Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Penyelamatan Sandera


__ADS_3

Richi menghela napas yang sejak tadi ia tahan. Dia akhirnya bisa lega saat bom itu berhasil ditaklukkan. Hugo melepaskan ikatan di tangannya, lalu meminta Richi membuka high heels-nya supaya ikatan itu tetap menyangkut pada bom yang sudah terlepas dari tubuh Richi.


Richi berdiri dan memeluk Hugo. Rasa terima kasih yang dalam ia berikan. Hugo sudah beberapa kali menyelamatkan dirinya.


Gadis itu mengangkat dressnya, mengambil pistol kecil yang sejak tadi terselip di holster yang ia selipkan di pahanya.


"Serahkan padaku."


"A-apa.."


Hugo mengambil pistol itu dari tangan Richi. "Urusannya adalah aku. Maka aku yang akan menyelesaikan ini."


"Tapi, Hugo. Lukamu.." gadis itu menyentuh darah yang memerahi kemeja putih Hugo.


"Tetaplah disini. Sebentar lagi dia akan datang sendiri."


Hugo memperhatikan 20 detik terakhir yang terus berjalan mundur.


"Hugo, waktunya.."


Hugo menarik Richi dalam pelukannya. Dia memang yakin bom itu sudah mati, tetapi tetap saja ada rasa khawatir dalam dirinya. Ia memejamkan mata saat dimana detik itu terus berjalan, sampai akhirnya suaranya berhenti.


Hugo melepaskan pelukannya. Dia menarik Richi kebelakang tubuhnya saat mendengar langkah cepat kearah mereka.


"Berlindunglah dibelakangku."


Hugo lalu mengangkat senjata tepat saat Erine muncul dengan wajah yang terkejut dan bingung. Diperhatikannya bom yang ada diatas kursi bersamaan dengan tali-tali yang berserak. Ternyata Hugo berhasil menghentikan bom itu, bahkan dengan waktu yang masih berjalan.


Diliriknya Hugo, lelaki itu sudah sangat lemah dengan tetesan darah dari lengan kirinya. Dan yang paling membuatnya tak suka adalah Richi. Bisa-bisanya gadis itu bersembunyi dibalik tubuh Hugo yang melemah.


Erine tersenyum smirk. Dia memiringkan kepala supaya bisa melihat Richi.


"Sepenakut itu kau sekarang?"


Richi bukan tak ingin melawan. Tapi dia tidak ingin berdebat dengan Hugo yang ingin melindunginya. Tentu saja ini bukan hal mudah, mengingat dirinya selalu menjadi orang terdepan, bukan bersembunyi dibalik tubuh seseorang seperti sekarang.


'Aku perintahkan untuk menyerahkan diri, sebelum kami menemukanmu, Erine. Kau dikepung, tidak ada jalan keluar. Menyerahlah, dan lepaskan siapapun yang menjadi sanderamu.'

__ADS_1


Suara itu semakin mendekat. Erine tahu dirinya sudah kalah. Dia sengaja menunjukkan diri tadinya, supaya bisa membawa semua pasukan Valiant dan militer beserta Jenderal Wiley masuk kedalam lingkaran Bom yang dia pikir akan meledak hebat. Ternyata dia salah. Jenderal Wiley mendekat, dan Hugo sudah menaklukkan bom. Bahkan lelaki itu membidiknya sekarang.


Tak ada pilihan lain, selain membunuh target utama beserta Hugo, karena diapun akan mati karena perlakuannya ini.


"Hei, Darrel. Kalau kau tidak keluar, aku akan membunuhmu dan Hugo secara bersamaan."


Richi melihat tangan Hugo memberinya kode untuk tetap di tempatnya. Namun yang membuat Richi tak kuat adalah darah diujung jari Hugo yang terus menetes.


"Hh, Hugo, aku beritahu kau satu hal yang suatu hari akan kau sesali."


Hugo memperhatikan jari Erine yang sudah bersiap di pelatuk pistolnya. Jika jari itu bergerak saja, dia juga akan melepaskan timah panas digenggamannya.


"Kau akan menyesal saat menyadari, tak ada seorangpun yang bisa menyayangimu seperti aku. Tidak Richi, tidak siapapun. Aku tahu kau banyak mengalah pada perempuan itu. Kau hanya diperalat olehnya. Kau harus tahu itu." Air mata Erine mengalir. Dia mulai takut saat mendengar suara tembakan peringatan begitu dekat.


"Kalaupun aku diperalat, aku rela. Bahkan aku akan memberikan semua nyawa yang kupunya untuk melindunginya."


Suara Hugo memberat. Tubuhnya mulai bergetar menahan lutut yang ingin terjatuh. Menerima tiga luka tembak bukan hal mudah. Hugo sudah hampir pada puncaknya.


Richi menunduk dengan air matanya, dia mengepalkan tangan. Matanya menangkap tubuh Hugo yang sudah hampir terjatuh. Tapi tangan kiri lelaki itu masih dibelakangnya, memberi kode untuk tidak maju. Gadis itu ingin sekali melindungi Hugo, tapi Hugo sendiri juga ingin melindunginya.


"Hh. Kau menyakitiku, Hugo."


