
Daren bersandar di mobilnya. Menatapi Olivia yang hanya tertunduk menghadapnya. Ada segores kemenangan di hati Daren, karena dengan menolong Olivia, artinya gadis itu tidak akan bisa melakukan apa-apa lagi padanya selain tunduk.
"Kau tahu apa kesalahanmu?" Tanya Daren.
"Aku menonaktifkan ponsel bukan artinya menghindarimu. Aku cuma takut ditelepon polisi." Jawabnya dengan nada yang amat lemah. Berbeda dari biasanya.
Daren menahan tawa. Baru kali ini dia melihat Olivia takut. Biasanya gadis ini sangat garang.
"Gara-gara kau aku menyetir sendiri kemana-mana."
Olivia mengangkat kepalanya. "Bukannya anda punya banyak supir ya, di rumah."
"Kau! Berani menjawab?"
Olivia memanyunkan bibir lalu menunduk lagi.
"Bagaimana caramu membayar utang? Baru kerja satu kali sudah membuat masalah."
"Aku akan kerja banting tulang. Memangnya berapa yang harus kubayar?"
"Tiga ratus lima puluh juta rupiah."
Olivia yang terbelalak mendengar jawaban Daren. "Apaa?? Kau gila? Bagaimana bisa sebesar ituu?!" Pekiknya secara tak sadar. "Ah, maaf.." Olivia lagi-lagi tersadar akan ucapannya yang tak sopan pada tuannya.
"Kau tahu, dia meminta dirimu sebagai gantinya. Dia mau kau menjadi babunya selama setahun."
"A-apa.."
"Jadi aku yang membuatmu lolos dari perbabuan. Kau bisa bayangkan sendiri bagaimana nasibmu kalau kau menjadi babunya."
Olivia tak menjawab. Jika memang benar apa yang diucapkan Daren, artinya laki-laki itu sangat membantunya.
"Jadi, karena aku sudah melakukan banyak cara supaya kau tidak jadi babunya, kau harus menghargaiku."
"Tapi kenapa.."
"Kenapa apa?"
"Kenapa kau membantuku sampai seperti itu?" Tanya Olivia dengan nada yang merendah.
Daren terdiam sejenak. Dia juga tidak begitu yakin kenapa bisa membantu Olivia sampai seperti itu. Padahal bisa saja dia menyerahkan Olivia pada Camilla dan itu tidak berpengaruh apapun pada dirinya, kan?
"Bisa-bisanya kau bertanya seperti itu??!"
"A-aku hanya ingin memastikan. Kau tidak ada perasaan padaku, kan?"
Kini, Daren yang terbelalak. Perempuan di depannya benar-benar sangat terus terang. Persis saat pertama kali bertemu.
Daren maju satu langkah, berdiri tepat di hadapan Olivia.
Daren mendorong perlahan dahi Olivia dengan telunjuknya. "Kau.. berharap aku suka padamu?"
"Tentu tidak dan jangan pernah."
"Hahahhaa.." Daren tergelak. "Percaya diri sekali kau!"
"Aku hanya memastikan saja. Kalau memang tidak ada, ya sudah."
Daren menatap tajam pada gadis yang tampak santai sekali bicara seperti itu padanya.
"Jadi sekarang, kau mengerti posisimu, kan?" Terang Daren dan Olivia menunduk dalam.
__ADS_1
"Iya, aku mengerti."
"Bagus. Besok kau yang mengantarku ke sekolah." Titah Daren.
"Hah, bagaimana caranya? Maksudnya aku jalan kaki dari sekolahmu ke sekolahku?"
"Bawa saja mobilku."
"Apa? Tidak, tidak." Tolak Olivia cepat.
"Kenapa?"
"Kalau mobilmu lecet, aku harus mengganti lagi. Begitu?"
"Kalau tidak mau, kau pindah sekolah saja. Siapa suruh kau memilih sekolah sampah seperti itu?"
"Hei, jaga bicaramu itu!" Olivia berang sambil menunjuk wajah Daren.
Lelaki itu menatap Olivia dengan tajam, sampai dia menurunkan tangannya secara perlahan.
"Pagi-pagi sudah harus di rumahku besok!" Titahnya dan langsung masuk dan menjalankan mobil.
"Huuuuw." Pekik Olivia sambil menendang angin. Tanpa ia sadari, aksinya itu dilihat oleh Daren dari spion mobilnya.
...🐥🐣...
Richi dan Hugo tengah duduk di lapangan basket. Napas mereka masih terengah setelah bermain dengan serius.
"Bagaimana soal janji itu?" Tanya Axel membuka topik pembicaraan.
"Janji apaan?" Tanya Isac.
"Hugo, bukankah kau mau membawa kami ke Villa mu itu?"
"Bagaimana kalau minggu depan? Ada dua hari libur." Tanya Axel sambil mengangkat-angkat alisnya kegirangan.
