
"Hugo, apa yang.."
Richi terdiam saat Hugo tiba-tiba saja mellumat bibirnya. Bunyi decapan terdengar saat Richi mulai ikut membalas ciuman Hugo.
Lelaki itu tak berhenti sampai disana. Ciumannya turun ke dagu, kemudian leher yang membuat sekujur tubuh Richi meremang.
Hugo menyesapnya, lalu membuat tanda merah disana.
"Hugo..."
Lelaki itu tak lagi mendengar. Pikirannya sudah kacau. Bagaimanapun dia sadar saat ini hanya berdua, di dalam kamar hotel pula. Tentu sebagai lelaki normal, dia menginginkan sesuatu yang sejak dulu ia tahan.
Richi meremas rambut Hugo saat merasakan sesuatu yang berdesir dalam aliran darahnya. Rasa ingin melayang bersamaan dengan sentuhan lembut yang Hugo berikan padanya. Belum pernah dia merasa seperti ini. Ada perasaan dimana ia menginginkan lebih dari sekedar cumbuan yang kini sudah turun ke dada.
Tangan kekar itu berhasil membuka sebagian kancing baju Richi. Matanya terus menatap dua gundukan indah yang masih ditutupi oleh kain hitam dengan aksen pita kecil ditengahnya.
Hugo menyentuhkan jarinya disana. Dia sedikit ragu. Apakah terlalu lancang jika dia melanjutkannya, walau dia tidak merasakan bantahan sedikitpun dari gadis itu.
Perlahan Hugo meremas benda mungil yang ukurannya sangat pas dengan tangannya. Untuk pertama kali selama setahun lebih, akhirnya dia bisa menyentuhkan langsung benda yang selama ini dia ingin tahu.
Hugo menatap Richi. Gadis itu juga tengah menatapnya.
"Hugo.."
Hugo tahu, dia dan Richi sudah membuat komitmen soal ini. Mereka tidak akan melakukannya sampai mereka sama-sama resmi menyandang status sebagai sepasang suami istri.
Hugo tersenyum lalu mengkancingkan baju Richi kembali. Dia masih sangat sadar dan tidak ingin mengecewakan gadisnya.
"Mau tidur?"
Richi mengangguk. Lalu Hugo menggendongnya menuju tempat tidur, membaringkan perlahan gadis itu lalu menyelimutinya.
"Hugo, bisa disini sampai aku tertidur?"
Richi menepuk perlahan sisi tempat tidur, menyuruh Hugo berbaring disebelahnya. Ada rasa bersalah dalam diri Richi, dimana ia tak bisa menuruti hasrat Hugo yang sangat ia tahu, lelaki itu menginginkannya.
Hugo naik perlahan ke tempat tidur, dan Richi benar-benar memeluknya.
"Aku akan seperti ini sampai tertidur."
"Tidurlah. Jarang-jarang bisa seperti ini, kan?" Tukas Hugo saat dia merasa tangan Richi mulai masuk kedalam baju, lalu meraba perutnya.
"Hugo, bisa buka saja bajumu?"
"Apa?"
Richi duduk. Dia menatap Hugo dengan mata bulatnya, berharap lelaki itu mau mengabulkan permintaannya.
"Hah, yaa, baiklaah." Hugo pun membuka kaos putihnya, membuat Richi tersenyum senang kemudian memeluk Hugo sambil tiduran.
Richi meletakkan kepalanya diantara lengan dan bahu Hugo, kakinya menyilang di kaki Hugo. Tak lupa tangannya meraba perut petak-petak yang keras dengan kekehan kecil dari mulutnya. Entah karena apa.
__ADS_1
"Katanya mau tidur?" Celetuk Hugo saat merasa Richi hanya bermain-main dengan tubuhnya.
"Ini juga sedang berusaha." Jawab Richi, tak menghentikan aktifitas tangannya diatas perut Hugo.
"Berusaha apanya. Kau bermain-main seperti itu."
Richi mendongak, merengut menatap Hugo. "Kenapa? Kau tidak suka?"
Mendengar itu, Hugo langsung mendekapnya erat. "Suka. Aku suka sekali sampai-sampai pikiranku melayang entah kemana."
Richi terkekeh, lalu kembali mendongak. Dia menyentuh rahang Hugo dengan lembut.
"Kau... mau melakukannya, Hugo?"
Hugo spontan menoleh. Dia menatap kedua bola mata bening Richi. "Kau.."
"Aku tidak apa.."
Hugo diam. Dia memang tidak bisa melakukan itu sendirian. Richi harus setuju supaya sama-sama senang.
"Jangan memancingku."
"Aku serius."
