
"What are you doing there, Erine?"
Erine perlahan berdiri. Dia merasa agak malu karena kedapatan merokok oleh Hugo.
Lelaki itu pula tampak melihat kesana kemari, memastikan siapa lagi yang ada di tempat itu karena biasanya Erine pasti bersama kembarannya.
"Aku..."
"Kau sendirian?"
"Bersama Eline dan teman-teman lainnya. Kalau begitu, aku pergi dulu."
Erine berjalan melewati Hugo. Tapi saat di depan pintu. Langkahnya terhenti mendapati Eline dan seorang teman perempuannya.
Eline menatapnya dan Hugo yang masih di dalam secara bergantian. Jari telunjuknya terangkat ke arah Erine, dia tengah kaget lantaran mendapati Erine dan Hugo dalam satu ruangan sepi.
Tak menghiraukan Eline, Erine berjalan saja meninggalkannya.
"Hugo, kau dan Erine.."
"Aku tak sengaja menemuinya yang sedang merokok disini."
Eline mengangguk-angguk paham. "Kau sedang apa disini?"
"Diundang temanku. Lama tak bertemu, Eline. Bagaimana keadaan kalian?"
"Baik. Tapi.." Eline menyipit melihat Hugo. "Kau tidak apa-apa kalau bertemu Erine? Bukannya Darrel..."
"Dia bukan perempuan seperti itu. Ah, maaf tentang waktu itu, ya. Aku diam saja lantaran sangat senang mendapati Richi yang ternyata punya sifat cemburu juga. Tapi setelah itu aku merasa bersalah pada kalian."
"Bukan apa-apa. Dia hanya takut kehilanganmu. Kalau begitu, mau bergabung?"
"Tidak, aku harus pulang." Hugo meninggalkan mereka disana. Dia ingin segera menemui Richi.
Sementara Eline masih diam menatap kepergian Hugo. Sejak beberapa hari lalu mendengar keluhan Camilla, sepertinya gadis itu benar kalau Hugo tipe laki-laki yang amat ramah. Sungguh berbeda dengan Richi yang hampir tak peduli dengan orang-orang disekitarnya.
"Tampan sekali. Itu siapa? Apa dia laki-laki yang kau ceritakan?"
Eline mengangguk lambat menanggapi pertanyaan temannya.
"Kalau dia, sih, aku percaya. Tapi kau bilang, dia sudah punya kekasih, kan?"
"Iya. Itu yang menjadi permasalahan. Nanti akan aku jelaskan. Sekarang, ayo temui Erine dulu. Dia pasti malu karena didapati merokok oleh laki-laki yang dia suka."
~
Hugo menyandar di bamper depan mobilnya. Tangan kanannya sudah menempelkan ponsel ke telinga.
'Iya, Hugo?' Terdengar suara dari seberang.
"Sudah tidur?"
'Hampir. Kenapa?'
"Aku rindu. Bisa keluar sebentar?"
'Ini sudah malam, Hugo. Aku tidak bisa menyusulmu.'
__ADS_1
"Aku di depan rumahmu. Ada sesuatu yang harus kau lihat dan sangat penting."
'Hah?' Terdengar berisik dari seberang. Suara pintu terbuka dan tertutup, lalu sepertinya gadis itu berlari keluar rumah. Membuat Hugo tersenyum cerah.
Pintu gerbang terbuka. Hugo mendapati kekasihnya berdiri dengan ponsel yang masih menyala di tangannya.
"Selamat malam, sayang. Kau buru-buru sekali saat kubilang di depan rumah."
Richi yang sudah memakai piyama tidur, mendekati Hugo.
"Kenapa kesini? Sesuatu apa?" Tanya Richi dengan napas yang agak memburu karena lari tadi.
"Hm. Ada sesuatu."
"Iya. Apa?"
Hugo menarik Richi mendekat. "Aku ingin memberimu sesuatu yang menyejukkan matamu."
"Oh, ya? Kau membelikanku apa?" Mata Richi membulat, membayangkan hadiah apa yang akan diberikan Hugo padanya.
"Aku tidak beli. Ini gratis." Hugo mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Richu. "Hadiahnya, aku."
"Hah?" Richi mengerutkan dahi.
"Tadi kau bilang aku sangat tampan. Jadi aku datang dan ingin menyegarkan matamu dengan melihat ketampananku secara langsung."
Richi melongo, sedetik kemudian dia tertawa mendengar tingginya kepercayaan diri Hugo.
"Kau suka hadiahnya?"
Richi mengangguk di tengah tawanya. "Aku suka sekali. Rasanya ingin kubawa pulang dan pajang di kamar."
"Kau mau mati, ya."
Hugo tergelak dan menarik tangan Richi supaya lebih dekat dengannya.
"Kau bilang tadi mau menciumku. Aku sudah datang kesini supaya kau bisa dengan leluasa melakukan itu."