"Memang itu tujuanku."


"Aku akan abaikan itu." Kata Erine dengan suara parau. Dia mengusahakan perjuangannya yang terakhir dengan membujuk Hugo lagi.


"Kuberi kau kesempatan lagi. Aku tahu tubuhmu sudah tidak kuat. Kau takkan lolos dari kematian. Percaya padaku, Hugo. Aku akan menolongmu. Kau hanya perlu meminta padaku."


"Kalaupun hanya kau satu-satunya perempuan di dunia ini, aku.. Tidak akan.. Pernah.. Memilihmu.." Ucap Hugo dengan suara yang terputus-putus menahan nyeri di bahu dan lengannya.


Jari tulunjuk Erine bergerak. Ditatapnya Richi dengan tajam dan amarah berkecamuk dalam dirinya. Dia bisa melihat gadis itu sedikit dari balik tubuh Hugo. Targetnya adalah membunuh Richi, maka yang ia ingin kenakan adalah gadis itu.


Erine melepaskan pelatuknya tepat disebelah lengan Hugo. Bersamaan dengan itu Hugo pula menembakkan senjatanya tepat di leher Erine.


Tangan kiri Hugo lagi-lagi tergores peluru yang meleset kebelakang. Hugo segera menoleh, saat dimana ia melihat Richi memegangi pinggangnya yang terasa panas dan perih disaat bersamaan.


"Richi!!" Hugo membalikkan badan, berusaha menutupi luka tembak yang membuat darah keluar begitu banyak.

__ADS_1


Hugo membuka jasnya, menyisakan kemeja putih yang berlubang dibeberapa bagian dan mengalirkan banyak darah.


"Tahan, sayang. Kumohon bertahanlah."


Gadis itu menahan napasnya. "Hugo.." Richi menatap Erine yang terjatuh. Gadis itu juga tengah menatap kearahnya.


Erine menggelapar karena darah yang menyembur hebat. Ia tergeletak tak berdaya. Air matanya menetes. Darahnya mengalir sangat deras tepat di leher gadis itu. Di detik terakhir sebelum Erine meregang nyawa, matanya tak lepas dari wajah Hugo yang begitu tampak khawatir pada Richi. Bahkan laki-laki yang ia harapkan cintanya itu pula yang melepaskan timah panas hingga menembus lehernya.


Erine bisa merasakan darahnya keluar begitu banyak hingga membuat rambut dan punggungnya basah. Gadis itu kehilangan banyak darah, hingga disaat Erine merasa darahnya habis, dia masih mengalirkan air mata. Bukan karena sakitnya luka tembak pada lehernya, melainkan sakitnya melihat orang yang ia cintai begitu membencinya, dan hanya mencurahkan semua perhatiannya pada gadis yang ia benci selamanya.


Richi hanya terperangah melihat Erine yang sudah kehilangan nyawa dengan air mata yang mengalir. Ada sedikit penyesalan dalam dirinya. Dia begitu tidak menyangka Erine bisa melakukan semua ini padanya. Dia pikir semua telah berakhir setelah gadis itu pergi, hingga akhirnya kembali dengan bahaya yang mengancam nyawa banyak orang.


Disaat itu pula, Hugo yang sejak tadi menutupi lukanya pun mulai melemah.


"Hugo.."


Richi menopang Hugo agar tidak jatuh. Tapi dia pun tak kuat menahan Hugo karena pinggangnya yang terasa nyeri luar biasa. Richi mendudukkan Hugo, dan menyandarkan tubuh lelaki itu ke tembok.


"Hugo, tahan sebentar saja. Aku akan keluar mencari bantuan." Kata Richi dengan suara yang tertekan, menahan darah yang belum berhenti dari perutnya.


"Jangan.. pergi.." Hugo menahan tangan Richi, memintanya untuk tetap disana.


"Hugo, kau sudah kehilangan banyak darah."


Hugo tak menyahut. Matanya berusaha terbuka disaat kepalanya mulai pusing.


Richi berusaha berdiri. Dia berjalan lambat sembari memegangi perut bagian sampingnya. Gadis itu menangis, tak pernah dalam pikirannya ada kejadian seperti ini. Dimana ia kesulitan dan Hugo sudah hampir tidak sadarkan diri.


Disaat gadis itu berjalan terisak menuju pintu, disaat itu pula Ricky datang bersama beberapa anggota militer lainnya.


Richi tersenyum lega melihat kakaknya yang ia tandai walau lelaki itu lengkap dengan seragamnya.


"Richi!"


Dengan segera Ricky menangkap adiknya yang hampir terjatuh pingsan. Disaat bersamaan ia melihat Hugo yang tengah duduk itupun menutup matanya. Dilihatnya lagi Erine, dengan mata yang terbuka dan baluran darah mengerikan dari lehernya.


"Cepat!! Bawa Hugo sekarang!!" Titah Ricky yang kemudian berlari keluar menggendong adiknya. Entah apa yang terjadi di ruangan itu tadi. Ricky sangat ingin tahu kenapa Erine juga ada disana. Namun jika melihat Erine dan anggota Rajawali yang berkhianat mati disana, ia sudah bisa menebaknya.

__ADS_1


__ADS_2