Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Misi Besar 4


__ADS_3

BRAK! Sebuah kursi mendarat ke atas kepala musuh yang hendak menembak Richi. Clair, dia berdiri disebelah gadis itu dan langsung menembaki semuanya dengan senapan laras panjang yang dia punya. Suara nyaring peluru membuat seisi ruang berisik dan kelima orang di depan mereka terkapar seketika.


"Clair! Apa yang kau lakukan??"


Clair tampak bingung dengan pertanyaan Richi. Jelas saja dia membantu, kenapa malah bertanya seperti orang bodoh?


"Clair, aku butuh salah satu dari mereka!" Pekik Richi dengan kesal.


"Buat apa?" Tanya Clair ikut mengotot sementara Hugo langsung datang mendengar suara tembakan yang amat banyak.


Richi mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba meredam emosi dalam dadanya. Dia berusaha menahan diri, memejamkan mata dan menghembuskan napasnya perlahan karena tak ingin menghajar Clair yang mengacak rencananya.


"Chi, bagaimana?" Tanya Hugo yang melihat situasi tak seperti apa yang Richi susun pada mereka tadi.


"Ada apa, sih?? Aku membunuh orang yang akan membunuhmu!" Ujar Clair perlahan. Dia memang tak ada saat Richi menyusun rencana.


Richi dengan cepat berjalan ke arah Ricky, membuka paksa baju kakaknya hingga terbuka bagian dadanya yang dipasangi bom waktu.


Clair menganga, dia benar-benar tidak tahu soal itu. Apalagi waktu dalam bom di dada Ricky sudah berjalan dan mempunyai waktu selama 30 menit lagi. Itu sebabnya kah Ricky meminta mereka meninggalkannya?


"Kau tahu, Clair, bom ini dipasangi sandi dan hanya merekalah yang tahu." Kata Richi dengan suara yang mulai serak. Bagaimana pun, dia tidak punya cara lagi untuk menyelamatkan kakaknya.


Clair menegang. Dia sudah salah langkah, karena saking paniknya saat lelaki itu sudah bersiap menembak Richi. Dia hanya ingin menyelamatkan Richi.


"M-maafkan aku, Rel. Aku benar-benar tidak tahu.." cicit Clair sangat merasa bersalah.


Richi melepas ikatan di mulut kakaknya, juga ikatan di tangan dan kakinya. Darah Ricky bahkan masih basah. Dia mulai nenangis.


"Aku harus bagaimana.." lirihnya menunduk di hadapan Ricky yang tak bisa berdiri karena beban di tubuhnya.


"Aku sudah katakan untuk pergi. Apa kau tuli?"


Richi semakin tersedu mendengar ucapan Ricky. Dia tak mungkin melakukan itu, apalagi Ricky adalah satu-satunya saudara yang dia punya. Jika Ricky mati di tempat ini, maka dia tidak akan pernah memaafkan dirinya.


Hugo mendekat, mengelus lembut bahu gadis itu. "Aku akan mencobanya. Aku akan menonaktifkam waktunya."

__ADS_1


Richi menggelengkan kepalanya. Bukankah Hugo bilang resiko kesalahan amat besar pada bom itu? Jika salah, bukan cuma Ricky yang mati. Hugo juga akan mati.


"Aku tidak mau kehilangan kalian.." lirihnya lagi, kini air matanya mengalir.


"Aku akan berusaha. Aku pernah mempelajarinya. Percaya padaku. Dari pada kita tidak mencoba sama sekali.." Ucap Hugo kemudian membuka jeketnya lalu menggulung lengan baju dan mulai memperhatikan detail bom di badan Ricky.


"Harry, bagaimana?" Tanya Richi sembari menekan earpiece-nya. Ricky menatap adiknya yang tengah berkomunikasi dengan orang yang bernama Harry itu. Dia menyipitkan mata. Nampaknya, adiknya bersekongkol dengan Harry, orang yang akan dia penjarakan.


'Ada satu orang lagi disana. Mungkin dia tahu sandi pada bom yang ada di tubuh Ricky. Dia ada di ruangan depan. Mengontrol semua yang ada disana. Tapi berhati-hatilah. Aku tidak tahu siapa yang mengontrol itu. Bisa saja salah satu penjaga inti.' Tukas Harry yang hanya melihat titik-titik merah dan biru di layar tab-nya. Entah siapa yang mati atau hidup, Harry tidak mengetahuinya.


Richi beralih pada Clair yang masih menunduk di tempatnya.


"Clair. itu.." Richi menunjuk salah satu lemari besar di sudut ruang. "Dibaliknya ada pintu yang isinya merupakan semua yang kita perlukan. Sekarang tugasmu untuk membuka dan mendapatkan semua berkas pentingnya." Jelas Richi dan Clair mengangguk, segera melaksanakan perintah ketua timnya.


