
"Mungkin menurutnya, itu hal besar. Karena waktu itu memang salahku juga. Cecilia mendekatiku saat dia berpacaran dengan Ricky. Lalu aku..." Hugo tidak melanjutkan ucapannya. Rasanya agak memalukan baginya menceritakan hal itu.
"Lalu?"
Hugo menatap Richi dengan wajah yang agak cemas.
"Kau mengencaninya juga?" Tebak Richi dan Hugo menunduk.
"Hahahahaha.." Bukan sedih, Richi malah tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Hugo.
"Ke-kenapa malah tertawa??" Tanya Hugo bingung.
"Dasar laki-laki aneh. Ternyata berdua sama saja."
"Tapi aku tidak menyukai perempuan itu, mungkin Ricky dendam karena dia yang menaruh hati." Ucap Hugo. "Jadi, karena hal itu dia tidak mengizinkanku bersamamu."
"Bukan itu Hugo. Kau mendekatinya sementara kau tahu Ricky tengah berpacaran dengannya. Artinya, kau bukan lelaki baik-baik." Ucap Richi dengan tenang, menatap Hugo yang wajahnya mengerut karena dibilang bukan lelaki baik.
"Tapi, itukan sudah lama sekali."
"Seperti itulah, Ricky juga laki-laki dan dia pasti lebih mengerti dengan yang sejenisnya, kan?" Richi tersenyum tipis.
"Jadi, menurutmu aku bagaimana?"
"Selama ini, aku hanya mengandalkan perasaanku saja. Aku menyukaimu, jelas aku membelamu apalagi tidak melihat secara langsung keburukanmu."
"Itu masa lalu, Chi. Aku masih bermain-main waktu itu. Sekarang, aku sudah benar-benar berubah. Kau bisa memeriksa ponsel atau media sosialku." Hugo berjongkok di depan Richi dengan wajah memelas. "Chi, kau percaya, kan, padaku?"
Richi merapatkan bibirnya menahan senyum. Hugo sangat serius pada pembicaraan kali ini.
"Hmm.. bagaimana, ya?" Richi menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Dia ingin mengerjai Hugo. "Setelah mendengar ceritamu ini, aku agak..."
"Aku sudah banyak berubah, Chi. Kejadian itu jauh sebelum aku mengenalmu." Ucapnya lagi.
"Bukannya satu minggu sebelum pacaran denganku, kau masih seperti itu?" Liriknya tajam sebab dia masih ingat betul Camilla menyewa orang untuk menghajarnya di sekolah.
Hugo menggenggam tangan Richi, wajahnya benar-benar lesu. "Kalau aku tahu akan mendapatkan perempuan sepertimu, pasti aku akan memantaskan diri dan tidak akan mau mengenal perempuan lain."
Dalam hati Richi berbunga-bunga, namun bibirnya semakin merapat menahan senyum.
"Aku akan membuat diriku pantas berada di dekatmu." Tuturnya lagi dengan wajah serius.
"Baiklah, buktikan saja. Kalau kau masih sama seperti dulu, aku akan mempertimbangkan ucapan Ricky."
"Iya. Aku janji, nanti kau bisa selalu cek aplikasi sosial mediaku. Semua password-nya sudah kuubah tanggal lahirmu."
Richi melongo, "Maksudku tidak perlu sampai seperti itu."
"Aku yang mau seperti itu." Ucapnya sambil berdiri. "Ayo, aku akan menemui Ibu." Hugo meraih tangan Richi dan menjumpai Marry untuk menyampaikan keinginan kekasihnya itu.
...🍁...
"Hei, Brengsek!! Apa ini rencana yang kau bilang padaku, HAH!!"
Harry menatap bingung ke arah Ayahnya yang mencengkram kuat kerah bajunya sampai ia harus berjinjit untuk menyamakan tinggi ayahnya.
"Apa maksud Ayah?"
"Jangan coba membodohiku, kau pikir siapa lagi yang bisa melakukan ini padaku, hah? Kau sakit hati karena aku meletakkan bom di perusahaan Ayah tirimu itu??"
BRAK! Tubuh Harry ia hempaskan ke bawah.