"Aku setuju saja. Kau bagaimana, Chi?" Tanya Hugo pada kekasihnya.
"Aku mengikut saja."
"Naaah. Fix minggu depan!" Teriak Axel girang.
"Aku akan mengajak tim Rubah. Kau tidak masalah, kan?"
Richi mengangguk, dia bahkan sangat senang jika teman-temannya diajak.
"Apa artinya, Olivia ikut?" Tanya Daren.
"Tentu saja. Kau mau menyuruhnya menyetir selama 4 jam perjalanan?" Tanya Hugo balik.
"Tidak, bukan begitu. Aku hanya ingin bertanya."
"Nampaknya kau senang dia ikut." Goda Richi yang melihat senyum samar Daren.
"Tentu. Dia mainan baruku sekarang."
"Awas saja kau kalau berani macam-macam padanya." Ancam Richi.
"Tidak banyak macam." Jawab Daren santai lalu berdiri memulai permainannya lagi.
Axel dan Isac pun ikut bermain lagi. Sementara Richi dan Hugo masih duduk di pinggir lapangan, seragam mereka sudah basah karena keringat.
__ADS_1
"Apa Daren menyukai Olivia?"
"Sepertinya begitu. Dia jarang melakukan itu pada perempuan." Jawab Hugo sambil tersenyum menatap Daren.
"Dia itu laki-laki yang terlalu berterus terang. Hanya pada Camilla dia menahan, itupun karena aku. Tapi sepertinya dia menyadari beberapa karakter Camilla yang tidak cocok pada dirinya. Lihat saja, beberapa hari lagi dia pasti akan mengakui perasaannya pada Olivia." Terang Hugo pada Richi yang ikut menatap Daren yang tengah bermain.
"Berbeda sekali denganmu, ya."
"Heii, setiap laki-laki itu berbeda, tahu." Sanggah Hugo membela diri.
"Begitu, ya."
"Lalu, apa kau diizinkan menginap?" Tanya Hugo.
"Biasanya sih, diizinkan."
"Aku yang akan mengatakannya pada Ayahmu."
"Iya. Izin juga pada Ricky supaya dia merasa dihormati." Sambung Richi. "Oh ya, bagaimana hasil rapat kemarin?" Tanya Richi yang memang tak ikut rapat internal kelompok Elang.
"Valiant tidak bisa menangkap tuan besar karena walau bukti itu valid, tetap saja terasa aneh jika yang menyerahkan adalah kelompok kecil. Maka Ricky akan menyerahkan bukti-bukti pada Jenderal yang punya posisi paling kuat. Dengan begitu, mereka semua akan tertangkap bahkan orang-orang yang mendukung tuan Draw."
"Sayang sekali, padahal aku ingin menangkapnya langsung."
"Hm, banyak yang kecewa. Tapi, menurutku memang kita sulit menangkapnya sendiri karena dia dilindungi banyak pihak yang berpengaruh di negara ini."
"Apa menurutmu ini akan berhasil?" Tanya Richi ragu setelah mendengarnya dari Hugo, rasanya akan banyak pihak yang membelanya.
"Entahlah. Semoga saja berhasil. Yang paling jelas adalah tuan Draw akan dipecat dari kemiliteran."
"Aku takut dia akan mengacau di acara Harry dan Shera."
"Tidak usah memikirkan mereka. Pikirkan saja aku."
Richi langsung menoleh. "Memangnya kau kenapa?"
"Merindukanmu. Kau lihat.." Hugo menunjuk dadanya.
"Kenapa?"
"Dadaku ini sudah ditumbuhi lumut karena kau tidak pernah memelukku lagi."
Richi merapatkan bibirnya menahan tawa. "Bukannya kemarin aku baru menciummu?"
"Di dalam air? Kau pikir apa rasanya?"
"Nikmat." Jawab Richi cepat.
"Apa kau bilang?"
Seolah tersadar, Richi langsung merapatkan kedua bibirnya.
"Coba katakan sekali lagi, aku ingin dengar lagi."
"Aku..."
"Nikmat kau bilang? Wah, kau diam-diam mesum juga ya, Richi. Aku tidak sangka." Hugo menggelengkan kepalanya, berpura-pura terkejut. Padahal dia juga merasakan hal yang sama dan menyukai kejujuran Richi.
"Ah sudahlah. Aku mau main." Richi bangkit dan berlari menuju lapangan, ikut bermain lagi bersama yang lain. Sementara Hugo tertawa terbahak-bahak dengan reaksi gadis itu.
Hugo ikut bergabung bermain basket dengan sengaja menggoda Richi.
__ADS_1
"Kalau kau kalah, maka kita akan mengulang ciuman di dalam air seperti waktu itu." Bisik Hugo pada Richi yang pipinya langsung memerah.
Hugo memulai aksinya. Tanpa teman-temannya sadari, taruhan rahasia pun dimulai.