"Kau mau kemana?" Tanya Ricky pada adiknya itu.


"Membereskan satu permasalahan lagi." Ucapnya. Richi melangkah keluar, menuju pintu lagi. Dia menendang keras pintu itu dan mendapati satu orang yang dia kenali, Albern, bersama seorang laki-laki yang tampak kuat berada disebelahnya.


Albern bergidik, dia bersembunyi dibalik tubuh penjaganya.


Lelaki itu bergerak ke arah Richi dengan tangan yang mengepal. Dia melayangkan tinju tapi dengan cepat Richi menangkis dan berhasil menghajar balik wajah laki-laki itu. Tapi, seperti tak merasa sakit, dia kembali menghajar Richi dengan tangan yang terkepal kuat. Beruntung, Richi dengan kecepatannya mampu menghindari serangan.


Perkelahian terjadi dan benar-benar membuat gadis itu kewalahan. Ditambah, musuhnya seperti tak merasa sakit.


BRAK!


Richi terhempas ke belakang, tubuhnya terbentur keras pada pintu yang langsung terbuka seketika. Membuat Hugo langsung berdiri dan menghampiri Richi yang terjerembap memegangi perutnya.


Wajah gadis itu penuh luka, napas dan matanya mulai melemah.


Mata Hugo beralih pada lelaki yang kini berjalan ke arah mereka.


"Bangsat!!" Berang Hugo melihat kekasihnya itu terluka karena hanya seorang saja.


Dengan cepat Hugo menghajar lelaki itu. Tapi, lelaki yang nampaknya terlatih itu memang sangat kuat dan hebat. Hanya saja, ada satu yang membuat seseorang yang hebat sepertinya melemah. Yaitu kehilangan banyak darah.

__ADS_1


Richi mengambil dua pisau dari balik kaus kakinya. Dia mencoba berdiri dengan sisa tenaga yang ada. Hugo pula, terhempas kebelakang, dia terbatuk karena pukulan keras di dadanya.


Richi memasang kuda-kuda dengan kedua pisau itu. Dia menyerang, menggoreskan banyak luka di setiap tubuh lelaki itu. Richi terus berusaha melawan, membuat banyak luka yang dalam. Tapi, Richi benar-benar bingung karena musuhnya itu tak terlihat kesakitan.


Hugo bangkit, berdua bersama Richi menghabisi lelaki itu. Hugo menghajar sedangkan Richi terus menggoreskan pisaunya.


BRUK! Hugo berhasil membuat lelaki itu mengerang karena tendangan kuat di uluh hatinya dan dengan cepat Richi melompat, menancapkan pisau di punggung lelaki itu. Dia menarik pisaunya kebawah, mengoyak daging keras di tubuh lelaki yang kini mengerang kuat.


Tak berhenti disitu, Richi menancapkan satu lagi pisaunya di leher lelaki yang kini mengeluarkan banyak darah.


Richi langsung mencabut kedua pisaunya karena dia yakin, lelaki itu benar-benar kehilangan banyak darah.


Dia berjalan sempoyong, berusaha meraih sesuatu dalam sepatunya. Namun dia sudah tidak berdaya. Dia mulai tergeletak dengan darah yang terus mengalir.


"Chi, kau tidak apa-apa?"


Hugo terlihat kacau. Kening, pelipis, dan pipinya terluka parah hingga mengeluarkan darah.


"A-aku tidak apa-apa." Jawab Richi menahan sakit disekujur tubuhnya. Gadis itu mendekat pada Hugo, mencoba menghapus darah di wajahnya.


"Apa sakit?" Tanya Richi dan Hugo menggelengkan kepalanya. "Tidak, sama sekali."


"Darrel, satu lagi!" Jonathan masuk dengan membawa Albern yang sudah babak belur di tangan mereka.


"Bisa-bisanya kau lari, sialan!" Pekik Eddy.


Richi yang sudah tak punya banyak tenaga, langsung bertanya. "Katakan sandinya. Kau pasti tahu."


"Sandi apa! Aku tidak tahu!" Pekiknya dengan gigi yang sudah tanggal dibagian depan. Darah segar mengalir ke dagunya.


BRUK! Lagi, Eddy menghajar Albern yang kini memegangi perutnya.


"Cepat jawab!" Pekik Jonathan.


"Aku tidak tahuu, sialan!" Teriak Albern lagi.

__ADS_1


"Sudahlah. Letakkan saja dia disebelah Ricky. Bom itu akan meledak 12 menit lagi bersama dirinya. Kita keluar saja." Richi mulai berjalan keluar sementara Jonathan langsung mendudukkan Albern disebelah Ricky.


__ADS_2