"Sepertinya ayah salah. Aku tidak pernah peduli pada Ayah tiriku. Ayah juga tidak punya bukti untuk menuduhku." Ucapnya lalu bangkit, menepuk pelan pundaknya yang ia rasa kotor.
"HAH!!" Dia mencampakkan benda-benda disekitarnya karena memikirkan gedung-gedung usahanya runtuh. Apalagi beberapa file dan dokumen penting berada disana tidak terselamatkan.
__ADS_1
"Kalau memang itu pekerjaanku, seharusnya bisnis yang ayah berikan padaku tidak ikut hancur. Tetapi anehnya, malah hancur dan itu juga membuatku rugi." Jelas Harry sembari mengelap kacamatanya.
"Ayah bersabarlah, aku akan mencari siapa yang melakukan ini pada Ayah. Percaya padaku, aku akan menemukannya." Harry berjalan meninggalkan ayahnya yang masih terduduk lesu di kursinya.
Harry berhenti dan menoleh lagi pada ayahnya di belakang. "Selamat menderita, tuan besar." Gumamnya pelan, tersenyum penuh kemenangan seraya memakai kacamatanya. Tinggal satu hal lagi dan semua benar-benar akan berjalan sesuai keinginannya.
...🦋...
Richi sudah lengkap dengan seragamnya. Dia masuk ke dalam mobil Hugo yang menjemputnya sesuai kesepakatan.
Kemarin, ia setengah mati membujuk Ibunya supaya mengizinkan sekolah tetapi tidak berhasil. Lalu, Hugo hanya mengatakan akan menjaga Richi dengan baik, Marry langsung mengizinkannya. Membuat Richi sedikit kesal.
"Chi, ada yang mau aku tanyakan." Ujarnya sambil fokus ke depan jalan.
"Apa?"
"Soal Ayahku dan Ibumu."
Richi langsung menoleh. Apa Hugo sudah tahu?
"Sepertinya kau tahu, tapi tidak mengatakannya padaku." Tukas Hugo yang melihat reaksi Richi.
"Itukan masa lalu orang tua kita. Lagipula sudah sama-sama punya keluarga." Ucap Richi.
"Benar, tapi tetap saja rasanya aku perlu tahu. Karena aku tidak tahu apa-apa soal itu."
"Tidak ada yang seru. Lagipula Ibuku yang mengejar ayahmu. Setelah itu mereka berpisah dan menjalani hidup masing-masing." Jelas Richi.
"Sayang sekali mereka tidak berjodoh." Ucap Hugo tiba-tiba dan membuat kening Richi berkerut.
"Kalau mereka jodoh, kita jadi kakak adik. Hahaha."
"Eh, iya juga, ya. Apa karena itu Ibumu menyukaiku?"
"Iya. Katanya kau mirip sekali dengan ayahmu yang setia itu."
"Kau sendiri merasa ayahmu bagaimana?" Tanya Richi balik dan Hugo diam saja.
"Dulu, Ibu yang meninggalkan ayahmu. Enggak tahu alasannya apa." Tukas Richi. "Kenapa tidak langsung tanya Ayahmu saja?"
"Malas. Kalau bukan hal penting, aku tidak akan bicara pada Ayah." Jawabnya dan Richi hanya menggelengkan kepala.
Sesampainya, Hugo dan Richi turun. Mereka berhasil mendapat lirikan orang-orang sekitar yang melihat Richi dan Hugo pergi bersama.
Gadis itu menyandang tasnya dan berjalan seperti tidak ada luka di tubuhnya.
Hugo berjalan di belakangnya, memperhatikan gadis yang sejak tadi wajahnya cerah karena bisa bersekolah.
Wajahnya menatap kesana kemari, mencari apa yang berubah dari sekolah setelah beberapa hari tidak ia datangi.
"Bisa?" Tanya Hugo saat Richi berhenti di bawah tangga.
"Bisa, kayanya. Aku akan pelan-pelan."
"Mau kugendong?"
Richi menoleh sebentar dengan pandangan berkerut, membuat Hugo ingin benar-benar menggendongnya.
Dia naik perlahan dan Hugo menyamakan jalan mereka.
"Kalau sakit, bilang padaku."
