
"Urus yang disini." Ucapnya pada Simon dan dia beranjak dari tempatnya.
Hugo menggenggam tangan Richi. Dia menangis, menciumi tangan itu. Richi sudah dipasang oksigen dan tengah memejamkan matanya.
"Bertahanlah. Bertahanlah, kumohon." Hugo terisak, dia tidak bisa melakukan apapun selain berdoa untuk keselamatan Richi yang mengorbankan dirinya.
Tangisan Hugo dirasakan gadis itu. Dia membuka matanya namun lidahnya tak bisa berkata-kata. Air matanya ikut mengalir ke pelipis, dia sedih melihat Hugo yang memejamkan mata sambil menggenggam erat tangannya. Richi tidak bisa menahan kantuknya, pertolongan pertama yang diberikan para medis padanya tengah bekerja. Richi memejamkan matanya.
Richi dilarikan ke ruang operasi. Hugo menunggu diluar, dia terus mengintip ke dalam, ingin sekali mendampingi gadis itu, memastikan bahwa dirinya bisa melewati itu semua. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu.
Hugo terduduk bersandar di depan pintu ruang operasi. Dia menekuk lututnya dengan kepala yang mengadah ke atas. Memohon supaya Richi bisa selamat. Dia takkan memaafkan dirinya jika terjadi apa-apa pada gadis itu, bahkan membayangkan untuk kehilangannya saja, Hugo tidak mampu.
Di tempat lain, Harry terduduk bersandar di depan ruang operasi, hal yang sama dengan Hugo. dia menangisi kebodohannya selama ini, menyia-nyiakan Shera yang selalu melindunginya, mengabaikan gadis yang selalu memperhatikannya. Bahkan nyawa pun ia berikan, hal yang menunjukkan Shera benar-benar mencintainya pada level tertinggi.
Harry menyesali semua perbuatannya. Kini pikirannya melayang jauh saat pertama mereka bertemu. Dengan berani Shera mendekatinya.
Dua tahun lalu, saat Harry duduk sambil membaca di sebuah toko buku, gadis itu ikut duduk disebelahnya, membuka buku sambil sesekali melirik ke arah Harry.
Merasa terganggu, Harry beranjak dan meletakkan buku di rak lagi. Dia pergi dari toko itu. Harry menyadari seorang gadis mengikutinya. Saat Harry melihat ke belakang, gadis itu pura-pura melihat ke arah lain.
Dengan cepat Harry berjalan dan masuk ke dalam sebuah gang kecil. Terlihat gadis itu kebingungan mencari Harry yang tiba-tiba hilang dari pandangannya.
Gadis itu melihat ke kiri dan kanan. Lalu berdiri di depan gang yang buntu dan mendapati Harry bersandar di tembok sambil menatapnya dingin.
Gadis itu tampak salah tingkah saat Harry mendekatinya.
Harry tersenyum saat mengingat itu, saat tinggi gadis itu masih melebihi tingginya.
"Kenapa kau membuntutiku?" Tanya Harry waktu itu.
"Aku.. tidak membuntutimu." Jawabnya terbata.
"Aku tahu kau mengikutiku!"
__ADS_1
Gadis itu tersenyum malu, lalu mengangkat tangannya. "Perkenalkan, Aku Sheraphina."
Harry memandangi jari lentik yang menunggu sambutan darinya. Namun Harry tak tertarik, dia pergi tanpa kata. Shera memandangi tangannya yang tak tersentuh, lalu mencebikkan bibir karena lelaki itu pergi begitu saja.
Beberapa hari kemudian, hari pertama masuk SMA, Harry berdiri sendirian. Tak ada teman disampingnya.
Shera, gadis itu datang lagi dan berdiri disampingnya.
"Kau?" Wajah Harry berkerut melihat perempuan yang tingginya melebihi dirinya itu ternyata satu sekolah dengannya.
"Wah, kau ingat aku?" Wajah Shera cerah.
Harry membuang wajahnya lalu berjalan menuju kursi dipinggir koridor. Shera ikut duduk disebelahnya.
"Tidak sangka bisa satu sekolah denganmu. Aku sangat senang." Celoteh Shera. Lelaki itu tak menjawab, dia memasang earphone di telinganya.
Shera dengan berani melepas satu dan meletakkan di telinganya. "Sedang dengarkan lagu apa, sih?"
Harry membelalakkan mata, gadis itu merapatkan diri supaya bisa ikut menikmati musik yang ia dengarkan.