"Hah. Kapan aku bilang begitu."
Hugo berdecak. Dia kesal padahal sudah cepat-cepat datang kesini supaya bisa bermesraan setelah mendengar ucapan Richi saat video call tadi.
"Kiw timpin sikili higi.. cin i kiss yi?"
Richi merapatkan bibir menahan tawa melihat ekspresi Hugo yang mencibir ucapannya tadi.
"Ah. Aku lupa karena terpesona melihatmu datang. Aku sudah bilang, kan. Kau sangat tampan dengan outfit hitam-hitam seperti ini."
Hugo tidak menjawab. Wajahnya pun menoleh ke samping. Padahal dia mengharapkan hal manis setelah datang, tapi kekasihnya ini benar-benar super cuek.
Melihat Hugo begitu membuat Richi merasa lucu. Kenapa lelaki itu suka sekali mengambek, ya?
Richi mendekat dan berjinjit. Dengan tangannya ia memutar wajah Hugo supaya mengarah padanya, lalu mengecup bibir Hugo cukup lama sampai membuat lelaki itu terkesiap dan spontan memegang pinggang Richi.
Setelah beberapa saat, Richi mundur satu langkah. "Sudah?"
Hugo membuang napas dengan ekspresi yang masih terkejut. Dia langsung mencari pegangan pada mobil di belakangnya saking merasa terkejut, tegang, dan tentu saja senang bercampur menjadi satu.
__ADS_1
"Chi.. kau.."
"Kenapa?"
"Mau lagi.."
Richi mencubit perut Hugo yang rata. Laki-laki itu pun meringis lalu tertawa.
"Sering-sering beri aku kejutan seperti tadi, ya."
Richi menggeleng kecil. "Sudah, sana pulang."
"Tunggulah sebentar lagi. Aku masih rindu." Hugo menggenggami sebelah tangan Richi, menatap jari-jari yang panjang dan lentik itu.
"Besok kita kemana?" Tanya lelaki itu.
"Tidak kemana-mana. Besok aku hanya ingin mengembalikan buku-buku ke kafe Clair."
"Jam berapa? Akan aku jemput."
"Hmm.. sekitar jam 10."
Hugo diam sebentar untuk berpikir. "Sepertinya tidak bisa. Aku ada pertemuan dengan agensi The Most."
"Hah? Ada pertemuan apa?"
"Aku kan, diajak untuk menjadi model mereka."
Mata Richu membulat. "Model? Kau mau menjadi model?"
"Lho, aku kan, sudah bilang padamu waktu itu. Kau bilang aku cocok jadi model. Itu sebabnya aku setuju dan sudah teken kontrak dengan mereka."
Richi menggigit bibir. Terus terang dia tidak ingat Hugo pernah menanyakan soal itu. Kalaupun ditanya, pasti Hugo merajuk lagi karena dia tak ingat pembicaraan itu.
"Aku pikir kau tidak minat dibidang itu." Ucap Richi kemudian.
"Awalnya begitu. Tapi setelah datang kesana, ternyata tidak buruk juga."
"Kau tahu, Chi. Mereka bahkan langsung memintaku jadi model tanpa uji ini-itu. Wajahku ini sudah diincar sejak dulu. Begitu katanya."
Richi mengangguk-angguk saja mendengar cerita Hugo. Dia juga tidak masalah dengan itu.
"Kau masuk model karena cemburu pada Aron, ya?"
"APA?! Bukan begitu! Aku mau karena memang suka." Bantah Hugo dengan tegas.
"Ooh. Yaah, aku tidak masalah kau mau kemana. Tapi kau harus tahu, Aron sendiri sering kesal karena privasinya sering dilanggar. Penggemarnya sangat banyak dan tentu saja itu... mengganggu."
"Aku sudah tahu itu. Sebelum jadi model kan, aku juga sudah terkenal di sekolah manapun." Hugo menyombong dengan menaik-naikkan alisnya.
Richi mendesah halus. Padahal dia sedang mengkhawatirkan dirinya sendiri, sebenarnya. Dia tak mau repot menghadapi fans gila Hugo seperti waktu dulu. Untung juga setelah video Richi berkelahi waktu itu tersebar, perempuan yang menghujatnya sudah berkurang bahkan tak ada sama sekali.
"Ya sudah, kalau gitu aku masuk, ya."
Hugo menarik pinggang Richi dan memeluknya. "Aku akan menyusul setelah aku selesai, ya."
"Iya. Selesaikanlah urusanmu." Ucap Richi menyudahi pelukan.
__ADS_1
"Masuklah. Kalau tidak bisa tidur, segera telepon aku."
Richi mengangguk. Dia melambaikan tangan kemudian menutup gerbang. Tak lama setelah itu, ponsel Hugo berdering. Isac meneleponnya karena Hugo meninggalkan mereka berdua disana.