"Tidak, kok. Kalau dipikir-pikir, aku sudah lama sekali tidak latihan, ya. Apa aku masih bisa angkat berat, ya?" Tanya Richi sambil melangkahkan kakinya perlahan.
"Bisa. Kulihat di cctv saat melawan Stripe di perusahaan Harry, kau mengangkat tubuh musuh lalu membantingnya dengan keras. Kurasa otot-ototmu sudah terbentuk dengan sempurna sejak dalam kandungan."
__ADS_1
Mendengar celotehan Hugo, Richi terbahak. "Ayo, laga otot. Aku penasaran apa rasanya kena tinjuanmu."
Hugo membulatkan matanya. "Apaa?" Dia menghela napas berat. "Haduh, beginikah rasanya punya pacar tukang berantam?" Hugo bergumam sendiri sementara Richi tertawa hingga ia meringis karena perutnya yang perih karena tawanya.
~
Setelah pulang sekolah, Hugo mengajak Richi duduk di taman kota sebentar sebelum ia latihan tinju.
Dia membelikan Richi es krim coklat vanilla sesuai permintaan gadis itu.
"Ini coklat Vanilla dengan taburan kacang di atasnya." Ucap Hugo sembari memberikan eskrim pada kekasihnya.
"Hehe, akhirnya tercapai keinginanku."
"Jangan banyak tertawa, nanti sakit lagi! Kau tidak tahu betapa paniknya aku tadi??"
"Iyaa, astaga. Kau lama-lama cerewet seperti nenek-nenek!" Ucap Richi kesal.
Hugo tak menjawab lagi dan melihati saja Richi yang lahap memakan esnya.
"Bukannya kau bilang dirumahmu apa saja tersedia?" Tanya Hugo.
"Iya, kecuali ini. Karena aku dilarang makan ini, haha."
"Apaa!!" Hugo langsung ingin merebut es itu tetapi Richi lebih cepat menjauhkan tangannya dari rampasan Hugo.
"Heett! Tidak bisa." Elak Richi.
"Jadi kalau kau kenapa-napa bagimana???"
"Aku kenapa-napa kalau kau mengadu!" Tukas Richi.
"Hah, bisa-bisanya aku ketipu!"
"Wah, romantis sekali.."
Hugo dan Richi menoleh ke depan mereka. Tak jauh, beberapa pemuda berseragam Apollo mendekati mereka.
"Dia kan, orangnya?" Seseorang menunjuk Hugo.
"Ya, dia yang menendang pinggang teman kita sampai sekarang, dia tidak bisa banyak bergerak karena kau!" Tukas yang lain.
Hugo tampak tidak peduli. Dia bersandar di bangku sambil melipat kakinya, melihati orang-orang itu dengan santai. Sementara Richi terus memakan eskrimnya.
"Hei, bukankah gadis itu yang menghabisi Gary di video rekaman itu?" Bisikan dari yang lain terdengar di telinga Hugo.
Mendengar Richi disebut, dia menurunkan kakinya dan duduk tegak.
"Benar, itu perempuannya. Hei, perempuan itu juga hajar saja."
"Kau harus diberi pelajaran. Kau pikir kami takut karena kau pemain tinju??"
Ocehan semua orang itu membuat Hugo mulai panas, apalagi Richi juga menjadi taget mereka.
BRUK!
Richi terpelongo, eskrim di tangannya terjatuh akibat tendangan seseorang di depannya.
"Kau menyepelekan kami karena kau merasa hebat, kan? Aku benci perempuan sok jago sepertimu, merasa bisa menghajar laki-laki? Sini, maju."
Suara lelaki itu membuat Richi panas. Ingin sekali dia menghajarnya, padahal itu eskrim yang susah payah ia dapat. Beraninya dia menjatuhkannya. Tetapi kondisi perutnya membuatnya tidak bisa bergerak.
"Sialan! Urusanmu hanya denganku!!" Hugo berdiri dan bersiap menyerang saat melihat lelaki itu mengerang pada Richi.
'Hah, sial. Baru kali ini aku merasa lemah.' Gumam Richi dalam hati karena tidak bisa bertarung.
__ADS_1
Tbc