"Ah, lagu ini.. aku tahu. Penyanyinya juga.."
Shera terus mengoceh, wajahnya yang begitu dekat dengan Harry membuat lelaki itu memandangnya. Wajah ceria Shera yang sangat menarik di matanya, namun karena tingkahnya yang aneh membuat Harry merasa Shera bukan gadis anggun yang dia suka.
Seperti itu, Shera yang terus mengejarnya hingga Harry kini luluh padanya. Bukan hal mudah, Shera harus berdarah-darah dahulu untuk terus mendapatkan hati Harry sampai akhirnya, nyawa yang ia pertaruhkan akhirnya mampu menyadarkan Harry.
Pintu ruang terbuka, Harry langsung berdiri. Wajahnya menegang menunggu hasil operasi dari dokter andalannya.
"Tuan, operasi berjalan lancar. Nona akan dibawa keruangannya."
Shera keluar dengan alat bantu napas dan lainnya, dia dipindahkan ke ruangan khusus yang dipesan Harry.
Sebenarnya, dokter ingin mengatakan kalau Shera belum bisa dijenguk, namun dia mengurungkan niat sebab Harry langsung masuk tanpa aba-aba.
Melihat itu, dokter dan perawat keluar meninggalkan Harry sendirian.
Lelaki itu melepas kacamatanya. Dia meletakkan tangan Shera di pipinya. Mengingat lagi keluhan Shera, bagaimana ketidak adilan dirinya pada gadis itu.
"Kau ingin tidur di ranjangku, hm?" Gumam Harry yang tersenyum mengingat cemburuan Shera saat melihat Richi yang tidur di ranjangnya.
"Maafkan aku. Kedepannya, kau akan bisa menyentuh apapun yang kau inginkan. Kau perempuan luar biasa yang pernah kutemui. Perasaanmu padaku tulus bahkan sejak awal kita bertemu. Seandainya waktu bisa diulang, aku ingin sekali langsung mendekapmu saat pertama kau memberanikan diri mendekatiku."
Harry tersenyum lagi mengingat Shera yang terus saja menghampirinya walau selalu tak digubris.
"Hei lihat, Harry. Aku masuk Cheerleader, lho."
Harry melirik sekilas. "Aku daftar karena kau masuk ke tim basket. Aku yang akan menyemangatimu. Hehee."
Harry menghela napas dan beranjak dari gadis itu.
"Tahu tidak, aku dipuji oleh kakak senior karena badanku bagus dan aku jago, loh." Shera mengikutinya dari belakang, terus mengoceh.
Harry tertawa lagi mengingat itu. Rasanya gadis itu seperti punya banyak semangat dalam dirinya. Terus saja mengejar Harry.
"Shera, kau pernah bilang, kan? Banyak laki-laki yang mencoba menggodamu. Dan aku juga melihat itu setiap hari di sekolah. Aku tidak peduli karena aku tahu kau takkan berpaling dariku. Akupun akhirnya memperkenalkanmu dengan duniaku supaya kau menjauh, tetapi tidak, kau tidak berubah." Harry mencium tangan Shera.
"Cepatlah sadar, Shera. Aku tidak sabar melihat matamu yang berbinar saat melihatku." Harry meletakkan tangan Shera perlahan, dia mengecup lembut kening gadis itu. Satu hal yang ia tekankan adalah apapun yang Shera inginkan, dia akan melakukannya.
~
Hugo menyandarkan kepalanya di pintu ruang operasi. Rasa sakit di hidungnya kian terasa, namun dia tidak peduli. Richi lebih penting dari itu, rasa sakit Richi lebih parah daripada hidungnya itu.
__ADS_1
Ricky berdiri tak jauh darinya, melihat lelaki dengan wajah kusut itu tengah mengadahkan kepalanya. Dia bisa merasakan kalau lelaki itu memang benar-benar menyukai adiknya, tetapi hatinya menolak menerima Hugo.
Marry dan Wiley datang menghampiri Ricky yang hanya berdiri di tengah lorong diikuti dua pengawal dibelakang mereka.
"Ky, ayo." Marry berjalan cepat, langkahnya terhenti melihat laki-laki yang duduk di depan pintu itu.
Dia menatap suaminya yang juga memandang heran, siapa laki-laki yang ada di depan ruang operasi.
Pintu terbuka, dengan cepat Hugo berdiri dan bertanya keadaan Richi.