"Kau.. benar-benar ingin melakukannya?" Tanya Hugo lagi dan Richi mengangguk.
"Sekarang?"
"Iya."
Richi mengecup bibir Hugo sekilas. "Iya. Kau mau, kan?"
Senyum Hugo mengembang. "Dimana kita melakukannya?"
"Terserahmu. Tapi aku lebih suka di sofa. Tidak terlalu goyang." Jawab Richi lagi.
"Oke."
Hugo pun bergerak cepat. Dia membopong tubuh Richi dan meletakkannya diatas sofa.
"Siap?" Lelaki itu tersenyum miring.
"Always be ready, honey. Ingat, kalau kau kalah, aku bebas menghukummu." Tukas Richi mengingatkan.
Hugo malah tertawa. "Aku tidak akan kalah urusan begini." Ucapnya kemudian membuka papan monopoli.
"Kemarikan dadunya. Aku yang memulai." Richi meraih dadu dari tangan Hugo dan merekapun memulai permainan yang sering mereka mainkan. Terlebih Hugo, dia sering sekali kalah jika bermain berdua dengan Richi. Entah kenapa jiwa ibu-ibu Richi bisa keluar jika bermain permainan ini. Jika sudah kalah, hukuman dari Richi tidak main-main, bahkan Hugo harus mau disuruh memakai baju seksinya demi untuk membuatnya tertawa puas.
...🦋...
"Itu dia. Kau harus memberinya pelajaran, V. Kakaknya sudah mempermalukanmu." Andrew berusaha membuat Virgo sadar, kalau apa yang dilakukan Richi sangat salah di matanya. Apalagi dia tidak menyukai Richi lantaran perempuan itu terlalu berani padanya.
__ADS_1
Virgo menatap Richi yang berjalan sendirian. Entah kenapa, dia semakin penasaran dengan perempuan itu.
"Lupakan saja. Ayo." Virgo beranjak. Dia belum ingin menemui Richi karena masih merasa malu.
Sementara gadis itu, dia berjalan sedikit canggung karena tatapan orang-orang yang terlihat berbeda. Belum lagi orang-orang yang biasanya menyapa, tapi kali ini memilih diam.
"Andreas!" Sapa Richi pada Andreas yang duduk bersama teman-temannya yang lain, namun mereka langsung bubar dan tentu saja itu membuat Richi bingung. Apa Andreas marah? Pikirnya.
"Jangan heran, itu karena pilihanmu kemarin. Satu kampus tahu kalau sekarang kau berpacaran dengan Virgo." Evan menepuk-nepuk pundak Richi kemudian berlalu pergi.
Akh, sial. Virgo lagi. Richi sampai menghela napas. Ternyata pengaruh lelaki itu sangat besar. Richipun akhirnya memilih pergi menuju loker.
Seperti biasa, Richi mengambil barang-barang yang ia perlukan, lalu menutup loker.
BRAK!
Richi sampai tersentak saat tubuh seseorang mendarat keras di loker sebelahnya.
Seorang laki-laki bertubuh gemuk dan berkacamata, nampaknya menjadi gilirannya menjadi bahan rundungan.
"Sapa tuh, kekasih tuan Virgo yang baik hati."
Lelaki itu berlutut ketakutan di depan Richi. Sementara Andrew terkikik bersama teman-temannya.
"Kenapa? Kau menatapku seperti ingin menerkam." Tukas Andrew lagi.
"Berdiri."
Lelaki bertubuh gempal itu mendongak.
"Aku bilang berdiri!"
Dia langsung berdiri dan menunduk di depan Richi.
"A-ampun kan, aku..." lirihnya.
"Sekarang, cepat beri satu pukulan di perut besarnya itu. Hahaha." Tawa Andrew disambut orang-orang di belakangnya, juga beberapa orang disekitar yang tak menyayangkan soal perundungan di kampus.
"Pergilah. Katakan padaku kalau mereka masih mengganggumu."
Lelaki itu membungkuk beberapa kali sambil mengucapkan terima kasih kemudian berlalu pergi dengan cepat.
Andrew yang melihat itu tampak begitu marah.
"Ayo, pergi!"
Mereka pun pergi, namun berhenti disuatu tempat.
"Aku tidak suka pada pacar Virgo. Aku ingin membuatnya menyerah. Ada yang setuju denganku?"
Semua teman-temannya mengangkat tangan.
__ADS_1
"Ya, dia tidak seru. Sudah beberapa kali dia menghalangi kita." Sahut yang lain.
"Bagus. Kalau begitu, sore nanti, ayo kita beri dia pelajaran!" Usulnya dengan senyum miring, membayangkan bentuk perundungan apa yang akan dia berikan untuk perempuan itu.