Ricky, Marry, dan Wiley langsung menemui dokter.
"Bagaimana putri saya, dok?" Tanya Marry panik.
Hugo memundurkan diri, membiarkan keluarga Richi yang pasti khawatir dengan anak perempuan satu-satunya di keluarga itu.
"Tusukan pada perut putri anda sangat dalam dan bendanya juga sangat tajam hingga membuat beberapa organ sobek."
Marry memejamkan matanya, tak kuat mendengar ucapan dokter. Wiley langsung memeluk istrinya.
"Lalu, apa ada kendala, dokter?" Tanya Wiley.
"Operasi sudah kami lakukan dan semua berjalan lancar, namun pasien harus banyak istirahat dan tidak boleh banyak gerak. Pasien akan kami pindahkan ke ruangannya."
Brankar Richi di dorong oleh beberapa perawat, Hugo melihat Richi yang belum tersadar. Dadanya sesak melihat gadis itu terbaring disana dengan bantuan beberapa alat di tubuhnya.
Rasanya teramat berat, apa yang Richi alami lebih keras ketimbang dirinya saat ditembak di dada kanan. Tidak ada organ penting yang kena dan pemulihan lebih cepat.
Hugo tak ikut ke ruangan Richi. Dia diam saja melihat tempat tidur yang didorong dan diikuti keluarga Richi. Dia tak berani mengambil langkah kesana walau ingin sekali mendekat. Tetapi melihat kepalan tangan Ricky saat mendengar dokter berbicara, juga kedua orang tua Richi yang tampak sangat khawatir membuatnya sedikit ciut.
"Kau Hugo?"
Mendengar suara dari depan, Hugo mengangkat kepalanya.
"Bisa bicara sebentar?"
Hugo duduk menunduk disebelah Wiley Thomas, salah satu orang penting di negara ini dan yang tak kalah penting, dia adalah ayah dari kekasihnya. Perawakan Wiley yang tegas dan berwibawa membuat Hugo sedikit bergetar berhadapan dengan sang calon mertua. Apakah Ayah Richi akan melarangnya bertemu gadis itu lagi?
"Aku sudah melihat rekaman cctv. Kau tidak perlu khawatir, Richi melakukannya bukan karena paksaan siapapun. Dia melakukannya karena melindungimu."
Hugo mengangkat wajahnya, menatap pria di depannya yang ternyata tidak menyalahkannya.
Terdengar hembusan napas dari mulutnya. "Anakku sudah dewasa rupanya, dia melindungi orang yang disayanginya, membuatku agak sakit hati."
Hugo tertunduk lagi, seorang Ayah dari kekasihnya tengah mengungkapkan isi hatinya.
"Kau tidak perlu merasa bersalah. Lalu maafkan Ricky, ya. Dia sangat sayang pada adiknya, jadi wajar saja melakukan itu." Terdengar sedikit tawa dari Wiley yang seperti setuju dengan apa yang dilakukan anak laki-lakinya.
"Kau boleh menjenguknya kapanpun, aku mengizinkanmu. Tapi tidak tahu dengan Ricky, ya." Ucapnya lagi seperti tengah menciutkan nyali Hugo.
Wiley menepuk-nepuk punggung Hugo. "Melihatmu tadi, aku yakin kau mampu menjaga putriku. Kau harus kuat, ada Ricky di depan yang akan menjegal langkahmu. Untuk itu, kau harus tangguh. Richi bukan gadis biasa. Aku membentuknya supaya dia menjadi perempuan kuat. Jadi, jangan tangisi dia karena itu percuma. Anakku itu sangat kuat, kau tahu itu kan."
Hugo mengangguk sambil menghapus air mata yang belum menetes dari matanya. Entah kenapa terasa keluar begitu saja.
Wiley tertawa kecil melihat kesungguhan Hugo yang sampai menangis itu.
"Kau ini mengingatkanku pada Ayahmu yang menangis karena Ibu Richi lebih memilihku dari pada dirinya. Haha." Tawa Wiley terdengar nyaring.
"A-apa?" Hugo menoleh pada Wiley, tetapi Pria yang belum terlihat tua itu malah berdiri.
"Obati hidungmu, jangan sampai putriku yang khawatir melihatmu." Ujarnya lalu pergi meninggalkan Hugo dengan kebingungannya mendengar ucapan Wiley.
__ADS_1
"A-ayah? Ibu Richi?" Ucapnya meyakinkan pendengarannya tadi.
TBC